Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin

Goyangan Pohon Beringin

8.2 / 10.0
Dalam fantasy romance Goyangan Pohon Beringin, Adrian terobsesi pada Hesta, gadis misterius dari pohon beringin. Wandi berusaha mengungkap identitas makhluk astral ini sebelum persahabatan mereka hancur. Baca mystery story ini di web novel kami untuk mengungkap rahasia di balik cinta terlarang.
Ringkasan Goyangan Pohon Beringin
Persahabatan Adrian dan Wandi retak akibat kehadiran Hesta, gadis misterius yang mempesona Adrian namun tampak mengerikan bagi Wandi. Wandi berusaha keras menyadarkan Adrian bahwa pujaan hatinya adalah makhluk astral, sementara serangkaian kejadian buruk mulai menghantui sejak mereka mendatangi sebuah pohon beringin tua. Di tengah belenggu misteri dan bahaya, mampukah Adrian melihat kebenaran? Akankah cinta beda dunia ini bersatu atau justru membawa petaka bagi mereka?
Baca Selengkapnya

Goyangan Pohon Beringin Bab 1

Dua anak ABG sedang berkendara sepeda motor sambil berbincang, menyusuri jalan raya Tawangmangu Karang Anyar. Jalan yang setiap hari mereka lewati saat pergi ke sekolah, Adrian dan Wandi.

“Brow, lu tadi denger nggak? Ada suara desahan di rumahku?”

“Kagak, jangan bilang itu bapak ama emak lu? Udah konslet otak lu Wandi.”

Citt ... suara bunyi ban sepeda motor mereka berderit. Dua anak laki-laki yang berumur enam belas tahun turun dari sepeda motor dan menuntunnya di bawah pohon beringin yang sangat besar. Terlihat dari raut wajah mereka nampak segar oleh sapuan udara pagi yang masih sejuk. Tempat yang sunyi dan sepi seolah tempat tersebut tidak terjamah, membuat bulu kuduk berdiri. Ada aura mencekam yang tiba-tiba menyeruak membuat kedua pemuda tersebut saling pandang, seram.

“Dingin sekali pagi ini,” kata Adrian sambil memegang setir sepeda motor bututnya di tepi jalan raya yang masih sepi. Mereka berhenti di bawah pohon beringin yang sangat besar. Adrian dan Wandi, nama kedua anak itu, yang kemudian melihat sekeliling tampak banyak sekali kotoran burung di tanah. Mata Adrian yang membonceng melotot tangannya menekan hidungnya yang mancung kecoklatan.

“Duduk saja sini, enggak panas! Lagian masih pagi ngapain kita di sini? Kurang kerjaan aja,” sahut Wandi yang turun dan duduk di bawah pohon tanpa melihat kondisi tempatnya duduk. Matanya menatap sekeliling yang sepi tanpa seorang pun lewat. Berkali- kali mata sipit itu mengerjap dan tangannya mengusap kepala.

“Woi, lu gak liat tuh ....!” ucap Adrian sambil tangannya menunjuk ke arah tanah di sekitar Wandi yang terlihat banyak kotoran burung yang sudah kering.

“Napa?” tanya Wandi yang masih asyik menyibakkan rambutnya yang keriting sedikit basah. Tangannya mulai menggaris kepalanya berkali-kali merapikan yang ada di atasnya.

“Astaga, nih anak kagak liat yang lu pakai duduk? Wan, Wan, lu jadi anak polos amat ya!” ucap Adrian tanpa melihat ke arah temannya yang masih sibuk dengan sisiran tangan di kepalanya.

Tiba-tiba ... plukk ...

“Pff ... wuekkk ... apa-an nih?”

Wandi tiba-tiba menurunkan tangannya, melihat telapak tangannya dan mencium. Dia meludah dan kepalanya menggeleng kencang dengan mimik wajah mengerut.

“Hahaha ... lu napa? Ada kotoran? Hahaha ... rasain lu, dari tadi gue bilangin kagak denger. Noh, liat atas lu! Ada penghuninya, hahaha ....” Tangan Adrian memegangi perut dan tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Wandi dengan wajah masam berdiri berjalan menjauh dari Adrian dan mencari daun yang basah. Setelah menemukan, dengan cepat tangan Wandi yang sudah basah mengusap kepalanya dengan kasar.

“Wuekk ... cuihh ... aduh, gimana nih Yan? Kog kagak ilang baunya? Tolongin guee ....!”

Wandi mendekati Adrian yang masih menertawakan dirinya. Namun naas, Adrian semakin menjauh darinya. Bukan Adrian, jika tidak jahil dengan Wandi temannya yang sudah dianggap sebagai saudara. Mereka selalu bersama-sama hampir setiap saat dari mulai kecil. Teman sepermainan yang sama-sama anak semata wayang. Wandi bertetangga dengan Adrian, mereka kerap menginap di rumah bergantian jika kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Wandi anak penakut, dan sering di buli teman-temannya. Berkat Adrian yang pemberani dan kelewat pe-denya, Wandi merasa bisa hidup dengan tenang di samping temannya itu. Meskipun Adrian sering kali menjahilinya, namun dia juga melindungi Wandi jika ada masalah dengan temannya yang lain.

“Napa, mo gue tambahin lagi kotorannya? Hahaha ... Wan, Wan, sonoh! Jangan deketin gue! Awas lu ya!”

Wandi yang mulanya berjalan dengan jarak hanya beberapa meter akhirnya berhenti, dan menatap Adrian dengan mata berair. Mulai akan jatuh, air yang dari tadi menggantung di pelupuk matanya. Sedangkan Adrian dengan santainya melangkah pergi dari tempat itu dan berjalan masuk ke dalam hutan. Dia tidak memperdulikan Wandi yang terus saja menatap kepergiannya dari tempa itu.

Adrian, anak bengal yang selalu bikin ulah di mana-mana. Dia sering membuat kesal Wandi, karena temannya itu sering bertindak konyol dan takut dia tinggalkan. Adrian sendiri tidak pernah merasa terbebani ketika Wandi sering kali membuntuti kemana saja dia pergi. Bahkan Adrian rela mengeluarkan uang demi temannya itu, karena memang ekonomi kedua orang tua Wandi sangat jauh dari kata cukup. Rasa kasihan Adrian meskipun sering dibilang anak bengal oleh banyak teman sekolahnya, tidak membuat Adrian sakit hati, cuek tanpa ingin dipuji oleh siapa pun.

Mata Wandi tiba-tiba membola hendak keluar, melihat Adrian kembali membawa air di dalam kantong plastik. Bibirnya yang hitam tebal merekah dan menapakkan giginya yang putih kusam belum terkena pasta gigi pagi. Tubuhnya yang lebih kecil dari Adrian terduduk di tanah yang masih basah oleh embun. Bahkan mulutnya tidak juga menutup saat temannya sudah berada di sampingnya.

“Mulut lu ditutup napa? Bau tuh, kagak sedap-sedapnya lu Wan,” ucap Adrian sambil mengulurkan air yang ada di kantog plastik sambil menutup hidung dengan tangan kanannya.

Bukan menerima air, tapi Wadi mberusaha mendekati Adrian dan memeluk teman sekaligus sahabatnya itu dengan kencang. Hal itu membuat Adrian kaget dan balik mendorong tubuh kecil itu hingga terjatuh ke tanah. Brukk ....

“Aduh.”

Wandi memegang pantat dan mengelusnya sambil meringis. Dia sudah terbiasa sengan kelakuan Adrain yang seenak jidatnya. Dengan berani dia peluk temannya untuk mencari sekutu merasakan bau yang sama dengannya. Akibatnya Adrian marah dan berteriak.

“Woii, lu kira gue apa-an? Gay?”

Adrian mengancam akan meninggalkan wandi, meskipun itu hanya dalam cadaan. Dasar Wandi, dia ketakutan saat ucapan itu keluar dari bibir temannya. Membuat Adrian tertawa sambil menepuk jidat.

“Dasar, kapan gue ninggalin elu? Sampai ujung dunia juga lu tetap buntutin gue. Udah cepetan bersihin itu!! Gue dah laper nih, lu mau makan kagak?”

Adrian duduk di atas sepeda motornya menunggu Wandi yang sedang sibuk membersihkan kotoran burung yang terjatuh di kepalanya. Dua orang anak yang terlihat jauh secara fisik. Adrian tampan dan bertubuh kekar, sedangkan Wandi bertubuh kecil dan terlihat kurus seperti kurang makan. Hal ini lah yang sering menjadi bahan cemo’ohan teman-temannya. Dan Adrian selalu di depannya menolong Wandi jika sudah mulai terdesak dibuli oleh temannya.

Beberapa saat Wandi selesai membersihkan kotoran burung, Adrian segera menyalakan sepeda motornya. Sepeda motor Honda CB yang masih bagus dan terlihat terawat. Adrian memang rajin membersihkan dan mengutak- atik sepeda motor kesayangannya itu. Meskipun bisa minta di belikan yang baru dan lebih bergaya, namun tidak dilakukannya. Dia anak yang sederhana tanpa pernah memamerkan kekayaan kedua orang tuanya.

Namun seseorang memanggilnya hingga Adrian mematikan mesin motor itu.

“Hai, kalian!” terdengar suara kakek memanggil. Keduanya melihat sekeliling dan terpaku pada sosok kakek yang muncul dari belakang pohon beringin yang seiring daun-daun berjatuhan, rontok tersapu angin.

“Kakek panggil kami?” tanya Adrian menyenggol Wandi agar meberi isyarat supaya turun dari motornya.

“Siapa lagi yang ada di sini? Mau apa kalian pagi- pagi ribut di tempat ini? Pergi cepat ...!”

Kakek yang saat ini bicara menatap dengan pandangan tajam ke arah Adrian dan Wandi. Tubuhnya yang hanya berbalut kaos putih singlet dan celana kolor selutut, tampak sedikit membungkuk. Tidak ada yang istimewa darinya, hanya suaranya yang terdengar keras membuat dua anak terlihat saling memandang dan bergegas kembali naik ke sepeda motornya.

“I- iya Kek, kami akan pergi. Jangan khawatir!” ucap Adrian sambil mencubit Wandi yang masih terdiam melihat kedatangan kakek yang tiba-tiba itu.

“Awas ya, jangan sampai kalian datang lagi dan buat keributan di tempat ini! Kalian bisa rasakan akibatnya jika bandel!” ucap kakek dan tetap menatap tajam ke arah Adrian dan Wandi.

Akhirnya keduanya kembali naik sepeda motor milik Adrian dan bergegas menancapkan gas dengan cepat pergi dari tempa itu. Hawa pagi yang sangat dingin membuat keduanya menggigil dan saling memeluk di atas sepeda yang melaju kencang menembus jalan raya yang masih sepi.

“Kabur ...!”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Goyangan Pohon Beringin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Bukan Don Juan
9.1
Terlahir tampan dan atletis membuat pria ini memiliki pesona yang tak terelakkan bagi para wanita. Tanpa perlu bersusah payah, ia selalu berhasil memikat siapa pun untuk menyerah pada rayuannya. Berawal dari sekadar iseng, ia justru terjebak dalam kecanduan akan hubungan terlarang. Ada kepuasan luar biasa saat ia menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara sembunyi-sembunyi. Inilah kisah penuh gairah yang menantang bahaya demi kenikmatan.
Sampul Novel Dibiarkan Mati: Dosa Gembong Mafia
8.6
Suamiku, pemimpin mafia Jakarta, menolak memiliki anak sebelum aku mengungkap rahasia gelapnya: seorang putra dari wanita musuh bebuyutan kami. Kekejamannya memuncak saat dia mencelakaiku hingga keguguran, sementara selingkuhannya membuangku ke jurang. Namun, aku bertahan hidup. Saat aku muncul di TV sebagai arsitek kelas dunia, sang bos mafia kini bersujud di kakiku, memohon pengampunan dari sosok yang dulu ia hancurkan dan biarkan mati begitu saja.
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi menggagalkan pernikahan ketiga ibunya, Arkania Lintang Jagat terjebak dalam sandiwara cinta yang rumit. Ia mengaku mencintai Bintang, calon saudara tirinya. Sang ibu yang ragu karena haphephobia Lintang, menuntut bukti nyata. Di hadapan Ishan sang mantan kekasih, Lintang nekat mengecup bibir Bintang. Aksi berani ini justru memicu obsesi Ishan untuk merebut kembali hati Lintang, sementara hubungan Lintang dan sepupu angkat Ishan itu semakin pelik.
Sampul Novel LOVE FROM LA
9.7
Berawal dari interaksi di media sosial, Kim dan Diki membangun hubungan yang tak terduga. Kim adalah sersan satu tentara Amerika keturunan Indonesia-Cina yang hidup mandiri sejak kehilangan orang tuanya di usia delapan tahun. Meski terpisah jarak dan bahasa, kenyamanan membuat Diki nekat menyatakan perasaan. Tak disangka, Kim menerimanya. Akankah cinta lintas negara yang lahir di dunia maya ini mampu bertahan dan berlanjut menjadi pertemuan nyata di masa depan?
Sampul Novel VIRGIN
9.3
Rayana terpaksa menjual kemolekan tubuhnya kepada seorang pria penuh nafsu demi menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Meski menyerahkan fisiknya, gadis lugu ini mengajukan syarat mutlak untuk tetap mempertahankan kesuciannya. Kini, ia terjebak dalam dilema antara tuntutan hidup dan prinsip yang ia pegang teguh. Mampukah Rayana menjaga kehormatannya hingga akhir, atau ia justru akan hancur dalam permainan berisiko yang ia ciptakan sendiri?
Sampul Novel War In Life
9.8
Kehidupan sempurna sebuah keluarga konglomerat hancur seketika setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa Airin. Ghea, sang putri, tidak tinggal diam dan bertekad menguak fakta di balik insiden maut tersebut. Dalam pencariannya, ia dibantu oleh pria misterius yang ia temui di sebuah kamar hotel mewah. Akankah kolaborasi ini berhasil membongkar kebenaran yang terkubur? Ikuti perjalanan mereka saat benih kedekatan mulai muncul di tengah misteri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan