Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petaka Dua Garis

Petaka Dua Garis

Masa depan cerah Arimbi hancur seketika saat ia mendapati dirinya hamil tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya. Trauma mendalam membuatnya memandang semua pria sebagai ancaman berbahaya. Di tengah keputusasaan setelah berhenti kuliah, Mahesa yang merupakan dosennya justru datang mendekat. Meski Mahesa terasa tidak asing, Arimbi tetap diliputi ketakutan hebat. Ia bertekad menutup hati agar tidak terjerumus dalam penderitaan yang sama untuk kedua kalinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dengan langkah gontai, Arimbi berjalan menuju ke mobil yang berada di pelataran parkir diskotek. Lumayan terseok-seok dengan kondisi setengah mabuk. Andre menawarkan diri mengantar hingga ke kosan.

Karena merasa tidak nyaman bila berdua saja di dalam mobil bersama, Arimbi menolaknya. Baginya, Andre sama mata keranjangnya dengan pria-pria di diskotek yang biasa ditemani menghabiskan bergelas-gelas minum beralkohol.

Dalam posisi mabok, Arimbi berjalan sesekali terhenti karena harus menjaga agar posisi tubuhnya yang terhuyung tidak jatuh terjerembab. Berkali-kali pula ia berpegang pada dinding atau pun tiang lampu di pelataran parkir.

Bila sudah merasa tidak lagi pusing, ia akan melanjutkan langkah kakinya. Ketika berada di tengah-tengah pelataran parkir, Arimbi tidak melihat sebuah mobil yang akan melewatinya. Hampir saja ia tertabrak, bila tidak ada tangan kokoh yang meraih tubuhnya.

“Kamu mau mati?” Suara Bariton terdengar di telinga Arimbi. Bukannya ketakutan, gadis itu malah tertawa terpingkal-pingkal dalam dekapan lelaki itu.

“Hei … Maha! Ngapain sih, pake pegang-pegang segala? Kenapa? Naksir aku?” Arimbi menepuk dada Maha—lelaki yang menyelamatkannya—sambil tertawa-tawa. Maklum saja, efek alkohol sudah memengaruhinya.

“Ngomong apa sih, kamu. Kalau mau mati jangan di sini!” bentak Maha pada Arimbi, lalu merangkul tubuh gadis itu dalam dekapannya. “Ayo kuantar pulang!”

“Maha … Maha …! Kamu ini selalu jadi pahlawan untukku. Kamu memang teman yang setia …!” Arimbi menepuk bahu Maha. “Gak rugi punya teman seperti kamu. Hahaha …!”

“Tidak bisa apa kamu itu berhenti minum sambil menemani laki-laki hidung belang itu? Jangan sok kuat dengan alkohol. Meskpun mulutmu kuat, tapi yang lain gak bisa sejalan, Arim.”

“Sssttt … berhenti mengomel, Maha. Kamu niat membantuku atau mau mengomel? Ha?!” Arimbi lagi-lagi menepuk dada Maha yang terbalut kaus berwarna hitam.

“Kamu selalu keras kepala!” Maha mendorong kepala Arimbi hingga gadis itu hampir jatuh terjengkang kalau saja tangannya tak segera menarik tubuh Arimbi.

Wajah mereka berdekatan, dengan senyum dan wajah kemerahan Arimbi yang begitu dekat dirasakan oleh Maha. Jantungnya berdebar tidak karuan, dengan sensasi itu. Tidak pernah menyangka bahwa efek kedekatan mereka begitu berpengaruh besar untuknya.

Arimbi yang mabok, menampar pipi Maha sambil terkikik geli. Bahkan tubuhnya terguncang karena tak menahan tawanya.

“Kamu memang teman yang baik, Maha. Aku cinta padamu, Maha!” ucap Arimbi masih menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu.

Mahameru—nama lengkapnya—tak kuasa menahan rasa di hati. Bisa bahaya bila ia akhirnya tergoda dengan sahabatnya sendiri. Ia pun segera membopong tubuh mungil Arimbi, lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Di dalam mobil, Arimbi terus menerus mengomel tak jelas yang berusaha diabaikan oleh Maha.

“Tante Mona, di mana kamu …! Kamu harus tanggung jawab!” Arimbi mengomel setelah tubuhnya terbaring pada kursi penumpang di dalam kendaraan yang dikemudikan oleh Maha.

“Kamu masih berhubungan dengan Mona brengsek itu?” gerutu Maha, pelan.

“Mona brengsek! Kamu harus tanggung jawab sama yang ada dalam perutku … kamu harus tanggung jawab ….”

Omelan Arimbi membuat Maha tersentak, menyadari bahwa sesuatu telah terjadi pada Arimbi. Matanya yang tertuju pada jalanan, dilirik ke arah spion melihat Arimbi yang tertidur dalam posisi telentang.

“Jangan jangan …,” gumam Maha. “Brengsek!” umpatnya pelan ketika ia menyadari sesuatu, pengakuan Arimbi yang tidak disadarinya.

Maha membawa Arimbi pulang ke rumah tinggalnya. Karena ia tidak mungkin mengantarkan Arimbi dalam posisi mabok ke rumahnya sendiri. Ia lebih memilih mencari aman dalam situasi ini. Satu lagi, misinya adalah ingin mengetahui kebenaran tentang Arimbi.

Tiba di depan rumah, Maha mematikan mesin kendaraan, lalu membuka pintu kemudi. Sebelumnya sempat dilirik gadis yang tertidur dalam posisi mabok itu, menatapnya dengan prihatin.

Maha membopong tubuh mabok Arimbi memasuki rumahnya. Bersyukur ia memiliki satu kamar kosong yang menjadi kamar tamu. Itu lebih baik dari pada ia harus membiarkan gadis itu pergi bersama lelaki hidung belang yang selalu ditemani minum ketika berada di diskotek.

Perlahan, dibaringkannya tubuh lemah Arimbi di atas kasur. Gadis itu tidak lagi mengomel karena pengaruh alkohol di tubuhnya. Maha menyelimuti tubuh mungil gadis itu, lalu menatap wajahnya lekat.

Dengan lembut, disingkirkannya anak-anak rambut yang menutupi wajah ayu Arimbi. Senyum kecut tiba-tiba menghiasi wajah Maha, mengingat kenyataan yang terucap oleh Arimbi beberapa saat yang lalu. Ada kekecewaan di wajah Maha, yang tak dapat diungkapkan.

***

Matahari sudah tinggi ketika Arimbi berhasil membuka kedua matanya perlahan sambil mengerjap karena silau terkena sinar matahari yang menimpa wajahnya. Merasa pusing, dipegangnya kepala menggunakan salah satu tangannya.

“Aku di mana ini?” gumamnya, sambil menatap plafon kamar itu. Ia merasakan embusan napas pada bahunya yang terbuka. Sesosok laki-laki sedang terbaring di sebelahya sambil memeluk pinggangnya.

“Whoaaa …!!!” teriak Arimbi begitu menyadari ia tidak sedang sendirian di atas tempat tidur. Sementara Mahameru yang masih terlelap tersentak kaget, lalu terbangun mendengar teriakan Arimbi. Ia pun segera menjauhkan diri dari tubuh Arimbi.

“Apaan kamu ini, Maha!” seru Arimbi pada Maha yang memijit kepalanya yang sakit, efek terbangun karena mendengar teriakan Arimbi.

“Apaan, sih!” ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju ke arah pintu.

“Hei! Maha! Mau ke mana kamu!” seru Arimbi kesal, karena pertanyaannya tidak digubris oleh Maha.

“Mau mandi!” seru Maha cuek.

Arimbi segera melemparkan bantal yang ada di sampingnya ke arah Maha.

Buk!!! Tepat mengenai punggung Maha. Lelaki itu mendelik, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar.

Arimbi semakin kesal dengan sikap cuek Maha yang ditujukan padanya. Padahal lelaki itu berhutang penjelasan padanya, mengapa ia harus berakhir di sini.

Dengan kepala pusing, Arimbi memaksakan diri bangkit dari pembaringan. Matanya mengedari ruangan yang asing baginya. Ia coba mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Sayangnya, ia tidak bisa mengingat dengan baik.

Arimbi hanya mengingat ketika ia berada di diskotek mencari keberadaan tante Mona, lalu berakhir dengan menikmati minuman keras bersama Andre. Ia juga mengingat ketika Mahameru coba mendekatinya beberapa kali tapi ia selalu berhasil menghindari lelaki itu.

“Maha! Kamu berutang penjelasan padaku!” serunya lalu berjalan mantap keluar dari dalam kamar.

Di luar kamar, ia melihat kondisi rumah yang sepi. Kesan maskulin kentara di dalam rumah itu, dengan warna cat berwarna putih dengan perabot yang identik dengan warna hitam. Lantai marmer papan catur serta ruangan yang cukup luas karena minimnya perabot membuat rumah itu tampak lebih luas.

Arimbi melangkah menuju ke dapur, mencari air mineral karena rasa kering di tenggorokannya. Matanya mengedari ruangan, mencari keberadaan Maha yang tak lagi tampak. Sepertinya lelaki itu sedang berada di kamar mandi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU
8.0
Kehadiran orang ketiga dalam sebuah rumah tangga sering kali muncul dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bahkan, sosok yang selama ini dipercaya untuk bekerja dan membantu urusan domestik di kediaman pribadi pun bisa menjadi ancaman nyata bagi keutuhan pernikahan. Kisah ini mengungkap pengkhianatan menyakitkan yang dilakukan oleh suami bersama orang terdekat di rumah sendiri, memicu sebuah pembalasan yang setimpal atas segala luka tersebut.
Sampul Novel DIBUANG SUAMI DISAYANG AYAH MERTUA
8.4
Elsa, gadis desa lugu, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pewaris Group Parker, Landon. Demi wasiat kakek, Landon justru memperlakukan Elsa dengan kejam hingga ia hancur. Di titik terendah, Alex Parker selaku ayah mertua hadir melindungi Elsa karena rasa tanggung jawab. Namun, kedekatan mereka memicu gairah terlarang yang sulit dibendung oleh sang miliarder dingin. Akankah Alex sanggup menahan godaan Elsa atau justru menyerah pada hasratnya?
Sampul Novel Dinikahi Calon Kakak Ipar
9.0
Tragedi kecelakaan merenggut nyawa calon suamiku tepat di hari pernikahan, memaksaku menikah dengan kakaknya yang kaku. Hidup bersamanya penuh cobaan hingga aku menyadari bahwa dialah sosok sebenarnya di balik alasan aku mencintai adiknya. Kini, aku bertekad mengajarkannya cara mencintai. Selain kisah Arsen dan Elvira, buku ini juga merangkum romansa beda kasta antara Tio dan Mona yang tak kalah seru. Akankah hubungan asisten dan sekretaris ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.
Sampul Novel Mertua Awal Pembawa Petaka
9.3
Kanaya terbiasa hidup mandiri setelah kepergian orang tuanya yang dulu menikah tanpa restu. Meski sukses menjadi asisten CEO dan memiliki suami tampan bernama Lukman, duka menyelimuti tahun keempat pernikahan mereka karena belum hadirnya buah hati. Kepercayaan Kanaya hancur saat mengetahui Lukman ternyata telah berpoligami. Kepedihan kian mendalam karena ibu mertuanya justru merestui pengkhianatan tersebut. Mampukah Kanaya bertahan di tengah badai ini?
Sampul Novel Oh Dania
9.8
Dania adalah sosok ibu muda yang memiliki ambisi besar untuk selalu tampil unggul dan menjadi pusat perhatian di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, kehidupan tenangnya terusik saat ia menyadari bahwa Khamila tinggal di kompleks yang sama. Khamila merupakan wanita dari masa lalu yang pernah mengkhianatinya dengan merebut calon suaminya. Kini, Dania harus menghadapi kembali luka lama dan persaingan sengit dalam drama kehidupan bertetangga yang penuh ketegangan.