
Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
Bab 4
Berhubung Ibu adalah ahli forensik yang terkenal dan populer dalam industri, ada banyak orang yang mengundangnya untuk memberikan bimbingan autopsi. Bahkan ada beberapa departemen terkait yang memintanya menjadi konsultan.
Demi menjaga reputasinya, Ibu mulai merencanakan masa depan Justin. Di bawah otoritas Ibu, Justin mau tak mau memilih jurusan ini meskipun tidak bersedia. Dengan bantuan Ibu, Justin juga berhasil masuk ke jurusan forensik.
Ibu merasa Justin pasti akan menyelesaikan pendidikan dengan baik, lalu meneruskan posisinya sebagai ahli forensik yang unggul. Kebetulan, lembaga penelitian tempat Ibu bekerja sedang merekrut sekelompok calon ahli forensik untuk melakukan penelitian dan magang. Tanpa berpikir panjang, Ibu langsung merekomendasikan Justin.
Reputasi Justin di tempat magang sangatlah tinggi. Bahkan pemimpin lembaga penelitian juga mengetahui bahwa dia adalah anak kesayangan Ibu. Ada banyak orang di lembaga penelitian yang sangat mengagumi Ibu. Jadi, mereka juga sangat menyanjung Justin.
“Ibu, aku butuh banyak uang. Ke depannya, suruh Hana kirimkan lebih banyak uang untukku. Di perkumpulan teman sekelas minggu lalu, dia sengaja nggak mau kasih aku uang! Menyebalkan banget!” keluh Justin.
Hatiku sudah mati rasa dari awal. Aku yang melayang di samping merasa ibu dan anak ini sangat menjijikkan.
Sejak kecil, aku bagaikan mesin ATM bagi mereka. Setelah berkuliah, semua beasiswa dan bantuan pendidikan yang kudapatkan dirampas oleh Ibu dan Justin. Bahkan tabungan untuk membayar uang kuliah yang kuhasilkan dari bekerja selama libur kuliah juga dirampas Justin.
“Aku suruh kamu kasih uangnya! Kenapa banyak banget omong kosongmu? Kalau kamu nggak kasih, aku akan pergi ke kampusmu dan mempermalukanmu!” seru Justin. Dia sudah terbiasa merampas semua yang kumiliki.
“Sebagai seorang kakak, memangnya kenapa kalau kamu ngalah sama adikmu? Ke depannya, adikmu itu akan jadi kepala keluarga. Dia harus belajar kelola uang dari sekarang!”
Sejak kecil, Ibu hanya mengajari Justin untuk menerima tanpa berkorban. Sementara itu, dia hanya menganggapku sebagai alat untuk memuaskan semua kebutuhan Justin. Justin menaruh harapan besar untuk masa depannya. Sayangnya, dia tidak berbakat untuk menjadi seorang ahli forensik.
Justin merasa magang di lembaga penelitian jauh lebih santai daripada kuliah. Namun, kenyataannya malah memberikannya pukulan yang besar.
Di hari kedua, ada seonggok mayat yang sudah membusuk parah dikirim ke lembaga penelitian. Para murid magang diminta untuk melakukan autopsi pada mayat itu.
“Uwek!” Baru saja masuk ke kamar mayat, Justin langsung muntah kering. Dia sudah melihat mayat wanita membusuk yang ditaruh di atas meja autopsi. Tubuhnya sudah mengalami pembengkakan hebat dan dipenuhi belatung.
“Nggak bisa! Ini terlalu bau. Kamu tangani saja sendiri,” ujar Justin sambil berjongkok di lantai dan muntah-muntah.
“Orang sepertimu masih mau masuk jurusan forensik? Kusarankan sebaiknya kamu ganti jurusan secepatnya. Sekarang, ternyata siapa saja juga bisa masuk jurusan forensik!” ejek seorang mahasiswa magang.
Justin yang sudah terbiasa dipuji orang dan dimanjakan Ibu tentu saja tidak terima dihina seperti ini. Namun, demi mempertahankan harga dirinya, dia memaksakan diri untuk tetap berada di ruang mayat dan menahan rasa mualnya. Siapa sangka, dia tidak berhenti bertemu dengan kejadian seperti ini.
“Ah! Kenapa ada sesuatu yang begitu menjijikkan seperti ini!”
Setiap kali, mayat yang diantar ke lembaga penelitian adalah yang sudah membusuk parah. Justin yang awalnya hanya diejek pun mulai direndahkan orang-orang.
Sore itu, hal mengenai Justin yang mendapat nilai 0 dalam ujian mendadak langsung tersebar. Berhubung tidak tahan menerima penghinaan ini, dia pun mencari Ibu untuk mengeluh, “Ibu, aku nggak mau lanjut kerja seperti ini lagi! Kalau kamu masih paksa aku lanjutkan, aku benar-benar akan gila!”
Aku pun tersenyum merendahkan. Bagaimanapun juga, tidak semua orang mampu menjadi ahli forensik.
Anda Mungkin Juga Suka





