Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjalanan Zera

Perjalanan Zera

Setiap peristiwa dalam hidup merupakan bentuk pelajaran berharga yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Kisah ini mengajak pembaca merenungi bahwa besarnya kenikmatan yang dirasakan akan selalu sejalan dengan ketulusan hati dalam bersyukur. Melalui perjalanan Zera, kita diingatkan bahwa tidak ada kejadian yang sia-sia, karena setiap momen membawa hikmah mendalam bagi mereka yang mau membuka mata dan menghargai segala pemberian-Nya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Perlahan Zera membuka matanya, rasanya sangat nyaman dan enggan untuk membuka mata. Namun kantuk sudah hilang.

Matanya melihat ke setiap penjuru ruangan, dinding berwarna cream dengan pintu yang berukiran lafadz Ustman bin Affan rhadiyallahu anhu.

Lalu banyak sekali buku yang tersusun rapih di rak dinding, kemudian lemari pakaian yang setengahnya terisi pakaian orang lain.

Zera yakin, ini kamar orang lain. Zera jadi merasa tidak enak, namun ia tak bisa menolak tawaran Aisyah dan Ali semalam. Karena jujur, Zera sangat butuh tangan seseorang.

Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk Zera. Terkadang ada masalah yang bisa kita atasi sendiri, namun ada juga yang kita butuh untuk menerima uluran tangan seseorang.

Duri yang menusuk, butuh tangan untuk mencabutnya. Ali bagaikan tangan si pencabut luka yang ada di diri Zera, senyuman terbit memikirkan bagaimana kebaikan pemuda bersarung itu semalam.

"Apa ini kamar bang Ali? Tapi nama pintunya Utsman," gumam Zera sambil menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar di ranjang.

Ranjang empuk dan nyaman ini membuat Zera tertidur pulas, sampai ia tak sadar sudah memasuki jam 11 siang.

Cklek

Suara pintu terbuka membuat Zera mengalihkan pandangannya dari jendela di sampingnya.

"Umik."

"Zera, sudah bangun nak?"

Tangan lembut umik Hanna mengelus rambut Zera dengan sayang, senyumannya terus bertengger di wajahnya.

"Umik, maaf Zera kesiangan," cicit Zera merasa bersalah.

"Gak apa, sayang. Gimana, betah gak? Maaf ya sayang, kamu di sini dulu. Kamar mu sedang mas Jidan bereskan dulu, nanti kalau sudah rapih, kamu bisa tempati."

Zera mengangguk dan memeluk umik Hanna, "umik Zera mau ucapin makasih ya sama umik, umik tolong Zera. Zera mau kok umik suruh apa aja."

"Sayang, umik cuma mau Zera nurut sama umik. Mulai sekarang, Zera anak umik ya nak?"

Air mata Zera mengalir deras, mendengar penuturan umik Hanna.

Ada jejak luka di sana,

Di dalam kegelapan hati yang menyelimuti setiap rasa.

•••

Suara sendok berdenting, mengiringi makan siang hari ini. Di meja makan ndalem itu kini terdapat sosok baru, Zera Syifana.

Abi Hanan telah mengajukan untuk mengadopsi Zera, menjadi anggota keluarganya. Namun Ali yang juga mengerti akan itu, membuat harapan Hanan dan Hanna sedikit retak.

Zera tidak bisa di adopsi, karena ia masih tercatat memiliki kedua orang tua lengkap, bahkan bukan tergolong keluarga fakir.

Mereka belum sempat menanyai perihal keluarga pada Zera, bukan enggan tapi mereka ingin memulihkan keadaan mental Zera.

Sorot mata Zera mengandung banyak sekali kesedihan yang tidak di ungkapkan, kelak ketika Zera sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, Hanna dan Hanan akan mengajak Zera untuk bicara.

Kini, mereka hanya ingin membiarkan Zera menghirup udara yang segar, mengenal apa itu tertawa tanpa beban, dan menjalani hidup tanpa memikirkan hal yang membuat hatinya terluka lagi.

Aisyah pagi tadi sudah pergi untuk panggilan di kampusnya, gadis itu sudah mulai akan memulai ujiannya.

Sedangkan Ali, ia kini memiliki tanggungan untuk memberikan Zera tugas pertamanya di pesantren dan sekaligus menjadi salah satu anggota keluarga ini.

"Zera, nanti kamu akan ikut belajar di pondok. Dan mengejar ketertinggalan," ucap Ali dengan pandangan tidak melihat pada Zera, ia senantiasa menunduk. Cukup malam tadi Ali menatap mata Zera.

"Tapi Zera belum pernah ikut mondok, Zera sekolah formal sebelumnya. Zera takut gak bisa."

"Tidak ada yang tidak bisa, semuanya akan mudah kalau kamu niat dan mau. Formal atau pondok sama aja, bedanya di sini lebih banyak ilmu agama."

Zera mengangguk saja mendengar penjelasan lebih panjang dari Ali, lelaki itu sama sekali tidak menatapnya dan membuat Zera bingung.

Apa ia menjijikan?

Padahal tadi Zera sudah mandi, bahkan pakaiannya yang ia kenakan hari ini adalah pakaian terbaik yang ia punya. Tergolong sopan.

Setelah menyelesaikan makanannya, Ali hendak pergi namun langkahnya kembali terhenti dan sedikit menoleh ke belakang.

"Zera, mas Jidan selesai merapikan kamar mu, bawa barang mu ke sana. Malam ini saya tidur di kamar saya," ucapnya lalu pergi, meninggalkan Zera yang masih tidak mengerti.

Umik Hanna dan abi Hanan hanya terkekeh melihat wajah kebingungan Zera, rupanya gadis ini benar - benar masih polos.

Abi Hanan berharap, akan mudah mendidik Zera menjadi gadis muslimah seutuhnya.

"Umik, abi, memangnya pakaian Zera jelek yah? Atau wajah Zera geli yah?"

"Maksudnya gimana, nak?" tanya abi Hanan yang santai sambil menyeruput teh hangatnya, ia sudah mengerti arah pembicaraan Zera, namun tak mau langsung memberikan Zera ceramah.

Abi Hanan adalah seorang kiyai yang tersohor akan kesabaran dan cara penyampaian nasihatnya sangat baik. Bisa di terima banyak orang, dari kalangan tua maupun muda.

Abi Hanan membedakan bagaimana cara mengajak anak muda untuk berdakwah, dan bagaimana cara berdiskusi dengan para orang tua.

Triknya ampuh hingga yang muda mengikuti arahannya tanpa terpaksa atau marah, dan yang tua tidak tersinggung karena mendapat kritikan.

"Kenapa bang Ali gak mau liat Zera?"

Kali ini, umik Hanna yang menyeruput teh hangatnya, lalu menaruhnya dengan pelan.

"Coba Zera berdiri, umik mau liat," jawab umik Hanna.

Menurut, Zera berdiri di hadapan abi Hanan dan umik Hanna sambil merapikan pakaiannya.

"Apa yang salah?" tanya Zera kembali, ia masih tidak mengerti apa yang salah pada dirinya. Sampai abangnya Aisyah itu enggan menatapnya.

"Menurut umik, gak ada yang salah. Ya bi?" respon umik Hanna, sembari meminta pendapat sang suami.

"Iya, bagus kok bajunya. Tapi, Zera mau tau gak alasan bang Ali nunduk?"

Mendengar itu, Zera lantas mengangguk dan kembali duduk di kursinya. Menatap penasaran pada abi Hanan, dan umik Hanna.

Tatapan polos Zera membuat hati umik Hanna bergetar, ia jadi teringat Aisyah. Puterinya itu sudah sibuk dengan urusan kedokterannya, sampai waktu bersama keluarga jadi menyempit. Akan tetapi Allah SWT sungguh Maha Baik, Dia mengirimkan Zera.

Abi Hanan menjelaskan secara perlahan pada Zera.

"Bang Ali menunduk itu karena Zera cantik. Sangat cantik, sampai saking terlalu cantiknya, seharusnya Zera tutupi itu."

"Kenapa di tutupi, kan cantik? Nanti gak kelihatan."

Jawaban lugu itu kembali terdengar dan membuat abi Hanan tertawa.

"Nak, dalam islam, wanita itu berharga. Semua wanita cantik, makanya Allah memerintahkan untuk menutup auratnya. Karena mereka sangat cantik, termasuk Zera. Kenapa sih, kok di tutupi kecantikannya?"

"Coba Zera pikirkan, mutiara sama kerikil beda gak?" lanjut abi Hanan dengan bertanya balik kepada Zera.

"Beda, dong!"

"Bedanya apa?"

"Kerikil kan berserakan di pinggir jalan, dimana - mana ada. Kalau mutiara adanya di dalam cangkang kerang."

"Cantik mana mutiara sama kerikil?"

"Mutiara dong, bi. Kan tertutup, jadi cantiknya terjaga. Kalau kerikil ke injak - injak."

"Nah itu dia, nak. Bagi islam, wanita itu kaya mutiara. Sangat cantik, berharga, makanya ditutupi. Kalau terbuka, apa bedanya sama kerikil? Kerikil ada dimana - mana, bahkan di pegang, di injak, di lempar dengan semena - mena. Gak berharga. Walau, banyak manfaatnya."

Zera mematung mendengar perumpamaan dari abi Hanan, bukan ia tak mengerti. Tapi kali ini, ia sangat mengerti.

Betapa berbunganya hati, mendengar bahwa dirinya sangat berharga bagai mutiara.

Di saat banyak orang di luar sana, menghakimi dan melempar Zera ke penderitaan begini seperti kerikil yang tiada arti. Walaupun masih bisa berguna untuk beberapa aspek.

Dahulu, Zera berpikir, dirinya tak di cintai oleh satu orang pun. Akan tetapi mendengar penjelasan abi Hanan, Zera jadi menyadari betapa Allah SWT mencintai dirinya sebagai perempuan.

Dan Ali, menghargai dirinya untuk tidak melihat sembarangan di saat Zera terbuka tanpa cangkangnya.

"Allah SWT berfirman, dalam surat Al Ahzab ayat 59, yang artinya, 'Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."' Gitu kata Allah."

"Dan yang namanya aurat itu secara bahasa punya beragam makna salah satunya adalah dari kata 'aar yang berarti aib. Kalau aurat itu bisa di katakan aib juga, siapa yang ingin aibnya nampak? Gak ada. Makanya tutuplah ia."

Sambung abi Hanan yang sudah mulai merambat pada dalil, ketika raut wajah lawan bicaranya nampak tenang dan tak ada penolakan untuk nasihatnya.

"Zera berarti membuka aib ya bi?"

Abi Hanan tersenyum, nasihatnya di terima oleh Zera. Yang menandakan hati Zera masih hidup, dan lembut.

Hati dikatakan mati dan bahkan keras adalah ketika ia tak menerima nasihat dari orang lain, tidak bergerak pada kebaikan yang ada di hadapannya.

"Zera hanya tinggal memakai jilbab seperti kak Aisyah dan umiknya Zera," jawab abi Hanan sambil mengusap puncak kepala umik Hanna.

Abi Hanan hanya akan memanggil umik kepada istrinya, ketika di hadapan anak - anaknya. Namun, saat berdua panggilannya akan berubah.

Sesuai dengan anjuran, kalau suami dan istri tidak memanggil ayah / ibu kepada masing - masingnya. Karena suami bukan orang tua istrinya, dan istri bukan orang tua suaminya. Maka, panggilan bunda, ayah, dan semacamnya itu hanya untuk anak kepada orang tuanya saja.

"Dalam kitab mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, tertulis

مَا يَحْرُمُ كَشْفُهُ مِنَ الْجِسْمِ سَوَاءٌ مِنَ الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ

Aurat adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh laki -laki maupun perempuan yang tidak boleh ditampakan."

"Termasuk rambut Zera ya bi? Mik?"

"Iya, sayang. Zera ikut umik yuk, ke kamar kak Aisyah? Nanti umik pinjamkan jilbabnya kak Aisyah."

"Mau!"

Abi Hanan dan umik Hanna tertawa melihat Zera antusias, termasuk seseorang di balik dinding yang sedari tadi mendengarkan.

Ali mengintip sedikit, melihat sorot mata Zera kini mulai berbinar dan melunturkan rasa sedih yang terpancar sebelumnya.

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanah dari Sang Ayah
7.9
Rahel terjebak dalam pernikahan dengan pria lebih tua yang belum pernah ia temui sebelumnya. Modalnya hanyalah sebuah foto kecil seukuran kartu identitas. Tepat di malam sebelum akad nikah dilangsungkan, ayahnya tersenyum penuh syukur atas kesediaan Rahel menuruti perjodohan itu. Namun, setelah memberikan pelukan dan kecupan perpisahan di kening sang putri, ayah Rahel mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan amanah besar bagi masa depan Rahel.
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor
8.9
Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur saat menemukan kontak bernama si buruk rupa di ponsel suaminya. Pedihnya, label menghina itu ternyata ditujukan untuk dirinya sendiri. Sang suami tega melakukan hal tersebut demi menutupi perselingkuhannya dengan wanita idaman lain. Pengkhianatan ini mengungkap betapa rendahnya posisi sang istri di mata lelaki yang ia cintai, sementara sang suami justru asyik menjalin hubungan gelap di belakangnya.
Sampul Novel Going Crazy
9.6
Marcel menceraikan Mikaela setelah mendapati anak kembar mereka tak sedarah dengannya. Demi mempertahankan rumah tangga, Mikaela membebaskan Ares dari penjara guna menyerahkan hak asuh anak-anak itu. Namun, duka mendalam menyelimuti Mikaela saat ayahnya wafat tiba-tiba. Kini ia berjuang agar Marcel menerimanya kembali, meski Marcel terus membandingkannya dengan Michelle, sang mantan istri sekaligus ipar. Akankah Mikaela berhasil atau justru hancur?
Sampul Novel Love a Sweet Psycho
7.9
Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat
8.9
Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.