Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Berliku & Perceraian

Pernikahan Berliku & Perceraian

Terbangun sebagai tokoh antagonis dalam sebuah cerita, Sienna bertekad mengubah nasib tragisnya demi hidup mewah. Ia memilih menikahi Darren, pria kaya yang cemburu karena Sienna gemar menggoda orang lain. Meski pernikahan mereka didasari kehamilan, Sienna yakin Darren akan menceraikannya demi sang pahlawan wanita. Namun, saat ia terus menanti perpisahan itu, Darren justru menolak melepaskannya dan marah setiap kali topik perceraian muncul di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Darren melangkah ke ruang tamu yang sepi, perasaan tak menentu semakin meresap ke dalam dirinya. Ia sudah beberapa kali mencoba mengabaikan sikap Sienna yang terus-menerus menggoda pria tampan di acara-acara sosial, atau berbicara manis dengan wanita cantik di sekitar mereka, namun rasanya, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa lagi ia biarkan berlalu begitu saja.

Sienna, dengan segala pesona dan kecantikannya, memang tak bisa lepas dari perhatian orang lain. Tak jarang Darren merasa risih dan cemas ketika istrinya itu lebih banyak tersenyum pada orang lain ketimbang padanya. Ada rasa cemburu yang semakin membara di dalam dirinya, perasaan yang tidak bisa ia tutupi lagi.

"Kenapa harus seperti ini, Sienna?" gumam Darren pada dirinya sendiri, sambil menatap meja makan yang sudah terhidang dengan makanan yang tak tersentuh. Seperti biasa, Sienna hanya akan makan jika ada acara besar, atau jika perasaan malasnya tidak datang. Tapi malam ini berbeda. Ia tidak hanya merasa cemburu terhadap perhatian Sienna, tetapi juga terhadap ketidakpastian yang semakin jelas. Mungkin, ini semua adalah ujung dari hubungan mereka. Ia sendiri tidak tahu lagi.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Sienna muncul dengan gaun tidur satin yang tipis, yang menambah kilau kecantikannya. Ia melangkah masuk dengan langkah anggun, seperti selalu, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya-sebuah senyuman yang tipis, seperti tahu ada yang sedang dipikirkan oleh Darren.

Darren mengangkat wajahnya dan menatap istrinya yang semakin mendekat. Ada kecanggungan yang terasa antara mereka. Sienna berhenti beberapa langkah di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Darren?" tanyanya, suaranya terdengar lembut, namun Darren bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

Darren tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap keluar seolah mencoba mencari jawaban dalam kegelapan malam. "Aku tidak tahu, Sienna," jawabnya pelan. "Aku hanya merasa... aku mulai muak dengan semua ini."

Sienna mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu maksud?" Ia mencoba mendekat, namun Darren menggelengkan kepala, menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan.

"Aku muak dengan sikapmu yang selalu menggoda orang lain, entah itu pria atau wanita," kata Darren, suaranya tegang, namun tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Aku sudah mencoba untuk bersabar, tapi rasanya semakin berat. Apakah kamu tidak melihat bagaimana perasaanku?"

Sienna terdiam, matanya terbuka lebar, namun ia segera menyembunyikan kebingungannya di balik senyuman yang dibuat-buat. "Darren, kamu terlalu cemas. Bukankah itu hanya bagian dari kehidupan sosial? Aku hanya... berinteraksi, tidak lebih. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?"

Darren mendekat dan berhenti tepat di depan Sienna. Ia menatap wajah cantik istrinya, yang tampaknya begitu tenang, namun Darren bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam dari hanya sekadar senyuman manis itu. "Tapi kamu tahu, Sienna. Kamu tahu bagaimana perasaanku setiap kali kamu tersenyum manis pada pria lain, atau berbicara dengan wanita-wanita itu seperti kamu tidak punya suami."

Sienna menghela napas, merasa sedikit jengkel dengan tuduhan yang menurutnya tidak adil. "Darren, aku hanya... aku hanya ingin hidup seperti orang lain. Aku tahu, aku punya kamu, tapi itu tidak berarti aku harus membatasi diriku. Kamu bisa mengontrol hidup kita, tapi tidak hidupku, kan?"

Darren merasa ada sesuatu yang membakar di dadanya. Ia menahan amarahnya yang mulai muncul. "Aku tidak mengontrol hidupmu, Sienna. Tapi aku tidak akan diam saja jika kamu terus bersikap seperti ini."

Sienna tersenyum tipis, lalu melangkah mundur, seolah memberi ruang bagi Darren untuk menenangkan dirinya. Namun di dalam hatinya, ia merasa bingung. Apakah selama ini ia salah dalam berpikir tentang pernikahan mereka? Apakah Darren tidak pernah mengerti bahwa hidup mereka bukan hanya tentang anak yang sedang dikandungnya, tetapi juga tentang rasa bebas yang ia cari?

"Darren, aku tahu kamu cemas. Tapi percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawab Sienna, suara lembut namun ada sedikit nada yang penuh teka-teki. "Aku hanya ingin menikmati hidup, seperti orang lainnya. Mungkin kamu bisa lebih santai sedikit."

Tapi Darren tidak merasa santai. Ia merasa ketegangan ini semakin memuncak, dan kini, ia harus berbicara lebih terbuka. "Kenapa kamu tidak pernah berbicara tentang perceraian? Aku tahu kita hanya menikah karena anak kita, dan aku tahu kamu berpikir aku akan menceraikanmu begitu saja setelah ini berakhir, kan?"

Sienna terdiam, terkejut dengan pengakuan Darren yang begitu langsung. Ia tidak pernah membayangkan Darren akan mengatakan hal itu, meskipun ia tahu dalam hati bahwa pernikahan mereka memang tidak sepenuhnya dilandasi oleh cinta. Namun, ada rasa yang lebih mendalam di antara mereka, meskipun Sienna belum bisa sepenuhnya memahaminya.

Darren mendekat lagi, kali ini lebih dekat daripada sebelumnya. "Tapi kamu salah, Sienna," katanya, suaranya lebih serius. "Aku tidak akan menceraikanmu, bukan karena kamu hamil, tetapi karena aku sudah memilih untuk tetap bersamamu. Meskipun kamu merasa terjebak dalam pernikahan ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Sienna terdiam, merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat dalam mata Darren, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya-ada keteguhan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, bahwa untuk pertama kalinya, suaminya itu benar-benar serius.

"Jadi," Sienna akhirnya berbisik pelan, "Apa yang akan terjadi dengan kita?"

Darren menarik napas panjang, lalu menatap Sienna dengan tatapan yang penuh arti. "Apa yang akan terjadi, kita yang tentukan. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, kita tidur bersama tanpa bicara tentang perceraian. Kita mulai dengan itu."

Sienna merasa ada semacam ketegangan yang berubah menjadi kehangatan di antara mereka. Perlahan, ia merasa seolah segala hal yang pernah ia ragukan, mulai bergeser. Mungkin, hanya mungkin, hidup ini memang memiliki jalan yang lebih baik daripada yang ia bayangkan.

Malam itu, keduanya tidur dalam keheningan, terikat oleh takdir yang masih belum mereka pahami sepenuhnya. Dan entah mengapa, Sienna merasa sedikit lega. Mungkin ini adalah awal dari perjalanan baru, yang akan membawa mereka ke arah yang tak terduga.

Akhir Bab 1

Bab ini menekankan ketegangan antara dua karakter utama, Darren dan Sienna, serta memperkenalkan konflik internal yang mereka rasakan, meskipun ada ketidakpastian dalam hubungan mereka. Semoga ini membantu dalam mengembangkan cerita lebih lanjut!Tentu! Berikut adalah **Bab 1** yang lebih panjang, dengan pengembangan cerita dan dialog yang lebih mendalam sesuai dengan sinopsis dan alur yang telah diubah:

---

**Bab 1: Cemburu yang Membara**

Darren melangkah ke ruang tamu yang sepi, perasaan tak menentu semakin meresap ke dalam dirinya. Ia sudah beberapa kali mencoba mengabaikan sikap Sienna yang terus-menerus menggoda pria tampan di acara-acara sosial, atau berbicara manis dengan wanita cantik di sekitar mereka, namun rasanya, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa lagi ia biarkan berlalu begitu saja.

Sienna, dengan segala pesona dan kecantikannya, memang tak bisa lepas dari perhatian orang lain. Tak jarang Darren merasa risih dan cemas ketika istrinya itu lebih banyak tersenyum pada orang lain ketimbang padanya. Ada rasa cemburu yang semakin membara di dalam dirinya, perasaan yang tidak bisa ia tutupi lagi.

"Kenapa harus seperti ini, Sienna?" gumam Darren pada dirinya sendiri, sambil menatap meja makan yang sudah terhidang dengan makanan yang tak tersentuh. Seperti biasa, Sienna hanya akan makan jika ada acara besar, atau jika perasaan malasnya tidak datang. Tapi malam ini berbeda. Ia tidak hanya merasa cemburu terhadap perhatian Sienna, tetapi juga terhadap ketidakpastian yang semakin jelas. Mungkin, ini semua adalah ujung dari hubungan mereka. Ia sendiri tidak tahu lagi.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Sienna muncul dengan gaun tidur satin yang tipis, yang menambah kilau kecantikannya. Ia melangkah masuk dengan langkah anggun, seperti selalu, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya-sebuah senyuman yang tipis, seperti tahu ada yang sedang dipikirkan oleh Darren.

Darren mengangkat wajahnya dan menatap istrinya yang semakin mendekat. Ada kecanggungan yang terasa antara mereka. Sienna berhenti beberapa langkah di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Darren?" tanyanya, suaranya terdengar lembut, namun Darren bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

Darren tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap keluar seolah mencoba mencari jawaban dalam kegelapan malam. "Aku tidak tahu, Sienna," jawabnya pelan. "Aku hanya merasa... aku mulai muak dengan semua ini."

Sienna mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu maksud?" Ia mencoba mendekat, namun Darren menggelengkan kepala, menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan.

"Aku muak dengan sikapmu yang selalu menggoda orang lain, entah itu pria atau wanita," kata Darren, suaranya tegang, namun tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Aku sudah mencoba untuk bersabar, tapi rasanya semakin berat. Apakah kamu tidak melihat bagaimana perasaanku?"

Sienna terdiam, matanya terbuka lebar, namun ia segera menyembunyikan kebingungannya di balik senyuman yang dibuat-buat. "Darren, kamu terlalu cemas. Bukankah itu hanya bagian dari kehidupan sosial? Aku hanya... berinteraksi, tidak lebih. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?"

Darren mendekat dan berhenti tepat di depan Sienna. Ia menatap wajah cantik istrinya, yang tampaknya begitu tenang, namun Darren bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam dari hanya sekadar senyuman manis itu. "Tapi kamu tahu, Sienna. Kamu tahu bagaimana perasaanku setiap kali kamu tersenyum manis pada pria lain, atau berbicara dengan wanita-wanita itu seperti kamu tidak punya suami."

Sienna menghela napas, merasa sedikit jengkel dengan tuduhan yang menurutnya tidak adil. "Darren, aku hanya... aku hanya ingin hidup seperti orang lain. Aku tahu, aku punya kamu, tapi itu tidak berarti aku harus membatasi diriku. Kamu bisa mengontrol hidup kita, tapi tidak hidupku, kan?"

Darren merasa ada sesuatu yang membakar di dadanya. Ia menahan amarahnya yang mulai muncul. "Aku tidak mengontrol hidupmu, Sienna. Tapi aku tidak akan diam saja jika kamu terus bersikap seperti ini."

Sienna tersenyum tipis, lalu melangkah mundur, seolah memberi ruang bagi Darren untuk menenangkan dirinya. Namun di dalam hatinya, ia merasa bingung. Apakah selama ini ia salah dalam berpikir tentang pernikahan mereka? Apakah Darren tidak pernah mengerti bahwa hidup mereka bukan hanya tentang anak yang sedang dikandungnya, tetapi juga tentang rasa bebas yang ia cari?

"Darren, aku tahu kamu cemas. Tapi percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawab Sienna, suara lembut namun ada sedikit nada yang penuh teka-teki. "Aku hanya ingin menikmati hidup, seperti orang lainnya. Mungkin kamu bisa lebih santai sedikit."

Tapi Darren tidak merasa santai. Ia merasa ketegangan ini semakin memuncak, dan kini, ia harus berbicara lebih terbuka. "Kenapa kamu tidak pernah berbicara tentang perceraian? Aku tahu kita hanya menikah karena anak kita, dan aku tahu kamu berpikir aku akan menceraikanmu begitu saja setelah ini berakhir, kan?"

Sienna terdiam, terkejut dengan pengakuan Darren yang begitu langsung. Ia tidak pernah membayangkan Darren akan mengatakan hal itu, meskipun ia tahu dalam hati bahwa pernikahan mereka memang tidak sepenuhnya dilandasi oleh cinta. Namun, ada rasa yang lebih mendalam di antara mereka, meskipun Sienna belum bisa sepenuhnya memahaminya.

Darren mendekat lagi, kali ini lebih dekat daripada sebelumnya. "Tapi kamu salah, Sienna," katanya, suaranya lebih serius. "Aku tidak akan menceraikanmu, bukan karena kamu hamil, tetapi karena aku sudah memilih untuk tetap bersamamu. Meskipun kamu merasa terjebak dalam pernikahan ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Sienna terdiam, merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat dalam mata Darren, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya-ada keteguhan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, bahwa untuk pertama kalinya, suaminya itu benar-benar serius.

"Jadi," Sienna akhirnya berbisik pelan, "Apa yang akan terjadi dengan kita?"

Darren menarik napas panjang, lalu menatap Sienna dengan tatapan yang penuh arti. "Apa yang akan terjadi, kita yang tentukan. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, kita tidur bersama tanpa bicara tentang perceraian. Kita mulai dengan itu."

Sienna merasa ada semacam ketegangan yang berubah menjadi kehangatan di antara mereka. Perlahan, ia merasa seolah segala hal yang pernah ia ragukan, mulai bergeser. Mungkin, hanya mungkin, hidup ini memang memiliki jalan yang lebih baik daripada yang ia bayangkan.

Malam itu, keduanya tidur dalam keheningan, terikat oleh takdir yang masih belum mereka pahami sepenuhnya. Dan entah mengapa, Sienna merasa sedikit lega. Mungkin ini adalah awal dari perjalanan baru, yang akan membawa mereka ke arah yang tak terduga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Bertahan Hidup di Dunia Komik
7.8
Pasca kecelakaan tragis, Delisha terbangun sebagai putri bangsawan yang baru saja menikah. Sialnya, ia menyadari dirinya terjebak dalam raga tokoh sampingan yang ditakdirkan tewas di tangan suaminya sendiri. Sang suami ternyata adalah antagonis utama yang licik di sebuah komik kerajaan. Kini, Delisha harus berjuang bertahan hidup di era abad pertengahan sembari menyusun taktik perceraian demi menghindari maut yang mengintai di balik sosok villain tersebut.
Sampul Novel Dunia Lain Di Balik Pintu
8.7
Astrid Ratchett, siswi antisosial yang sering dirundung, terobsesi dengan novel fantasi Richard Mcgrory. Suatu hari, ia menemukan pintu rahasia di balik lemari menuju dunia yang persis seperti buku favoritnya. Di sana, Astrid menjadi sosok cantik dan terhormat. Namun, ia terkejut saat bertemu mendiang sahabatnya yang kini jadi pangeran. Saat ancaman keluarga jahat muncul, Astrid harus berjuang menyelamatkan negeri itu sambil mengungkap kebenaran di balik dunia misterius ini.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.