
Pengantin Bayangan
Bab 2
Langit Eldoria masih diselimuti awan kelabu saat Elara menjejakkan kaki ke dalam Istana Valemont. Aroma khas batu marmer dingin dan lilin yang terbakar memenuhi udara, membawa kembali ingatan yang selama ini ingin ia kubur. Tapi kali ini, dia tidak akan tunduk pada kenangan pahit.
Duke Alaric berjalan mendahului, sementara Cassian tetap berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata perak yang sulit ditebak. Elara tidak menghindari tatapan itu, sebaliknya, dia membalasnya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.
"Kau tampak berbeda," suara Cassian akhirnya memecah keheningan.
Elara mengangkat alis. "Begitu juga kau."
Sejujurnya, Cassian Valemont memang berubah. Lima tahun lalu, dia pria muda yang tampak beku dalam perannya sebagai pewaris keluarga Valemont. Kini, ada sesuatu yang lebih gelap dalam sorot matanya-sebuah rahasia, atau mungkin luka yang ia sembunyikan.
Cassian melangkah mendekat, mantel hitam panjangnya bergerak mengikuti langkahnya yang mantap. "Mengapa kau kembali?"
Elara tersenyum kecil, tanpa humor. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Aku tidak pernah pergi dengan kemauan sendiri. Kau yang meninggalkanku."
Rahangnya menegang, tetapi ia tidak membantah.
Duke Alaric akhirnya berhenti di tengah aula besar dan menoleh ke arah mereka. "Cukup. Kalian akan punya banyak waktu untuk menyelesaikan urusan kalian nanti. Untuk saat ini, aku ingin mendengar alasan kalian masing-masing kembali ke tempat ini."
Elara lebih dulu bicara. "Aku kembali karena tempatku seharusnya memang di sini. Kau yang menginginkanku menjadi bagian keluarga ini, dan aku berencana memenuhi peranku... dengan caraku sendiri."
Cassian tertawa pendek, tanpa rasa humor. "Pernikahan kita tidak pernah nyata, Elara. Semua orang tahu itu."
Elara mendekat, menantangnya dengan sorot mata dingin. "Lucu, karena aku tidak ingat pernah menandatangani surat perceraian."
Keheningan menyelimuti ruangan. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menundukkan kepala, takut dengan ketegangan yang kini mengisi udara.
Duke Alaric menyeringai tipis. "Menarik. Jadi kau berniat mempertahankan pernikahan ini?"
Elara menatap lelaki tua itu. "Aku berniat mempertahankan apa yang menjadi hakku."
Cassian melipat tangan di dada, matanya memperhatikan setiap ekspresi di wajah Elara. "Dan apa hakmu itu?"
Elara tersenyum, tetapi kali ini ada ketajaman dalam caranya menatap Cassian. "Sebagai Nyonya Valemont, sebagai istrimu... dan sebagai seseorang yang sudah cukup lama dikucilkan."
Cassian tampak akan membalas, tetapi sebelum ia bisa membuka mulutnya, suara langkah kaki mendekat dari lorong. Seorang wanita tinggi dengan gaun biru gelap dan rambut cokelat yang disanggul rapi memasuki ruangan.
Lady Evelyn Valemont.
Adik perempuan Cassian, seseorang yang dulu tidak pernah menyembunyikan kebenciannya pada Elara. Wanita itu berhenti di ambang pintu, matanya membelalak saat melihat Elara berdiri di sana.
"Kau..." suaranya bergetar, campuran keterkejutan dan ketidaksenangan. "Kau benar-benar kembali?"
Elara tersenyum, seolah kebencian di mata Evelyn tidak berarti apa-apa baginya. "Sudah lama tidak bertemu, Evelyn."
Lady Evelyn mendekat, matanya masih menatap Elara seolah melihat hantu dari masa lalu. "Aku kira kau sudah menyerah dan menghilang dari kehidupan kami."
Elara mendongak, sorot matanya penuh percaya diri. "Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak semudah itu disingkirkan."
Evelyn menggeram, tetapi Duke Alaric mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tidak ada perdebatan lebih lanjut. "Sudah cukup. Elara kembali sebagai istri Cassian. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan."
Lady Evelyn tampak akan membantah, tetapi sorot mata tajam Duke Alaric membuatnya bungkam. Ia hanya melirik tajam ke arah Elara sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.
Elara menarik napas dalam, lalu kembali mengarahkan perhatiannya pada Cassian. "Jadi, apa pendapatmu?"
Cassian menatapnya lama sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Elara, tetapi aku tidak akan membiarkanmu menang begitu saja."
Elara hanya tersenyum kecil. "Kita lihat saja nanti, suamiku."
Dalam hatinya, dia tahu-permainan baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





