
Pernikahan Kontrak CEO
Bab 2
Cukup sudah diriku menangisi kejadian buruk yang baru aku alami berturut-turut pada hari ini. Adam baru saja memutuskanku tadi siang. Rasanya seperti tidak nyata dan hanya sebuah mimpi tetapi pada kenyataannya Adam memang memutuskanku. Begitu mendengar perkataan Adam, diriku rasanya seperti tersengat listrik hingga dunia terasa berhenti seketika.
"Aku mau hubungan kita cukup sampai di sini aja, Clara," ucap Adam dengan nada yang pelan tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Hening sesaat. Baik aku maupun Adam, kami berdua tidak ada yang mengatakan apa pun lagi. Aku sedang sibuk berpikir dengan kepalaku sendiri sementara Adam mungkin sedang menunggu jawaban dariku. Pria itu tampak menatap ke arah bawah dan tidak menatap mataku seperti biasa. Sudah bisa kuduga bahwa saat ini Adam pasti sedang merasa takut dan bersalah. Aku bisa mengetahui itu.
"Clara?" ucap Adam sekali lagi dan saat ini pria itu sudah memberanikan diri untuk menatapku.
Sementara itu, salah satu tanganku kini sudah mengepal di atas meja. Aku menahan amarah. Perlahan, aku pun mulai mendongak dan menatap kedua mata Adam yang saat ini juga sedang menatapku dengan tatapan sayu. Kami berdua tidak saling mengeluarkan suara. Aku dan Adam masih saling menatap seakan kami berdua sedang berbicara hanya lewat tatapan.
"Kamu mau putus sama aku?" tanyaku untuk meyakinkan pertanyaan Adam. Dengan cepat Adam pun mengangguk lemah tanpa menjawab apa pun.
"Kenapa?"
"I have no reason," timpal Adam singkat.
Aku tersentak begitu mendengar perkataannya. Apa katanya? Ia tidak memiliki alasan apa pun untuk memutuskanku? Sangat tidak masuk akal. Begitu Adam menyelesaikan perkataannya, aku hanya terkekeh pelan. Lebih tepatnya aku menyindir Adam dengan sarkas. Setiap perbuatan pasti terdapat alasan. Tidak mungkin jika Adam memutuskanku tetapi ia tidak memiliki alasan apa pun.
"Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? Atau kamu selingkuh sama wanita lain?"
Aku tidak sadar jika dua pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutku. Kini semua tubuhku sudah dipenuhi dengan ego dan amarah. Adam pun lantas menggeleng dengan cepat kemudian berusaha meraih tanganku. Namun, aku berhasil menarik kedua tanganku di atas meja agar Adam tidak bisa memegangnya. Aku sudah sangat muak dengannya.
"Atau jangan-jangan kamu udah hamilin wanita lain dan akhirnya kamu terpaksa untuk menikahinya?" ucapku sekali lagi dengan perkataan yang menusuk.
"Maksudku bukan seperti itu Clara. Ada sebuah alasan yang nggak bisa aku jelasin ke kamu. Tapi semua yang kamu omongin itu nggak benar, Ra," timpal Adam memohon.
Diriku sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan memelas dari Adam. Aku pun langsung bangkit dari duduk sambil membawa tas. "Kalau kamu mau kita putus, fine. Mulai hari ini, udah nggak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita."
Begitu menyelesaikan perkataanku, aku pun langsung berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Adam yang saat ini masih duduk terdiam di dalam kafe. Tidak peduli apakah Adam akan mengejarku atau tidak, yang terpenting saat ini adalah aku harus pergi menjauh darinya sebelum hatiku merasakan sakit yang mendalam. Aku lantas masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas ke sembarang arah.
Hari ini memang sungguh sangat sial. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'. Begitulah kira-kira yang saat ini sedang aku rasakan. Aku baru saja mendapat masalah setelah dipecat dari perusahaan kemudian masalah bertambah kembali ketika Adam tiba-tiba memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Hidupku benar-benar menyedihkan.
Air mataku tampaknya sudah habis karena sepulang dari pertemuan dengan Adam di kafe, aku menangis terus menerus di perjalanan. Aku pun berjalan ke arah cermin dan sangat terkejut melihat penampilanku saat ini. Sungguh berantakan. Kedua mata yang bengkak serta rambut berantakan berhasil memenuhi penampilanku. Wajahku sudah terlihat sangat berantakan dan kumal seperti seorang gelandangan di tepi jalan. This is the worst day ever.
Aku pun beranjak menuju ke ranjang kasur untuk beristirahat dari segala masalah yang menimpaku hari ini. Namun, tiba-tiba saja terdapat sebuah panggilan masuk di ponselku. Hal itu membuatku berbalik dan mengambil ponselku yang masih berada di dalam tas. Semoga saja orang yang saat ini meneleponku bukanlah Adam. Ketika melihat nama di layar, ternyata panggilan tersebut berasal dari nomor asing.
"Halo? Siapa di sana?" ucapku memulai telepon.
"Clara! Ini aku Anya! Masih ingat nggak sama aku?" ucap seseorang dari seberang telepon.
Aku lantas berusaha mengingat nama Anya. Memoriku sekejap kembali berputar ke masa lalu. Anya ternyata adalah teman semasa kuliahku. Kami berdua berada di jurusan yang sama, yaitu ilmu komunikasi. Dahulu, hampir setiap hari aku selalu bersama dengan Anya. Kemana pun aku pergi pasti Anya akan selalu mengikutiku. Sangat menyedihkan karena aku hampir saja melupakannya.
"Oh iya, Anya! Kamu apa kabar? Udah lama kita nggak bertemu lagi," ujarku dengan nada yang kubuat menjadi riang meski suasana hatiku benar-benar sedang buruk.
"Aku baik-baik aja! Kalau kamu gimana?" tanya Anya.
"Kabarku baik Anya! Ada apa malam-malam gini telepon?" tanyaku sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Oh iya! Malam ini aku ngadain pesta di salah satu bar dan aku mengundang kamu buat datang. Kalau kamu berkenan hadir, aku kirimin alamatnya sekarang, ya!" tutur Anya dengan suara riang berharap agar aku bisa hadir.
"Okay, Anya. Nanti aku kabarin lagi, ya. Have fun, enjoy your party," ucapku begitu selesai Anya langsung menutup panggilannya.
Aku kembali berjalan ke ranjang kasur dan lantas membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk. Cukup sudah untuk hari yang melelahkan kali ini. Jika saja diriku tidak mengalami kesialan yang beturut-turut, aku pasti akan datang ke pesta yang diadakan oleh Anya. Namun, sepertinya diriku sudah terlalu lelah untuk melakukan kegiatan apa pun lagi. Aku hanya ingin beristirahat untuk melepas penat.
***
Menjilat air ludah sendiri, seperti itulah definisi yang cocok bagiku. Ya, aku akhirnya memutuskan untuk hadir di pesta yang diadakan oleh Anya. Dengan semangat dan energi yang tersisa, aku masuk ke dalam sebuah lounge di mana Anya mengadakan pestanya. Begitu masuk ke dalam, pandanganku dipenuhi dengan orang-orang yang sedang menari di atas lantai dansa.
Kebanyakan dari orang yang hadir di acara ini mengenakan pakaian yang cukup seksi dan minim bahan. Tentu saja, ini adalah sebuah pesta sehingga mereka harus menampilkan yang terbaik. Namun, tidak bagiku. Aku hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam serta baju model sabrina yang memamerkan bahuku. Selain daripada itu, tidak ada yang seksi lagi dari diriku.
Suara musik yang berisik serta lampu dengan penerangan minim memenuhi pandanganku. Hampir sama seperti club, tetapi bedanya adalah lounge ini tampak terlihat lebih sempit karena Anya sengaja menyewa tempat hanya untuk teman-teman terdekatnya. Aku pun berjalan menuju ke sebuah bar untuk mencari Anya. Wanita itu berkata jika saat ini ia sedang berada di bar dengan temannya.
"Clara!" Sebuah panggilan dari arah kejauhan membuat atensiku berpaling. Ternyata yang baru saja memanggilku adalah Anya. Aku pun beranjak menyusulnya.
"Nah ini, best friend-ku waktu kuliah! Kemana aja kamu selama ini, Clara?" sapa Anya begitu aku duduk di sebelahnya.
Aku dan Anya pun berpelukan kembali setelah lama tidak bertemu lagi. Seperti layaknya seorang sahabat lama, aku dan Anya saling menempelkan pipi satu sama lain untuk menyapa. Anya yang saat ini aku lihat sangatlah berbeda dengan Anya yang dahulu aku kenal semasa kuliah. Wanita di depanku tampak lebih dewasa. Selain itu, Anya juga menjadi lebih seksi dengan pakaiannya yang menampilkan sedikit kedua belahan dadanya. Yah, sangat berbeda dengan diriku.
"Aku di sini aja kok, Nya. Kamu aja tuh yang pergi kemana-mana. Sukanya liburan ke luar negeri 'kan?" timpalku dan Anya hanya terkekeh mendengarnya.
"Hahaha, iya. Kerjaanku sekarang banyak di luar negeri, Ra. Tahu aja lah gimana sibuknya travel blogger kayak aku," ujar Anya.
"Pokoknya kapan-kapan kamu harus ajakin aku pergi ke luar negeri juga," ucapku bercanda kepada Anya tetapi aku juga berharap demikian pula.
"Siap, Bos! Kalau gitu aku pergi ke sebelah sana dulu, ya, Ra. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal panggil aku aja, okay?" tutur Anya.
Aku mengangguk pelan kemudian tersenyum. Selepas Anya pergi dari hadapanku, aku pun langsung meminta kepada bartender untuk memberikan minuman apa pun kepadaku. Tujuanku datang ke pesta ini sebenarnya hanya untuk melepas penat dengan meminum alkohol. Setidaknya setelah meminum alkohol, seluruh beban yang terkumpul di kepalaku bisa terhempas dan hilang.
Tidak lama kemudian sang bartender pun memberikan satu gelas berisi cocktail dengan bahan campuran contreau, gin, jus nanas, soda, daun mint dan juga jeruk nipis. Sajian cocktail yang sangat menyegarkan untuk diminum pada malam hari seperti ini. Paduan dari jus nanas, daun mint, serta jeruk nipis membuat tenggorokanku menjadi fresh kembali. Dalam sekejap, cocktail yang berada di gelas kecil pun sudah aku teguk sampai habis.
Karena masih belum puas, aku pun kembali meminta kepada bartender. Namun, kali ini aku tidak meminta cocktail, melainkan sebotol vodka. Tidak main-main, aku langsung meminta satu botol vodka seharga tiga belas juta. Aku lantas mengeluarkan kartu debit dan menggesekkannya pada alat pembayaran. Entah di mana kesadaranku saat ini, yang saat ini aku butuhkan hanyalah alkohol.
Begitu sang bartender membukakan botol vodka untukku, aku lantas menuangkannya ke dalam gelas kaca. Aku menghabiskan satu gelas vodka hanya satu tegukan saja dan kembali menuangkan isi vodka ke dalam gelas lalu meminumnya kembali. Sudah sampai tiga gelas berisi vodka aku teguk sampai habis. Aku meminumnya seperti orang yang sedang kecanduan alkohol.
Aku yakin bahwa saat ini sang bartender sedang keheranan melihat sikapku. Ia pasti menganggap diriku sebagai orang aneh yang meminum alkohol tanpa henti. Namun, aku tidak peduli dan tetap meneguk sampai diriku benar-benar kehilangan kesadaran. Saat ini diriku pun sudah dipenuhi oleh alkohol dan aku mabuk.
Ketika sang bartender berusaha menghentikanku dengan meraih botol vodka, aku langsung menatapnya tajam seperti orang gila. Berkat tatapanku yang menusuk itulah akhirnya sang bartender mengalah dan pergi untuk melayani orang lain. Tidak ada yang bisa menghentikanku selain diriku sendiri. Satu botol vodka seharga tiga belas juta pun akhirnya habis kurang dalam waktu satu jam.
Aku langsung menghempaskan kepalaku di atas meja. Namun, tiba-tiba saja terdapat seseorang yang menepuk pundakku. Dengan penuh kesadaran yang hanya tersisa nol sekian persen, aku lantas mengangkat kepalaku. Pandangan mataku tampak buram karena sudah dipenuhi oleh pengaruh alkohol. Samar-samar aku melihat sosok pria yang terlihat sedang menatapku aneh.
"You are drunk," ucapnya.
"I am," jawabku pelan kemudian kembali menjatuhkan kepalaku.
Akan tetapi, tiba-tiba pria itu langsung memegang kedua pipiku. Apa yang baru saja dilakukan oleh pria itu membuatku langsung menepis kedua tangannya. Meskipun aku mabuk, tetapi aku masih bisa menjaga harga diriku. Jangan-jangan pria yang saat ini berada di hadapanku adalah om-om jahat yang suka menculik wanita sepertiku. Aku tidak semudah itu untuk dibohongi, ya.
"Orang mesum!" teriakku setelahnya dan membuat orang di sekelilingku langsung menatap heran. Terutama pria yang saat ini berada di hadapanku, ia langsung menunjukkan raut wajah yang panik akibat teriakanku. Pria itu berusaha menutupi mulutku agar aku tidak berteriak kembali tetapi dengan cepat aku langsung mengigit jarinya sehingga ia langsung menjerit kesakitan.
"Aw! Saya bukan orang mesum! Justru saya mau bantu supaya kamu nggak mabuk lagi! Lihat, dirimu saat ini sudah sepenuhnya dipengaruhi alkohol. Minum ini," ujar pria itu sambil memberikan segelas air putih kepadaku.
"Bohong! Mana ada penjahat mau mengaku! Om mau bawa saya ke hotel, ya?!" Aku meracau sepenuhnya dan tidak sadar jika saat ini diriku sudah benar-benar mabuk.
"Saya nggak bohong! Dan ingat, saya bukan om-om! Saya masih lajang dan belum mempunyai istri," tutur pria itu frustrasi menghadapiku yang sudah seperti orang gila.
"Bohong! Om ini udah kayak orangtua aja masih mengaku lajang! Kalau saya baru lajang karena hari ini saya baru diputusin sama pacar!" teriakku tanpa sadar.
"Oh, jadi kamu habis diputusin sama pacar makanya langsung minum banyak alkohol, ya?" timpal pria itu yang tampak tertarik dengan pembicaraan.
"Bukan itu aja, hari ini saya juga baru dipecat dari perusahaan yang artinya saya menjadi pengangguran!" teriakku kembali yang tanpa sadar membeberkan semua kesialanku hari ini.
"Pengangguran tapi kok beli alkohol yang paling mahal?" tanya pria itu yang kulihat saat ini sedang tersenyum tipis ke arahku. Namun, diriku yang saat ini sudah sepenuhnya dipengaruhi alkohol membuatku tidak kuat lagi untuk menjawab.
"Arkana Halim," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.
Ketika aku berusaha meraih tangannya, tiba-tiba saja tubuhku ambruk dan kehilangan kesadaran. Aku akhirnya pingsan setelah mabuk total akibat meneguk satu botol vodka seharga tiga belas juta. Hal terakhir yang aku ingat adalah seorang pria yang aku temui mengenalkan dirinya dengan nama Arkana Halim. Hanya itu saja, sisanya aku tidak mengingat apa pun lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





