
Pengantin Bayangan
Bab 3
Langit di atas Eldoria masih kelabu ketika Elara melangkah menuju ruang tamu utama Istana Valemont. Langkahnya mantap, gaunnya bergemerisik pelan di atas lantai marmer, tapi pikirannya terus berputar.
Cassian masih menatapnya, tajam dan penuh teka-teki. Lima tahun telah berlalu, tetapi pria itu tetap berbahaya-mungkin lebih dari sebelumnya. Namun, Elara juga bukan lagi gadis rapuh yang pernah mereka singkirkan.
Duke Alaric duduk di kursi utama dengan sikap tenang yang menandakan bahwa dia mengendalikan situasi. Di sisinya, Lady Evelyn duduk dengan wajah yang tegang. Para pelayan berdiri berjajar di sepanjang dinding ruangan, menunggu perintah.
Cassian akhirnya berbicara lebih dulu. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, Elara?"
Elara tersenyum tipis. "Bukankah sudah jelas? Aku kembali untuk mengambil tempatku di keluarga ini."
Evelyn mendengus. "Tempatmu? Kau pikir setelah lima tahun kau bisa kembali dan mengklaim sesuatu yang bukan milikmu?"
Elara menoleh ke arahnya, tatapannya dingin. "Aku tidak pernah menandatangani perceraian. Itu berarti aku masih istri Cassian. Dengan kata lain, tempatku di sini masih sah."
Duke Alaric menyilangkan jari-jarinya di depan wajahnya, memperhatikan percakapan mereka dengan penuh minat. "Dan kau benar-benar berniat mempertahankan pernikahan ini?"
Elara menatap lelaki tua itu. "Aku tahu betapa berharganya nama Valemont, Duke. Tapi aku juga tahu sesuatu yang lebih berharga-kekuasaan."
Cassian mengangkat satu alis, tertarik. "Dan kau pikir kau bisa mendapatkannya di sini?"
Elara tersenyum. "Aku tidak berpikir. Aku tahu."
Keheningan yang tegang memenuhi ruangan. Evelyn tampak hendak meledak, tetapi Duke Alaric berbicara lebih dulu.
"Menarik," katanya pelan. "Kau telah berubah, Elara. Aku menyukainya."
Cassian menatap Elara dalam-dalam. "Kau benar-benar berpikir aku akan menerimamu begitu saja? Setelah semua ini?"
Elara melangkah lebih dekat ke arahnya, membiarkan matanya menelusuri wajah pria itu dengan tenang. "Aku tidak peduli apakah kau menerimaku atau tidak, Cassian. Yang aku pedulikan adalah fakta bahwa aku memiliki nama Valemont, dan aku akan menggunakannya dengan baik."
Tatapan mereka saling bertaut, ketegangan di antara mereka begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau.
Evelyn berdiri dengan kasar. "Ini tidak masuk akal! Kau tidak bisa membiarkan ini terjadi, Ayah!"
Duke Alaric hanya tersenyum samar. "Aku bisa, dan aku akan."
Cassian menyipitkan mata ke arah ayahnya. "Apa maksudmu?"
Duke Alaric bersandar di kursinya. "Elara adalah istrimu, Cassian. Dan sudah saatnya kau mulai memperlakukannya seperti itu."
Evelyn membelalak. "Ayah!"
Tetapi Duke Alaric hanya mengangkat tangan, mengisyaratkan bahwa diskusi ini telah selesai.
Cassian menatap Elara lama sebelum akhirnya mendengus pelan. "Baik. Kalau begitu, kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan."
Elara tersenyum kecil. "Jangan khawatir, suamiku. Aku tidak akan ke mana-mana."
Ketegangan di ruangan itu masih terasa bahkan ketika diskusi berakhir. Elara tahu bahwa ini baru permulaan. Dan dia siap untuk itu.
Anda Mungkin Juga Suka





