
Persekutuan Gaib
Bab 3
" Ah, tak salah aku memilihnu, Mes. Kau memang hebat di atas ranjang," puji Fadlan terengah-engah sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Ya, lah. Aku memang jagonya," sahut Memes jumawa sambil mengikat rambutnya yang basah karena peluh yang membanjiri hingga seluruh tubuh.
" Tapi, sejak kapan kau tak perawan lagi, Mes. Biarpun sempit aku tau kau sudah tak suci lagi," hardik Fadlan.
" Ah, sudahlah. Kau pun bukan perjaka. Suami orang lagi," balas Memes acuh.
" Tapi, kau tetap mau kan?" goda Fadlan. Ia mencium punggung Memes yang putih.
" Untung kau tampan, kalau tidak pasti kutinggalkan ! kata-katamu cukup menyakitkan!" sentak Memes.
"Dan juga beruang," batin Memes.
"He-he-he, maaf Sayang. Jangan marah, ya. Walaupun sudah tak perawan tapi tetep keset dan membuat aku melayang,"rayu Fadlan.
"Ah, sudahlah.Aku mau pulang saja, sekarang!" Memes merajuk dan segera merapikan dirinya.
Hupp!
Fadlan segera meraih tangan Memes. Dan Memes terjatuh dalam pelukan pria beristri itu.
" Jangan marah lagi, ya. Nanti Mas belikan Tas yang kemarin kamu pinta," lagi-lagi Fadlan merayu. Di kecupnya pipi Memes lembut.
"Serius? satu juta loh, Mas," Memes menatap Fadlan menunggu jawaban.
"Iya, Sayang.Asal kamu jangan marah lagi. Maafin Mas ya, Sayang," Fadlan menggenggam erat tangan Memes.
"Ah, cepat juga ramuan itu bekerja! dalam hitungan menit sudah bereaksi," batin Memes. Senyumnya terulas tanpa ia sadari.
"Iya, tapi layananku memuaskan, 'kan?" Memes memastikan.
"Pastinya. Dan buat ketagihan! pengen lagi," pinta Fadlan.
"Mas, udah jam segini. Istrimu sudah pulang dari Butik. Ga jemput?" tanya Memes.
"Astaga! iya betul. Udah jam segini. Telat satu jam!" pekik Fadlan.
" Tuh, kan. Harusnya biasa aja, Mas," ucap Memes cemburu.
"Bukan begitu, Sayang. Kamu kan tau gimana cerewetnya Widya. Kamu sabar, ya. Dihatiku ini cuma ada kamu," ujar Fadlan.
Ia segera merapikan pakaiannya dan mengajak Memes untuk pergi meninggalkan hotel. Walaupun di sepanjang jalan Memes hanya cemberut tapi ia tak mengindahkan Memes. Yang ada dipikirannya adalah cepat sampai Butik karena istrinya sudah menunggu untuk di jemput.
***
Di depan Butik seorang wanita yang masih cukup muda, berusia tiga puluh tahun sedang asyik duduk menikmati suasana sore ditemani rintik hujan. Wanita berambut ikal sebahu itu dengan setia menunggu suaminya. Butik sejak satu jam tadi sudah ia tutup. Ia tak perduli angin yang cukup kencang berhembus menerpa tubuh rampingnya yang hanya tertutup blazer ungu.
Berulang kali ia menatap jam. Tak jua ia dapati sang suami menjemputnya sore ini. Ia menatap langit yang semakin menghitam. Mendung menggelayut pertanda hujan akan segera datang. Hatinya kian kalut. Sejak tadi pagi perasaan nya tak karuan. Apa yang terjadi dengan suaminya?
Tiba-tiba retina mata Widya, wanita yang menunggu suaminya itu membulat. Ia menangkap bayangan putih melesat cepat dari ujung jalan. Ya , mobil suaminya sudah tiba. Ia mengucap syukur melihat kedatangannya.
Ckiittt!
Brakkk!
" Halooo Sayangku , maaf ya, Mas terlambat," Fadlan berlari menemui Widya. Di tangannya tergenggam buket mawar merah merona .
"Iya, Mas. Ga apa," Widya membalas pelukan suaminya erat.
" Eh, tunggu. Bau apa ini? seperti ...,"
" Ini bau mawar, Sayang. Ini untukmu," Fadlan menyerahkan buket mawar merah yang langsung di terima Widya dengan senang.
" Terimakasih,Sayang. Hari-hari ini kamu tambah romantis," puji Widya seraya mencium pipi suaminya.
" Menyenangkan istri itu membuka pintu rezeki suami, benar kan?" ujar Fadlan memasang muka polosnya. Dalam hatinya ia sungguh gusar membohongi istri yang mencintainya.
Widya mengangguk mendengar celotehan Fadlan .
" Udah ayok kita pulang , Sayang. Ujan dah mau turun, nanti sesudah kita mandi, bersih-bersih, kita salat magrib barengan, ya?" pinta Fadlan. Lagi-lagi ia mampu bersandiwara menjadi suami yang soleh , sayang dan pengertian kepada istri. Sempurna.
***
Tengah malam ketika semua orang sudah tertidur pulas, begitupun dengan Widya. Fadlan berbaring dengan gusar. Ia tak dapat memejamkan matanya walau sekejap. Bayangan Memes menari-nari di pelupuk matanya.
Tubuh Memes yang indah, erangannya yang menggoda. " Fiuhhh," Fadlan menghela nafas dalam..
Ia benar-benar terpesona oleh Memes. Dalam pikirannya hanya ada Memes. Fadlan memalingkan wajahnya ke arah Widya . Ada rasa kasihan terselip di relung hatinya. Sampai kapan ia harus mendua dan berbagi cinta?
***
Di kediaman Memes.
" Bagaimana , Nak. Kamu berhasil membuatnya meminum darah haidmu itu?" cecar seorang wanita paruh baya ketika melihat Memes tiba di ambang pintu.
" Tentu saja, Ma. Itu hal mudah bagiku," jawab Memes enteng. Ia membuang tasnya ke sembarang tempat dan merebahkan tubuh kotornya di atas sofa ungu miliknya .
" Bagus. Kalau begitu sebentar lagi kau jadi orang kaya. Dan kita terbebas dari kemiskinan ,"ucap wanita itu yang ternyata ibu Memes.
"Semua berkat ramuan itu, Ma. Makasih ya, Ma," Memes berucap girang.
" Itu baru permulaan, Mama punya yang lebih dasyat lagi. Besok kita mulai ritualnya," ajaknya .
" Baik, Ma. Demi kehidupan kita yang lebih baik, aku akan mengikutinya . Apapun itu ," jawab Memes pasti.
Anda Mungkin Juga Suka





