Sampul Novel Pernikahan Kontrak CEO

Pernikahan Kontrak CEO

9.1 / 10.0
Clara kehilangan pekerjaan dan kekasih secara bersamaan. Dalam keputusasaan di sebuah pesta, ia bertemu Arkan, CEO kaya yang menyelamatkannya saat mabuk. Tak hanya memberi posisi di perusahaannya, Arkan tiba-tiba mengajak Clara melakukan pernikahan kontrak. Namun, pilihan itu justru menyeret Clara ke dalam pusaran masalah rumit. Di balik kemewahan hidup barunya, Arkan menyimpan rahasia masa lalu kelam yang menguji ketahanan Clara sebagai istri kontrak.

Pernikahan Kontrak CEO Bab 1

"Mohon maaf Clara Sabrina, hari ini kamu resmi dipecat dari perusahaan karena kinerjamu yang semakin lama semakin memburuk. Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di sini dan untuk gaji bulan ini akan segera saya kirimkan ke rekeningmu secepatnya. Silahkan kembali ke ruanganmu dan mengemasi barang-barangmu. Terima kasih."

Aku tersentak ketika mendengar atasanku berbicara. Apa katanya? Aku dipecat? Memangnya aku membuat kesalahan separah apa hingga sang atasan berani memecatku? Karena masih belum terima dengan perkataan atasanku baru saja, aku pun tidak keluar dari ruangannya. Aku masih membutuhkan penjelasan darinya mengapa bisa memecatku hanya dengan alasan kinerja yang semakin buruk.

"Mohon maaf, Pak. Memangnya kinerja saya seperti apa hingga Bapak sampai memecat saya?" ucapku tidak terima.

Bagaimana tidak, aku sudah bekerja di perusahaan ini selama lebih dari dua tahun. Semua usaha kerja keras aku tuangkan ke dalam perusahaan ini. Aku pun sangat setia kepada perusahaan ini dan tidak memiliki pikiran sama sekali untuk mencari perusahaan lain. Akan tetapi, mengapa perusahaan ini membalasnya dengan memecatku? Aku tidak habis pikir.

"Alasannya jelas, yaitu karena sudah lebih dari satu pekan ini kamu selalu datang terlambat dan tugas yang diberikan kepadamu selalu terlambat lebih dari satu hari," ujar atasanku.

Pikiranku seketika berputar kembali untuk mengingat apa yang terjadi selama satu pekan ini. Dan ternyata memang benar, sudah lebih satu pekan ini aku selalu terlambat berangkat ke kantor karena bangun siang dan sering terlambat mengirimkan tugas kantor karena aku lupa. Aku merutuki diriku sendiri karena semua ini adalah murni dari kesalahanku. Aku pun lantas menunduk kepada atasanku dan pamit untuk keluar dari ruangan.

"Baik, Pak. Terima kasih karena telah mempekerjakan saya selama dua tahun ini dengan baik. Semoga apa yang saya dapatkan di sini bisa berguna di kehidupan selanjutnya. Kalau begitu saya izin keluar. Selamat siang," ucapku kemudian segera berjalan keluar dari ruangan. Aku memijat dahiku pelan sesampainya di depan ruangan. Apa yang setelah ini akan aku lakukan? Ya, menjadi seorang pengangguran.

Perkenalkan, namaku Clara Sabrina tetapi orang-orang biasa memanggilku Clara. Usiaku saat ini sudah menginjak 25 tahun. Cukup tua bukan. Kebanyakan dari teman-temanku yang berusia sama denganku sudah menikah dan mempunyai anak. Namun, aku tidak seperti mereka. Aku lebih memilih untuk membangun karir yang tinggi dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum menikah.

Aku hidup seorang diri. Kedua orangtuaku sudah meninggal akibat kecelakaan parah tiga tahun yang lalu yang langsung merenggut nyawa mereka di tempat. Aku juga berada di mobil yang sama dengan mereka tetapi Tuhan telah menyelamatkanku. Hingga sampai saat ini, aku berusaha membiayai hidupku sendiri dari hasil bekerja dan sisa tabungan kedua orangtuaku. Namun, sepertinya aku tidak bisa membiayai hidupku lagi jika sudah dipecat seperti ini.

Aku berjalan lemas menuju ke ruang di mana aku bekerja. Aku dipecat karena kesalahanku sendiri oleh karena itu aku tidak mengomel dan membantah apa pun. Mungkin sudah seharusnya aku mencari perusahaan lain yang akan menerima diriku. Semua kenangan selama dua tahun ini aku simpan dengan baik dan tentu saja aku tidak akan menyimpan dendam. Aku akan pergi dengan damai.

"Ada apa Clara? Kok tumben kamu dipanggil ke ruangan si Bos?" tanya Erika, salah satu rekan kantor yang dekat denganku ketika aku baru saja memasuki ruangan.

"Aku dipecat, Ka," jawabku sambil tersenyum kecut. Aku pun berjalan menuju ke meja milikku dan segera merapikan berkas-berkas yang terlihat berantakan.

"Hah?! Kok bisa? Kenapa kamu bisa dipecat?" sorak Erika kaget sehingga membuat beberapa karyawan yang ada di ruangan menoleh ke arah kami.

Aku lantas berusaha memberikan kode kepada Erika untuk diam. "Nanti aku ceritain lewat telepon, ya. Sekarang aku mau beresin barang-barangku dulu," ujarku.

Dengan cepat Erika pun mengangguk. Wanita itu langsung membantuku untuk merapikan berkas-berkas yang terdapat di atas meja kemudian meletakkannya di box yang sudah disediakan. Beberapa karyawan yang berada di ruangan melirik ke arah mejaku. Mereka pasti sudah menduga jika aku akan keluar dari perusahaan ini. Erika adalah temanku satu-satunya di sana. Selain itu, tidak ada lagi. Hidupku memang menyedihkan.

Aku membutuhkan waktu sekitar lebih dari dua jam untuk mengemasi seluruh barang-barangku yang ada di kantor. Kini semuanya sudah selesai. Meja kantor yang biasanya terlihat berantakan dengan banyak kertas berserakan serta bungkus makanan yang belum dibuang saat ini sudah tidak terlihat lagi di sana. Hanya tersisa tanaman kaktus dengan bunga kecil yang sudah mekar di atas meja.

"Kaktusnya nggak dibawa, Ra?" tanya Erika.

Aku menggeleng pelan. "Biarin aja dia di sana. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan kalau aku pernah bekerja di sini," ujarku.

"Kamu nih, aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Ra. Nanti yang setiap hari bakal temanin aku makan di kantin siapa coba?" ucap Erika merengek.

"Kamu 'kan punya banyak teman di sini, Ka. Makanya cari pacar baru biar ada yang temanin kamu makan di kantin," timpalku terkekeh sambil meledek Erika.

"Mentang-mentang kamu udah punya pacar aja nih, ya," tukas Erika sebal. Aku hanya tertawa pelan merespons perkataan Erika.

Benar. Jika nanti aku sudah tidak bekerja lagi di sini, siapa yang akan menemani Erika makan siang di kantor? Biasanya setiap hari aku dan Erika selalu makan berdua di kantin. Orang-orang kantor pun sudah hafal dengan kami berdua. Jika di sana ada Clara, pasti Erika selalu membuntutinya dan juga sebaliknya. Ah, aku jadi belum siap untuk meninggalkan perusahaan ini.

Semua barang-barang milikku kini sudah diletakkan di dalam beberapa box dan aku hanya tinggal membawanya menuju mobil. Aku bahkan tidak ingin berlama-lama lagi di sini agar kenangan yang indah tidak terus menerus muncul di pikiranku. Namun, sebelum itu aku memutuskan untuk pamit kepada rekan satu divisi di kantorku. Meskipun tidak dekat, setidaknya aku harus mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.

Aku pun menyalami satu per satu dari mereka sambil memberikan sekotak bingkisan yang baru saja Erika beli. Ya, aku menyuruh Erika untuk membeli beberapa bingkisan ketika aku sedang mengemasi barang-barangku. Setidaknya aku harus memberikan kesan terakhir kepada mereka dan tentu saja semoga mereka mengingatku.

"Aku yakin pasti setelah ini kamu bakal bekerja di perusahaan yang lebih besar, Clara," ujar Rendy yang merupakan rekan kerja satu divisiku.

Aku mengangguk terharu ketika mendengar ucapannya. Ternyata masih ada orang yang peduli denganku. "Terima kasih, Rendy. Semoga doamu membalik ke kamu juga, ya," timpalku.

Aku pun telah selesai menyalami rekan yang ada di satu divisi denganku. Setelah mengucapkan salam perpisahan terakhir, aku segera beranjak menuju ke parkiran. Terdapat beberapa security yang membantuku untuk membawakan beberapa box menuju ke mobil karena tentu saja aku tidak akan sanggup jika harus membawanya sendiri. Erika pun ikut mengantarku sampai di depan mobil.

"Pokoknya nanti kalau udah sampai apart langsung telepon aku, ya," ucap Erika.

Aku mengacungkan jempol kepada Erika kemudian beralih pada security yang tadi membantuku membawakan barang-barang. "Terima kasih, ya, Pak, sudah mau direpotkan sama saya," ujarku dengan ramah sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa Mbak Clara, sudah tugas kami di sini saling membantu," timpal security dengan ramah.

Aku lantas memberikan beberapa bingkisan kepada security tersebut karena sudah menolongku hari ini. "Ini ada bingkisan kecil untuk Bapak. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih saya kepada Bapak karena sudah mau membantu," ucapku.

"Waduh, padahal nggak perlu repot-repot Mbak Clara. Tapi saya terima deh sebagai kenang-kenangan terakhir dari Mbak Clara," timpal security bercanda.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada security yang sudah membantuku, aku pun pamit untuk pulang. Erika baru saja memelukku seperti aku akan pergi selamanya, padahal aku hanya dipecat dari perusahaan. Setelah selesai bekerja nanti, Erika berjanji akan mengunjungi apartemenku. Kami berdua pun telah selesai berpamitan dan aku segera melajukan mobil menuju ke apartemenku.

***

Sebagai seorang wanita yang sudah menginjak usia seperempat abad, tentu saja aku sudah memiliki kekasih. Orang itu adalah Adam. Seorang pria yang sudah menemani hidupku yang tadinya suram menjadi lebih berwarna dalam waktu dua tahun belakangan ini. Aku bertemu dengan Adam satu tahun setelah aku berduka atas kepergian kedua orangtuaku.

Kami berdua tidak sengaja bertemu ketika sedang mengantre membeli kopi di mal. Saat itu pesananku dan Adam tertukar. Aku membawa pesanan milik Adam dan juga sebaliknya. Sebenarnya hal itu hanyalah masalah sepele dan aku tidak terlalu memedulikannya. Namun, ternyata Adam berlari menyusulku hanya sekadar untuk memberikan vanilla late pesananku.

Katanya pada saat itu, "Di cup ini tulisannya have a good day, tapi kalau kamu minum americano punyaku pasti harimu jadi not a good day karena rasanya sangat pahit."

Hal sepele yang Adam katakan pada saat itu ternyata bisa membuat hariku menjadi lebih baik. Hingga mulai saat itu, kami berdua sering bertemu hanya sekadar untuk mengobrol dan mengopi bersama. Ternyata usia Adam dua tahun lebih tua dariku tetapi dia menyuruhku untuk memanggilnya tanpa embel-embel Kak atau Mas. Enam bulan kemudian, Adam pun menyatakan perasaannya kepadaku dan akhirnya kami pun berpacaran sampai sekarang.

Adam adalah sosok yang selalu berada di sampingku ketika aku sedang kesepian. Ketika aku bersedih, Adam adalah orang pertama yang merelakan bahunya sebagai sandaran untukku. Ialah orang pertama yang memberikan tisu ketika aku meneteskan air mata. Bagiku, Adam adalah segalanya. Hidupku berubah menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Adam di saat aku baru saja kehilangan kedua orangtuaku.

Adam baru saja memberiku sebuah pesan. Ia mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe yang biasa kami datangi. Waktunya sangat tepat karena saat ini aku pun sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritaku. Adam tentu belum mengetahui bahwa aku telah dipecat dari perusahaan. Aku lebih baik memberitahunya langsung dibanding memberinya pesan.

Aku pun segera bersiap untuk pergi ke kafe tersebut karena Adam mengatakan bahwa tiga puluh menit ia akan sampai di sana. Dengan energi yang tersisa, aku beranjak dari ranjang kasur menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sudah cukup diriku ini merenungi selama beberapa jam setelah baru saja dipecat oleh perusahaan hari ini.

Tanpa berlama-lama, aku segera menjalankan mobil menuju kafe yang dimaksud oleh Adam. Sesampainya di kafe, pandanganku langsung menangkap di mana keberadaan Adam. Sebuah spot tempat duduk favorit kami berdua, yaitu yang berada di sudut ruangan. Aku berjalan pelan menghampiri Adam yang saat ini tampak sedang terfokus dengan ponselnya.

"Hai, udah nunggu lama, ya?" ujarku sesampainya di depan Adam.

Adam sendiri langsung mendongak dan menyadari kehadiranku. Pria itu tersenyum dan menggeleng, "Enggak kok. Udah pesan makanan atau belum?" tanyanya.

"Gampang, nanti aja aku pesannya. Nggak biasanya kamu ajakin ketemuan sore-sore gini. Ada apa?" tanyaku setelah duduk di bangku depan Adam.

"Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, Ra," ujar Adam.

"Wah, sama dong! Ada sesuatu juga yang mau aku omongin ke kamu. Kebetulan banget," timpalku dengan semangat walaupun sebenarnya apa yang akan aku ceritakan kepada Adam sangat tidak menyenangkan.

"Oh iya? Kalu gitu kamu duluan aja yang ngomong, Ra," ucap Adam sedikit terkejut. Aku bisa merasakan hanya dengan perubahan suara yang ia buat.

Aku menggeleng dengan cepat, "Nggak bisa. Kamu duluan yang ngomong dong 'kan kamu yang ajakin aku ke sini," ujarku.

"Baiklah," tukas Adam singkat.

Pria itu tampak menghela napas sesaat kemudian mengembuskannya perlahan. Suasana di antara aku dan Adam berubah seketika menjadi sunyi dan hening. Hanya ada suara bising yang timbul dari orang-orang di sekitar kami yang juga berada di dalam kafe. Tampaknya apa yang akan Adam katakan cukup serius sehingga pria itu terlihat sedang mempersiapkan sesuatu.

"Aku mau hubungan kita cukup sampai di sini aja, Clara."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pernikahan Kontrak CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan