
Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
Bab 2
Setelah tiba di lokasi, para tetangga sudah berkumpul di sekitar.
“Kenapa harus bunuh orang! Kejam banget!”
“Dengar-dengar, korbannya diiris-iris!”
Justin mengikuti ibuku dengan takut. Sementara itu, ibuku yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang forensik juga dikejutkan oleh serpihan daging yang bertebaran di mana-mana.
“Kenapa ada begitu banyak serpihan daging? Dagingnya harus dibawa pulang untuk diuji supaya bisa tahu korbannya siapa. Kasihan sekali orang ini. Haih.” Setelah mengenakan sarung tangan, dia baru berangsur-angsur tenang dan melanjutkan, “Semuanya, menjauhlah. Formalin mungkin bisa sebabkan alergi. Aku mau minta staf penguji untuk bersihkan tempat ini dulu.”
Kemudian, dimulai proses membersihkan lokasi, menggambar sketsa, memberi label pada gambar, mengumpulkan potongan daging dan membekukannya.
Ibu adalah seorang ahli forensik yang bertanggung jawab, cakap, dan teratur. Dia mengeluarkan mayat yang hancur itu dari dalam formalin. Mayatku sudah tidak berkepala. Jika tidak melihat dengan saksama, mayatku nyaris tidak mirip dengan tubuh manusia. Saat berada dalam formalin, mayatku juga terlhat terlalu pucat.
“Tragis sekali. Betapa takutnya anak ini waktu itu!”
Tubuhku diiris sebanyak 3.374 kali. Rongga dada dan perutku dibuka sepenuhnya. Di dalam perut yang terbuka itu, terdapat banyak debu dan potongan cabai. Kaki dan tanganku juga dicincang-cincang hingga hancur.
Meskipun tahu tidak memiliki harapan hidup, keinginanku untuk bertahan hidup sangat kuat. Bahkan dalam keadaan sekarat, aku juga secara naluriah menggunakan jari kakiku untuk mencengkeram apa pun yang bisa dijadikan penopang.
Seberapa kejam sebenarnya pelaku itu hingga bisa melakukan hal sekejam ini pada seorang gadis. Berhubung tidak ada tanda pengenal apa pun, identitas mayat itu tidak dapat dipastikan.
“Kasihan sekali dia. Tapi, dia juga pasti bukan orang baik. Kalau nggak, nggak mungkin dia berakhir setragis ini.”
Begitu melihat pemandangan ini, Justin yang baru saja memasuki masa magang langsung mual dan muntah. “Ugh! Uwek ....”
Dia memang tidak bisa disalahkan. Sebab, keadaan mayatku memang terlalu tragis. Tidak ada yang dapat menghubungkan mayat yang sudah hancur lebur itu denganku.
Di ruang penyimpanan mayat, tulang putih bersih yang bercampur dengan rambut yang berantakan memang terlihat sangat mengerikan. Beberapa polisi muda di samping juga tidak berani menatap mayatku lama-lama. Bagaimanapun juga, ini baru permulaan.
Tanpa kepala, kaki, anggota tubuh, dan organ tubuh, yang tersisa hanyalah porongan kulit dan daging yang tidak berbentuk. Tubuhku yang diiris-iris dan dicincang-cincang hanya bisa diperlihatkan seperti ini.
Di bawah lampu sorot, ibuku menjahit tubuhku dengan sabar. Tubuh yang sudah tercerai-berai itu dirangkainya kembali hingga cukup untuk dikenali sebagai tubuh manusia.
Beberapa polisi di samping memuji, “Bu Sanny memang hebat dan bernyali!”
“Uwek!” Adikku yang di samping masih tidak berhenti muntah kering.
Tiba-tiba, ibuku mengerutkan keningnya karena melihat sesuatu yang familier. “Ini ....”
Itu adalah sebuah tanda lahir berbentuk garis berwarna cokelat yang menjalar dari lengan bawah hingga jari. Dia merasa tanda lahir itu familier karena aku juga memilikinya.
Entah kenapa, ibuku mulai merasa agak panik. Dia melepas sarung tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia merasa dirinya pasti berpikir kejauhan. Di dunia ini, tidak mungkin ada hal yang begitu kebetulan.
Sayangnya, kepala mayatku masih belum ditemukan sampai sekarang.
“Dinilai dari metode pelaku, dia seharusnya sudah pernah lakukan kejahatan serupa berulang kali. Mentalnya pasti terganggu, sedangkan kepribadiannya juga menyimpang, dan dia juga tertarik sama hal-hal aneh. Apa mungkin masih ada korban lain yang belum ditemukan?” spekulasi seorang polisi.
“Seharusnya nggak. Kasus ini termasuk pengecualian. Kalau memang nggak bisa, kita cuma bisa pastikan identitas korban dengan pencocokan DNA.”
Polisi juga tidak lupa berpesan pada Ibu dan Justin untuk hati-hati saat pulang ke rumah. Bagaimanapun juga, lokasi pembunuhan ini berada di sebelah rumah kami.
Anda Mungkin Juga Suka





