Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petualangan Gairah Kenikmatan

Petualangan Gairah Kenikmatan

Insiden tak terduga membuat Randy dan Ririn jatuh tersungkur hingga tubuh mereka saling menindih erat. Dalam posisi yang sangat intim itu, Randy merasakan detak jantung dan deru napas Ririn yang memburu tepat di depan wajahnya. Suasana mendadak menjadi sangat panas saat kontak fisik tersebut memicu gairah yang tak terbendung di antara keduanya. Di tengah ketegangan romansa yang memuncak, Ririn akhirnya menyerah pada hasrat dan meminta Randy untuk segera menyatukan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku berjalan kembali ke dalam stadium tempat pertandingan digelar, saat itu semua mata masih tertuju pada laga itu. Hal itu aku manfaatkan dengan cepat untuk memakai jaket agar lukaku tidak kelihatan. Meskipun begitu darah masih mengalir di sepanjang lengan hingga ujung jariku.

Setelah memakai jaket dan mengambil tas aku bersiap untuk pergi dari situ, namun si Gembul yang sedang duduk di bench mengetahui hal itu.

“Oi, mau kemana lu?” tanya dia kepadaku.

“Mau cabut,” jawabku singkat.

“Jangan pergi dulu pertandingan kan belum selesai,” cegahnya.

“Tinggal satu quarter poinnya jauh, udah pasti menang,” kataku mengelak.

“Ya udah, tapi besok pertandingan perempat final, jangan sampe gak dateng,” imbuhnya.

Aku diam saja tak menjawabnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Jangan harap,” ucapku dalam hati.

Di jalan sambil mengendarai motorku aku melamun mengingat kejadian tadi, saat itu hatiku benar-benar hancur. Wanita yang aku sukai ternyata telah merelakan tubuhnya untuk lelaki lain.

Lalu kejadian beberapa hari yang lalu saat aku dan Lisa menghabiskan waktu berdua itu hanya siasatnya agar aku mau bergabung dengan tim Dimas, bukannya dia benar-benar menyukaiku.

“Bodohnya gue!!!” umpat ku kepada diriku sendiri.

Tak tau mau kemana akhirnya aku mengarahkan motorku ke warung milik Ririn. Mungkin saja dengan menyeruput secangkir kopi dan makan gorengan sedikit membuat hatiku tenang.

Sesampainya di sana aku melihat warungnya sepi, ya karena hari ini adalah hari sabtu wajar saja kalau warungnya sepi.

Aku pun langsung masuk dan duduk di meja kayu yang tersedia di sana. Mendengar ada seseorang yang masuk, pemiliknya pun keluar.

“Loh, Randy kok tumben hari libur dateng ke sini?” tanya Ririn agak sumringah melihat kedatanganku.

Aku memang sudah lama merasa bahwa Ririn punya rasa terhadapku, tapi aku sendiri tidak memiliki rasa apa-apa terhadap dirinya, dan hanya menganggap dia sebagai teman saja.

“Hehe,, gak papa, lagi kangen aja sama lu.”

Tiba-tiba wajahnya jadi memerah mendengar kata-kataku itu.

“Gombal,” jawabnya singkat.

Saat Ririn menyusul ku duduk di kursi yang menghadap ku Ririn melihat ada darah yang mengalir dari telapak tanganku.

“Ya ampun tangan lu kenapa?” tanyanya panik.

“Enggak papa, tadi habis jatuh di kamar mandi.”

“Kok bisa?” tanyanya lagi namun tak menunggu jawabanku, dia langsung mengambil kotak P3K.

“Sini, buka jaketnya!” perintah Ririn.

Aku pun membuka jaketku dan menunjukkan luka itu kepadanya.

“Ya ampun ini sih luka robek, harus dibawa ke rumah sakit buat di jahit,” ucapnya panik.

Dia kemudian memberikan pertolongan pertama dengan betadine dan diperban sementara agar lukaku tidak infeksi.

Aku menatap wajahnya saat dia sedang menangani lukaku, aku melihat wajahnya yang hitam manis itu dipenuhi dengan bulir keringat.

Lalu aku mengelap keringat yang ada di dahinya itu dengan tangan satunya yang tidak terluka.

“Biasa aja dong, gak usah sampe keringetan begitu, hehehe..” ucapku menggodanya.

Dia agak salah tingkah kemudian dia mengelap dahinya dengan lengan bajunya, kanan dan kiri.

“Apaan sih!” protesnya singkat. Kemudian dia melanjutkan untuk membalutkan perban di tanganku.

Aku kemudian menyanggah daguku dengan telapak tangan sembari menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya.

Namun aku lupa kalau telapak tanganku masih basah karena keringat dari Ririn itu. Alhasil keringat itu menempel juga di wajahku, tapi aku tidak memperdulikannya.

Agak lama juga dia membalutkan perban di tanganku, dia terlihat hati-hati sekali.

Setelah selesai dia menaruh kembali kotak P3K ke tempat semula.

“Makasih ya Rin.”

“Iya jangan lupa habis ini ke dokter ya,” pinta Ririn kepadaku.

“Hehe, ini juga udah rapet kok.”

“Itu cuma buat sementara aja.”

Aku pun hanya mengiyakan saja permintaannya. Karena terlalu asik aku jadi lupa tujuanku datang kemari.

“Ouh ya Rin, bikinin kopi dong satu sama gorengannya sepuluh ribu aja, campur.”

“Bentar yah.” balasnya singkat.

Dia kemudian masuk ke dalam untuk membuatkanku kopi, namun tidak lama kemudian dia kembali keluar.

“Aduh Ran, air panasnya habis, gue ambil dulu di rumah ya?” ucap Ririn.

“Oke deh,” jawabku sambil mengacungkan jempol.

Rumahnya memang tidak terlalu jauh, namun jalan masuknya harus melewati gang kecil yang berkelok-kelok sehingga butuh waktu agak lama untuk sampai di sana.

Setelah Ririn pergi suasana jadi sepi, tidak ada satupun orang yang mampir ke warung ini, aku pun iseng membuka hp.

Ada 5 pesan dan 7 missed call, aku buka ternyata itu dari Lisa beberapa menit yang lalu.

“Ran, lu dimana? kok tiba-tiba ngilang?” Aku membaca salah satu pesannya, namun tak ku hiraukan, selamanya aku tak akan pernah membalas pesannya lagi.

Iseng aku melihat status teman-temanku di wa, Ririn,”Kedatangan tamu spesial @randy_11.” isi status Ririn.

“Alay juga si Ririn itu.” ucapku dalam hati.

Lisa,”Selamat berjuang!” isi captionnya dengan foto seluruh tim kami sebelum pertandingan tadi. Di dalam foto itu aku melihat Lisa ada di samping Dimas sambil berpegangan tangan.

“Shitt!!! Harusnya gue udah tau dari awal kalo mereka memang ada hubungan khusus.” Aku sedikit menggebrak meja menyesali semua yang telah terjadi.

Aku tutup wa ku, aku buka aplikasi lain yang sekiranya bisa menghapus rasa bosanku.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada seseorang yang memarkirkan motor matic di depan warung itu.

“Ada tamu nih,” pikirku.

Namun saat orang itu masuk aku mengetahui kalau ternyata dia adalah Lisa.

Aku kemudian bangkit dari tempat duduk itu lalu beranjak akan pergi, tanpa memperdulikannya aku berjalan melewati dia namun dia berhasil menahanku sebelum aku benar-benar pergi.

“Randy tunggu!” perintahnya seraya menahan tanganku agar tidak pergi.

Aku lalu menepis tangannya.

“Minggir!!!” ucapku membentak.

“Lu kenapa sih? kenapa lu tiba-tiba bersikap kaya gini,” tanyanya tak kalah keras.

“Minggir,, gue mau pulang!!!” Aku tak memperdulikan pertanyaannya itu.

“Gue butuh penjelasan!” Lisa masih ngotot menahanku.

Aku tatap wajahnya dengan penuh amarah.

“Lu mau penjelasan?”

“Iya!”

“Sini ikut sama gue!” Aku kemudian menarik tangannya untuk ikut bersamaku.

Aku bawa dia ke sebuah toilet di sekolah, kebetulan saat itu gerbang belakang sekolah tidak dikunci dan toilet itu tempatnya tak jauh dari gerbang.

Lisa menurut saja ketika aku bawa ke dalam salah satu bilik toilet itu, setelah masuk aku kemudian menguncinya.

Lisa masih terdiam saat aku menatapnya dengan tatapan pemangsa.

Kemudian aku dorong dia hingga dia bersandar pada tembok toilet itu.

Dengan buas dan kasar aku cium bibirnya, aku tahan lehernya dengan telapak tangan kananku seperti sedang mencekik.

Lalu tangan kiriku aku arahkan ke dadanya sebelah kanan, aku meremasnya secara kasar.

Lisa meronta-ronta lalu mencoba mendorongku, aku yang didorongnya kemudian melepaskan ciuman dan tangan kiriku yang ada di dada kanannya.

PLAKK!!!!

Aku pun ditampar olehnya, aku melihat air mata menetes mengalir di pipinya.

“Apa yang lu lakuin Ran? kenapa lu tiba-tiba bersikap gini sama gue?”

“Apa?? Kenapa?? Kenapa Dimas boleh dan gue gak boleh?” Bentakku kepadanya.

Mendengar perkataanku itu wajahnya menjadi pucat pasi.

“M..M..Maksudnya?” tanya Lisa terbata-bata.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.

“Waktu pertandingan tadi, di toilet lu sama Dimas…” ucapku berbisik.

Tak ku lanjutkan perkataanku, dari situ saja aku sudah yakin bahwa Lisa paham apa yang aku maksud.

Lisa tampak menundukkan kepalanya tak berani melihat wajahku.

“G..G..Gue bisa jelasin.”

“Gak ada yang perlu dijelasin!” ucapku kembali membentak.

Aku kemudian membuka pintu toilet itu dan pergi meninggalkannya, sekilas aku melihat dia tampak berjongkok, memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya itu. Aku tak peduli lagi.

Aku kembali ke warung Ririn, ternyata dia sudah kembali dengan kopi dan gorengannya.

“Lu habis dari mana? dari tadi gue cariin,” tanyanya.

“Habis dari toilet Rin,” jawabku singkat.

“Eh, sorry nih kayaknya gue harus cepet-cepet ke rumah sakit nih, lama-lama lukanya tambah sakit,” ucapku mencari alasan agar bisa pergi dari situ.

“Ouh gitu, terus ini kopi sama gorengannya gimana?”

“Buat lu aja, hehe..” jawabku sambil memberikan uang kopi dan gorengan yang aku pesan.

“Gak usah Ran, bawa aja.” Ririn menolak uang pemberianku itu.

“Gak papa,” jawabku singkat lalu pergi secepatnya.

Aku bisa bertemu dengan Lisa lagi kalau aku terlalu lama di situ.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cowokku Lebih Muda
8.9
Andini tengah menjalani kisah asmara dengan seorang pria yang usianya jauh di bawahnya. Namun, stabilitas hubungan mereka mendadak goyah saat sosok dari masa lalu yang selama ini Andini nantikan kehadirannya muncul kembali secara tiba-tiba. Kini, Andini dihadapkan pada pilihan sulit mengenai masa depan perasaannya. Apakah ikatan cintanya dengan Alex sanggup bertahan, ataukah kehadiran orang lama tersebut akan mengakhiri segalanya?
Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Terpisah sejak kecil akibat perceraian, si kembar Yunara dan Lunara bertemu kembali di hari pernikahan Yunara. Lunara hadir mencari sang ayah, namun takdir justru berubah drastis bagi keduanya. Yunara terjerat dengan pria asing yang obsesif, sementara Lunara terjebak situasi rumit bersama suami kakaknya sendiri. Pernikahan Lunara yang sudah di depan mata pun hancur karena kesalahpahaman. Kini, mereka harus memilih: pasrah pada nasib atau berjuang demi cinta sejati.
Sampul Novel KAMU MILIKKU
8.3
Tumbuh bersama sejak remaja membuat Mega Asturi memendam rasa pada Athaya Tonda, adik sahabatnya. Namun, perbedaan status sosial dan trauma masa lalu memaksanya menolak pemuda itu meski hatinya hancur. Bertahun-tahun berlalu, Athaya kembali sebagai pria matang yang gigih mengejar Mega. Terdesak oleh keadaan, Mega memilih mendustai perasaannya demi melindungi diri. Namun, mampukah ia terus menghindar saat obsesi Athaya untuk memilikinya justru semakin kuat?
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya menikahi Erwin, pria yang dianggap tidak berguna, demi membiayai pengobatan pelayan yang ia cintai. Meski hidupnya penuh penindasan, ia kini terikat dengan Erwin yang menikahi Julita hanya untuk memenuhi wasiat ibunya. Namun, Erwin menyimpan rahasia besar di balik kemiripannya dengan miliarder terkaya di kota. Di tengah kebohongan identitas mereka, mampukah pernikahan ini bertahan atau justru berakhir bencana?