Sampul Novel Pendekar Pedang Patah

Pendekar Pedang Patah

7.9 / 10.0
Dalam Pendekar Pedang Patah, Pancaka sang musuh semua sekte terlempar ke masa lalu setelah kekalahannya. Ikuti misi balas dendam atau penebusan dalam fantasy novel ini. Baca petualangan seru di webnovel yang penuh aksi dan misteri ini untuk mengungkap takdir barunya.
Ringkasan Pendekar Pedang Patah
Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.
Baca Selengkapnya

Pendekar Pedang Patah Bab 1

Di sebuah lembah yang cukup luas, terdapat puluhan pendekar tingkat suci dan ratusan pendekar tingkat raja sedang mengepung seorang pendekar berambut panjang dengan parasnya yang di atas rata-rata. Para pendekar dari berbagai macam sekte dan aliran itu terlihat begitu murka dan kesal terhadap pendekar berwajah tampan dengan sebuah pedang tanpa bilah di tangannya itu.

“Hari ini kau akan menjemput ajalmu, Pendekar Pedang Patah!” teriak salah seorang dari ratusan pendekar yang ada di sana dengan geram.

Namun, berbanding terbalik dengan pendekar yang bergelar Pedang Patah itu. Dia tampak santai dengan eskpresi mengejek, menatap ke arah puluhan pendekar tingkat suci yang ada di depannya.

“Kau yakin aku akan menjemput ajalku? Mungkin kau salah tebak. Bisa saja kau yang lebih dulu pergi ke neraka, Pak Tua!” balas pemuda itu meneriaki pendekar yang tadi meneriakinya.

“Kurang ajar!” pekik pendekar yang kira-kira berumur tujuh puluh tahun ke atas. Namun, karena tenaga dalamnya yang tinggi, wajahnya terlihat jauh lebih muda dibandingkan usia sebenarnya. “Aku pendekar suci dari sekte Tapak, Genting Mahesa akan mengakhiri riwayat hidupmu hari ini juga.”

“Oh! Seramnya. Aku bisa merasakan celanaku basah karena mengompol saking takutnya,” ledek si pendekar yang bergelar Pedang Patah itu dengan ekspresi pura-pura ketakutan.

Lalu dari balik kerumunan pendekar tingkat suci dan raja itu, munculah seorang pria tua berjanggut dan berambut putih yang ia yakini berumur lebih dari seratus tahun. Sama seperti pendekar sebelumnya, pria tua ini juga pastilah dapat mempermuda penampilannya berkat tenaga dalam yang dimilikinya.

“Kau terlalu meremehkan orang, Anak Muda. Jangan salahkan kami jika kau meregang nyawa kemudian,” ucap lelaki berperawakan seperti biksu itu.

Pendekar itu tersenyum dengan percaya diri dan membusungkan dadanya. “Apa yang perlu kutakutkan jika aku memiliki pedang ini?” Ia mengacungkan gagang pedang tanpa bilah itu tinggi-tinggi ke atas langit.

Berkat pedang itu, ia dijuluki sebagai Pendekar Pedang Patah. Bukan berarti pedang itu jelek sehingga mudah patah, justru karena itulah kekuatan sesungguhnya dari pedang tanpa bilah itu berasal. Setiap kali serangan—baik itu fisik atau tenaga dalam—dapat dihalau dengan mudah oleh pedang tanpa bilah itu. Sebuah gagang pedang yang memiliki kemampuan untuk mementalkan semua serangan yang terarah pada pemegangnya.

“Kalau begitu, kau belum bertegur sapa dengan Pedang Pembalik Takdir milikku, Anak Muda,” ujar pria tua berambut putih tadi.

Pendekar Pedang Patah mengerutkan keningnya melihat sebuah pedang yang meliuk seperti sebuah keris yang tipis dan panjang. “Pedang aneh macam apa itu?” tanyanya sedikit mengolok. “Mari kita beradu saja kalau begitu, Kakek Tua!” teriaknya yang langsung melompat ke depan menerjang puluhan pendekar tingkat suci dan raja itu.

Melihat musuhnya melompat mendekat, para pendekar suci itu tentu saja tidak menyia-nyiakan waktu, mereka menarik keluar semua senjatanya mulai dari tombak, pedang, golok, dan lainnya.

“HYAAAAAH!”

Pertarungan tak terelakan, Pendekar Pedang Patah tampak menari-nari di tengah kerumunan pendekar tingkat tinggi itu. Setiap serangan yang terarah padanya dapat dengan mudah ia halau dengan pedang tanpa bilah miliknya.

“Hanya segini saja kemampuan dari para pendekar tingkat suci danr raja? Nenekku bahkan bisa melakukannya lebih baik,” ejeknya sambil terus bergerak menghindari semua serangan yang terarah padanya.

Genting Mahesa yang melihat sedikit celah dari musuh segala pendekar itu langsung mengeluarkan sebuah jurus pamungkasnya. “Raungan Singa!”

Ia melepaskan tinjunya ke udara yang ditujukan pada Pendekar Pedang Patah. Sebuah gelombang udara tak kasat mata tampak bergerak cepat mengincar tubuh bagian belakangnya.

Seakan menyadari ada bahaya yang mendekatinya, Pendekar Pedang Patah lantas memutar tubuhnya dan melihat serangan itu. “Lambat,” ucapnya melihat serangan dari Genting Mahesa yang memang terkesan lambat. Ia meletakan tangan kirinya di depan mulut seolah menahan kantuk menunggu serangan itu datang padanya.

Kemudian, saat serangan itu sudah mulai mendekat padanya, ia langsung memasang kuda-kuda siap siaga.

“Kembalilah ke pemilikmu,” katanya dengan santai memukul gelombang serangan itu kembali pada Genting Mahesa seolah-olah sedang memukul bola bisbol.

Genting Mahesa yang melihat serangannya berbalik kembali padanya—dengan laju dua kali lebih cepat—sontak membulatkan matanya. “Ap—sial.” Pak tua itu menggeram ketika jarak serangnya sudah tak mungkin dihindari lagi.

Namun, saat serangan itu hendak mengenainya, sebuah pedang berbentuk aneh seperti keris menahan dan menghilangkan serangan itu. “Lawanmu adalah aku, Pancaka sang Pendekar Pedang Patah yang menjadi biang onar di dunia persilatan.”

Pancaka—nama dari si Pendekar Pedang Patah—mendecih sebal pura-pura marah ketika serangannya dihalau dengan mudah. “Kau benar-benar tak asik, Pak Tua Surawisesa,” katanya dengan tampang cemberut.

Anggada Surawisesa—nama dari pendekar pemilik Pedang Pembalik Takdir—hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar hal itu. “Kau benar-benar anak nakal, Panca. Kemarilah. Pak Tua yang tak asik ini akan mendidikmu dengan benar.” Setelah mengatakan itu, sebuah ledakan aura suci keluar dari tubuhnya.

Para pendekar suci yang melihat hal itu seketika mengambil satu langkah mundur. Mereka memang pendekar tingkat tinggi, tapi hanya segelintir pendekar suci saja yang memiliki tenaga dalam sebanyak tujuh gerbang seperti Anggada Surawisesa.

Dan salah satu yang bisa menyainginya tentu saja Panca. Pemuda berusia dua puluhan akhir itu balik menantang dengan meledakkan aura pembunuhnya yang berada di tingkat yang sama meskipun sedikit di bawah Surawisesa. Ia berada di gerbang keenam akhir.

“Boleh juga kau, Pak Tua. Mungkin aku akan meladenimu menari.”

Surawisesa tidak menjawab, ia memberikan isyarat tangan agar Panca mendekat.

Panca menyeringai lebar melihat hal itu. “Aku datang, Pak Tua. Bersiaplah!” Setelahnya, Panca melayang di udara dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tingginya.

Melihat hal itu, Surawisesa pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua melakukan jual beli serangan di udara. Para pendekar suci yang lain hanya bisa menatap hal itu dengan decak kagum.

Sebenarnya, Panca adalah pendekar yang cukup hebat. Namun, dia menyalahgunakan kemampuannya itu dengan melakukan perbuatan onar, merusak sekte, dan bertindak semaunya. Selama beberapa tahun ini, ia benar-benar membuat dunia persilatan kacau balau berkat pedangnya yang patah itu.

Pertarungan berlangsung sengit. Panca menyerang para puluhan pendekar tingkat tinggi di sana selagi ia bertukar serangan dengan Surawisesa. Akibatnya, hanya tersisa mereka berdua yang masih sadar di lembah yang kini tampak porak poranda itu.

“Kau … apa yang menimpamu sehingga kau berbuat sejauh ini, Panca?” tanya Surawisesa dengan napasnya yang terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya di mana para rekannya tergeletak, sebagian tewas dan sebagian tak bisa bertarung lagi.

Sudah seharian mereka bertarung, dan keadaan cukup imbang karena perbedaan usia yang cukup jauh di antara mereka. Kalau saja Surawisesa berada di usia puncaknya, maka hampir mustahil Panca dapat bertarung seimbang dengannya.

Panca mendecih kesal mendengar Surawisesa berusaha mengulik masa lalunya. “Kupikir kau datang ke sini untuk bertarung, Pak Tua. Pergilah ke tempat lain kalau kau hanya ingin mengocehkan sesuatu yang tak penting.” Panca kembali melompat tinggi dan menukik tepat ke arah Surawisesa.

Surawisesa tampak tersenyum sekilas di wajah tuanya. “Kalau begitu, tidak ada cara lain. Aku harap kau bisa berubah setelah ini, Panca,” ucapnya. Ia lalu merapalkan sesuatu di depan pedang berkeloknya. “Pembalik Waktu!”

Sebuah gelombang dahsyat keluar dari hunusan pedang berkelok itu, membuat Panca yang sedang berada di udara terpental dibuatnya.

“AAAAKHHH!”

BRUK

Panca terpental cukup jauh lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

***

Hari sudah pagi ketika Panca tersadar dari pingsannya, ia mengerang sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. “Emh, di mana ini?”

Namun, betapa terkejutnya ketika ia merasakan tangannya menyusut di balik baju yang kini membuatnya tenggelam di dalamnya.

“Apa-apaan ini!” serunya panik ketika ia mengarahkan kedua tangannya ke depan. “Aku berubah jadi bayi?!” Ia lantas berlari ke sungai yang berada tak jauh dariya dan melihat pantulan dirinya di air.

“Tidak, ini pasti mimpi. Tidak mungkin!”

Pancaka sang Pendekar Pedang Patah yang terkenal di seantero jagat dunia persilatan karena ilmu kanuragannya yang tinggi, serta sepak terjangnya yang begitu buruk di dunia persilatan, kini sedang terpaku di tepi sungai, menatap pantulan dirinya yang kini berubah menjadi anak kecil berusia lima tahun.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pendekar Pedang Patah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)
9.7
Kehancuran hidup Jovan dimulai saat ia kehilangan keluarga dan martabatnya. Sebuah surat misterius menyeretnya ke dalam pusaran dendam dan masa lalu yang kelam. Di tengah pelarian mencari jawaban, ia menemukan kekuatan untuk bangkit demi mengejar jejak istrinya yang menghilang. Ini adalah kisah perjuangan seorang lelaki yang harus melampaui batas kemampuannya demi mengungkap kebenaran pahit di balik pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Rahasia Seorang Istri
8.8
Sebagai pengantin baru, wanita ini menjalani kehidupan pernikahan dengan gairah sensitif yang mudah tersulut oleh sentuhan fisik. Namun, situasi menjadi rumit dan di luar kendali ketika ia dihadapkan pada ketertarikan yang melibatkan adik iparnya sendiri. Meski tidak pernah berniat untuk mengkhianati suaminya demi sang adik ipar, batas-batas kesetiaan dalam rumah tangganya kini benar-benar diuji oleh hasrat yang sulit ia kendalikan dalam kisah modern ini.
Sampul Novel Satu-PD178
8.2
Janna mengakhiri hubungannya setelah Dion terus mengabaikannya demi wanita lain. Ia pindah kota untuk memulai karier dan cinta baru. Saat Dion sadar hanya mencintai Janna, ia mengejarnya namun ditolak karena luka hati yang dalam. Dion akhirnya tewas saat menyelamatkan anak Janna. Sebelum ajal menjemput, Janna mengaku tak menyesal pernah mencintai maupun meninggalkannya. Dion pun pergi dengan tenang setelah dimaafkan oleh wanita yang pernah ia sia-siakan.
Sampul Novel Sebatas Pernikahan Bisnis
9.2
Arjuna Barathawardana tak lagi percaya cinta akibat pengkhianatan masa lalu ayahnya. Demi menguasai aset keluarga dan menyingkirkan ibu tirinya, ia mengajak Anjani Samitha melakukan pernikahan bisnis. Anjani yang terjerat hutang mendiang orang tuanya menerima tawaran itu, apalagi ia sudah lama memendam rasa pada Arjuna. Di tengah ambisi dan trauma yang mendalam, mampukah keduanya berdamai dengan luka lama dan mengubah ikatan kontrak ini menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Setelah Dihianati Adik Kandumh
8.1
Arini pulang dari luar negeri setelah delapan tahun bekerja keras sebagai TKW demi keluarga. Namun, kejutan pahit menantinya saat mengetahui sang adik, Alma, telah mengkhianati dirinya dengan menikahi Aksa, kekasih Arini sendiri. Di tengah luka mendalam akibat pengkhianatan ini, muncul sosok pria baru yang tulus mencintai Arini. Kini, Arini terjebak dalam pilihan sulit antara masa lalunya yang menyakitkan atau membuka hati untuk cinta baru yang lebih nyata.
Sampul Novel Suamiku Mantan Casanova
8.2
Trauma dikhianati membuat Anneth Jennifer enggan membuka hati kembali. Namun, desakan sang ibu untuk menjodohkannya dengan putra teman lama memaksa Anneth menyerah pada keadaan. Ia terkejut saat mengetahui calon suaminya adalah Arsean Sinclair, pria brengsek yang pernah ia tolak mentah-mentah. Arsean yang licik bersumpah tidak akan melepaskan Anneth dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Kini, Anneth terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan sang mantan casanova.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan