Sampul Novel Pesona Duda Manja

Pesona Duda Manja

8.8 / 10.0
Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?

Pesona Duda Manja Bab 1

Kutatap jam dinding di atas televisi, jarum pendek itu mengarah ke angka sembilan, "Ardila, kamu mau kemana? Ini sudah malam," ucapku padanya yang kini sudah berdandan cantik menuju pintu keluar rumah.

"Aku bosan sendiri terus di rumah."

"Aku kerja, aku lagi berusaha untuk membahagiakanmu."

"Kebahagiaan apa? Kalau pulang gak pernah bawa apa-apa, boro-boro makanan, barang yang aku suka aja kamu gak tau!"

"Emang kamu mau apa? Nanti ketika sudah ada uang, pasti akan kubelikan." 

"Alah, kalaupun aku kasih tau sudah pasti kamu gak akan bisa belikan!"

"Katakan padaku, barang apa yang kau mau? Jika harganya mahal, aku kumpulkan uangnya dulu," jawabku penuh keyakinan.

"Oke, aku mau berlian. Berlian asli ya, bukan imitasi." Sinis dan meremehkan tampak di wajah cantiknya.

"Berlian, ya? Berapa harga berlian? Aku belum pernah beli berlian. Sekalinya membeli perhiasan, hanya mas kawin kita. Itu pun bukan berlian."

"Terus gimana? Gak bisa beli, kan? Ya sudah aku pergi, Anggi sudah nunggu aku. Uang, aku minta uang," ucap istriku ditemani jemarinya yang menadah.

Akupun memberikan uang seratus ribu satu-satunya yang ada di saku, hasil ojek online hari ini. Dengan ibu jari dan telunjuk ia mengapit selembar uang pemberianku, seolah jijik.

"Kamu tidak makan dulu? Aku sudah belikan pecel lele kesukaanmu dan sepertinya nasi sudah matang, temani aku makan, yuk!" Ajakku mencoba meraih bahunya namun nihil, ia menolak sentuhanku.

Aroma parfum wanita menyengat kuat hingga mampu menaikan birahi kejantananku. Aku menginginkannya, aku ingin hakku, namun aku bisa menebak apa yang akan terjadi, penolakan ditemani kalimat kasarnya akan menghiasi telingaku nanti. Bisa saja aku memaksa kasar demi hasratku tersalurkan, namun cinta tulusku tak punya nyali untuk menyakitinya. Aku hanya mampu memejamkan mata menikmati aroma parfumnya saat ini.

"Lele terus, keseringan makan gorengan bisa-bisa kulitku rusak. Kamu makan sendiri ajalah, manja! Aku udah kesorean. Ingat pintu jangan dikunci!"

"Keseringan pergi malam juga bisa merusak kulit," balasku pelan dan langsung membiarkannya pergi begitu saja.

Begitulah rumah tangga yang selalu kami lalui, tak ada harmonis kata ketika saling berbicara. Selalu ada perdebatan kecil, beda cara berpikir dan saling menuntut hak masing-masing.

Ternyata, berpacaran selama dua tahun tak membuat kami saling mengenal seutuhnya, hingga pernikahan kami berjalan tiga tahun, justru perbedaan itu semakin terlihat jelas.

Dulu ketika masa kuliah, hubungan kami begitu harmonis, selalu dibanggakan, dielu-elukan, seolah kami adalah pasangan sangat sempurna tanpa cela.

Bayangkan saja, aku laki-laki tampan dan Ardila istriku itu, primadona seangkatanku. Kami mahasiswa berprestasi dengan IPK di atas 3,5 dan selalu menjadi kandidat di setiap pemilihan ketua organisasi mahasiswa. Bagaimana seluruh penghuni kampus tak merasa iri! bahkan mereka berkata 'rumah tangga kami akan sukses bahagia, anak-anak kami akan cantik rupawan dan dilimpahi banyak materi, karena kecerdasan kami.'

Namun nyatanya, terlalu bangga dan merasa jaya itu sungguh tak baik. Kita harus merendah bukan berarti merendahkan diri, namun merendah karena masih ada si hebat di atas yang terhebat. Kesombongan justru membuatku terjatuh, arogansi justru membuatku lupa jati diri.

Teman dekatku bilang, faktor usia mudalah yang membuat hubungan kami tak harmonis. Tetapi entahlah, yang kutau, saat itu logika dan hati kami sudah sangat siap untuk selalu bersama, menjalani biduk rumah tangga.

"Huft, makan sendiri lagi!"

Aku terduduk sambil menengadah di kursi meja makan. Kuteguk segelas air dan pikiranku melayang ke hari dimana sahabatku Alex dan Miranda melangsungkan pernaikahan; hari dimana harga diriku sebagai suami terkoyak habis-habisan.

"Ingat! jangan pernah biarkan aku sendirian, kamu harus selalu ada di dekatku!" Hal yang selalu Ardila ucap ketika kami akan bertemu orang banyak.

"Hem."

"Kamu gak punya sepatu yang lebih bagusan? Kamu gak malu pake sepatu kaya gitu?"

Kuarahkan pandangan pada sepatuku, 'uang sepatunya, dipakai untuk beli make upmu. Kamu lupa?' hanya mampu kuungkap dalam hati, karena jika terdengar olehnya aku yakin supir grab ini akan menurunkan kami di jalan.

"Keren-keren! ck-ck-ck Alex ... selamat ... luar biasa ... akhirnya loe dapetin juga ..." Aku langsung memeluk Alex bangga dan bahagia.

"Balikan lagi loe? Kata anak-anak loe mau cerai?" bisiknya di telinga kiriku.

"Ngaco! Primadona mana bisa gue lepas!" Julukan itulah yang selalu kami sematkan pengganti namanya.

"Bucin akut ... makan, sana! Kondangan pinter loe ya, datang selalu duluan!" ucap sahabatku sambil melepas pelukan.

'Ardila yang mau,' batinku.

"Bodo amat! Gue ngamplop ya, jangan lupa!"

"Iya ... udah sana!"

Kami mulai menikmati acara, satu persatu wajah-wajah yang kami kenal tiba dan sebagian datang menyapa.

"Kamu cerita apa sama anak-anak?"

"Maksudnya?" Aneh dengan pertanyaannya.

"Iya, kamu ngomongin apa aja ke mereka tentang aku? Gak mungkin 'kan sikap mereka berubah kalau kamu gak ngejelekin aku!" 

"Oh, kalau begitu kamu baru kenal aku. Selama ini kamu ngapain aja? Masa, sifat suami sendiri gak tau?"

"Ooo, jadi benar! Kamu bilang apa aja? Bilang, kalo kamu gak bahagia? Bilang kalo hubungan kita sebenarnya gak harmonis? Bilang kalo aku gak ngurusin kamu? Bilang kalo aku ngabisin uang kamu terus? Bilang juga, kalo aku suka mabuk-mabukan dan suka pulang malam?"

"Heh! Gak nyangka, gue nikah sama laki-laki ember!" kata-kata sinis dan ejekan yang selalu ia ungkapkan dan kini sudah menjadi langganan bagiku.

"Kita pulang saja, yu. Kondangannya 'kan sudah." Kuraih jemarinya yang masih menikmati cake-cake lezat dan cantik.

"Hai Zal, datang duluan? Mana yang lain?" sapa salah satu teman kuliahku. Upz ralat, aku tidak lulus kuliah, istrikulah yang mampu menyelesaikam S1nya.

"Eh. Iya, met! Anak-anak pada mencar."

"Met, belum nikah loe? Cepat nikah, sebelum stock cowok ganteng abis!" Selalu saja mampu membuat orang lain sakit hati atau malas meladeni. Dan benar saja, Meta pun pergi begitu saja.

Seperti menghadiri acara lainnya, sikap Ardila berubah 360 derajat ketika bertemu banyak orang. Gaya manja padaku ia tampakan dengan sangat jelas. Bersandar di otot lenganku, bergelayutan di sisi tubuhku, memeluk bahkan menyuapi makanan dan terkadang memcium pipiku tanpa ragu. Panggilan sayang, perkataan lembut menghiasi lisan manisnya, seolah hubungan kami baik-baik saja.

"Kerjaan loe gimana? Kontrak sama pak Dirga udah di ACC?" Andika sahabatku buka suara tentang kontrak kerja yang sedang kukembangkan.

"Dika ... ini tuh pesta ya, orang ke sini mau senang-senang. Bisa gak sih, gak usah bahas kerjaan!"

Hanya Andika sahabatku yang tau sikap asli Ardila kepadaku, dan aku tau persis alasan istriku berkata seperti itu. Dia malu dengan pekerjaanku, ia malu karena di antara kami semua hanya aku yang tak lulus kuliah dan tak berpenghasilan jelas.

"Perlu gue minta tolong Rosa?" balas Andika masih membahas pekerjaanku.

"Gak perlu, tar juga lolos. Kali ini gue yakin."

"Jangan telalu percaya diri, nanti kalo jatuh sakitnya berhari-hari. Yang sudah-sudah 'kan begitu. Dunia kuliah dengan dunia kerja, beda!" Bisik Ardila di telingaku.

Seperti itulah cara Ardila mensuportku. Dengan kata-kata kejamnya ia mampu memporak porandakan hatiku namun lima menit kemudian, kata-kata itu bisa meningkatkan adrenalinku lebih tinggi. Seolah ia berkata aku harus berusaha membahagiakannya dan lebih keras berusaha untuk kehidupan kami.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pesona Duda Manja

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan