Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESUGIHAN BONDHO TURAH

PESUGIHAN BONDHO TURAH

Rusaknya akses menuju Desa Kayu Dawung menjadi pemicu rangkaian peristiwa kelam yang melibatkan keserakahan, kedengkian, dan kekuatan sihir. Di balik jalur yang hancur tersebut, takdir mempertemukan berbagai jiwa serta entitas roh yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Kisah panjang ini mengupas sisi gelap ketamakan manusia yang berpadu dengan misteri cinta yang rumit, menciptakan jalinan nasib yang tak terduga bagi setiap orang di dalamnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kelahiran anak pak RT berjalan lancar. Bayi dan ibu semua sehat. Bu Haji mempersilahkan pak RT dan istrinya Asri tetap berada di rumahnya, sehingga bisa mudah diperiksa Lintang. Pak RT sangat bersyukur dan berterima kasih pada kebaikan pak Haji.

Keesokan harinya keluarga Asri, yang dikenal warga desa Kayu Dawung dengan nama Mbah Dullah datang beramai-ramai, membuat suasana semakin heboh. Lintang yang harus memeriksa si ibu pun cukup kewalahan, meminta para tamu untuk keluar dari kamar terlebih dahulu.

"Alhamdulillah, ibu sudah cukup sehat untuk pulang, bu. Adik bayi juga sepertinya sudah siap untuk pulang. ASI nya lancar, kan, bu?"

Asri mengangguk.

"Iya, mbak lancar. Tadi malam sudah keluar cukup banyak."

"Darahnya keluar banyak?"

"Cukup banyak, tapi tidak bikin pusing."

"Alhamdulillah, kita tunggu bidan Indah dulu, ya bu. Kalau bidan Indah sudah oke berarti bu Asri sudah boleh pulang."

"Makasih, mbak," jawab Asri, "Rumah saya di Kayu Gintung, deket rumah pak Kades. Silahkan mampir kalau sempat, ya, mbak," ajak Asri.

Lintang mengangguk. Dia mendapat undangan seperti itu dari hampir semua warga desa Kayu Dawung yang berobat ke Polindes, senangnya berada di desa adalah karena keramahan penduduknya, membuat Lintang jadi betah.

****

Hari itu jadwal dokter dari rumah sakit datang bertugas. Dokter Aditya keheranan melihat pasien yang datang banyak sekali.

"Ada apa ini, bu Indah? Kok, tumben pasiennya banyak sekali. Apa sedang ada wabah?"

Bidan Indah tertawa.

"Nggak, pak dokter. Mereka kebanyakan hanya ingin bertemu dengan bidan Lintang," jawab bidan Indah. Lintang pura-pura sibuk mencatat di bukunya.

Dokter Aditya paham. Dia juga ikut tertawa.

"Oalah! Begitu, to? Kita lihat saja, kalau saya yang periksa apa mereka masih mau," kata Dokter Aditya, membuat Lintang pun ikut tertawa.

****

Lintang memeriksa HP nya. Ternyata ada pesan dari Dimas. Dia buru-buru membukanya.

[Assalamualaikum, mbak Lintang, maaf mengganggu. Motornya bagaimana? Apakah sudah nyaman dipakai?]

Lintang tersenyum. Sementara ini dia belum pernah naik motornya lagi.

[Waalaikum salaam, maaf baru balas, mas. Kebetulan selama di Kayu Dawung saya belum pernah pakai motornya. Insya Allah Minggu ini akan saya pakai. Kalau misalnya ada yang tidak pas, saya langsung ke bengkel mas Dimas yang dijalan Senopati, aja, ya.]

[Lho, mau pulang, to?]

[Insya Allah, mau ambil beberapa perlengkapan, mas.]

[Oh, gitu. Ya, oke, mbak. Lebih baik lewat jalan arah Kayu Gintung saja, lebih aman, walaupun lebih jauh.]

[Oke, mas. Makasih, ya.]

[Sama-sama.]

Lintang tersipu sendiri. Waduh! Kok dia jadi malu sama anak pak Kades, sih?

****

Sore hari Sabtu hujan turun dengan deras. Lintang merasa agak gugup, karena Rani sudah mewanti-wanti agar jangan pulang saja kalau habis hujan atau ketika hujan. Aduh! Padahal ada beberapa perlengkapan yang memang sengaja ditinggal Lintang di rumah, yang akan di bawa pada kesempatan pulang berikutnya.

"Mbak Lintang, ada yang cari," kata Sarinem mengagetkan Lintang.

"Siapa, mbak?"

"Sandi."

Lintang buru-buru bangun dan memakai bergonya. Sekarang dia sudah terbiasa dibangunkan ditengah tidur nyenyaknya karena ada pasien atau ada tamu.

"Eh, mas Sandi. Monggo, mas," sapa Lintang tetap ramah dan hangat, walaupun sebenarnya dia capek sekali.

"Iya, mbak. Matur nuwun."

"Ada perlu apa, mas?"

"Saya cuma mau nanya, mbak. Apa betul besok mbak Lintang mau pulang?"

"Wah! Sudah pada tahu, ya?" Kata Lintang sambil tersenyum. Sandi juga tersenyum.

"Iya, mbak. Kemarin banyak yang bilang," jawab Sandi lagi. Lintang melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Sandi, entah apa.

"Iya, mas. Insya Allah besok saya mau pulang. Banyak yang nyaranin saya lewat Kali Gintung saja. Tapi sekarang malah hujan kayak gini, saya jadi mikir-mikir lagi," jawab Lintang galau.

"Nah, karena itu saya ke sini, mbak. Kalau mbak nggak keberatan, bagaimana kalau besok saya antar, mbak?"

Lintang memandang Sandi keheranan, dahinya mengkerut.

"Maksudnya?"

"Maksud saya, nanti mbak Lintang saya antarkan sampai jalan besar, setelah itu mbak Lintang bisa pulang sendiri, mbak."

Lintang merasa kurang nyaman dengan ajakan Sandi. Bukannya Lintang tidak percaya, tapi dia kurang suka dengan cara Sandi mencampuri urusannya. Dia lebih baik memilih pulang dengan taksi atau ojek online daripada harus pulang dengan Sandi.

"Maaf, mas, besok saya sudah ada barengannya," jawab Lintang bohong.

"Dengan siapa, mbak?" Tanya Sandi penuh selidik, wajahnya nampak tidak menyenangkan.

"Dengan teman saya. Namanya Rani, dia keponakannya pak Kades," jawab Lintang. Lintang percaya kalau dengan pak Kades, Sandi pasti tidak akan berani melacak kebohongannya.

Sandi nampak kecewa.

"Oh, gitu, ya. Tapi nggak diboncengin, kan, mbak, sama temannya?"

"Nggak, mas. Nanti bareng bareng naik motornya."

"Wah, nggak aman, tuh. Sama saya aja, mbak. Biar nanti barengan sama temannya juga nggak papa," kata Sandi lagi.

Lintang mulai marah. Dia beristighfar berulang kali dalam hati.

"Maaf, mas. Makasih, tapi kayaknya nggak," jawab Lintang lagi.

Muka Sandi merah padam menahan marah. Lintang agak takut melihatnya, Lintang terus beristighfar dalam hati.

"Ya, udah, mbak. Semoga besok lancar perjalanannya!" Seru Sandi dan tanpa pamit dia pergi begitu saja.

Setelah Sandi pergi Sarinem langsung masuk ke ruang tamu.

"Ealah, bocah kurang ajar! Biar aja, mbak. Nanti tak bilang ke bapakku. Sandi itu emang anak nggak jelas. Biar nanti tak bilangin pak Kades juga!" Kata Sarinem.

Lintang tersenyum. Alhamdulillah masih ada yang mau menolongnya. Hatinya lega, tapi dia masih terus membaca istighfar.

"Tapi sebenarnya benar Sandi, mbak. Kalau habis hujan seperti ini biasanya jalannya agak bahaya," kata Sarinem dengan wajah was-was.

"Licin, ya?"

"Iya. Lagian kalau lewat Kayu Gintung, kan ada hutannya, suka ada ularnya mbak kalau habis hujan," lanjut Sarinem.

Astaghfirullah! Apa lagi ini?

"Kayaknya aku nggak jadi pulang aja, deh," kata Lintang akhirnya, menyerah.

"Eh, bener, mbak?" Tanya Sarinem. Wajahnya berbunga-bunga. Lintang memandang Sarinem dengan curiga.

"Kenapa emangnya, Nem?"

"Besok ikut pengajian aja, mbak di masjid Agung. Ada ustadz Irfanul Hakim, yang tukang ruqyah itu," kata Sarinem lagi. Lintang tertawa mendengarnya. Tukang ruqyah? Aduh, ada-ada saja. Tapi mendengar kata ustadz Irfan itu membuat Lintang terjaga sepenuhnya. Dia salah satu penggemar ustadz Irfan dan selalu mengikuti channel Youtube nya.

"Bener, Nem?" Tanya Lintang memastikan lagi.

"Iya, mbak! Sudah ada spanduknya, lo!"

Lintang tertawa sendiri, ya, iya, lah, dia nggak tahu spanduknya. Kan, dia nggak pernah ke mana-mana. Aduh! Lintang jadi merasa orang paling tidak gaul sedunia.

"Mau, ya, mbak? Sekalian jalan-jalan," kata Sarinem, Lintang mengangguk menyetujui.

Sarinem berseru senang.

"Asyik! Mbak Lintang mau pengajian! Besok tak kenalin sama yang cakep-cakep, deh, mbak!" Kata Sarinem lagi. Lintang hanya tertawa.

****

Telefonnya berdering setelah subuh. Lintang melihat siapa yang menelfon. Ternyata Rani!

"Halo! Assalamualaikum, ciin, udah bangun belum?" Suara Rani menggema di seluruh kamar Lintang.

"Waalaikum salaam, ya Allah! Kamu kayaknya yang baru bangun, ya Ran. Di desa, mah, apa-apa harus pagi. Makanya gabung di sini. Kosnya di sini! Biar bangun pagi terus."

Rani tertawa terbahak-bahak.

"Nehik, ya! Sorry dorry, ciin! Nggak level!"

"Hei! Jangan sombong! Di sini orangnya baik-baik, lo!"

"Emang, sih," jawab Rani, disambung tawa oleh Lintang.

"Eh, beb, aku besok ke situ, lo. Ke KAYU DAWUNG! Mau jadi bintang tamu pengajian ustadz Irfan!" Kata Rani sambil sengaja menekan kata Kayu Dawung dengan tandas.

Eh! Tunggu dulu, kesempatan, nih.

"Bener kamu udah tobat? Mau ngaji sama ustadz?" Tanya Lintang menggoda.

"Enak aja! Ngaca, Lin Ce!" Kata Rani mencak, Lintang tertawa melolong-lolong.

"Eh, tunggu-tunggu! Aku boleh minta tolong, nggak, ciin?" Tanya Lintang.

"Boleh, apa Lin?"

"Ambilkan kit ku di rumah, dong. Aku sebenarnya hari ini rencana mau pulang, tapi karena ada satu dan lain hal, aku nggak jadi pulang."

"Waduh! Mencurigakan banget, nih. Aku mengendus sesuatu yang membahayakan!"

"Serius, Ran!"

"Iya, iya. Insya Allah nanti kubawakan kitmu, cinta. Di kamar, kan?"

"Iya, udah kusiapin kemarin dulu. Tinggal angkat aja," jawab Lintang.

"Eh, jangan senang dulu, nona!"

"Heleh! Apa lagi, sih?"

"Ada satu syarat!"

"Apa?" Tanya Lintang malas.

"Ceritain ada apa kanjeng Ratu kok nggak jadi pulang," kata Rani sambil tergelak-gelak.

"Siap! Kuceritain semuanya!" Jawab Lintang.

Mereka bertukar beberapa gosip dan berpisah untuk berjanji bertemu lagi hari ini.

****

Masjidnya tidak jauh dari rumah dinas Polindes, Lintang sering sholat berjamaah di sana. Jalan menuju masjid sangat ramai. Banyak sekali orang yang menyapa Lintang, Lintang menanggapi dengan ramah sebisanya. Sampai dia melihat Sandi berdiri di tepi jalan dengan wajah ditekuk.

Lintang berdebar. Apa maunya orang itu?

Sarinem berjalan dengan gagah melindungi Lintang. Sandi menatap Sarinem dengan marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena banyak orang mendekati Lintang.

Lintang hanya tersenyum ketika melintas di depan Sandi. Lintang berusaha biasa saja, walaupun debar jantungnya tak tertahan lagi. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya, Sandi hanya diam tak bergerak, dia hanya menandang penuh kemarahan.

"Lin Ce! Lin Ce!"

Astaghfirullah, suara itu. Benar-benar menghancurkan reputasi! Pikir Lintang dalam hati.

"Astaghfirullah! Rani! Diam, napa?" Desis Lintang marah. Rani tertawa cekakakan.

"Iya, iya! Bu Bidan cantik seperti itik," bisik Rani masih sambil tertawa-tawa.

Lintang mencubit tangan Rani kuat-kuat, tapi Rani malah tambah tertawa-tawa.

"Mana yang ganteng dan bikin galau kamu nggak mau pulang?"

"Idih! Biang gosip banget!"

Mereka tertawa-tawa dan masuk ke dalam masjid bersama.

****

"Ustadz, apa gejala seseorang itu ada jin di dalam tubuhnya?"

"Gejalanya banyak sebenarnya. Dan setiap orang bisa berbeda-beda gejalanya. Tapi secara umum gejala yang bisa muncul adalah sering bersendawa. Bukan bersendawa ketika kita kenyang, ya bapak ibu. Tapi sering bersendawa tanpa sebab, bisa jadi ada gangguan mahluk lain di dalam tubuh kita. Yang kedua sering mimpi buruk. Mimpi buruknya juga bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Bisa jadi mimpi dikejar ular, digigit ular, mimpi di kuburan, mimpi melihat penampakan, bisa jadi mimpi berjalan-jalan dan selalu kesasar," jelas ustadz Irfan. Semua mendengar dengan intens.

"Ada juga yang mudah marah, emosi tak terkendali. Kadang ada juga yang jadi malas beribadah, pusing kalau tilawah, merasa terganggu dengan suara adzan. Bisa juga mimpi makan atau minum dari makanan atau minuman yang tidak lazim. Misalnya, maaf, ya, makan kotoran, makan tanah, misalnya, ada juga yang mimpi disuapi untuk makan atau minum."

"Ada juga yang tiba-tiba bisa meramal masa depan, bisa tahu masa lalu. Ada yang bisa mengobati penyakit. Ada yang mendengar bisikan-bisikan baik atau buruk. Banyak macamnya. Masalahnya apa yang harus kita lalukan kalau ada gelaja seperti itu? Itu yang paling penting. Karena ada yang merasa sudah puas dan sangat senang ketika bisa memprediksi masa depan, senang sekali bisa mengobati orang sakit, padahal kemampuan itu dari jin, dan menolak dihilangkan kemampuannya."

"Salah satu cara mencegah atau menghilangkan mahluk halus dalam diri kita adalah dengan meng-intens-kan ibadah kita. Menambah tilawah kita, semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Seandainya memang kita tidak bisa menanganinya sendiri, kita perlu bantuan orang lain untuk menghilangkan jin itu dari dalam tubuh kita. Tapi sekali lagi kuncinya cuma satu, kita harus benar-benar ikhlash menghilangkan jin itu dari tubuh kita, jangan pernah ada rasa menyesal atau kecewa ketika semua kemampuan dari jin itu hilang dari tubuh kita. Kalau ada setitik rasa kecewa, setitik rasa sedih atas kehilangan semua kemampuan itu, maka itu menjadi pintu gerbang kembalinya jin itu ke dalam tubuh kita."

Rani dan Lintang berpandangan. Mereka berdua merasa ngeri mendengar penjelasan ustadz barusan. Astaghfirullah, naudzubillah min dzalik, semoga terhindar dari hal-hal seperti itu, batin Lintang dalam hati.

"Ustadz surat apa saja yang bisa kita gunakan untuk meruqyah diri kita sendiri, ust?"

"Sebenarnya semua surat dalam al Quran bisa kita bacakan ketika meruqyah seseorang atau diri sendiri. Tapi memang ada beberapa panduan surat tertentu yang sifatnya wajib kita bacakan ketika meruqyah seseorang yang termaktub dalam buku kecil Al Ma'tsurat ini. Untuk lebih jelasnya busa ikut pelatihan ruqyah di pondok pesantren saya," kata ustadz Irfan sambil mengangkat sebuah buku kecil.

"Buku ini kecil, tapi firman Allah di dalamnya bisa mencegah gangguan mahluk halus, gangguan kejahatan dan gangguan keburukan kehidupan di dunia. Monggo, bapak ibu dibaca pagi dan sore, sholatnya, tilawahnya dikencengin, ibadah sunnahnya ditambah, dirutinkan, karena jin sangat tidak suka dengan ibadah sunnah. Insya Allah biidznillah itu adalah cara mencegah masuknya jin dan gangguan jin ke dalam tubuh kita. Silahkan dicoba, silahkan dibuktikan."

"Oke, lanjut ke pertanyaan yang paling banyak ditanyakan kepada saya. Apa saja syarat untuk menjadi seorang peruqyah? Nah, sebenarnya tidak ada syarat khusus, bapak ibu, yang penting semua kita niatkan karena Allah, kita niatkan dengan ikhlash, insya Allah dengan terus menuntut ilmu kita semua, siapa saja, pasti bisa jadi peruqyah. Syarat yang kedua adalah yakin atas kekuatan dan kekuasaan Allah pasti bisa mengatasi kekuatan jin, jangan pernah ada setitik pun keraguan akan hal itu ketika meruqyah. Kalau kita takut, setetes saja, maka bisa dipastikan kita akan kalah dan jin itu akan memiliki celah untuk menaklukkan kita."

Lintang terdiam. Entah kenapa dia jadi teringat plastik berisi daun kering kemarin. Tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja. Hal itu membuatnya merinding. Apa hal itu ada hubungannya dengan mahluk gaib, ya?

****

Rani memandang Lintang tak percaya.

"Tunggu! Kantung plastik berisi daun kering? Kok sama, Lin? Dulu waktu aku pulang dari sini aku kan juga jatuh, terus waktu ditolongin orang, nah habis ditolongin aku diberi kantung plastik. Kupikir ya kantung plastik isi oleh-oleh dari pamanku. Eh, waktu kubuka di rumah isinya daun kering, ya, udah kubuang aja."

Lintang berfikir sejenak.

"Kira-kira maksudnya itu apa, ya, Ran?" Tanya Lintang. Rani mengangkat bahu. Mereka sama-sama tidak tahu.

****

Sosok itu mendesah puas. Sudah beberapa hari tumbalnya kosong, tapi acara pengajian hari membawa berkah rupanya. Dia berhasil membawakan sebuah kantung plastik berisi uang itu untuk seorang pengunjung yang sepertinya bukan dari Kayu Dawung. Tinggal kita lihat hasilnya malam ini atau mungkin besok. Dia tersenyum lebar.

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Allena
8.0
Kehidupan Allena yang damai hancur saat tanda kutukan Xavier muncul di lengannya. Sang Putra Mahkota Xendria itu datang menagih janji ayah Allena dua dekade silam untuk menjadikannya istri. Allena menolak keras dipersunting penyihir yang telah berusia dua ratus tahun tersebut. Namun, kutukan itu nyata dan menyiksa; kini ia tak mampu menyentuh siapa pun lagi. Allena terjebak antara keinginan untuk bebas atau tunduk pada takdir sang pangeran.
Sampul Novel Bos Setan Idaman
9.0
Kehidupan Dita berubah drastis setelah takdir mempertemukannya dengan Raga, sosok pria misterius yang ternyata merupakan jelmaan setan. Meski Raga dikenal sangat pendiam dan irit bicara, ia kerap menunjukkan sisi manis yang tak terduga kepada Dita. Ketegangan muncul saat sang bos tiba-tiba menyatakan perasaan cintanya secara terang-terangan. Dita yang terkejut menganggap pengakuan itu hanyalah bualan belaka, meski kini nasibnya terikat pada pria tersebut.
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Kontrak Cinta Dengan Iblis
9.6
Aluna, gadis berusia 18 tahun, menyelamatkan pria yang ingin mengakhiri hidup. Namun, ia tak menyadari bahwa sosok itu adalah iblis bernama Denias. Menyamar jadi manusia, Denias berniat menguasai Negeri Barat melalui kontrak rahasia. Tanpa curiga, Aluna menyetujui tawaran kontrak tersebut. Seiring berjalannya waktu, kebersamaan mereka mulai mengungkap berbagai misteri besar yang selama ini menghantui hidup Aluna. Rahasia kelam apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kontrak ini?