Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESONA ISTRI YANG TERSAKITI

PESONA ISTRI YANG TERSAKITI

Sambil mengelus perutnya, Lina memutuskan pergi dari hidup Dewa Hartono demi janin di kandungannya. Harapannya hancur setelah melihat sang CEO DMC Company itu terlelap bersama wanita lain tanpa busana. Dengan hati hancur, ia mengemasi barang pribadinya dan meninggalkan semua fasilitas mewah pemberian suaminya di atas meja. Lina memilih mundur dan mengakhiri perannya sebagai istri, membawa luka mendalam saat melangkah keluar dari mansion mewah tersebut selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hingga minggu berikutnya Lina cukup terkejut kala dosen mata kuliah Bu Nina diganti dengan Mr. Hamid. Celotehan macam-macam pun terlontar saat teman-temannya menanyakan keberadaan dosen cantik itu.

Yang hanya dijawab oleh dosen pengganti, “Miss. Nina back to America for her post graduate”. Dan mereka pun hanya ber ‘O’ sebagai jawaban, yang tak perlu penjelasan lagi.

Ada yang menyayangkan ada pula yang merelakan keinginan beliau, yang jelas mereka sebagai siswa biasa yang tak punya hak untuk menentukan dengan siapa dosen pembimbingnya.

***

Ke esokan hari.

Tepat hari sabtu, Lina berjalan seperti biasanya dengan teman satu kos-an ke kampus. Dia tampak sumringah wajahnya, karena nanti seusai kuliah dia akan pulang ke Mojokerto. Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Bagaimana tidak? Dua hari mendatang fix, dia akan sendirian di rumah.

Semua temannya pulang kampung. Bahkan kakak tingkat satu-satunya di kos-an juga akan pulang. Yah, hampir akhir bulan merupakan hari para makhluk penghuni rumah sewaan untuk meminta jatah bulanan ke orang tua masing-masing.

Sedangkan Lina…belum waktunya. Orang tuanya bilang, gajiannya tanggal satu tiap bulan. Jadi dia harus bisa memanage keuangan sampai pas tanggal tersebut. Tak apalah yang penting tidak kekurangan.

Dan saat pelajaran mata kuliah umum, Lina lebih sering memelorotkan kedua bahunya. Tak bersemangat.

Bahkan dengan sedikit bergumam dia menoleh ke bangku kiri kanannya yang kosong.

“Heeeems, kemana sih kalian guys. Tumben tak masuk kuliah? Mana berjamaah lagi?” Lina menghembuskan napas pelan.

Yah~hari ini Budi dan Siti tak masuk kuliah. Lina tak mendengar kabar apa pun dari mereka yang biasanya menghubungi via handphone model jadulnya.

Maklumlah, Lina yang notabene dari kalangan rakyat jelata ini hanya bisa membeli HP yang bisa untuk berkirim SMS dan telepon saja. “Tak mengapa yang penting bermanfaat, kan?” pikirnya.

Jadilah hari sabtu malam minggu, dia mengikuti kuliah dengan setengah hati. Hingga tepat jam setengah lima sore, kelas pun usai. Lina dan teman-teman bubar menuju aktifitas masing-masing.

Bahkan disudut tangga netranya melihat Naya dan Wawan yang cekikikan berdua. Pura-pura tak melihat saat dia melintas di dekat keduanya. Telinganya mendengar keduanya yang akan nonton film di cinema mall.

“Sceek, menyebalkan sekali bagi jomblo seperti aku ini. Apalagi belum ada kejelasan hubunganku dengan Budi. Kami hanya seperti teman tapi tak mesra. Yah~sudahlah. Mungkin malam minggu ini aku akan membaca novel kesayanganku dan bikin tai mata sebanyak mungkin. He…he…he”.

Minggu pagi dengan sinar matahari yang menyebarkan panas kemana-kemana. Bahkan dengan nakalnya anugrah Tuhan itu menerobos masuk melalui jendela kos-an yang tak tertutup dengan sempurna.

Rupanya tadi malam Lina lupa menarik tirai berwarna coklat yang bertengger disana. Hingga sinar surya membuat matanya mengerjap-ngerjap jenaka.

Diliriknya jam dinding yang tergantung diujung kamar. Jarum panjangnya menunjuk ke angka dua belas sedang yang pendek ke arah delapan.

“Hadew, pantes saja perutku keroncongan seperti ini. Bahkan mendendangkan lagu dangdut dari Evie Tamala. Bukan suara biduanitanya yang bergema tapi justru seperti air yang berpindah-pindah. Betul-betul rasa lapar yang parah”.

Segera dia mencuci muka dan gosok gigi. Tanpa ber-make up, Lina lari menuju ke pasar kecil dekat kosan. Untung saja penjual nasi urap langganannya belum pulang. Jadilah sebungkus nasi lengkap dengan lauknya dia dapatkan.

Sarapan pagi dengan lahap akhirnya telah selesai. Dia kembali duduk melamun sambil mengetuk-ngetuk meja belajar dihadapannya dengan bosan.

Tiba-tiba dia terkejut dengan bunyi ‘sreeek’ yang ditimbulkan oleh geseran tirai pintu penghubung rumah induk dan kamar kosan.

Lina menoleh dengan malas, netranya melihat anak gadis ibu kos yang berusia sepantaran dengannya. Dia menghempaskan bokongnya di kursi sebelah tanpa permisi. Dengan acuhnya tangan kanannya masih memegang mangga mengkal berwarna putih agak kekuningan.

Bahkan menggigitnya tanpa rasa bersalah atau setidaknya menawarinya sebagai bentuk basa-basi. Nyatanya tidak. Bahkan dia melakukan gerakan yang tak Lina sukai sama sekali.

“Apa lirik-lirik? Ingin kucolok tuh mata?”

Dia hanya meringis melihat kelakuan Lina. Setelah mangga di tangannya habis. Anak ibu kos itu membersihkan bekasnya dengan baju tidur yang dikenakan.

“Iih jorok loe, “responnya.

“Udah biar saja. Gak ada orang lain, kan?”

“Kamu pikir gue siapa? Makhluk astral?” tanyanya sedikit sewot.

“Duuuh lagi sensi nona? PMS ya?” jawabnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata.

“Ngak ada, “sahutnya sambil kembali melanjutkan lamunan.

“Bosen nih?” ganggunya sambil mengibas-ngibaskan tangan di wajah Lina.

“Sudah tahu nanya, “sahutnya ketus.

“Jalan-jalan yuk?”

“Kemana?”

“Ke alun-alun lah. Setelah itu kita nge-mall, oke”.

“Tak punya uang aku. Ini tanggal tua,“ sahutnya tak bersemangat.

“Haduuh Lina, kita kan sama. Kamu tak punya uang aku pun juga. Jalan-jalan saja lah seperti biasanya sambil window shopping, bagaimana?”

“Nah ide bagus tuh. Oke aku ikut”.

“Gitu dong, semangat. Mandi sana gih”.

“Iya~iya cerewet”.

Wati pun meninggalkan Lina yang hendak beranjak ke kamar mandi. Dibukanya pintu tempat basah itu dengan perlahan. Shower yang tergantung ditembok diraihnya. Memutarnya dengan knop ke warna biru, air dingin pun mengalir deras. Tak lupa dia menyabuni rambut hitam panjang nan tebal miliknya.

Tepat setengah jam kemudian ritual mandinya selesai. Setelah mengeringkannya dengan hair dryer, Lina pun mulai membersihkan muka dengan micellar water. Dan melanjutkan dengan polesan bedak compact powder tipis-tipis.

Tanpa mengoleskan lipstik, dia menyudahi persiapan berpergian dengan mengganti baju tidur dengan celana jeans dan kaos oblong kebesaran, favoritnya.

Begitu pintu kamar dibuka, netranya melihat anak gadis ibu kos yang tengah mengayunkan kakinya ke depan belakang. Posisinya yang duduk di tembok pembatas taman dan area kos, tak bisa melihat tingkah Lina.

Timbul keisengan di kepala, Lina menepuk punggung Wati sedikit keras sambil berteriak, “Heei!”

“Diamput~sontoloyo. Eh kutu kupret!” sambil langsung berdiri memegang dadanya.

“Ha…ha…ha. Kondisikan mulutnya nona. Tak sopan, tahu”.

“Haaiiish dasar. Mbales nih?”

“Ngaak. Ayo,“ Jawabnya sambil meraih sandal teplek di depan pintu.

“Heeem.”

Setelah lima belas menit melewati jalan tikus penghubung rumah dengan jalan raya. Sampailah mereka di alun-alun kota. Tempat menghilangkan segala penat dengan kesegaran pepohonan rindang yang tertanam. Bahkan banyak burung dara beterbangan dengan bebas disini. Betul-betul berasa seperti pulang kerumah.

“Tahulah daerah tempat tinggalku kan memang pegunungan. Hawanya dingin lengkap dengan pepohonannya yang mengundang banyak burung liar untuk tinggal disana”.

“Eh Lina, “tepuk Wati di lengannya. Lamunan Lina pun buyar dengan aksinya.

“Ada apa?”

“Nonton yuk”.

“Dapat uang darimana? Katanya lagi bokek?”

“Ada deh. Nih lihat tiketnya, “sambil mengeluarkan dua kertas yang berisikan kursi dan nama cinemanya.

Lina mengerenyitkan dahi, “kapan nih anak belinya. Perasaan sedari tadi kita berduaan terus?” pikirnya.

“Sudah gak usah mikir yang macam-macam. Yang penting kita bisa nonton gratis. Dan lihat popcorn dan jus jeruk dingin sudah menanti kita, “tunjuknya lagi dengan mengangsurkan nota pembayaran.

“Weh, sakti lue ya. Tahu-tahu semua sudah siap begitu saja”.

“Siapa dulu, Waatii, “sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Huuuh, sombong”.

“Sudah nonton, yok. Kita nikmati apa yang ada, okey”.

Lina menanggukan kepala dengan antusias. Sementara dia mengekori langkah Lina menuju mall tempat Cinema dua satu berada. Tak disadarinya gerakan tangan Wati ke arah penjual mainan di sudut kanan alun-alun. Dan membentuk huruf ‘oke’.

Mereka pun bergegas menuju mall dengan sedikit berlari, saat jam di pergelangan menunjukan sepuluh menit lagi bioskop akan segera memutar film-nya.

Dengan sedikit ngos-ngos an, sampailah lantai yang mereka tuju. Tepat didekat game zone gedung tulisan Cineplek berpendar dengan berbagai warna.

Lina menunggu dibangku dekat kasir tiket, saat Wati menukarkan bill dengan makanan yang tertera disana. Setelah menunjukan tiket masuk kepada petugas, keduanya pun diarahkan menuju cinema tiga. Tempat film horror ditayangkan.

Tak habis pikir dengan judul yang tercetak di tiket. “Apa dia mimpi? Ini kan bukan genre cerita yang dia sukai?”

Seolah tahu yang Lina pikirkan, Wati mendengkus sambil menjawab, “aku berubah selera tahu. Dan itu khusus hari ini saja untuk menyenangkanmu. He…he”.

“Weleh alasan, pasti ada sesuatu yang lain di otakmu itu”.

“Apa coba?” Wati menolehkan kepalanya sambil menunjukan puppy eyes.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya, CEO sukses berjuluk monster berwajah malaikat, terobsesi menjadikan asisten pribadinya, Sarah Rania, miliknya seutuhnya. Namun, langkah Kevin terhalang oleh Hansen Rudolf, sahabat kecilnya yang juga mencintai Sarah dengan kelembutan. Di tengah persaingan sengit dua pria ini, Sarah terjebak dalam pertarungan emosi yang memilukan. Akankah ia bertahan dalam pelukan sang bos yang tegas, atau berpaling pada Hansen yang selalu menyapanya dengan kasih?
Sampul Novel Istri kedua tuan Salman
8.5
Aisyah Sholehatun Nisa, gadis rupawan yang terjebak dalam belenggu utang orang tuanya, terpaksa menerima perjodohan rumit. Ia harus menjadi istri kedua bagi Salman Alfarizki, pria dari keluarga konglomerat yang statusnya hanyalah putra seorang selir. Di tengah pernikahan Salman yang sudah ada, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka? Ikuti perjuangan Aisyah menghadapi takdir dan konflik perasaan dalam dinamika rumah tangga yang penuh tekanan ini.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak terduga di kelab malam saat tahun baru menjadi awal kisah Ryan Bagaskara dan Kanaya Putri Soemardi. Meski Kanaya tak sengaja mengotori bajunya, Ryan justru jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, hubungan mereka terhalang tembok besar karena ayah Kanaya berniat menjodohkan putrinya dengan Gilang Witjaksono. Situasi kian rumit sebab Gilang, anak pejabat negara itu, ternyata masih kerabat Ryan. Ryan kini harus berjuang demi cinta di tengah restu yang sulit didapat.
Sampul Novel Menguncimu di Hatiku
8.0
Pertemuan takdir menyatukan Lyla dan Yosua dalam pernikahan singkat yang berakhir dingin. Tiga tahun berlalu, Lyla kembali sebagai sosok mandiri dari keluarga terpandang bersama anak kembarnya. Saat Yosua mencoba mengejarnya kembali, ia justru mendapati mantan istrinya tak lagi mudah ditaklukkan. Dalam sebuah pertemuan tak terduga, Yosua yang angkuh mencoba memaksakan kehendak, namun Lyla dengan tegas mengingatkannya bahwa hubungan mereka telah lama berakhir.
Sampul Novel Misi; Mengandung Benih Tuan Vince
9.3
Qiara Selena Odelia mendambakan pernikahan tulus yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, ia justru terikat kontrak dengan Vincenzo Nick Emyr, pria dingin yang menutup pintu hatinya akibat luka masa lalu dari cinta pertama. Berawal dari sebuah misi rahasia, keduanya terjebak dalam komitmen formal yang mereka sepakati bersama. Di tengah kepahitan dan trauma Vince, mampukah hubungan sandiwara ini berubah menjadi cinta sejati yang nyata bagi mereka berdua?