
Pernikahan Penuh Rahasia
Bab 2
Pagi itu, sinar matahari yang menembus celah jendela rumah tua itu seolah membangunkan Nara dari mimpi buruk yang berulang. Ia duduk di tepi ranjang, memandang sekelilingnya dengan pandangan kosong. Suara kicau burung di luar sana tak mampu mengusir rasa hampa yang mengisi dadanya. Beberapa jam lalu, Kieran meninggalkan rumah dengan ekspresi yang sama seperti malam sebelumnya-dingin, tanpa emosi. Tetapi, kali ini, Nara merasakan ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat hatinya semakin bingung.
Ia menghembuskan napas berat, mencoba menenangkan diri. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin berbicara. Ia harus menemukan jawaban, entah apa pun yang akan terjadi. Tanpa menunggu lama, Nara bergegas mengenakan pakaian sederhana, gaun biru muda yang dulu sering dipakai ayahnya saat masih hidup. Ia memandang ke cermin, melihat bayangan dirinya yang tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya, hanya kali ini matanya lebih tajam, penuh tekad.
Suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut. Kieran sudah kembali, dan kali ini, ia berdiri di ambang pintu seperti seorang raja yang tak bisa diganggu. Nara bisa merasakan hawa dingin yang menyertai kehadirannya. Tanpa berkata apa-apa, Kieran melewati Nara, menuju meja makan di sudut ruangan. Matanya menyapu sekeliling, seolah-olah memeriksa, memastikan semuanya tetap seperti seharusnya.
Nara merasa hatinya seperti dibekukan es. "Kieran, bisa kita bicara?" Suaranya terdengar lebih tenang dari yang dirasakannya, meskipun jantungnya berdegup keras.
Kieran menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mendesah, lalu duduk di kursi yang menghadap jendela. "Kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan," katanya dengan suara datar, seolah-olah kata-katanya adalah hukum yang tidak bisa diganggu gugat.
Nara merasa kata-kata itu menampar wajahnya, namun ia tetap bertahan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Kieran, mungkin aku tidak tahu banyak tentang hidupmu. Mungkin aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi, setidaknya beri aku kesempatan untuk mengetahui siapa dirimu, sebelum semuanya berakhir."
Kieran menyeringai sinis, mata hitamnya menatap Nara dengan penuh kebencian yang dalam. "Sebelum apa? Sebelum perjanjian ini selesai? Nara, aku tidak punya waktu untuk permainan ini. Aku sudah cukup terjebak dalam dunia yang penuh dengan perjanjian dan aturan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah memahami apa itu kebahagiaan."
Perkataan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya, membuat Nara terdiam. Ia ingin bertanya, apa sebenarnya yang membuat Kieran sekeras itu? Mengapa ia menolak untuk membuka hati? Tapi, seolah-olah ada dinding tak terlihat di antara mereka, dinding yang dibuat dari kemarahan dan kebencian yang tak bisa dihancurkan.
"Kenapa kau selalu seperti ini, Kieran?" tanyanya, suaranya bergetar. "Apa kau benar-benar tidak peduli tentang kita?"
Kieran menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Angin pagi masuk, mengibaskan tirai, membawa aroma bunga liar dari kebun belakang rumah. Suasana itu begitu kontras dengan perasaan Nara yang sesak di dadanya. Kieran diam, seolah-olah kata-katanya akan menghancurkan segalanya.
"Apa yang kau harapkan, Nara?" Suaranya kini lebih lembut, seolah-olah menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuatnya begitu jauh dari dirinya. "Kau hanya seorang gadis desa yang terjebak dalam perjanjian yang tak bisa kau ubah. Aku..." ia terdiam, tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku tidak ingin menghancurkanmu lebih dari yang sudah terjadi."
Nara menatapnya dengan mata basah. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak takut, bahwa ia bisa menghadapi kenyataan, tetapi perasaannya sudah berada di luar kendali. "Kieran, aku tahu ini sulit. Tapi jika kita terus seperti ini, kita hanya akan semakin jauh."
Kieran menoleh, kali ini tatapannya tidak sekeras biasanya. Ia terlihat lelah, seolah beban hidupnya terlalu berat untuk dipikul sendirian. Untuk sejenak, Nara bisa melihat secercah keraguan di matanya, seolah-olah ia mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah dipikirkannya sebelumnya.
"Jangan membuat aku berharap, Nara," kata Kieran, suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku tidak ingin kau terluka lebih dalam."
Nara merasa seperti ada api yang menyala di dalam dirinya, mengusir kegelapan yang selama ini membekap hatinya. "Aku tidak akan terluka, Kieran, jika kau mau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa lebih dari sekadar perjanjian ini. Aku ingin tahu siapa dirimu, apa yang membuatmu begitu terluka, dan kenapa kau begitu takut untuk mencintai."
Kieran menutup matanya, seolah-olah mencoba menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia tahu, jika ia membiarkan Nara terus berbicara, ia akan kehilangan kendali atas segalanya. Ia tak pernah membiarkan siapa pun mendekat, apalagi mencoba memahami dirinya. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang menolak untuk ditepis. Sesuatu yang ingin ia sembunyikan, sesuatu yang mungkin bisa mengubah segalanya.
"Mungkin aku memang takut, Nara," kata Kieran akhirnya, dengan suara yang begitu pelan hingga Nara hampir tidak mendengarnya. "Tapi aku juga takut kehilanganmu."
Nara terdiam, perasaannya seperti terhempas angin yang kencang. Kata-kata itu, yang keluar begitu tiba-tiba, membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia rasakan. Sebuah harapan, sebuah perasaan yang melawan logika, sebuah rasa ingin tahu yang tumbuh di antara dinding kesedihan dan kebekuan di dalam dirinya.
"Jika kau takut kehilangan, maka kita masih punya peluang, Kieran," bisik Nara, suaranya penuh keyakinan. "Mari kita mulai dari awal. Beri aku kesempatan untuk membuatmu percaya bahwa kita bisa lebih dari ini."
Kieran menatap Nara, matanya memancarkan cahaya yang samar-samar, seperti pagi yang berusaha menembus malam yang gelap. Meskipun hatinya masih penuh dengan kebingungan, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan ini akan berakhir, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mencobanya.
Malam masih panjang, dan bayangan di antara mereka masih luruh di udara, tetapi di dalam diri mereka berdua, ada secercah harapan yang sulit diungkapkan-sebuah harapan yang mungkin bisa mengubah nasib mereka selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





