
Pembantuku Menjadi Pendampingku
Bab 2
Daniel keluar kamar meninggalkan Karin Sendirian di kamar. Daniel sudah tidak Memperdulikan Karin dia sudah sangat lelah menghadapinya.
Daniel berjalan ke ruang belakang dan sambil bermain handphone.
Bruk.... Tiba-tiba Daniel menubruk seseorang.
"Aww....," ucap Wanita tersebut, Daniel langsung meliht ke arah Dira.
"Maaf-maaf, saya tidak sengaja, maaf," ucap Daniel berulang kali dia sangat tidak enak Dengan Dira.
"Tidak apa Tuan," jawab Dira sambil tersenyum, Danielpun tiba-tiba membalas senyuman Dira, Daniel tidak biasanya membalas senyuman wanita yang tidak ia kenali.
Dirapun pamit permisi pada Daniel karena dia akan ber istirahat ke kamarnnya.
"Dira...," panggil Daniel.
"Ya tuan?" Tanya Dira.
"Tolong buatkan saya, susu jahe, saya ada di teras rumah," ucap Daniel.
"Baik tuan," ucap dira, Dirapun langsung berjalan membuatkn susu jahe untuk Daniel, begitupun Daniel.
Tak lama kemudian susu itupun sudah jadi Dira mengantarkannya pada Daniel.
"Ini Tuan susunya," ucap Dira memberikan susu tersebut.
"Makasih Dir," ucap Daniel dengan ramah.
"Dir, apakah kita bisa bicara sebentar?" Tanya Daniel, tiba-tiba Daniel merasa ingin di temani, mungkin akibat dia sedang bertengkar dengan Karin.
"Di-mana tuan?" Tanya Dira dengan gugup.
"Disini," jawab Daniel simple.
"Iya Tuan, ada apa?" Tanya Dira yang heran.
"Kamu orang mana?" Tanya Daniel.
"Saya orang Lampung Tuan," jawab Dira.
"Jauh sekali," ucap Daniel kaget.
"Hehe iya Tuan, demi mencari uang, saya rela berjauhan dengan keluarga," ucap Dira sambil tersenyum malu.
"Ternyata selain kamu cantik, kamu juga wanita mandiri," ucap Daniel yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Umur kamu berapa?" Tanya Daniel.
"25 tahun Tuan," jawab Dira.
"Masih muda ternyata kamu," Daniel melihat wajah dan badan Dira, ternyata Daniel tidK salah menilai, ternyata benar umur Dira masih muda.
"Apakah dia sudah menikah?" Gumam Daniel dalam hati sambil melihat ke arah Dira, Dirapun malah menjadi malu di lihat secara intens.
"Mas.... Masss...," panggil Karin yang berteriak, Dira sontak langsung kaget, dia langsung berdiri, karena takut terlihat Karin, dan Dira takut, Karin akan menuduhnya dengann aneh aneh.
"Lagi ngapain kalian disini hah??" Tanya tanya Karin yang tiba-tiba saja data langsung menghampiri Dira dan Daniel.
"Maaf buk, Barusan saya sudah mengantarkan susu jahe untuk Tuhan karena Tuan menyuruh saya untuk membuatkannya," beladiri karena dia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara mereka.
"Pergi kamu!!!" Bentak Karin, Karin sedang tidak ingin berbasa-basi dengan dira, dia ingin berbicara empat mata dengan suaminya.
"Kenapa kamu malah pergi mas!! Kita belum selesai berbicara!!" Bentak Karin saat kami sedang marah-marah tiba-tiba Karin langsung tidak sadarkan diri.
Bruk........
*****
Pagi pun tiba Karin akan dicek oleh dokter karena semalam dia tiba-tiba saja pingsan kembali.
"Silahkan dok," ucap Danil pada dokter tersebut yang akan memeriksa Karin.
"Baik, saya periksa dulu ya Pak," ucap dokter tersebut.
"Gimana dok dengan istri saya? Apakah dia sudah membaik?" Tanya danil pada dokter.
"Keadaan ibu Karin sudah sangat membaik sekarang pak, dan nanti bisa langsung pulang," ucap dokter tersebut.
"Baiklah dok terimakasih," ucap Danil berterimakasih pada dokter tersebut.
"Sama-sama pak, kalo gitu saya keluar dulu semoga ibu Karin cepat sembuh," ucap dokter dan berjalan keluar, tinggalah hanya Danil dan Karin berdua di ruangan rumah sakit tersebut.
Walaupun Daniel sangat kesal dengan istrinya tetapi tetap saja Dia sangat tidak tega ketika melihat istrinya seperti itu.
***
Setelah beberapa jam kemudian Karin bangun dari tidurnya.
"Masss," panggil Karin.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Danil yang langsung menghampiri Karin.
"Iya," ucap Karin dengan nada ketus, ternyata Karin masih tetap saja marah pada suaminya.
"Ayolah Karin, aku sekarang sedang tidak ingin debat bersamamu," jawab Danil yang kesal pada Karin.
"Aku melakukan hal ini karena ini juga untuk kebaikan kita, bukan untuk hal-hal yang lain kamu tenang saja!!" Ucap Daniel.
"Bukan soal hal itu!! Hanya saja kenapa kamu tidak terus terang padaku dan kenapa kamu malah membuat keputusan sendiri!! Bukannya kamu sudah bilang kalau ada apa-apa kita harus diskusi terlebih dulu," ucap Karin.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu Kamu itu terlalu sibuk dengan urusanmu sehingga untuk berdiskusi pun tidak ada waktu!!" Jawab Daniel.
Daniel langsung berjalan keluar meninggalkan Karin di kamar, karena dia tidak ingin debat dengan istrinya, Daniel tau jika dia debatt istrinya akan melemah, dia tidak mau itu terjadi.
"Rini....," daniel memanggil Rini.
"Iya Tuan?" Tanya Rini.
"Tolong bawakan air minum yang hangat yah, dan ambilkam obat-obat sama makannya sekalian, soalnya ibu belum makan," perintah Danil.
"Baik tuan," ucap Rini yang langsung berjalan kebawah lagi untuk menyiapkan semuanya, waktu Rini sedang menyiapkan makan, tiba-tiba handphonenya berbunyi.
"Ibu? Ada apa, tumben sekali ibu nelpon saat aku sedang kerja," gumam Rini yang merasa heran, karena ibunya sudah sangat paham jam-jam Rini bekerja, dan biasanya ibunya tidak akan menelpon jika Rini bekerja. Diapun langsung mengangkat telpon tersebut.
Calingggg......
"Halo bu??" Ucap rini di balik telpon.
"Hallo Rini, ini tante, mohon maaf jika tante Lancang, ibumu sakitnya kambuh Rin, dan Sekarang semakin parah, Tante membawanya ke rumah sakit lombok," ucap Tante Rini.
"Hah? Sakit tan, bagaimana ini aku sedang bekerja tan," ucap Rini yang sangat bingung campur aduk.
"Tante Harap kamu bisa pulang," ucap Tante Rini, Rinipun mematikan telponnya.
"Bagaimana cara berbicaranya ini pada ibu dan Tuan, aku sangat bingung sekali, sedangkan ibu sekarang juga sedang sakit," ucap Rini yang bingung, dia membulatkan tekadnya untum berani berbicara dan meminta izin untuk pulang menemui ibunya, Rinipun berjalan memasuki kamar Majikannya.
****
Tokkk...tok...tokk suara ketukan pintu.
"Masuk," ucap Karin, Rinipun masuk kedalam, dan menyimpan makanan, obat dan minumnya, setelah itu Rini hanya berdiam berdiri di samping Karin.
"Silahkan kamu boleh keluar," ucap Karin.
"Baik bu," Rinipun keluar, dia sedang mencari keberadaan Daniel, karena dia berniat untuk meminta izin terlebih dulu pada Daniel, dan Rinipun melihat Daniel, Rini langsung menghampirinya.
"Mmmmm moo-hon maaf Tuan, ada hal yang ingin karin bicarakan," ucap Rini.
"Apa itu? Bicaralah," ucap Daniel mempersilahkan Rini berbicara.
"Euuuuuu, saya mau meminta izin untuk pulang tuan," ucap Rini yang gugup.
"Kenapa? Tumben sekali kamu?" Tanya Danil yang heran.
"Maaaa-aaf Tuan, ibu saya sakit parah dan sekarang ibu saya sedang di rawat di rumah sakit, saya harus pulang tuan hikss hikss," Rini menangis.
"Sakit parah , sakit apa itu?" Tanya Danil.
"Ibu saya mengidap penyakut kanker stadium 3 Tuan hikss hiksss," danil kaget, karena selama Rini bekerja dengan mereka, mereka baru tau bahwa Ibu Rini mengidap penyakit begitu berat.
"Kanker??" Tanya Daniel lagi untuk memastikan.
"Iya Tuan, saya memohon izin untuk bisa pulang ke rumah hikss hikss," Rini menangis dan memohon pada Majikannya.
"Sudah Rini kamu tidak usah menangis dan memohon seperti itu, aku mengijinkanmu," ucap Daniel yang tidak tega.
Rini sangat lega mendengar jawaban dari Daniel, Danielpun merasa bahwa Rini tidak apa pergi, toh disini juga masih ada Dira, dan Daniel lebih senang jika Dira yang selalu melayaninya.
Pagi pun tiba sekarang Rini sedang bersiap-siap untuk pulang kampung, tiba-tiba waktu Rini akan keluar dari rumah tersebut Karin langsung memanggilnya.
"Rini!!" Panggil Karin.
"Ya bu?" Tanya Rini yang tidak tahu apa-apa.
"Mau kemana kamu?" Tanya Karin dengan tegas karena dia sangat heran sekali Kenapa Rini membawa barang sangat banyak sekali seperti ingin pulang kampung.
"Saya akan pulang kerumah buk," jawab Rini.
"Pulang? Kenapa kamu tidak memberitahu saya dulu!!" Benda Karin yang tidak suka
Dan kebetulan di sana ada suaminya yang sedang duduk di meja makan.
"Mohon maaf buk, saya kemarin sudah memberitahu pada Tuan, bahwa saya akan pulang kampung karena ibu saya sakit buk," jawab Rini sambil menunduk, Karin langsung melirik pada Suaminya.
"Jangan pulang!!!" Ucap Karin dengan tegas, Rini langsung diam dia bingung harus, di sisi lain di harus pulang, di sisi lain lagi dia takut pada majikannya.
"Pulang saja Rini, jangan dengarkan kata dia," ucap Daniel dengan santainya sambil melanjutkn makannya.
Karin melihat ke arah suaminya, seakan meminta penjelasan.
"Kamu jangan melarang dia pulang Karin!! Biarkanlah, untuk kamu Rini silahkan kamu bisa pulang sekarang!!" Ucap Daniel dengan tegas, Rinipun langsung terburu-buru keluar dari rumah tersebut.
"Apa maksudmu Mas?!!" Tanya Karin
"Dia punya Hak untuk pulang!! Biarkan saja, kasihan ibu dia sedang sakit, dan aku juga sedang tidak ingin berdebat denganmu!!" Ucap Daniel, Karinpun langsung diam karena dia juga tidak ingin berdebat.
"Kamu gak bekerja?" Tanya Karin mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, mungkin aku kelelahan jadinya aku males bekerja," ucap Danil dengan entengnya.
"Apa mas? Malas? Kok bisa-bisanya kamu bilang males, Aku kira kamu bekerja Mas kamu jangan kayak gitu dong, Seharusnya kamu itu semangat untuk bekerja, masa malas-malasan seperti itu," ucap Karin menceramahi suaminya, Danil diam saja dia tidak menjawab apapun dari omongan Karin.
"Massss!!! Kenapa kamu Diam aja sih, kamu marah sama aku karena aku udah nasehatin kamu? Padahal itu semua demi kebaikan kamu juga Mas, kamu itu laki-laki dan seharusnya kamu itu jangan bermalas-malasan, Apalagi kamu cuma nggak enak badan sedikit aja, Seharusnya kamu harus paksa badan kamu supaya kuat dan bisa berangkat ke kantor menyelesaikan semua pekerjaanmu," timbal Karin lagi.
"Massss, kok diem terus sih ih," Karin kesal karena Danil tidak membalas ucapannya dia malah diam saja.
"Kamu udah bicaranya? Kan aku udah jelasin tadi Bukannya aku malas-malasan, cuma aku emang bener-bener gak enak badan! kamu juga tahu kan tadi malam aku pulang sangat larut sekali, Tidak ada salahnya bukan kalau aku hari ini ingin istirahat?" Ucap Danil menjawab ucapan Karin.
"Tapi mas, kalau hanya sakit sedikit aja kamu nggak usah dilebay-lebain gitu deh mendingan kamu berangkat kerja aja, Daripada di rumah nggak ada kerjaan," ucapan Karin membuat Danil sangat sakit hati sekali.
"Kenapa kamu memaksa aku terus bekerja? Apakah aku tidak ada hak untuk istirahat, Kenapa kamu tidak pernah pedulikan aku sedikitpun, bahkan sekarang aku yang sedang sakit juga kamu tidak pernah pedulikan, aku itu butuh istirahat Karin Aku tidak mau melulu bekerja mati-matian, SEPERTI KAMU!! Kamu yang setiap hari setiap saat selalu mati-matian dengan pekerjaanmu, sehingga kamu selalu mengabaikanku, dan kamu tidak ada waktu sedikitpun untuk meluangkan waktu kita bersama, waktu anniv saja kamu sempat-sempatnya harus pergi bekerja lagi, hari spesial kita Karin!!" Ucap Daniel yang sangat marah pada Karin, dia tidak habis pikir pada istrinya Kenapa Istrinya selalu saja mati-matian untuk semua pekerjaannya, sampai dia tidak sadar bahwa keluarga lah yang paling penting dan harus diutamakan.
Danil pun berdiri dari kasur dan langsung menjauhi Karin, Daniel berjalan ke arah jendela melihatkan View pemandangan luar yang sangat bagus.
"Kamu juga tahu Mas pekerjaanku sangat banyak sekali, Seharusnya kamu yang mengerti aku Mas, kenapa kamu malah marah-marah sama aku kamu juga tahu aku mati-matian seperti ini karena aku ingin menyeimbangkan kesetaraanku dengan kamu Mas," ucap Karin, ya memang dari dulu karena ingin selalu menyetarakan kekayaan dengan suaminya, semenjak bekerja dan semenjak Karin memasuki nominasi terkaya ke-4 Karin selalu saja sibuk.
"Untuk Apa kamu ingin menyetarakan kekayaanku denganmu? Kita ini suami istri Karin hartaku adalah hartamu, Kamu tidak usah susah-susah bekerja ataupun tidak usah ingin menyetarakan kekayaan aku!!" Ucap Danil yang sangat tidak habis pikir pada istrinya.
"Kenapa Mas? Kenapa aku tidak bisa menyetarakan semuanya dengan kamu Aku hanya ingin kita sama-sama seimbang!!" Ucap Karin Teguh pendirian dengan semua pikirannya.
"TERSERAH!!!!! Ucap Daniel langsung keluar kamar dan menutup pintunya dengan sangat kencang.
*******
"Arghhhh sialan, Kenapa setiap hari Karin selalu ada saja sikap yang membuat aku emosi dan membuat aku tidak suka padanya!! Padahal dulu Karin tidak pernah seperti itu!!" Ucap Danil yang sudah sangat pusing lagi menghadapi istrinya, Danil masuk ke dalam kamar ruang tamu dia ingin mengistirahatkan badannya sebentar, karena memang benar adanya Dia sangat lelah dan sangat pusing sekali.
******
Malam pun tiba Sekarang sudah saatnya waktu makan malam, Danil dan Karin sudah siap di meja makan hanya saja mereka sedikit canggung karena pertengkaran mereka tadi siang.
Dira membawa Sup ayam ke meja makan, tapi tidak sengaja sup itu malah tumpah di badan Dira.
"Awwww," ucap Dira, Daniel langsung refleks membantunya membersihkan tumpahan sup tersebut.
"Sini-sini biar saya bantu," Daniel membersihkan badan Dira, Karin yang melihatnya sangat syok dan hatinya merasa tersayat, karena baru kali Ini Karin melihat suaminya membantu wanita lain selain dirinya, karena biasanya Daniel sangat tidak pernah seperti itu.
"Terimkasih Tuan atas bantuannya, tapi tidak apa saya bisa membersihkan diri saya sendiri," ucap Dira sangat tidak enak hati karena majikannya membantunya dan istrinya menatap seperti tidak suka.
"Diam!! Kamu sedang terluka Dira, lihat tangan kamu melepuh, aku akan mengambilkan obat untuk kamu!!" Ucap Daniel yang langsung berdiri dan berlari mengambil obat tersebut untuk Dira.
"Kamu sengaja Hah!!?" Tanya Karin yang menghampiri Dira dan memegang lukanya.
"Awww sakit buk...saya tidak sengaja bukk hikss hikss," Dira menangiss kesakitan.
"KARIN!!!! Kenapa kamu lakukan itu! Kamu tidak lihat? Bahwa dia sedang kesakitan Karin," ucap Daniel yang tidak habis pikir dengan istrinya.
"Dia berbohong mas," ucap Karin.
"Pergi kamu!!" Bentak Daniel, Karin yang mendengar itu sangat sakit hati, dia memilih untuk masuk kedalam kamarnya, Dia sangat tidak menyangka suaminya melakukan hal itu.
"Kenapa kamu kaya gitu Mas, hikss hikss," Karin menangis sendirian di kamarnya dia sangat sakit hati sekali.
Anda Mungkin Juga Suka





