Sampul Novel Petaka Dua Garis

Petaka Dua Garis

9.1 / 10.0
Masa depan cerah Arimbi hancur seketika saat ia mendapati dirinya hamil tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya. Trauma mendalam membuatnya memandang semua pria sebagai ancaman berbahaya. Di tengah keputusasaan setelah berhenti kuliah, Mahesa yang merupakan dosennya justru datang mendekat. Meski Mahesa terasa tidak asing, Arimbi tetap diliputi ketakutan hebat. Ia bertekad menutup hati agar tidak terjerumus dalam penderitaan yang sama untuk kedua kalinya.

Petaka Dua Garis Bab 1

“Sial!” Arimbi menggerutu kesal setelah melihat kemunculan dua garis merah pada alat deteksi kehamilan. Dia melemparkan hasil tes itu ke pintu kamar mandi kampus. Dia menangis, menyadari kesalahannya.

“Tante Mona, kamu brengsek!” maki Arimbi kesal.

Arimbi mampu mengingat dengan jelas kejadian satu bulan sebelumnya, saat tante Mona memintanya untuk menemani pelanggannya seperti biasa. Namun kali ini Arimbi ditawari dengan bayaran yang lebih besar. Arimbi segera menerima tawaran itu karena sudah waktunya dia harus segera melunasi tagihan pembayaran uang semesteran.

Tanpa Arimbi sadari bahwa malam itu merupakan jebakan baginya. Tante Mona memanfaatkannya, dan menyerahkan Arimbi pada lelaki hidung belang yang telah menodainya. Yang Arimbi ingat adalah pagi harinya dia sudah berada di kamar hotel dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Dan yang membuatnya shock adalah, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.

Tok tok tok. Tiba-tiba Arimbi dikagetkan suara ketukan dari luar kamar mandi di tempat dia berada. “Siapa ya di dalam. Bisa gantian tidak?” suara seorang pria terdengar di luar. Arimbi segera menyimpan test pact yang digunakannya tadi di dalam tasnya kemudian memperbaiki jilbab yang dipakainya. Setelah itu segera keluar dari kamar mandi. Di depan kamar mandi, berdirilah sosok Dimas tepat didepan pintu kamar mandi. Arimbi hampir saja menabraknya.

“Kamu bertelor didalam? Lama amat sih?” sindir Dimas. Arimbi hanya diam mendengarkan sindiran Dimas.

Dimas adalah seniornya di kampus. Punya wajah ganteng, gaya yang cool, keren, tajir pula. Siapa sih yang tidak kenal Dimas. Tahun ini dia didapuk menjadi Senat Mahasiswa pula selain kegiatannya sebagai ketua BEMFA. Tidak ada yang cela sebenarnya.

Tapi tidak keren bagi Arimbi. Dimas hanya sosok menyebalkan yang suka iseng menjahilinya. Dimas memang tidak pernah menyatakan isi hatinya secara langsung, namun Arimbi sempat mendengar rencana Dimas untuk proklamirkan cintanya pada Arimbi lewat Helmi sahabat Dimas. Mendengar cerita itu, membuat Arimbi selalu menghindar bila Dimas mendekatinya.

“Kamu sakit? Kok pucat?” Tanya Dimas menunjukkan perhatiannya.

“Tidak, aku ga papa kok. Aku masuk dulu ya, Mas.” Jawab Arimbi segera meninggalkan Dimas.

Arimbi segera melihat jadwal mata kuliah hari ini. Mata kuliah Psikologi Kepribadian. Sebenarnya Arimbi suka sekali dengan mata kuliah ini, namun karena pikirannya sedang tidak karuan membuatnya tidak bersemangat untuk mengikuti kelas.

Tiba di kelas, Arimbi mengambil posisi duduk di baris paling belakang. Rasa pusing menyerang kepalanya mengingat garis dua yang muncul di test pack yang di belinya tadi siang. Arimbi tidak menyadari saat Dimas duduk tepat disebelahnya.

“Selamat pagi, semuanya!”

“Selamat pagi, Pak!”

“Perkenalkan, saya Mahesa. Mulai semester ini saya akan memberikan kuliah mengenai Psikologi kepribadian. Mohon dicermati peraturan selama perkuliahan berlangsung. Pertama, saya tidak bisa mentolerir kehadiran dibawah 85 persen. Itu artinya kalian hanya saya beri toleransi tidak mengikuti perkuliahan saya maksimal tiga kali. Saya sangat menghargai setiap kehadiran dan keaktifan kalian selama perkuliahan berlangsung.” Dosen baru itu mulai berbicara mengenai peraturan yang wajib diikuti mahasiswanya.

Arimbi yang sedang tidak konsentrasi mengetuk-ngetuk mejanya yang menimbulkan suara berisik membuat Mahesa menegurnya.

“Kamu yang dibelakang, yang pakai kacamata. Ada yang mau ditanyakan?” Mahesa mengajukan pertanyaan dadakan pada Arimbi dengan alis ditekuk. Dimas menyenggol tangan Arimbi yang mengetuk meja, membuat Arimbi tersadar. Dimas memberikan isyarat mata pada Arimbi agar mengalihkan perhatiannya pada Dosen baru itu. Arimbi kemudian mengikuti arah mata Dimas kearah Mahesa. Tiba-tiba saja mulut Arimbi terbuka melihat pria yang mendekatinya itu.

“Siapa nama kamu?” Tanya Mahesa.

“Saya Arimbi Prameswari, Pak!” jawab Arimbi masih tak mampu menyembunyikan keterkejutannya pada sosok Mahesa yang merupakan Dosennya. Mahesa memicingkan matanya menatap Arimbi.

“Kamu keberatan mengikuti perkuliahan saya?” Tanya Mahesa lagi.

“Tidak, Pak. Mohon maafkan saya.” Jawab Arimbi dengan dada bergemuruh.

“Setelah jam perkuliahan habis, segera temui saya di ruangan saya!”

“Baik, Pak.” Jawab Arimbi.

Mahesa kemudian berbalik menuju ke depan kelas melanjutkan perkuliahan. Sementara Arimbi masih shock dengan penampakan Mahesa di depan mata kepalanya sendiri. Dia adalah si pria hidung belang yang menodainya. Arimbi

“Tante Mona kamu brengsek!” Arimbi bergumam lirih.

*****

Selesai memberikan kuliah di kelasnya Arimbi, Mahesa segera keluar menuju ruangannya yang berada satu lantai diatas ruang kuliah, Mahesa mencoba mengingat sesuatu tentang gadis yang bernama Arimbi Prameswari yang ditegurnya tadi.

“Mengapa wajahnya mirip sekali dengan gadis itu? Mungkinkah itu dia? Aku harus segera mencari tahu.”

Mahesa menekan tombol panggil pada ponselnya. Terdengar nada panggil di seberang sana. Tidak ada jawaban. Kemudian Mahesa menghubungi nomor lain yang segera terdengar suara jawaban diseberang sana.

“Adam, tolong pertemukan saya dengan Mona. Ada yang harus saya tanyakan padanya.” Mahesa segera mengakhiri teleponnya dengan pria yang bernama Adam.

“Apakah sebaiknya kutanyakan saja langsung padanya?”

Tok tok tok. Lamunan mahesa buyar saat terdengar ketukan dipintu ruangannya.

“Masuk!”

“Permisi, Pak. Bapak tadi memanggil saya.”

“Silakan duduk.”

“Terima kasih.”

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Arimbi menggelengkan kepalanya. Bukan karena ingin berbohong namun Arimbi perlu memastikan sesuatu. Namun dari jarak yang begitu dekat, Arimbi dapat melihat tahi lalat kecil di ujung hidung Mahesa. Hanya itu tanda yang dikenalinya.

“Tapi, saya merasa familiar dengan wajah kamu. Yakin kita tidak pernah bertemu?”

“Mungkin bapak pernah melihat yang mirip seperti saya.”

“Ataukah kamu berbohong?” Tanya Mahesa sambil memajukan kepalanya mendekati Arimbi membuatnya merasakan sesak nafas. Jarak wajah mereka hanya berada sejengkal saja.

“Untuk apa saya berbohong, Pak. Ada baiknya bapak memastikannya terlebih dahulu. Memangnya bapak pernah ketemu saya dimana?” Tanya Arimbi sambil memundurkan kepalanya,

Mendengar pertanyaan Arimbi, Mahesa langsung terdiam. Kemudian menarik kembali kepalanya ke posisi semula.

“Berikan pada saya nomor ponselmu. Catat disini.” Lanjut Mahesa sembari memberikan selembar kertas dan pena. Arimbi semula ragu untuk menuliskan nomor ponselnya. Namun akhirnya ditulisnya juga beberapa digit angka di selembar kertas itu.

“Besok pagi ada kuliah?” Tanya Mahesa lagi. Tangannya mengambil kertas bertuliskan nomor ponsel Arimbi.

“Kalau pagi, ada pak. Full. Sampai jam 12 siang.” Jawab Arimbi lagi.

“Baiklah kalau begitu. Pulang kuliah segera datang ke kantor saya di Biro Layanan Psikologi “Brain Your Mind”. Jangan lewat dari jam 1 siang.” Ucap Mahesa lagi. Arimbi hanya melongo mendengar perintah Mahesa.

“Silakan kembali ke kelasmu. Praktikum bulan depan saya minta kamu menjadi asisten saya. Oke?!” lanjut Mahesa membuat Arimbi semakin bingung.

“Baik, Pak. Permisi.” Arimbi segera meninggalkan ruang Pak Mahesa masih dengan rasa bingung.

“Apaan sih dia? Lagian kalau benar dia pria itu? Aku harus bagaimana?” gumam Arimbi sambil meninju kepalanya sendiri.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Petaka Dua Garis

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan