
Pernikahan Kontrak CEO
Bab 3
Mataku perlahan mulai membuka ketika sinar matahari mulai masuk lewat jendela. Aku meregangkan tubuhku yang terasa sangat kaku. Bau alkohol yang ada pada tubuhku menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku. Ketika benar-benar sudah sadar, aku langsung teringat dengan kejadian tadi malam. Sebentar, bukannya tadi malam aku berada di pesta Anya dalam kondisi mabuk? Lalu siapa yang sudah membawaku pulang sampai ke dalam kamar seperti ini?
Memoriku tidak bisa mengingat lebih jauh lagi karena tadi malam diriku sepenuhnya sudah dipengaruhi oleh alkohol. Hal terakhir yang aku ingat hanyalah terdapat seorang pria yang mengenalkan dirinya dengan nama Arkana Halim. Ah iya, aku ingat! Tadi malam aku berteriak seperti orang gila dan mengatai pria tersebut dengan sebutan orang mesum. Aku memukul kepalaku sendiri karena tingkah aneh yang sudah aku lakukan kepada orang asing.
"Aduh! Kalau dia nggak terima aku katain orang mesum gimana, ya? Jangan-jangan dia bakal laporin aku ke polisi lagi? Bodoh banget kamu Clara!" ucapku merutuki diri sendiri.
Aku lantas teringat kembali jika tadi malam membeli sebotol vodka dengan harga yang sangat mahal, yaitu tiga belas juta! Begitu melihat bill, aku sangat tersentak dengan angka nol yang sangat banyak tertera di sana. Padahal saat ini aku adalah seorang pengangguran dan tidak mempunyai pekerjaan tetapi dengan bodohnya aku membeli sebotol vodka yang tidak berguna itu. Bodohnya Clara.
Tiba-tiba ponselku berdering. Ada seseorang yang meneleponku. Ketika aku membuka ponsel, ternyata saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Yah, diriku memang patut dipecat karena sering sekali bangun terlambat. Untung saja saat ini aku menjadi pengangguran sejenak sehingga aku bisa tidur dan bangun sepuasnya. Aku pun langsung mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Anya.
"Halo, Clara? Kamu udah bangun atau belum?" ucap Anya begitu aku mengangkat panggilan darinya.
"Halo, Anya. Udah dong, kalau belum bangun terus siapa coba yang angkat telepon dari kamu ini," jawabku.
"Hahaha benar juga kamu. Oh iya, gimana keadaanmu sekarang? Tadi malam kamu mabuk berat sampai pingsan, Ra," ujar Anya. Nah, waktu yang sangat tepat karena aku baru saja ingin menanyakan hal itu kepada Anya.
"Kebetulan banget aku juga mau tanya hal itu ke kamu. Kamu tahu nggak siapa yang antar aku pulang sampai ke apartemen tadi malam? Atau semalam aku pulang sendiri? Soalnya aku nggak ingat apa pun, Nya," tuturku menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Semalam yang antar kamu pulang ke apartemen itu Arkan, teman aku. Kamu nggak ingat?"
Apa katanya? Arkan? Apakah pria bernama Arkana Halim yang semalam kukatai sebagai orang mesum itu mengantarkanku pulang? Dan bagaimana bisa Anya mengenal pria itu? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku hingga aku lupa jika saat ini masih berada di sambungan telepon dengan Anya. Aku kembali tersadar ketika Anya memanggil namaku.
"Ra? Ada apa kok diam?" ujar Anya.
"Arkan siapa, Nya?" tanyaku sambil berharap semoga Arkan yang dimaksud bukanlah Arkana Halim yang tadi malam berbicara denganku saat sedang mabuk.
"Arkana Halim, temanku. Dulu satu universitas sama kita juga kok, dia kakak tingkat jurusan manajemen. Kamu nggak kenal, Ra?" jawab Anya yang seketika membuat bulu kudukku berdiri. Ternyata pria yang menolongku hingga mengantarku pulang sampai di apartemen adalah pria yang sudah kukatai sebagai orang mesum. Rasa malu serta bersalah kembali memenuhi diriku.
"Aku nggak kenal, Nya. Uhm tapi, semalam dia nggak apa-apain aku 'kan?" tanyaku selidik. Siapa tahu pria bernama Arkan itu memang mesum dengan menggunakan kesempatan ketika aku mabuk untuk melakukan hal-hal aneh.
"Nggak perlu mikir yang aneh-aneh, Ra. Arkan orangnya baik kok jadi dia nggak mungkin macam-macam sama kamu, percaya deh. Lagian juga waktu kamu bangun baju sama celana masih lengkap 'kan?" ucap Anya bercanda yang justru membuatku menjadi semakin malu.
"Apaan sih, Nya!"
Aku menahan malu hingga wajahku kini sudah berubah menjadi kemerahan. Namun, setidaknya aku menjadi lega karena pria bernama Arkan itu tidak melakukan hal aneh kepadaku. Justru aku lah yang seharusnya berterima kasih kepadanya karena telah mengantarku pulang ke rumah dengan selamat.
"Hahaha. Kalau gitu teleponnya aku tutup, ya, Ra. Kapan hari lagi deh kalau aku nggak sibuk kita harus main bareng!"
Aku mengangguk dengan semangat. "Siap! Thanks buat informasinya Anya. Dan terima kasih juga untuk pestamu semalam, asyik banget! Walaupun di sana aku cuma minum aja."
"Okay, Clara, it's fine. See you soon my girl!" tutup Anya.
Begitu menutup ponsel, aku kembali merebahkan diri di atas ranjang kasur yang empuk. Pengaruh alkohol masih tertinggal sedikit sehingga membuat kepalaku terasa agak pusing dan sakit. Dengan sepenuh tenaga, aku berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan di pagi menjelang siang hari ini.
Akan tetapi, ketika membuka kulkas, tidak ada satu pun bahan makanan yang tersisa di sana. Hanya tersisa beberapa makanan kalengan seperti ikan sarden bahkan telur dan sayuran pun tidak ada. Aku tersenyum miris. Oh, jadi seperti ini rasanya menjadi pengangguran. Sudah kantong kering, kulkas pun ikut kering. Aku pun akhirnya memutuskan untuk membeli makanan di luar melalui aplikasi online.
Sedih rasanya ketika melihat isi dompet dan saldo yang ada di kartu debitku semakin menipis. Jika saja semalam aku tidak membeli sebotol vodka yang harganya tidak masuk akal itu, saldo di kartu debitku pasti tidak akan berkurang. Yang membuat diriku menyesal adalah mengapa aku bisa menghabiskan vodka tersebut sangat cepat? Yah, namanya juga orang mabuk pasti akan bertindak tanpa berpikir.
Aku meraih dompet untuk mengambil uang guna membayar makanan yang sudah aku pesan melalui sebuah aplikasi online. Kurir yang mengantar makanan mengatakan bahwa sebentar lagi akan datang dan aku bergegas untuk segera turun ke lobby apartemen. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang menangkap perhatianku. Terdapat sebuah kartu nama yang terletak di antara uang di dompetku. Dan ketika melihat isi kartu tersebut, terpampang jelas nama Arkana Halim di sana.
"Kok aku bisa simpan kartu namanya dia, ya?" Aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Akan tetapi, percuma saja karena aku tidak bisa mengingat apa pun.
"Mungkin semalam nggak sengaja aku bawa kali, ya?"
Aku tidak menghiraukan kembali dan langsung keluar dari unit apartemen untuk mengambil pesanan makanan di lobby lantai bawah. Perutku sudah meronta untuk diberi makanan setelah terakhir kalinya aku makan adalah pagi kemarin, sebelum bertemu dengan Adam di kafe. Pantas saja perutku terasa perih karena dalam keadaan kosong perutku langsung terisi oleh minuman keras berupa vodka.
***
Hingga sampai detik ini, aku masih memandangi kartu nama milik Arkan. Sudah sejak tadi siang aku memiliki niat untuk menelepon pria itu hanya sekadar untuk berterima kasih karena ia telah mengantarku dengan selamat. Namun, rasa malu yang ada pada diriku melebihi niatku untuk berterima kasih. Mau ditaruh di mana mukaku setelah mengatai orang asing dengan perkataan yang tidak pantas?
"Telepon nggak, ya?" Aku masih ragu-ragu. Bagaimana jika nanti saat Arkan menjawab ia malah tidak terima dengan perkataanku semalam? Atau justru Arkan akan mengatakan hal aneh kepadaku karena tingkah mabukku yang sangat aneh dan gila?
"Argh, lebih baik aku tidur aja." Aku lantas menutupi seluruh badanku dengan selimut dan berusaha untuk memejamkan mata.
Namun, ternyata tidak semudah itu untuk tidur jika aku sedang memikirkan sesuatu. Aku pun langsung bangun terduduk sambil berteriak, "Nggak bisa tidur!"
Perasaan aneh terus mengganjal pada diriku. Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja sebelah ranjang kasur. Dengan cepat aku langsung memasukkan nomor milik Arkan yang tertera di kartu nama tersebut. Sebelum benar-benar menekan tombol telepon, aku meyakinkan diriku sendiri untuk menghilangkan perasaan gugup.
"Ingat Clara, kamu harus minta maaf dan bilang terima kasih, nggak perlu ngomong yang aneh-aneh."
Begitu menekan tombol telepon, beberapa detik kemudian Arkan langsung mengangkatnya. "Halo? Dengan Arkana Halim di sini," ujarnya di seberang telepon dengan suara yang sama persis aku dengar tadi malam. Cukup berat dan terdengar seksi. Ah! Kembalikan pikiranmu Clara!
"Ha-halo?" Aku tidak sadar jika tiba-tiba suaraku berubah menjadi gagap.
"Siapa di sana?" ujar Arkan sekali lagi yang tampaknya belum mengenali suaraku.
"Saya Clara, Om." Aku menepuk dahiku setelah tidak sadar memanggilnya dengan Om. Bodohnya Clara! Arkan pasti langsung akan mengetahui siapa diriku ini.
"Oh, kamu. Yang baru putus dan dipecat dari perusahaan, ya?"
Aku sudah bisa menebak jika pria itu pasti akan mengungkitnya kembali. Rasa malu yang ada pada diriku menjalar di sekujur tubuh. Sangat malu bukan jika terdapat seseorang yang mengingatmu tetapi dengan kesan yang buruk, yaitu orang yang baru saja putus dengan kekasih serta dipecat dari perusahaan. Sepertinya harga diriku sudah tidak ada lagi di hadapan Arkan. Dan yang lebih parah lagi, Arkan sudah menyaksikan aksi gilaku ketika sedang mabuk. Lengkap sudah.
"Iya benar," jawabku pelan dan telanjur pasrah. Mau bagaimana lagi, pria itu sudah mengetahui segalanya tentang seberapa buruknya diriku.
"Ada apa telepon saya malam-malam seperti ini?"
"Jadi begini, sebelumnya saya mau meminta maaf kalau kemarin saya berkata kasar dalam keadaan mabuk. Kata Anya, kemarin Anda sudah antar saya sampai apartemen dengan selamat. Oleh karena itu, saya sekaligus ingin berterima kasih sama Om," tuturku dan sekali lagi aku keceplosan memanggil Arkan dengan panggilan Om. Pasti sebentar lagi pria itu akan mengomel kepadaku.
"Baik. Sebelumnya, saya minta tolong jangan panggil saya dengan nama om karena saya bukan om-om. Di kartu nama sudah tertera jelas kalau nama saya adalah Arkana Halim, bukan? Panggil saya Arkan jika mau, atau apa pun itu yang terpenting jangan sebutan om. Paham?"
"Paham, Pak." Bodoh, Clara. Panggilan Pak justru lebih parah lagi dibandingkan Om.
"Jangan Pak, saya belum bapak-bapak tahu tidak," seru Arkan dari seberang telepon. Tampaknya pria itu sudah mulai tersulut emosi ketika aku memanggilnya dengan sebutan Om dan Bapak.
"Lalu saya harus memanggil apa?" Aku menjawab dengan bingung. Masa iya aku harus memanggilnya Arkan? Kami berdua bahkan tidak berteman dekat dan baru saling kenal hari ini.
"Panggil Arkan saja."
"Okay, Arkan," ucapku terpaksa untuk mempersingkat waktu karena sebenarnya tujuanku sudah selesai, yaitu untuk meminta maaf dan juga berterima kasih. Sudah bukan? Mengapa pria itu harus memperpanjangnya menjadi rumit.
"Saya terima permintaan maaf dari kamu. Sebenarnya tingkat mabukmu masih rendah jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lebih parah. Saya hanya sedikit terkejut ketika kamu meneriaki saya dengan sebutan orang mesum yang membuat seisi ruangan menjadi menoleh ke arah saya."
Mengapa pria ini semakin lama semakin banyak berbicara? Hal itu membuatku semakin malas untuk melanjutkan sambungan telepon. Saat ini aku seperti mendengar seseorang yang sedang mencurahkan hatinya. Hei, kami berdua bahkan baru kenal dan tiba-tiba saja Arkan tampak merasa sudah akrab denganku. Aneh.
"Halo Clara?" Arkan memanggil namaku karena selama beberapa detik aku tidak merespons perkataannya.
"Eh, iya, maaf. Silakan dilanjut."
"Selanjutnya, saya mau meluruskan mungkin kamu sudah salah paham dengan saya. Ketika saya mengantarmu sampai apartemen, saya berani sumpah jika saya tidak melakukan hal aneh kepadamu. Kamu bisa tanyakan kepada asisten saya karena saya tidak sendirian."
"Iya, Arkan. Saya nggak berpikir macam-macam ke kamu," jawabku berbohong padahal sebenarnya aku sudah berprasangka buruk kepadanya.
"Bagus. Selanjutnya ada lagi yang ingin kamu sampaikan kepada saya?"
Aku menghela napas lega. Akhirnya sambungan telepon kami berdua sudah berada di penghujung acara. Dengan cepat aku langsung menggeleng dan menjawab, "Nggak ada. Kalau begitu terima kasih, saya tutup teleponnya, ya."
"Jangan dulu Clara!"
Aku yang awalnya ingin segera menekan tombol mati lantas tidak jadi ketika Arkan tiba-tiba memanggil namaku. Apalagi sih yang sebenarnya pria ini inginkan? Bukannya aku sudah meminta maaf dan berterima kasih kepadanya? Apakah semuanya masih belum cukup juga?
"Saya lihat kamu baru saja dipecat dari perusahaan bukan? Kebetulan perusahaan saya sedang membuka lowongan pekerjaan. Jika kamu berminat untuk bergabung, besok pagi kamu bisa langsung datang ke alamat yang tertera di kartu nama saya untuk melakukan interview."
Aku yang awalnya sudah malas dan tidak tertarik dengan pembicaraan di telepon sontak bangkit dari tidur ketika mendengar penawaran pekerjaan dari Arkan. Hanya itulah yang saat ini aku butuhkan! Senyuman gembira mulai terukir di bibirku. Akhirnya aku mendapat kesempatan kembali untuk bekerja setelah dua hari ini menganggur. Terima kasih Tuhan.
Aku mengangguk dengan yakin. "Siap Arkan. Besok pagi saya langsung datang ke alamat yang tertera. Terima kasih, ya!"
"My pleasure. Saya tunggu kamu besok di kantor jam delapan pagi, jangan sampai terlambat."
"Siap!" sorakku dengan gembira setelah mendapatkan keajaiban malam ini.
"Kalau begitu saya tutup teleponnya. Selamat malam, Clara."
Anda Mungkin Juga Suka





