Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESONA ISTRI YANG TERSAKITI

PESONA ISTRI YANG TERSAKITI

Sambil mengelus perutnya, Lina memutuskan pergi dari hidup Dewa Hartono demi janin di kandungannya. Harapannya hancur setelah melihat sang CEO DMC Company itu terlelap bersama wanita lain tanpa busana. Dengan hati hancur, ia mengemasi barang pribadinya dan meninggalkan semua fasilitas mewah pemberian suaminya di atas meja. Lina memilih mundur dan mengakhiri perannya sebagai istri, membawa luka mendalam saat melangkah keluar dari mansion mewah tersebut selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Impian menjadikan semua anaknya hidup mandiri, berpendidikan tinggi serta mampu secara finansial. Itulah obsesi beliau.

Dan itu menjadi nyata. Kelima anak beliau tamatan SMA semua. Bahkan Lina yang paling beruntung, bisa kuliah di sebuah IKIP swasta serta wisuda tepat waktu.

“Sungguh, itulah yang membuatku sangat bahagia. Mengenakan toga dan jubah hitam dengan kombinasi warna kuning di dada serta kerah, menunjukan bahwa aku adalah mahasiswa prodi ‘Humaniora’. Hebat bukan?”

Memakai sanggul dan kebaya. Berdandan cantik yang tak seperti biasanya. Saat mobil yang disewa bersama keluarga tercinta, mengantarkannya ke acara prosesi di kampus.

Semua keluarga di ajak karena setelahnya kami akan berekreasi ke Batu dan Sidoarjo, mengunjungi saudara sekaligus refreshing.

Acara yang sangat…sangat jarang dilakukan. Selain memerlukan biaya ekstra, ayah dan ibu tak mampu untuk itu. Bonus perusahaan per tiga bulan sekali yang diterima ayah, hanya bisa lewat seperti air mengalir. Uang itu akan masuk ke dalam laci uang toko sembako tempat ibu berhutang segala keperluan.

Jika hari ini keluarga kami mampu menyewa mobil dan sedikit berjalan-jalan, itu merupakan anugrah yang sangat luar biasa.

“Heemmms, nasib…nasib. Tak seindah cerita Cinderella yang kutonton. Atau penuh tawa seperti kartun Donald bebek beserta tiga keponakannya. Mau apa lagi? Aku hanya bisa pasrah untuk itu”.

Tapi yang jelas cita-cita kedua orang tuanya tercapai. Memberikan pendidikan tinggi kepada semua anaknya. Dan mencarikan mereka pekerjaan bagus dengan bayaran yang tak murah.

Hal itu terjadi kepada ke empat saudara Lina. Begitu mereka lulus dari SMA, ayahnya langsung mencarikan pekerjaan dengan menitipkan surat lamaran kepada semua majikan yang datang ke villa. Terutama pada orang yang memegang jabatan ‘HRD’ di perusahaan.

Jika tidak ada lowongan di perusahaan pusat. Para juragan akan mengarahkan ayah untuk membawanya ke rekanan perusahaan. Dan dikenal dengan nama ‘Pemborong’, yang mempunyai C.V.

Semacam perusahaan outsourcing perusahaan induk, yang menangani semua kesejahteraan para karyawannya. Dan usaha ayahnya pun berhasil. Walau pun tak semua saudaraku kerasan tinggal di Surabaya, yang panas dan berdebu.

Kakak dan adik bungsunya kerasan menjalankan kontrak kerja sampai bertahun-tahun. Sedangkan kedua adik tengah Lina hanya sekitar dua dan tiga tahun kemudian, mengundurkan diri dengan berbagai alasan.

Dia hanya memberikan rasa simpati kepada mereka. “Karena aku tidak merasakannya, kan? Perjuangan kedua remaja yang dipaksa untuk mencari nafkah dengan menjadi buruh perusahaan raksasa”.

Meskipun gaji mereka UMR, tapi tinggal jauh dari kedua orang tua merupakan masalah tersendiri. Jadilah Lina kembali berkumpul dengan saudara-saudaranya, membantu ibunya berjualan di warung sembako.

Atau membantu ayahnya membersihkan villa saat tamu pulang di akhir weekendnya.

Lina masih kuliah semester enam, waktu kedua saudaranya tak ingin memperpanjang kontrak kerja. Jadi mereka hanya bisa membantu aktifitas dirumah sampai kedua adiknya menemukan pekerjaan baru kembali.

Sedih dirasa, saat Lina berpamitan kembali ke Malang seusai liburan. Senda gurau yang mereka lakukan pun harus terputus. Saat dia harus menyelesaikan masa pendidikannya. Tapi tak apalah. “Semangat!” Ucap Lina pada dirinya sendiri.

***

“Siang, guys,” sapa Lina pada para sahabat di kelas.

“Siang, Lina. Tumben datang terlambat?” tanya Siti.

“Baru bangun. Jam sembilan tadi baru balik”.

“Balik, jam berapa?” tanya Budi antusias.

“Emm, pukul sembilan”.

“Wuuuh…itu sih masih sempat istirahat, non,” jawab mereka serempak. Dan disusul dengan telunjuk yang menoyor jidatnya pelan-pelan.

“Haduh mak. Hancur kepala orok nih!” sahutnya sambil mengelus kepala.

“Hweh, yang ditoyor mana yang diusap mana. Lina…Lina kelakuan deh,” Siti keheranan.

“Eh~eh. Dosennya datang tuh!”

Tatkala ada suara mahasiswa dari arah pintu yang memperingatkan, kami pun terdiam dan memperbaiki posisi duduk masing-masing.

Mata kuliah Pak Harun, berjalan selama dua jam penuh tanpa jeda. Tepat tiga belas tiga puluh menit, bel istirahat berdentang. Kelas pun bubar.

Lina, Siti dan Budi turun ke lantai bawah. Menuju masjid kampus yang berada di tengah sisi utara bangunan, untuk menunaikan sholat.

Ketiganya sangat terlambat dalam menunaikan ibadah. Dan menjadikan Budi sebagai imam. Bacaannya doa-doanya sangat fasih, Lina tak mengira saja jika dia begitu menguasai ilmu agama. Dia pikir anak yang terlahir dari kota besar cenderung jauh dari pendidikan keagamaan. Nyatanya pikiran itu salah.

Dan diam-diam Lina mulai kagum padanya. Tubuhnya yang kurus, tinggi, mata sipit dan rambut lurus adalah penampilan yang sesuai dengan selera Lina.

Entah mengapa melihat makhluk bergender pria yang sesuai dengan kriteria bisa begitu menggoda selera. Ingin merengkuhnya dalam pelukan dan tak akan pernah dilepas lagi. Walau disekitarnya, dunia jungkir balik. Tak masalah yang penting dia dan orang yang diam-diam dikagumi tetap berdiri tegak. “He…he…he. Nakal ya?”

Persahabatan mereka pun menjadi semakin erat. Dimana ada Budi disitulah Lina ada. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Walaupun belum ada deklarasi dari cowok ganteng yang selalu setia menemani kemanapun dia beraktifitas.

Tapi tak apalah baginya berpacaran itu tak harus diumumkan. Atau bergandengan tangan kemanapun kita pergi. Yang penting belajar bersama. Berdiskusi tentang sesuatu hal atau hanya berjalan-jalan berdua, sudah membuatnya bahagia. “Apakah dia merasakan hal yang sama, entahlah?”

Seperti saat ini mereka tengah menikmati gorengan yang dibelinya dari lantai satu. Tiba-tiba dia menceritakan semua kehidupannya. Termasuk kerja ekstranya sepulang dari kuliah. Tipe pekerja keras, Lina menjadi semakin kagum padanya.

Hingga istirahat pun berakhir. Kembali memasuki kelas tatkala dosen mata kuliah Phonology telah berada seratus meter dari pintu. Bahkan netranya melihat beberapa teman lari pontang panting, takut ketinggalan materi wajib yang harus ditempuh setiap mahasiswa di semester ini.

Lina tampak serius saat menuliskan semua keterangan Mr. Dias dengan rapi sesekali, menegaskan catatan dengan stabillo berwarna hijau yang dibawanya. Agar nanti dapat dipelajari kembali.

Mata kuliah Mr.Dias berlangsung hampir tiga jam, hingga magrib menjelang. Setelah salam terucap dari beliau, kelas pun bubar.

Lina langsung menuju kos-an untuk makan malam sekaligus menunaikan ibadahnya.

Tatkala sampai di pagar rumah yang disewa, netranya melihat Cak Man penjual bakso langganan tengah dikerumuni ciwi-ciwi cantik dari berbagai kos-an yang berbeda.

Maklumlah selain murah abang tukang bakso satu ini menerapkan sistem swalayan. Jadi pembeli bebas meracik sendiri apa yang akan ditaruh ke dalam mangkoknya. Dan dia tinggal menghitung sesuai makanan yang diambil oleh pelanggannya. “Betul-betul inovatif sekali, ya?”

Saat Ishoma telah usai, Lina pun kembali ke kampus untuk mengikuti kuliah jam terakhir. Bu Nina dosen mata kuliah writing menjelaskan cara membuat karya tulis ilmiah yang berdasarkan sebuah penelitian.

Lulusan Standford California dan masih fresh graduate. Orangnya cantik serta gemar mengenakan busana kerja berwarna hitam. Hanya satu yang tidak Lina sukai, sifatnya yang tidak sabaran saat menjelaskan materi.

Kami bukanlah mahasiswa murni. Banyak diantaranya sudah bekerja di berbagai instansi yang berbeda. Kuliah merupakan pra-syarat wajib untuk menaikan posisi di kantor. Sehingga saat jam terakhir menjelang, lelah fisik dan psikis merupakan sahabat akrab dari setiap individu dalam kelas ini.

Tak pernah Lina lupakan tatapan sinis beliau. Atau ketusnya balasan saat ada mahasiswa yang bertanya. Dan yang paling heboh, ketika memberikan tugas dengan jeda sepuluh menit untuk memaparkan hasil kedepan kelas.

“Ha…ha…ha. Suatu hal yang mustahil kami lakukan”. Tapi entahlah yang Lina amati, beliau sering melamun begitu selesai memberikan tugas. Terlihat dari tidak fokusnya memberikan jawaban yang akurat saat mahasiswa terpandai dikelasnya angkat bicara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Rachel Martinique, seorang dokter bedah, terjebak dalam pernikahan paksa sebagai alat penebus hutang keluarganya. Ia harus bersuami dengan seorang CEO lumpuh yang tidak ia kenali sebelumnya. Kehidupan baru ini penuh ketegangan karena sang suami menyimpan kebencian mendalam terhadap dirinya. Tanpa landasan cinta, Rachel harus menghadapi ketidakpastian dalam rumah tangga mereka. Akankah kasih sayang tumbuh seiring waktu, ataukah nasib buruk yang menanti?
Sampul Novel Cute Pumpkin & The Badboy ( Indonesia )
8.9
Aryan Mada Kusumo, pewaris tampan Kusumo Grup yang gemar hidup bebas, mendadak terdesak saat orang tuanya menuntut pernikahan melalui perjodohan paksa. Di sisi lain, Nur Callia Maharani adalah chef profesional yang hanya ingin fokus pada kariernya. Tak disangka, sosok yang akan dijodohkan dengannya ternyata musuh bebuyutan masa kecil yang sangat ia benci. Akankah penyatuan antara wanita serius dan pria playboy ini berhasil di tengah konflik masa lalu mereka?
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Danendra Danu Atmaja, pengusaha sukses, tiba-tiba menawarkan untuk melunasi biaya pengobatan ibu Arana Salingga. Namun, bantuan tersebut datang dengan syarat yang mengejutkan: Arana harus menikahinya. Meski Arana sudah memiliki kekasih dan merasa asing dengan Danendra, pria itu tetap bersikeras. Arana terjebak dalam dilema besar karena perbedaan status sosial mereka yang sangat jauh. Mengapa sosok CEO ternama tersebut memilih gadis biasa sepertinya?
Sampul Novel Kala Hidup Mengalir dengan Damai
8.8
Tiga tahun pernikahan hanya mendatangkan kebencian dari Kayden Farista kepada Calista Lisano. Saat Nadia Farista kembali, Kayden merancang rencana ekstrem untuk memalsukan kematiannya demi melepas status pewaris dan kawin lari dengan Nadia. Namun, rencana yang diucapkan di ruang operasi itu terdengar oleh Calista. Tanpa ragu, Calista langsung meminta pengacaranya menyiapkan surat cerai dan menghubungi kakak laki-lakinya di luar negeri, memilih untuk menyerah dan pergi selamanya.
Sampul Novel Perjalanan Cinta Si Cupu Yang Menjadi CEO
9.0
Ambisi Keyla mengejar mimpi justru membawanya terjebak sebagai sekretaris Dion Prakasa, CEO dingin yang dahulu ia tolak karena penampilannya yang cupu. Lima tahun berlalu, Dion kini menjadi pewaris tunggal sukses yang membenci wanita akibat luka hati masa lalu. Pertemuan tak terduga ini memicu kembali obsesi dan dendam lama. Meski dikelilingi banyak wanita yang mengantre, Dion hanya terpaku pada Keyla, cinta pertamanya yang kini harus menghadapi arogansinya.