Sampul Novel Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi

Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi

7.8 / 10.0
Dalam novel romantis modern Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi, dokter magang Alfan Mananta dipaksa pulang oleh direktur rumah sakit yang cantik. Kehidupan intim tanpa batas pun dimulai. Baca novel online fantasi seru ini sekarang!
Ringkasan Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Kehidupan Alfan Mananta sebagai dokter magang berubah drastis setelah ia dipaksa oleh direktur rumah sakitnya yang cantik untuk datang dan tinggal di kediamannya. Sejak langkah pertama di rumah wanita berkuasa tersebut, babak baru yang penuh dengan kedekatan intim tanpa batas pun dimulai di antara mereka. Novel modern bergenre fantasi romantis miliarder ini mengupas dinamika hubungan tak terduga yang menantang batas-batas profesionalisme mereka berdua dalam keseharian yang tak lagi sama.
Baca Selengkapnya

Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi Bab 1

Dokter magang bernama Alfan Mananta dipaksa oleh direktur rumah sakit yang cantik untuk ikut pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, kehidupan mereka yang penuh kedekatan dan tanpa batas pun dimulai ....

Melalui kaca spion, Alfan melihat Rhea yang duduk di kursi belakang, hatinya dipenuhi kebingungan.

Direktur wanita yang biasanya sangat dingin itu, malah bertingkah tidak seperti biasanya hari ini. Dia duduk menyamping di kursi belakang. Wajahnya memerah dan pandangannya kacau. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, sementara tangannya terus meraba lehernya.

Melihat keadaan Rhea seperti itu, Alfan merasa ada yang tidak beres.

Alfan adalah seorang dokter magang di Rumah Sakit Prima. Untuk membelikan pacarnya, Charista, sebuah iPhone terbaru, dia memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjadi pengemudi ojek online demi menabung.

Siapa sangka, hari ini dia malah mendapatkan direkturnya sendiri sebagai penumpang.

Rhea memiliki tinggi sekitar 170 cm, kulit putih, wajah cantik, dan kaki jenjang. Penampilannya sangat menawan. Hanya saja, sifatnya biasa sangat dingin. Meskipun Alfan sudah setengah tahun berada di Rumah Sakit Prima, dia belum pernah benar-benar berbicara dengan Rhea.

"Bu Rhea, apakah kamu merasa nggak enak badan? Gimana kalau aku antar kamu ke rumah sakit?" Akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Kamu ... kamu kenal aku?" Napas Rhea terdengar sedikit terengah.

"Aku dokter magang di Rumah Sakit Prima. Aku sering lihat Ibu waktu rapat."

"Aku nggak sakit. Antar aku pulang sesuai alamat."

Ketika Alfan kembali melihat ke kaca spion, tangan wanita itu sudah masuk ke dalam pakaiannya sendiri. Dia menggigit bibirnya yang merah dan kedua matanya setengah terpejam, tampak seperti menahan sesuatu yang sulit dikendalikan.

Meskipun hanya seorang dokter magang, dari kondisi yang ditunjukkan Rhea, Alfan merasa wanita itu kemungkinan mabuk atau tanpa sengaja mengonsumsi sesuatu seperti obat perangsang.

"Bu Rhea, menurutku kamu tetap perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."

"Apa maksudmu? Kamu nggak mengerti kata-kataku? Aku bilang antar aku pulang, secepat mungkin. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang tanggung jawab!"

Alfan tidak berani menunda. Dia segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobil. Lima atau enam menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Vila Nomor 66, Jalan Champ.

Mobil baru saja berhenti, Rhea buru-buru membuka pintu dan turun. Namun belum sempat berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng lalu terjatuh ke tanah.

Alfan segera turun dan menahan tubuh wanita itu.

"Bu Rhea, aku tekan saja belnya supaya keluargamu keluar jemput kamu."

Saat Alfan baru saja menopangnya berdiri, tiba-tiba Rhea memeluk lengannya dengan erat. Dengan suara gemetar dia berkata, "Cuma aku yang tinggal di sini. Kata sandinya 333666. Tolong bukakan pintunya dan antar aku masuk."

Setelah masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa, Alfan berbalik untuk mengambilkan segelas air. Ketika dia kembali sambil membawa air putih dan berdiri di depan wanita itu, jantung Alfan tiba-tiba berdegup keras.

Entah sejak kapan, Rhea sudah menarik ritsleting gaun panjang berwarna merah anggurnya. Bahu putihnya yang mulus, bra hitamnya, serta lekuk tubuhnya yang indah kini setengah terlihat. Tatapannya kacau dan kosong, lidahnya menyapu bibirnya perlahan.

"Bu Rhea, kamu lagi ngapain? Cepat minum air ini. Aku ... aku harus pergi."

Walaupun Alfan sudah punya pacar, hubungan dia dengan pacarnya hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.

Saat melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Rhea tidak menerima gelas air itu. Sebaliknya, dia tiba-tiba memeluk Alfan dengan erat.

"Tolong bantu aku. Suamiku memberiku obat perangsang. Kalau kamu nggak menolongku, malam ini mungkin aku nggak akan bisa bertahan."

Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Alfan, sorot matanya tampak lembut dan menggoda.

Alfan benar-benar panik. Dia sama sekali tidak menyangka, direktur wanita yang biasanya dingin itu hari ini malah memeluknya dengan sukarela.

Sejujurnya, dia sangat ingin mengikuti arus dan menidurinya saat itu juga.

Namun, Alfan adalah orang yang setia pada perasaannya. Pacarnya masih menunggu di rumah. Dia tidak ingin mengkhianati pacarnya.

"Bu Rhea, kamu terkena racun perangsang. Aku antar kamu ke rumah sakit untuk infus dan diberi penawar, nanti juga cepat sembuh."

Jari-jari Rhea meraba tubuh Alfan dan napasnya terengah-engah. "Aku direktur Rumah Sakit Prima. Semua tenaga medis di Provinsi Sargana mengenalku. Kalau mereka tahu aku terkena racun seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"

"Kalau kamu bantu aku dengan tubuhmu untuk menetralisir racunnya hari ini, setelah itu aku akan mengurus agar kamu diangkat menjadi pegawai tetap."

Alfan ragu. Dia bisa bersama direktur yang cantik dan dingin itu, sekaligus membantu orang. Yang paling penting lagi, dia bisa menjadi pegawai tetap.

Kenapa tidak?

Namun, Alfan tetap tidak ingin mengkhianati pacarnya. Saat dia sudah memutuskan untuk pergi, tangan Rhea malah membuka ikat pinggangnya tanpa ragu.

Alfan sudah hampir lima tahun berpacaran dengan kekasihnya, tetapi dia belum pernah mengalami perlakuan seperti ini.

Dalam sekejap, pikirannya seperti meledak. Seluruh dirinya pun terlena begitu saja. Ketika dia benar-benar sadar kembali, mereka sudah berada di tempat tidur di lantai dua.

Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, semuanya berlangsung begitu intens sampai mereka melupakan segalanya.

Satu jam kemudian, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur.

Alfan memandang Rhea yang terbaring lemah di sampingnya, lalu bertanya dengan gelisah, "Bu Rhea, gi ... gimana perasaanmu sekarang?"

Wajah Rhea kembali menjadi dingin. Dengan susah payah dia berkata, "Racun di tubuhku sudah hilang."

"Bagus kalau begitu. Kalau sudah sembuh, aku juga harus pergi." Alfan segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.

"Kamu benar-benar dokter magang di Rumah Sakit Prima? Siapa namamu?"

"Alfan. Aku memang dokter magang di Rumah Sakit Prima."

"Untuk kejadian malam ini, aku berterima kasih padamu. Tapi, ada dua hal yang harus aku sampaikan. Pertama, kamu harus meninggalkan Rumah Sakit Prima. Kedua, kejadian malam ini nggak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun. Kalau kamu sampai membocorkannya, aku akan membuat hidupmu sangat menderita."

Alfan telah menempuh lima tahun kuliah di fakultas kedokteran dan akhirnya berhasil magang di Rumah Sakit Prima. Setelah dia menolong direktur wanita itu, kini malah diminta untuk keluar dari Rumah Sakit Prima.

Alfan langsung merasa kesal.

"Bu Rhea, kamu ini seperti habis manis sepah dibuang. Kalau aku harus keluar dari Rumah Sakit Prima, berarti kuliah kedokteranku selama ini sia-sia?"

"Kamu nggak perlu khawatir. Aku akan merekomendasikanmu ke Rumah Sakit Ferrum. Nggak perlu magang, kamu bisa langsung masuk kerja. Fasilitas dan tunjangannya nggak kalah dari Rumah Sakit Prima."

Alfan merasa itu cukup masuk akal. Lagi pula, jika dia bertemu lagi dengan wanita ini di Rumah Sakit Prima, pasti akan terasa canggung. Namun, dia tetap berkata, "Pacarku juga dokter magang. Bisa nggak kamu sekalian bantu dia?"

"Nggak masalah. Ke Rumah Sakit Ferrum, nggak perlu magang, langsung diangkat menjadi pegawai tetap."

Dalam hati Alfan merasa bersyukur. "Terima kasih, Bu Rhea. Istirahat yang baik, aku pamit dulu."

"Kenapa terburu-buru? Tinggalkan nomor teleponmu." Rhea membuka selimut dan meraih ponsel di meja samping tempat tidur.

Sekilas, Alfan melihat noda merah di atas seprai yang putih bersih.

Bagaimana bisa? Rhea adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih ada tanda seperti itu?

"Bu Rhea, kamu ... kamu masih perawan?"

Rhea meliriknya dengan kesal. "Apa yang aneh? Siapa bilang kalau sudah menikah nggak bisa tetap perawan?"

Alfan semakin bingung. Setahunya, direktur cantik berusia 26 tahun itu sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah ratusan hari berlalu, dia ternyata masih menjaga dirinya tetap suci?

Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada wanita ini?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4 Ch. 5 Ch. 6 Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bayarlah Kesalahan Ayahmu Dengan Hidupmu
8.0
Alona terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Ferdinand Craig, seorang konglomerat yang dipenuhi amarah. Ferdinand menikahinya demi membalas dendam atas kematian ayahnya. Tragedi itu bermula saat ayah Alona, seorang dokter, melakukan kesalahan fatal dalam operasi kanker darah ayah Ferdinand. Kini, Alona harus menanggung dosa orang tuanya di bawah bayang-bayang kebencian sang suami. Akankah Alona mampu bertahan menghadapi kekejaman Ferdinand dalam rumah tangga mereka?
Sampul Novel Dijatah Lima Juta
9.2
Uang belanja sebesar lima juta rupiah setiap bulan menjadi akar permasalahan yang terus memicu perselisihan antara aku dan suamiku. Pertengkaran demi pertengkaran tak terelakkan karena nominal tersebut dirasa sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup kami. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suamiku yang tetap teguh memberikan jatah bulanan yang sangat terbatas itu tanpa mempertimbangkan realita yang ada dalam rumah tangga kami.
Sampul Novel Istri yang menjadi Gundik
9.5
Kabar kehamilan yang dinanti justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Saat mendatangi kantor sang suami untuk mengurus asuransi calon bayinya, wanita ini menemukan dokumen HRD yang mengejutkan. Lelaki yang ia cintai ternyata telah memiliki istri sah, seorang pewaris grup hotel besar bernama Vivi Wisnutama, dan sepasang anak berusia tujuh tahun. Kebenaran pahit ini mengungkap bahwa hubungan mereka selama lima tahun hanyalah kepalsuan, menjadikannya gundik dengan janin yang tidak akan diakui.
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Vivian datang ke kantor Darren untuk meminta tanda tangan kontrak penting. Sebagai kekasih yang biasa mengabaikan formalitas, ia sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pintu. Namun, pemandangan di dalam menghancurkan hatinya. Ia mendapati Darren sedang bermesraan dengan Khloe yang tengah merapikan dasinya di bawah sinar matahari. Suasana intim itu membuat kata-kata Vivian tercekat saat Darren dan Khloe menoleh, menyadari kehadirannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Noda Asmara
9.1
Mimpi indah Abell tentang pernikahan hancur saat ia memergoki Dariel, kekasihnya, sedang bermesraan dengan wanita lain. Pengkhianatan keji ini terjadi tepat sebelum hari besar mereka, meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Abell. Meski masa depan yang mereka bangun telah sirna, Dariel justru menolak untuk melepaskan Abell dari hidupnya. Terjebak dalam situasi pelik, kini Abell harus menghadapi obsesi Dariel yang tidak ingin mengakhiri hubungan mereka.
Sampul Novel Terjebak Cinta Masa Lalu
9.8
Insiden kecelakaan yang dialami putrinya memaksa Amanda berhadapan lagi dengan Pandu, sang mantan suami, setelah enam tahun berpisah. Selama ini Amanda menyembunyikan keberadaan anak kembar mereka, namun rahasia itu terancam terbongkar saat Pandu melihat kemiripan fisik yang luar biasa pada anak laki-laki Amanda. Di tengah suasana emosional, Pandu menuntut kebenaran apakah kedua bocah tersebut adalah darah dagingnya yang selama ini tidak ia ketahui.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan