Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjalanan Zera

Perjalanan Zera

Setiap peristiwa dalam hidup merupakan bentuk pelajaran berharga yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Kisah ini mengajak pembaca merenungi bahwa besarnya kenikmatan yang dirasakan akan selalu sejalan dengan ketulusan hati dalam bersyukur. Melalui perjalanan Zera, kita diingatkan bahwa tidak ada kejadian yang sia-sia, karena setiap momen membawa hikmah mendalam bagi mereka yang mau membuka mata dan menghargai segala pemberian-Nya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Laper banget," lirih Zera sambil meringkuk di kasur lantainya yang terasa lebih dingin malam ini, karena hujan.

Zera belum makan sedari pagi, ia sibuk mencari pekerjaan yang hasilnya nihil. Tidak ada yang menerimanya dengan ijazah SMP, dan Zera tidak memiliki tabungan sama sekali.

Kost-an yang di tempatinya pun di bayar oleh umik Hanna. Ketika itu Zera sedang luntang lantung, tak tahu akan kemana dan ia bertemu umik Hanna.

Kemudian umik Hanna mencarikannya kost-an di dekat pondoknya, saat itu umik Hanna sudah akan menawarkan kasur dan perabotan lainnya, namun Zera menolak. Di bayarkan kost untuk dua bulan saja, Zera sudah sangat berterima kasih.

Selebihnya ia akan mencari uang sendiri, pikir Zera. Namun sampai saat ini, ia belum mendapat pekerjaan apapun.

Tok tok tok

Mata Zera yang tadinya terpejam menahan sakit di perutnya terbuka perlahan, ia berjalan mendekati pintu kost-nya dengan tubuh ringkih.

Sebelum membuka pintu, Zera lebih dulu merapihkan diri dan bersikap biasa saja. Ia tak mau orang lain tahu bahwa ia kesakitan atau lemah, Zera benci di pandang lemah dan rendah oleh orang lain.

Tok tok tok

"Iya."

Kreeet

"Dek Zera," suara lembut itu mengalun indah di pendengaran Zera, Aisyah ternyata yang datang dengan seorang lelaki di belakangnya.

"Kak Aisyah, ada apa kak?"

"Assalamu'alaikum, Zera."

"Wa-wa'alaikumussalaam, kak Aisyah."

"Boleh masuk?"

"Oh, boleh kak. Tapi rumah ku kotor, sempit."

"Aduh kamu ini, gak apa, Zera. Ayo."

Zera akhirnya mengangguk dan mempersilakan Aisyah beserta satu orang lelaki masuk ke kost-nya.

Karena tak ada kursi, hanya ada karpet yang melapisi lantai, mereka bertiga duduk lesehan.

"Dek, kakak bawain kamu makanan. Kamu udah makan belum?" tanya Aisyah dengan hati - hati, ia takut menyinggung perasaan gadis kecil di hadapannya.

Umik Hanna bilang, kalau Zera itu sangat perasa, dan memang sebagai hamba Allah kita juga tidak boleh berbicara atau bertingkah yang bisa membuat orang lain tersinggung. Terlebih muslim, harus saling menghargai dan menyayangi. Sesama muslim adalah saudara.

"Eh? Emm, aku... aku u-udah makan kak," jawab Zera sambil menunduk.

Aisyah menoleh pada abangnya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, sikap cuek abangnya kadang membuat Aisyah gemas sendiri.

Melihat abangnya yang hanya menaikkan sebelah alisnya, membuat Aisyah kesal. Ia kembali menatap Zera yang memperhatikannya dengan tatapan polos dan kebingungannya.

"Hehe, Zera. Ya udah gak apa kalau udah makan, ini aku mau kasih ini aja, barangkali kamu nanti mau makan lagi, atau buat besok masih bisa di makan kok."

"Eh engga usah, kak. Zera besok mau cari pekerjaan lagi."

Jawaban penolakan Zera seakan mengandung arti berbeda di telinga Ali, abangnya Aisyah yang sedari tadi menyimak.

Meski terlihat cuek, dan tidak ramah, Ali adalah orang yang peka terhadap sekitarnya. Terkadang orang - orang akan segan, karena sifat Ali yang terlalu peka, sebelum orang itu bicara pun Ali sudah menawarkan dahulu.

"Nama mu, Zera. Benar?"

Suara tegas namun lembut seperti Aisyah itu membuat Zera menoleh, menatap sepasang mata kecoklatan itu dengan lekat.

"Zera, daripada kamu mencari pekerjaan, kenapa tidak sekolah?"

"Abang," tegur Aisyah dengan pelan, sambil mencubit perut Ali. Ali hanya mengambil tangan sang adik, lalu mengelusnya.

"Zera cari kerja karena gak punya uang, untuk makan dan bayar kost. Gimana lagi kalau sekolah?" tanya Zera balik, kepalanya tertunduk dan perlahan bahunya bergetar.

Siapa yang tidak ingin sekolah?

Zera sangat ingin sekolah, cita - citanya menjadi dokter seperti Aisyah, namun bagaimanapun, Zera harus sadar diri dan menghapus impiannya.

Sebelumnya Zera tinggal dengan orang tua angkatnya, sebelum sesuatu terjadi dan membuat dirinya menjadi seperti sekarang, hidup sebatang kara. Hanya mengharapkan takdir baik dari Allah.

"Tinggalkan kost ini, kalau memberatkan."

"Lalu Zera tinggal dimana, abang?! Udah deh, ayo pulang aja. Abang buat masalah aja!" bisik Aisyah yang jengkel dengan sikap Ali.

"Zera, datanglah ke rumah kami. Saya akan biayai kamu, asalkan kamu penuhi setiap perintah saya."

Mendengar pernyataan dengan nada perintah itu, Zera menoleh pada Aisyah. Gadis kecil itu merenyit bingung, ia tidak mengerti apa yang di maksud Ali.

Berbeda dengan Aisyah yang sudah menangkap maksud sang abang, wajah cantiknya kini berseri. Tangannya tidak lagi mencubit perut abangnya.

Tangan lembut Aisyah yang mirip dengan tangan umik Hanna menangkup kedua sisi wajah Zera, menatap manik berkaca - kaca Zera.

Aisyah tahu, Zera sedang menahan sakit perut. Tangan Zera sudah gemetar dan badannya pun panas, semenjak mengobati luka di lutut Zera tadi memang Aisyah sudah mengetahui kondisi Zera sedang tidak baik.

Kedatangan mereka pun di perintahkan oleh abi Hanan, dan umik Hanna. Mereka berdua sengaja mengirim Aisyah bersama dengan Ali.

Aisyah yang notabene calon dokter itu peka dengan keadaan tubuh seseorang, dan Ali, kepercayaan abi Hanan. Ali bisa di andalkan membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan seperti yang dijelaskan tadi, Ali itu peka terhadap sekitarnya.

"Adek mau ya?" tanya Aisyah dengan harapan Zera menyetujui tawaran Ali.

"Zera gak mau merepotkan orang lain," cicit Zera sambil meremas jarinya sendiri di atas paha. Kelakuannya itu di perhatikan Ali.

"Tidak ada yang di repotkan dan merepotkan. Kamu tinggal bersama kami, bantu mengurus pondok, dan belajar," timpal Ali yang sudah berdiri dan melihat pintu yang terbuka, kamar Zera.

"Aisy, kamu bantu bereskan barang Zera. Ayo sebelum hujan bertambah deras," katanya lagi dan keluar kost. Ali merasa tak nyaman berada di dalam rumah bersama yang bukan mahromnya, meski di sana juga ada Aisyah.

Bukan bermaksud untuk memaksakan kehendak, tapi Ali sungguh tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, kalau gadis kecil itu belum mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Bagaimana Ali bisa menikmati kehidupan kerkecukupan dari Allah SWT, kalau di sekitarnya masih ada saudara muslimnya yang menderita?

Tidak, hati Ali akan ikut teriris melihat gadis seringkih Zera menjalani kehidupan yang sangat berat, sedangkan Ali dan keluarganya tertawa dan perut kenyang setiap saat.

Ali terdiam di depan pintu kost, sambil sesekali menoleh ke belakang dan melihat Aisyah yang memeluk Zera.

Gadis kecil itu mencoba kuat meski di matanya terlihat menyedihkan, perlahan kedua gadis itu bangkit dan beberes barang Zera di kamar.

Ali berharap, kehidupan Zera akan lebih baik setelah ini.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda
9.2
Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett setelah ayahnya menjualnya demi melunasi utang. Meski benci dengan situasi ini, gadis remaja itu kini hidup bergelimang harta di rumah mewah dan sekolah elit. Di sisi lain, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan keadaan karena telah lama menyukai Syaqila. Ia terus memanjakan sang gadis, namun tantangan muncul dari pria-pria muda yang lebih tampan. Mampukah Aditya memenangkan hati Syaqila?
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Kehamilanku Adalah Harapanku
7.9
Lae adalah yatim piatu yang berjuang hidup dengan bekerja di butik Miralis setelah orang tuanya tewas kecelakaan. Di sana, ia menjalin cinta dengan Reza, putra pemilik butik. Namun, restu keluarga Reza tidak kunjung datang hingga hubungan mereka kandas. Di tengah kepedihan, Lae menyadari dirinya hamil. Bukannya membela, Reza justru menyuruhnya menggugurkan kandungan itu. Kini, Lae harus memilih antara menuruti Reza atau mempertahankan darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?
Sampul Novel Lama-lama Jadi Cinta
9.5
Rini Zaskia Putri terpaksa menikahi Muhammad Andre akibat perjodohan orang tuanya yang mendadak. Meski terikat pernikahan, hati Rini sebenarnya masih milik Bagaskara Agam, kekasihnya yang tidak pernah mendapatkan restu dari keluarga. Kini, Rini terjebak dalam dilema antara baktinya sebagai istri dan kenangan masa lalu. Sanggupkah ia menghapus perasaannya pada Agam demi mencintai Andre sepenuhnya, ataukah cinta lama itu tetap bertahan?
Sampul Novel Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
8.9
Sembilan tahun mendampingi Rehan dan bersiap menuju gerbang pertunangan, sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit dalam novel modern ini. Saat hendak menjemput kekasihnya dari acara reuni, ia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam Rehan. Pria itu terang-terangan menyebutnya sebagai pengganti murah yang digunakan untuk meruntuhkan kepercayaan diri cinta pertamanya yang kini telah kembali. Sadar dirinya hanya pelampiasan rasa sepi, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk pergi.