
Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
Bab 3
Aku melayang di sisi Ibu dan Justin sepanjang perjalanan. Tiba-tiba, Ibu menerima telepon dari dosen pembimbingku.
“Halo? Apa ini wali Hana? Ponsel Hana nggak bisa dihubungi dan dia juga nggak ada di asrama. Dia sudah nggak masuk sekolah 3 hari.”
Ibu hanya menanggapi dengan acuh tak acuh dan langsung memutuskan sambungan telepon. “Nggak usah khawatir. Memangnya apa yang bisa terjadi padanya? Dia seharusnya lagi pergi keluyuran sama orang lain!”
‘Benar, nggak perlu khawatir. Aku memang nggak akan bisa buat kalian khawatir lagi,’ ucapku dalam hati.
Ibu sudah membenciku sejak kecil. Sebab, aku hanyalah alat yang digunakannya untuk mempertahankan rumah tangganya. Asalkan merasa sedikit tidak senang, dia akan langsung memukul dan memakiku. Sampai Justin lahir, semuanya pun berubah.
Justin yang berusia 10 tahun dimanjakan habis-habisan oleh Ibu. Meskipun hanya tergores, Ibu akan berjaga di sisinya semalaman. Namun, aku yang berusia 14 tahun malah harus sekolah sambil bekerja untuk menopang kebutuhan hidupku.
Dia bahkan menggunakan uang yang kuhasilkan untuk mendaftarkan Justin ke berbagai kelas tambahan. Uangku setara dengan uang Justin.
Meskipun aku pergi bekerja, Ibu akan selalu mengatakan aku pergi keluyuran, juga selalu mengutukku untuk mati. Sekarang, aku benar-benar sudah mati. Di keluarga ini, diabaikan dan ditindas adalah makanan sehari-hariku.
Di umur 15 tahun, aku demam tinggi hingga mencapai 41 derajat celcius. Aku berbaring di tempat tidur dan berkata dengan lemas, “Ibu, aku nggak nyaman banget. Boleh bawa aku ke rumah sakit?”
Ibuku hanya memelototiku dan berseru, “Mau pura-pura sakit supaya nggak usah ke sekolah? Jangan mimpi!”
Meskipun aku sudah mulai berhalusinasi saking tingginya suhu tubuhku, Ibu tetap tidak merasa kasihan padaku. Aku diseretnya ke sekolah seperti sebuah boneka usang. Malam itu, demamku terlalu tinggi hingga hampir membuatku meninggal saking sakitnya. Setelahnya, guruku yang sudah tidak tega melihat keadaanku buru-buru menelepon ambulans dan aku baru terselamatkan.
Sejak saat itu, aku tahu Ibu tidak menyayangiku.
Seiring dengan bertambahnya usiaku, Justin makin arogan. Dengan kasih sayang ibuku yang berlebihan, dia lebih cepat dewasa dari orang seumurannya. Hanya saja, aku tidak menyangka orang yang menindasku di sekolah adalah adik kandungku.
Justin mengambil foto telanjangku saat mandi yang menunjukkan dengan jelas semua bagian intim tubuhku. Dia juga memamerkan dan mengirim foto itu kepada semua murid serta guru sekolah. Seluruh sekolah pun dipenuhi dengan rumorku.
“Eh, sudah lihat? Dia masih begitu kecil, tapi tubuhnya sudah berkembang sempurna. Dia benar-benar seorang pelacur!”
“Aku kira dia sangat jujur dan seorang pekerja keras yang hanya tahu belajar. Ternyata, itu semua cuma sandiwara.”
Semua orang di sekolah menatapku dengan tatapan merendahkan.
Justin juga membawa sekelompok preman untuk menekanku ke dinding, lalu menjambak dan menamparku. Tidak ada seorang pun dari murid-murid yang menyaksikan hal ini membantuku atau melapor polisi. Mereka hanya menyaksikanku dihina dan diinjak-injak dengan ekspresi dingin.
Entah bagaimana ibuku mengetahui kasus penindasan ini. Dia pun datang ke sekolah dengan marah. Awalnya, aku mengira dia akan membantuku menangani masalah ini atau menghiburku. Namun, dia tidak melakukan apa-apa, malah menyalahkanku atas segalanya.
Dia menjewer telingaku, menjambakku, dan menyeretku ke luar sekolah di bawah tatapan semua orang sambil mengomel, “Kenapa kamu begitu nggak tahu malu. Masih kecil, tapi bukannya belajar dengan baik. Siapa yang mau kamu rayu? Kamu memang kegatalan! Kenapa aku bisa lahirkan anak sepertimu! Kenapa kamu nggak disiksa sampai mati saja sama orang!”
Ibu menamparku sampai telingaku berdengung dan kepalaku terasa pusing. Sementara itu, Justin hanya tertawa bangga.
Ucapan Ibu bagaikan panah yang menusuk hatiku. Dia jelas-jelas tahu Justin yang sengaja mempermalukanku, tetapi masih tetap begitu pilih kasih dan memilih untuk menutup sebelah mata. Rasa sakit karena disakiti oleh keluarga jauh lebih menusuk daripada ditindas di sekolah.
Pada saat itu, aku sudah sepenuhnya merasakan apa yang namanya putus asa. Baginya, Justin selamanya adalah yang terpenting.
Anda Mungkin Juga Suka





