
PESUGIHAN BONDHO TURAH
Bab 2
Lintang menghela nafas panjang.
"Astaghfirullah! Ini jalan apa kali asat (sungai kering), sih! Kok dari tadi batuu terus!" Gerutu Lintang berusaha mengendalikan motor maticnya. Beberapa kali dia hampir terpeleset dan jatuh.
Dia memang salah memilih jalan. Dia sebenarnya sudah tahu dari sahabatnya, Rani, bahwa desa Kayu Dawung ini dikelilingi oleh jalan yang rusak. Di sebelah utara ada jalan berlubang-lubang menuju ke dusun Kayu Gintung, di sebelah timur ada jalan berbatu-batu menuju dusun Kayu Giyang, dan dari barat ada jalan berbatu, berlubang dan licin, menuju dusun Kali Kuning.
Tapi jalan masuk dari dusun Kali Kuning memang yang paling parah. Dan anehnya, Lintang memilih jalan itu. Dan, akhirnya Lintang terjatuh juga dari motornya.
Baju putihnya langsung penuh dengan lumpur. Untung dia sempat melompat sebelum motornya jatuh, jadi lukanya tidak terlalu parah. Tapi pergelangan tangannya sakit sekali, mungkin terkilir.
Aduh! Mana sepi lagi, Lintang berusaha mencari bantuan, tapi hampir tidak ada orang sama sekali. Aduh! Padahal dia harus ke Polindes jam sepuluh, sekarang sudah setengah sepuluh, dan dia tidak bisa mengangkat motornya sama sekali.
"Mbak jatuh, ya?"
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Lintang. Lintang menoleh. Dilihatnya seorang lelaki memakai celana pendek dan kaus pendek, tubuhnya kekar. Dia memakai caping.
Tanpa menunggu jawaban lelaki itu langsung membantu menaikkan motor Lintang. Beberapa orang dari rumah di pinggir jalan itu juga keluar setelah mendengar teriakan sang lelaki.
"Ya Allah, ada yang jatuh lagi, ya, San?"
"Iya, bu. Kasihan sekali mbaknya kayaknya tangannya sakit, ya mbak?"
Lintang mengangguk, dia memegangi pergelangan tangan kirinya yang nyeri.
"Sini mbak, masuk dulu. Ganti baju sama diobati tangannya," kata seorang ibu, yang sepertinya pemilik rumah itu. Lintang menurut, sepertinya tidak mungkin menghadap pak Kades dalam kondisi seperti ini.
Di dalam dia langsung disuruh mandi dan berganti baju, bahkan dia diminta makan.
"Makan dulu! Syaratnya orang bertamu, ya harus makan dulu!" Kata ibu yang baik hati itu, "San, ini lo, mbaknua ditemani makan, kasian sendirian," lanjut si ibu memanggil lelaki yang menolong Lintang tadi.
Ternyata lelaki itu diminta tetap menunggu Lintang, karena si ibu memintanya mengantarkan Lintang setelah ini.
"Mbaknya bidan yang baru, ya?"
"Wah! Kok ibu tahu, bu? Saya sebenarnya di sini hanya untuk membantu bu Indah Restu mendata dan membantu melayani pasien di polindes sampai dokter dan perawat tetapnya datang, bu," jelas Lintang.
"Oh, gitu. Iya, ya, di sini jarang yang bertahan lama dokternya, alasannya jalan masuk desa yang sulit. Jalan kaki saja sulit, apalagi naik motor. Aduh! Udah berapa kali motor jatuh di depan rumah saya ini!" Keluh sang ibu.
Lintang manggut-manggut, jalan yang dilaluinya tadi memang luar biasa mengerikannya, apalagi sepertinya kemarin baru hujan, licinnya minta ampun.
"Tangannya gimana, mbak?" Tanya sang lelaki muda.
Secara refleks Lintang menggerak-gerakkan pergelangan tangan kirinya.
"Alhamdulillah, sudah tidak sakit, mas. Mungkin tadi kaget waktu jatuh," jawab Lintang.
"Alhamdulillah. Oh, ya, mbaknya ini namanya siapa? Sampai lupa, nama saya Partini, suami saya namanya Suwagino, biasanya saya dipanggil Bu Gino. Nah, yang mbantu mbak tadi namanya Sandi, dia rumahnya di belakang rumah saya ini," jelas sang ibu. Lintang mengangguk.
"Saya Lintang, bu. Salam kenal," mereka berjabatan.
Lintang tersipu saat berjabatan dengan lelaki bernama Sandi tadi. Lelaki itu hanya tersenyum.
"Biar nanti diantar Sandi, mbak. Sandi, kan orang sini, sudah biasa lewat jalan ini. Biar cepat sampai juga," kata bu Gino. Lintang mengangguk.
"Matur muwun sekali, bu. Sudah diterima dengan baik," kata Lintang ketika berpamitan.
"Iya, mbak. Semoga betah di sini, ya, mbak. Kalau butuh bantuan nyuruh orang saja ke sini, insya Allah kami bantu," kata bu Gino tulus. Lintang mengangguk dan kemudian meneruskan perjalanan dengan Sandi.
"Mbak Lintang!" Seru Sandi ketika mereka naik motor.
"Ya, mas!" Jawab Lintang sambil berteriak juga, karena Sandi mengendarai motor dengan cepat.
"Tadi itu orang terkaya di Kayu Dawung, mbak! Punya peternakan sapi besar di belakang rumah saya!"
Lintang diam, dia sedang mencatat dalam hati.
"Orangnya baik! Suka menolong mbak!" Teriak Sandi lagi.
"Iya, mas!" Jawab Lintang, percakapan ini agak sulit karena angin bertiup cukup kencang. Sandi masih berbicara banyak hal, Lintang hanya mendengarkan saja, sulit sekali harus menjawab sambil berteriak-teriak seperti itu.
Rasanya perjalanan melewati jalan berbatu itu lama sekali, hingga akhirnya mereka sampai di jalan aspal mulus dan cukup luas.
Lintang bernafas lega. Rupanya Sandi tahu Lintang sudah lega, dia tertawa.
"Ya, inilah Kayu Dawung, mbak! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata Sandi.
Lintang tertawa.
"Tuh, di depan sudah kelihatan balai desa dan polindes," kata Sandi. Dari belakang Lintang melongokkan kepalanya. Tidak buruk juga, nampaknya Kayu Dawung desa di pegunungan yang cukup maju, tapi kekurangannya adalah jalan masuk yang cukup sulit itu.
"Sudah sampai, mbak," kata Sandi, kemudian memarkir motor Lintang di depan balai desa.
"Alhamdulillah," bisik Lintang segera turun dari motor. Dia menelan ludah, perjalanan yang luar biasa.
Dari dalam ada beberapa orang yang menyambut Lintang. Seorang lelaki tinggi kurus, berwajah ramah, memakai seragam warna khaki dengan senyum lebar di wajahnya itu sepertinya pak Kades. Dia menyambut Lintang dengan suka cita, seakan-akan ingin memeluk Lintang. Di belakangnya ada seorang wanita berjilbab dan berkacamata, yang langsung dikenali Lintang sebagai bu Indah Restu, bidan desa Kayu Dawung.
"Alhamdulillah!" Seru bu Indah Restu, "Katanya kamu jatuh, ndhuk?" Tanya bu Indah memeluk Lintang erat-erat.
Lintang terperangah.
"Nggak usah kaget. Di sini berita cepat tersebar. Tadi bu Gino sudah nelfon saya," kata bu Indah tersenyum lebar.
Pak Kades langsung menyalami Lintang.
"Selamat datang, mbak Lintang! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata pak Kades berapi-api. Lintang sampai kewalahan.
Beberapa orang lain juga menyambut Lintang, Lintang jadi merasa malu sendiri, serasa selebriti.
"Matur nuwun, ya San. Ayo, masuk dulu. Nge-teh dulu," kata seorang wanita yang ikut menyambut Lintang.
"Matur nuwun, bu. Tadi saya malah sudah makan di tempat bu Gino, sudah kenyang. Saya mau ngarit (cari rumput) lagi," jawab Sandi. Lintang baru ingat, bagaimana Sandi bisa pulang? Apa jalan kaki.
Seperti membaca pikiran Lintang, pak Kades menjawab sambil tertawa.
"Jangan khawatir mbak Lintang! Sandi rumahnya ada banyak! Dia bisa ambil ambil motor di rumah ibunya di belakang sini, tenang saja!" Kata pak Kades, disambut tawa orang yang lain. Lintang tersipu malu. Aduh! Ketahuan, deh.
****
Sore harinya Lintang sudah tiduran di rumah dinas Polindes. Letaknya di tengah desa, jadi lumayan ramai. Lagipula, pak Priyatno, pak Kades, dengan baik hati menyediakan seorang teman yang juga melayani semua kebutuhan Lintang, namanya Sarinem.
Sarinem adalah seorang gadis remaja, mungkin umurnya sekitar lima belas atau enam belas tahun. Dia pintar memasak dan lumayan lincah dalam bekerja. Lintang sudah suka pada Sarinem, sejak pertama mereka bertemu.
Tok tok tok
Lintang terbangun. Apa benar ada suara ketukan?
Tok tok tok
Oh, ya. Memang benar. Lintang segera memakai jilbabnya. Ternyata pintu sudah dibukakan Sarinem.
"Eh, mas Dimas. Monggo, mas," kata Sarinem, terdengar gumaman menjawab. Terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruang tamu.
"Mbak bidannya ada?" Tanya sang tamu, bertepatan dengan Lintang keluar kamar.
"Oh! La itu mbak Lintang. Mbak ini, dicari mas Dimas!" Kata Sarinem dan kemudian langsung menuju ke dapur.
Lintang berjalan perlahan. Sepertinya dia pernah melihat pria ini, tapi tidak di sini. Apa di kota?
"Monggo, mas," kata Lintang dan segera duduk di hadapan tamu yang sepertinya namanya Dimas itu.
"Njih, mbak. Matur nuwun. Saya Dimas mbak, saya anaknya pak Kades. Saya diminta ke sini untuk memeriksa motornya mbak Lintang. Katanya tadi jatuh, ya mbak?" Kata Dimas. Mendengar itu tiba-tiba Lintang ingat sesuatu, dia pernah melihat Dimas di papan iklan bengkel di dekat rumahnya di kota sana. Oh, ya! Sepertinya mas Dimas ini punya bengkel di kota.
"Mbak! Mbak Lintang!" Panggil Dimas keras, membuat Lintang tersadar dari lamunannya.
"Eh, mas Dimas yang punya bengkel di jalan Senopati deket kampus, kan?" Lintang malah balik bertanya. Dimas terkejut, sekaligus terheran-heran, cewek aneh, pikir Dimas.
"Iya, mbak. Kok mbaknya tahu?"
"Rumah saya, kan di belakang bengkelnya mas Dimas. Maaf, ya mas, malah jadi ngelantur. Soalnya tadi kayak pernah lihat gitu, tapi lupa di mana," jawab Lintang sambil tersenyum.
"Eh, iya, mbak nggak papa," jawab Dimas, dia juga tersenyum, lumayan juga jadi orang terkenal, jadi disapa cewek cantik, seperti Lintang ini.
"Motornya di mana, mbak?" Tanya Dimas lagi.
"Sudah saya masukkan garasinya pak Rahmat, mas. Tadi katanya suruh nitip di situ," jawab Lintang merasa bersalah. Sebenarnya dia juga tidak ingin segera memasukkan motornya seawal ini, tapi tubuhnya lelah, dia ingin cepat tidur.
"Oh, di garasinya pak Rahmat! Siip! Yuk, mbak, kita ke sana! Biar saya nggak salah motor!" Jawab Dimas. Lintang melongo. Dimas tertawa.
"Garasinya pak Rahmat, kan memang disewakan untuk parkir kendaraan. Nggak papa, kok kita ambil kendaraannya siang atau malam," jelas Dimas.
Lintang tersipu malu.
Mereka berjalan menuju ke garasi pak Rahmat, ternyata memang banyak kendaraan yang dititip di sini. Lintang jadi ingat untuk segera menanyakan berapa biaya sewa garasi di sini.
"Motornya yang mana, mbak?"
"Yang putih hitam, mas."
"Yang ini?"
Lintang mengangguk. Dia membiarkan Dimas memeriksa motornya, Lintang melihat berkeliling. Motor yang titipkan lumayan banyak juga, Linta sudah merasa suka dengan desa Kayu Dawung, dia merasa nyaman berada di sini.
"Mbak Lintang, saya sudah periksa motornya. Sepertinya tidak ada kerusakan serius. Ini, ada kantung plastik yang ketinggalan di motornya mbak. Takutnya makanan," kata Dimas memberikan kantung plastik warna hitam pada Lintang.
Lintang mengkerutkan keningnya. Plastik isi makanan? Kayaknya dia tadi hanya bawa tas isi baju dan buku. Tapi dia menerima plastik itu juga.
"Saya permisi dulu, ya mbak. Besok kalau ada apa-apa WA saya saja," kata Dimas, "Ini nomor saya, mbak," kata Dimas lagi. Mereka saling bertukar nomor HP dan berpisah.
Setibanya di rumah dinas, Lintang langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Dia lelah sekali.
****
"Mbak, ini kok ada plastik isi daun kering?" Tanya Sarinem ketika Lintang sedang sarapan.
"Apa mbak?"
"Ini lho, mbak," kata Sarinem sambil membawa sekantung plastik isi daun kering ke depan Lintang. Lintang melongo.
"Ini ada di ruang tamu tadi. Mungkin mbak Lintang bawa waktu keluar liat motor kemarin."
Oh, iya, kantung plastik yang kata Dimas mungkin isinya makanan. Tapi kok isinya daun kering. Aneh.
"Dibuang aja, ya, mbak?" Tanya Sarinem lagi, Lintang mengangguk sekilas. Dia sedang berpikir.
****
Sosok itu berteriak marah.
"Kurang ajar! Kenapa sekarang orang banyak yang rajin ibadah!" Dia menggebrak meja di kamarnya dengan keras.
Sekali lagi tumbalnya gagal kali ini.
****
Tak terasa sudah satu minggu Lintang berada di desa Kayu Dawung, di pusat desa tepatnya. Dia belum sempat berkeliling desa, dia sibuk sekali melayani para pasien yang datang ke Polindes. Mereka antusias ingin bertemu Lintang sang bidan muda nan cantik, tapi Lintang tidak memperdulikan hal itu. Dia memang bercita-cita mengabdi pada masyarakat dan merasa menjadi orang yang berguna.
Sebenarnya Lintang tahu ada beberapa lelaki yang datang ke Polindes hanya untuk menggodanya, tapi dia melayani mereka semua dengan suka cita dan sempurna. Tidak terlalu dipikirnya godaan dari bu Indah, dia tetap fokus berkerja melayani pasien dengan penuh keramahan.
Siang itu bu Indah dan Lintang hendak bersiap-siap menutup Polindes ketika beberapa orang berlari ke arah Polindes dengan panik.
"Bu bidan! Bu bidan tolong, bu!" Teriak beberapa lelaki.
"Ada apa, pak?" Tanya bu Indah, dia berlari keluar Polindes sambil membawa tas perlengkapannya.
"Ada yang mau melahirkan, bu. Di jalan depan rumah pak Haji!"
"Astaghfirullah! Ayo Lintang, bawa perlengkapanmu!"
Lintang segera mengikuti bu Indah. Mereka tidak menggunakan sepeda motor, sepertinya rumah pak Haji tidak terlalu jauh.
Ternyata dugaan Lintang benar, dari kejauhan sudah terlihat orang yang berkerumun. Mereka segera memberi jalan bu Indah dan Lintang.
Seorang wanita muda dalam kondisi hamil besar, terduduk di depan rumah pak Haji yang besar. Di belakangnya ada seorang lelaki setengah baya berkulit legam yang nampak khawatir.
"Asri, sabar, ya. Sabar, ya, sayang," bisik lelaki tengah baya itu beberapa kali.
Bu Indah memeriksa wanita muda itu.
"Sudah lengkap bukaannya, kita gotong ke Polindes, ya, mbak."
"Sakiit, mas! Sakit," keluh sang wanita, mencengkeram baju sang lelaki. Nampaknya wanita itu benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Sang lelaki tengah baya menelan ludah, dia nampak tidak tega.
"Di sini saja, bu bidan! Di rumah saya saja," kata bu Haji, dia sepertinya tidak tega, karena ada banyak orang yang menonton di luar.
Akhirnya semua sepakat. Beberapa pria segera bersama-sama membawa wanita bernama Asri itu ke rumah pak Haji. Mereka masuk ke salah satu kamar di rumah bu Haji.
Beberapa wanita dengan suka rela membantu bu Indah dan Lintang mempersiapkan kelahiran sang wanita. Para lelaki menunggu di ruang tamu, menemani calon bapak yang nampak galau
"Tenang saja, pak. Insya Allah dengan bu Indah dan mbak Lintang mbaknya bisa melahirkan dengan sehat dan selamat," hibur pak Haji.
"Iya, pak," kata lelaki itu, menutupi kegugupannya.
"Bapak ini dari mana, pak? Kayaknya bukan orang Kayu Dawung, ya?"
"Iya, pak. Saya dari Tintrim. Istri saya yang dari Kayu Gintung."
Mereka berpandangan keheranan.
"Oh, mbaknya tadi istrinya bapak?"
Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Namanya siapa, pak istrinya? Dari Kayu Gintung, ya?"
"Namanya Asri, pak. Anaknya pak Abdullah juragan kerupuk," jawab lelaki itu.
"Oalah, anaknya mbah Dullah, to. Maaf, ya, pak, tadi saya kira anaknya," kata pak Haji. Orang-orang tertawa.
"Kenalkan saya Pak Haji, nama asli saya Nuruddin, biasa dipanggil pak Nur atau pak Haji," kata pak haji.
Lelaki tadi menyambut uluran tangan pak Haji.
"Saya Supri, pak. Saya biasa dipanggil pak RT walaupun sudah lama tidak menjadi RT."
****
Anda Mungkin Juga Suka





