Sampul Novel Never Move On

Never Move On

9.6 / 10.0
Dalam romance novel Never Move On, Nina yang kehilangan segalanya terpaksa bekerja di apartemen milik Nico, mantan kekasihnya yang baru kembali dari Amerika. Terjebak dalam satu atap, mereka harus menghadapi masa lalu demi bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan modern ini.
Ringkasan Never Move On
Nico dan Nina berpisah saat kuliah akibat restu orang tua hingga Nico pindah ke Amerika. Enam tahun berselang, Nina yang kini yatim piatu dan kehilangan tempat tinggal terpaksa bekerja menjaga sebuah apartemen kosong. Tak disangka, sang pemilik adalah Nico yang baru saja pulang. Karena Nina tak punya tujuan lain, Nico mengizinkannya menetap. Terjebak dalam satu atap, mantan kekasih ini harus berbagi ruang dengan berbagai aturan demi menjaga jarak profesional.
Baca Selengkapnya

Never Move On Bab 1

Nico dan Nina adalah mantan kekasih dimasa kuliah, mereka berpisah karena banyak hal, awalnya ibu Nico jelas tidak suka anaknya berhubungan dengan wanita yang status sosialnya berada jauh di bawah mereka.

Tentu saja Nico dan Nina awalnya tidak menghiraukan itu, namun lama-kelamaan hubungan mereka terasa seperti neraka, mereka sering sekali bertengkar, dan akhirnya hubungan mereka kandas juga. Nico pindah ke Amerika sedangkan Nina melanjutkan kuliahnya.

Enam tahun berlalu sejak mereka berpisah, Nina memiliki hidup yang cukup berat karena sang ayah meninggal dunia tak lama setelah ia berpisah dengan Nico, dan setahun kemudian, ibunya menyusul sang ayah ke surga, seakan masih belum cukup sulit, kini Nina juga kehilangan tempat tinggal karena rumah yang ia sewa akan dijual oleh pemiliknya.

Nina belum memiliki pekerjaan meski ia sudah menyandang gelar sarjana. Ia tidak bisa menyewa tempat tinggal baru karena sebenarnya rumah yang ia sewa sebelumnya ia bayar dengan membantu bersih-bersih di toko si pemilik rumah.

Dulu ia tidak tahu bahwa mencari pekerjaan sesulit ini, tapi ia memutuskan untuk kembali mengirim lamaran ke beberapa perusahaan dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan.

Nina duduk sendirian dengan koper dan tas di pinggir jalan, sambil berpikir ia harus kemana malam ini, satu-satunya sahabat yang ia miliki sudah pindah ke Jerman setelah menikah. Tidak ada lagi tempat untuknya meminta tolong.

* * *

-Nina.-

"Kau dari mana nak?" tanya seorang nenek yang entah sejak kapan ia duduk di sampingku.

Aku menoleh kaget. "Bukan dari mana nek, tapi mau kemana."

"Mau kemana?" tanya si nenek dengan suara paraunya.

Aku mengangguk. "Aku tidak punya tempat tinggal."

Si nenek seakan tidak puas dengan jawaban ku.

Aku menghela nafas. "Rumah yang sebelumnya ku sewa kini sudah dijual pemiliknya, dan aku tidak punya uang untuk menyewa rumah baru."

Si nenek mengangguk sambil berpikir.

(Ku harap ia nenek kaya raya yang sedang menyamar atau tersesat, dan menemukanku lalu merasa iba, kemudian memberikan aku pekerjaan.) Jiwa merana ku mulai berkhayal.

"Aku bekerja di sebuah apartemen di dekat sini." Si nenek mulai berbicara lagi. "Setiap hari aku membersihkan apartemen itu dan kurasa kau bisa tinggal di sana untuk sementara."

Aku mengerutkan kening, (bagaimana aku bisa tinggal di apartemen milik orang lain?) pikirku.

"Aku sudah tua, lagipula anakku meminta ku untuk berhenti bekerja, jadi kebetulan hari ini aku sudah menyampaikan pada pemilik apartemen bahwa aku akan berhenti bekerja, namun pemilik apartemen itu memintaku untuk mencarikan pengganti sebelum aku benar-benar berhenti."

"Maksud nenek, anda memintaku menggantikan nenek?"

Nenek mengangguk. "Kau bisa mendapatkan tempat tinggal sementara dan bisa mendapatkan gaji juga."

Gelar sarjana ku menjerit. Tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan tempat tinggal. "Baiklah." ucapku setuju.

"Kalau begitu nenek akan menghubungi pemilik apartemen nya dulu ya." Si nenek mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Aku melirik tajam. (Keren, smartphone nya lebih mahal daripada milikku.)

Si nenek berbicara dan menjelaskan kepada seseorang di telepon. "Baiklah terimakasih." ucapnya mengakhiri. "Kau bisa tinggal di sana." katanya.

"Sungguh?" Aku bersemangat dan sangat merasa bersyukur.

"Tapi hanya sementara, sampai kau memiliki uang untuk menyewa tempat baru.

"Siap!" Aku menggenggam kedua tangan nenek sambil menyeringai.

Dan kami pergi ke apartemen yang memang tidak jauh dari tempat ku duduk tadi.

"Dengar ya." Si nenek terdengar ingin menjelaskan sesuatu. "Pemilik apartemen ini adalah seorang laki-laki, lajang dan sifatnya kurang hangat, meski ia tidak pernah memarahiku tapi aku tahu bahwa tempramen nya cukup buruk."

"Umm.. beliau ada dimana sekarang? Apa tidak akan pulang?" Aku meletakkan koper dan tas ku di lantai.

"Beliau ada di Amerika, kalau tidak salah ingat, ia pulang sekitar empat tahun lalu." katanya.

"Baguslah, setidaknya ia tidak akan pulang untuk satu atau dua bulan kedepan juga kan?"

"Semoga saja." ucap nenek. Lalu ponselnya berdering.

Sementara nenek mengangkat telepon, aku pergi untuk melihat-lihat. Tidak ada satupun foto yang terpajang di dinding ataupun di meja.

(Pemilik apartemen semewah ini seorang pria lajang? Sudah pasti ia bujang lapuk yang gila kerja. ) pikirku.

"Aku harus pergi." kata nenek. "Anggap saja rumahmu sendiri, dan bersihkan dengan teliti. Oke?"

"Oke." Aku mengacungkan ibu jariku.

Setelah nenek pergi aku mulai mencari-cari kamar yang sekiranya bisa ku gunakan untuk sementara. Ruangan pertama yang ku buka adalah Kamar yang cukup besar, bahkan sangat besar.

"Ini pasti kamar utama." pikirku. Ku tutup kembali kamar itu dengan hati-hati seakan gagang pintunya terbuat dari kristal, jujur saja aku sedikit phobia dengan barang-barang orang kaya, bisa jadi gagang pintunya saja harganya jutaan.

Aku beralih ke kamar selanjutnya. Tidak sebesar kamar utama,( tapi apakah aku boleh menempatinya?) pikirku lagi. Lalu ku tutup kembali kamar itu.

Apartemen ini memiliki tiga kamar namun seperti lebih aman kalau aku mencari tempat lain untuk tidur. Hingga aku menemukan sebuah ruang perpustakaan dengan rak bernuansa kayu, lantai berwarna kecoklatan, dan kursi sofa memanjang ditambah dengan karpet bulu yang terlihat begitu nyaman.

"Baiklah, disini sepertinya tidak apa-apa." ucapku lalu ku letakkan koper yang sejak tadi ku seret di sudut perpustakaan.

Dan aku tertarik untuk melihat koleksi buku pemilik tempat ini. Buku pertama yang ku ambil berjudul (Management Keuangan Internasional.) Langsung ku letakkan lagi buku itu pada tempatnya. Aku ingin tidur, jika aku membaca buku itu sudah bisa dipastikan kepalaku akan pusing.

Aku mengambil buku kedua (Management Bisnis Terintegrasi.) Belum sepenuhnya ku tarik buku itu dari rak, langsung ku rapikan kembali.

"Jelas orang bisnis." Ucapku menyimpulkan tentang si pemilik apartemen sambil mengangguk.

Cukup lama aku menelusuri rak buku hingga ku temukan sebuah novel klasik berjudul (Far From the Madding Crowd.) karya Thomas Hardy. Aku mengambilnya lalu duduk di sofa untuk ku baca.

"Ketika Petani Oak tersenyum, sudut-sudut mulutnya menyebar sampai berada dalam jarak yang tidak penting dari telinganya, matanya menjadi kecil, dan kerutan yang berbeda muncul di sekelilingnya, memanjang di wajahnya seperti sinar dalam sketsa dasar dari matahari terbit. matahari." Aku mulai membaca bait pertama dari buku tersebut.

Buku yang mengisahkan tentang seorang petani bernama Oak yang mengalami cinta sepihak. Dan sebait kata-kata Gabriel Oak mengingatkan aku pada seseorang. “Aku mengikutimu ke mana-mana Bathsheba-ku yang cantik, Beribu kilometer, dan bertahun-tahun…”

Aku ingat Nico pernah berkata padaku, "Meski kau tidak menginginkan aku, atau kau ingin pergi dariku, aku akan mendapatkan dan mengejarmu kemanapun itu."

Kata-kata itu tidak pernah meninggalkan ingatanku, kata-kata yang bertolak belakang dengan sikapnya, karena kenyataannya dia lah yang pergi sangat jauh dariku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Never Move On

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta adalah wanita tangguh yang fokus pada karier meski sering diremehkan karena penampilannya yang bersahaja. Pernah dicampakkan akibat perbedaan kasta, ia bertekad membuktikan nilainya tanpa banyak bicara. Kehidupannya berubah saat bertemu Evan, seorang pengusaha duda sukses. Kini, mereka harus bersatu menyelidiki dalang di balik kekacauan perusahaan masing-masing, sembari berjuang mempertahankan cinta yang terus diterjang badai dan dendam masa lalu.
Sampul Novel GHAFFAR PENAKLUK AKHWAT
8.2
Ghaffar memutuskan merantau ke Jakarta demi menimba ilmu. Namun, kehidupan pemuda ini berubah total saat ia mulai berinteraksi dengan deretan wanita di ibu kota. Perjalanan yang semula fokus pada pendidikan justru membawanya ke dalam lika-liku hubungan yang tak terduga. Kisah romansa modern ini mengandung konten dewasa yang ditujukan bagi pembaca bijak. Ikuti bagaimana Ghaffar menghadapi dinamika sosial dan godaan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.
Sampul Novel Putriku Bukan Anak Pembawa Sial
8.5
Rani berjuang sendirian membesarkan Luna, putrinya yang mengalami gangguan pendengaran. Kondisi tersebut merupakan dampak dari upaya aborsi yang dilakukan Rani saat mengalami depresi akibat kekejaman suaminya, Niko. Setelah suaminya pergi menghilang, Rani harus berperan ganda sebagai ibu sekaligus ayah. Meski dihantui masa lalu yang kelam, ia bertekad bekerja keras demi menjamin masa depan Luna agar tidak merasakan penderitaan serupa yang pernah ia alami.
Sampul Novel Sayang, Beri Aku Kesempatan Lagi!
9.0
Selama menikah, Satya selalu memandang rendah Tamara sebagai wanita hina hingga akhirnya mereka bercerai. Namun, setelah berpisah, Satya justru menyadari bahwa ia telah membuang sosok yang sangat berharga. Kini, ia memohon kesempatan kedua dengan penuh penyesalan. Sayangnya, Tamara yang sudah terluka akibat perlakuan buruk suaminya kini telah bangkit dan menutup pintu hati. Meski Satya berjanji untuk tidak menyerah, Tamara hanya memberikan penolakan keras.
Sampul Novel You Are My Heart
8.6
Proyek kerja mempertemukan kembali Ling Yue, sang Presdir sukses, dengan Cia Li, seorang ahli botani. Pertemuan ini membangkitkan memori lama yang penuh kesalahpahaman. Cia Li mengira cintanya tak terbalas, sementara Ling Yue yakin bahwa wanita itu membencinya di masa lalu. Kini, di tengah perbedaan profesi yang kontras, mereka harus berhadapan dengan perasaan yang berkecamuk. Mampukah keduanya meluruskan luka lama dan menyelesaikan cinta yang sempat tertunda?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan