
Pembantuku Menjadi Pendampingku
Bab 3
"Gimana keadaan kamu sekarang Dira apakah sudah membaik?" Tanya Daniel pada Dira yang sekarang tanganya sedang di obati.
"Sedikit membaik Tuan," jawab Dira.
"Syukurlah sekarang kamu jangan terlalu memegang pekerjaan, karena tangan kamu masih sakit," ucap Daniel.
Tiba-tiba Karin datang dari belakang, sambil berbicara dan Karin tidak terima karena Daniel malah membela Dira.
"Mana Bisa! Gak bisa kaya gitu dong Mas, kalo Dira gak kerja nanti siapa yang membereskan pekerjaan rumah ini?" Tanya Karin.
"Kan ada kamu?" Ucap Daniel dengan entenngnya.
"Loh kok aku sih, buat apa kita sewa pembantu, kalo akhirnya harus aku yang kerjain semuanya Mas, Lagian dia kan baru kerja beberapa hari Masa kamu udah entengin dia aja nanti dia malah keenakan Mas!" ucap Karinn dengan kesal.
"Sudahlah kamu jangan banyak bicara Karin, biarin Dira istirahat dulu, lagian emang kenapa kalau kamu yang harus membereskan rumah ini untuk sementara, kamu gak mau hah?" Tanya Daniel, Daniel sengaja bertanya seperti itu karena dia memang ingin mengetes Karin.
"Gak! Pokonya aku gak mau, aku mau bekerja!!" Karin langsung pergi dan langsung berangkat kerja, meninggalkan Dira Dan Daniel berdua di rumah.
"Tidak apa Tuan, saya masih bisa bekerja kok, ini hanya sedikit saja sakitnya Tuan, tidak apa," ucap Dira, Dira tidak mau majikannya malah marahan gara-gara dirinya.
"Sudahlah aku tidak tega melihat kamu kesakitian seperti ini, tidak apa pokonya saya kamy hanya diam di kamar yah, jangan terlalu banyak pikiran dulu," ucap Daniel.
"Baiklah Tuan," jawab Dira yang akhirnya menuruti apa yang di ucapkan oleh Daniel.
"Saya tidak bisa melihat kamu kesakitan Dir," ucap Daniel sebelum pergi.
"Maksudnya Tuan?" Dira sangat syok mendapatkan perlakuan Manis dari majikannya.
"Kalo ada apa-apa telpon ya Dira," ucap Daniel seakan-akan dia sangat khawatir sekali pada Dira.
"Baik Tuan," ucap Dira.
Danielpun langsung meninggalkan Dira di rumah sendirian.
"Aww sakit banget, tapi gapapalah yang penting dapet perhatian Dari Tuan Daniel hahaa," ucap Dira dengan wajah yang licik.
"Kayanya aku harus leih sering berdrama seperti ini supaya Tuan lebih care lagi sama aku," ucap Dira lagi seakan akan mencari rencana selanjutnya.
*****
Danil sekarang sedang duduk di meja Kerjanya dia sekarang sangat benar-benar marah sekali pada Karin, karena Karin tidak mempedulikan tentang rumah tangganya dia hanya memperdulikan pekerjaannya yang dia kerjakan secara mati-matian sampai-sampai tidak ada rasa peduli sama sekali dengan keluarganya.
Daniel yang merasa Hampa dan kesepian. Sebenarnya dia tidak ingin marah pada istrinya hanya saja istrinya sudah sangat keterlaluan sekali.
"Aww kenapa kepalaku terasa sangat sakit sekali," ucap Daniel
"Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit sekali, sepertinya aku haruss pulang, kepalaku sakit sekali," ucap Daniel dia langsng bergegas pulang kerumahnya.
******
Tokk..tokk..tok... suara ketukan pintu pun berbunyi.
"Sebebtar," ucap Dira.
"Eh Tuan," ucap Dira gugup, karena yang ada di depannya sekarang adalah Daniel.
"Dira kamu bisa ikut saya sebentar?" Tanya Daniel.
"Bisa Tuan," Dira pun mengikuti Daniel dari belakang, Daniel berjalan menuju kamarnya dirasakan bingung sekali kenapa Daniel malah mengajaknya ke kamar.
"Masuk," ucap Daniel.
"Maaf tuan, Saya tidak mau saya takut kalau ada orang lain yang melihat, nanti bawah Terjadi salah paham tuan Saya tidak mau terjadi," ucap Dira yang takut.
"Kamu tenang saja Dira, Lagian tidak ada siapapun yang berani menuduh macam-macam ini kan rumah saya, dan kalau kamu takut dengan Karin dia kan sedang bekerja sekarang kamu nggak usah risau seperti itu," Daniel menenangkan supaya Dira mau masuk ke dalam kamar Daniel, saat Dira sudah masuk kamar Daniel langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa di kunci Tuan?" Tanya Dira yang bingung.
"Sudah kamu diam saja Dira, sekarang tolong pijitin saya yah, tanganmu sudah sembuh kan sekarang?" Tanya Daniel pada Dira, Dirapun menuruti Apa yang diucapkan oleh Daniel Dira sekarang sedang duduk di kasur Daniel dan sambil Tangannya memijat pundak Daniel.
"Udah agak mendingan Tuhan tidak sesakit pada awal, sekarang mungkin hanya bekas lukanya saja belum terlalu kering," jawab Dira.
"Syukurlah, tapi ngomong-ngomong kamu jago mijet juga yah," ucap Daniel.
"Yaa sedikit-sedikit tuan saya bisa, Soalnya kalau saya di rumah saya sering kali disuruh mijitin orang tua saya ya jadi saya sedikit-sedikit bisa lah hehehe," ucap Dira.
"Baguslah, jadi saya bisa sering-sering menyuruh kamu memijit," ucapan Daniel membuat Dira tersenyum.
"Tapi Tuan, ibu tidak akan marah memangnya? Dan maaf kalau lancang Kenapa tuan tidak meminta ibu Karim untuk memijit Tuan saja?" Tanya Dira.
"Kamu tenang saja Dira," jawab Daniel, perlakuan Daniel pada Dirs dengan Rini sangat beda sekali daniel lebih hangat pada Dira.
"Baiklah Tuan, kalo seperti itu, saya mau kok mijitin Tuan terus," jawab Dira dengan tersenyum.
"Baguslah Dira, Emang itu yang aku inginkan," jawab Daniel dalam hati.
"Baik Tuan dengan senang hati," Dira dan Daniel saling melemparkan senyuman.
"Dira, Aku minta maaf ya Jika nanti aku bakal sering ngerepotin kamu," Entah kenapa Daniel malah meminta maaf pada Dira, padahal itu sudah menjadi bagian kerjaan Dira jadi Daniel tidak usah meminta maaf kembali pada Dira.
"Tidak apa tuan saya dengan senang hati akan selalu membantu Tuhan jika Tuhan ada yang diperlukan ataupun dibutuhkan
Nadira, Nadira wanita yang sangat cantik dan badannya pun sangat begitu bagus dan ideal, siapapun yang melihat Nadira pasti akan terpikat, Daniel pun kaget melihat kecantikannya dan badannya yang sangat body Goals.
Daniel tak henti-hentinya membayangkan Dira, meskipun Dira sekarang sedang memijat Daniel tetapi badan Dira selalu terbayang-bayang oleh pikiran Daniel.
"Cantik sekali, badannya juga sangat bagus," Gumam Danil dalam hati ia membayangkan badan dan wajah Dira.
"Ahhhhh lagi pula dia juga masih sangat muda sekali," ucap Danil lagi sambil tersenyum, setelah beberapa menit Dira memijat Daniel, Daniel meminta Dira untuk berhenti dan meminta Dira untuk membuat masakan buat Daniel, lantas Dira pun langsung turun ke bawah dan melanjutkan memasak.
"Ahh badanku agak enakan syukurlah," ucap Daniel.
Danielpun langsung ke bawah menghampiri Dira yang sedang memasak.
"Masak apa, apakah kamu mau aku bantu?" Tanya Danil pada dira yang sedang Memasak untuk Daniel.
"Tidak usah Tuan, biarkan saya saja yang membuatnya," jawab Dira.
"Memangnya kamu masak apa Dira?" Tanya Daniel.
"Kesukaan Tuan," jawan Dira dengan polosnya.
"Memang kamu tahu apa kesukaan saya?" Tanya danil.
"Tau Tuan soalnya saya di kasih tau sama Mbak Rini," jawab Dira yang sangat polos.
"Gemash sekali," Tiba-tiba Daniel mencubit pipi Dira membuat Dira bingung dan mukanyanya sangat merah sekali.
"Muka kamu kenapa merah seperti itu Dira? Membuat aku semakin gemas," ucap Daniel, Dira tidak menjawab apapun dia sangat malu dan langsung melanjutkan pekerjaanya.
****
"Bagaimana Tuan apakah masakannya enak?" Tanya Dirs yang was-was karena dia baru pertama kali memasak di rumah ini.
"Ya ini sangat enak sekali kamu belajar dari mana saya baru kali ini makan masakan yang seenak ini di rumah," Daniel sangat kagum sekali dengan masakan Dira yang begitu enak dan begitu pasti lidahnya.
"Kamu Udah makan belum Dira? Ayok kita makan bareng aja yah," ajak Daniel dengan senyuman yang sangat manis, namun Dira menolaknya karena dia masih takut ketahuan oleh Karin.
*******
Waktu pun berlalu Sekarang sudah pukul 3 sore, Daniel sangat bingung sekali harus ngapain Dan dia mempunyai ide supaya kesehariannya tidak Gabut.
"Dira.. Dira...," panggil Daniel.
"Ya Tuan sebentar," Dira langsung berlari ke lantai atas untuk menghampiri Daniel yang memanggilnya.
"Ada apa tuan?" Tanya Dira.
"Tolong ambilkan cucian kotor ini yah," ucap Daniel.
"Ohh iya baik Tuan," jawab Dira, dira langsung bergegas mengambilkan Pakaian kotor dan akan membawanya kebawah untuk langsung dicuci.
"Mohon maaf Tuan, cuciannya dimana yah?" Tanya Dira.
"Di kamar Mandi, coba kamu masuk saja," ucap Daniel.
"Mohon maaf tuan,tapi kata Mbak Rini saya dilarang masuk kedalam kamar Tuan dan Ibu," ucap Daniel.
"Iya itu kan hanya buat Rini, kalo khusus untuk kamu kamu boleh bawa baju kotor itu ke dalam kamar saya, tapi terkecuali jika ada istri saya kamu jangan masuk dan jika istri saya tidak ada, atau hanya ada saya di kamar kamu boleh masuk ke kamar," ucap Daniel sambil tersenyum senang.
"Baik Tuan," ucap Dira yang menuruti Apa yang diucapkan oleh Danil.
"Ya sudah, tunggu apa lagi sekarang Bawakan baju kotor itu di kamar, sini," ajak daniel pada Dira, tiba-tiba Aku sedang berjalan Dira tidak sengaja terpeleset, dengan sikap Dani langsung menangkap Dira supaya tidak terjatuh kelantai.
"Awww makasih Tuan," Dira langsung berdiri, hanya saja Daniel menahannya.
"Mohon maaf Tuan, saya akan mencuci," ucap Dira.
"Ohh iya maafkan saya," ucap Daniel langsung melepaskan tanganya.
"Apa-apaan ini!!!" Tiba-tiba Karin sudah berada di kamar dan mungkin saja dia melihat kejadian barusan.
Dira langsung buru-buru keluar dari kamar mandi tersebut dan menjauh dari Daniel.
"Kenapa kamu berani-beraninya masuk ke kamar saya!!!" Bentak Karin yang sangat emosi.
"Maaf buk, bu-kan ma--ksud sa-ya la-ncang, hanya saja saya di suruh Tuan untuk mengambilkan pakaian kotor," jelas Dira.
Karin sangat syok mendengar ucapan Dari Dira.
"Apakah betul mas, apa yang di ucapkan Dira? Tapi kenapa kamu malah mengizinkankany masuk, kenapa tidak di simpan saja keluar kamar seperti pada Rini??" Tanya Karin yang terheran-heran pada suaminya.
"Saya sedang malas, jadi biarkan saja dia masuk toh gapapa juga," ucap Daniel dengan entengnya tanpa merasa bersalah.
"Yaudah kamu boleh keluar ya Dira, lanjutkan pekerjaanmu," perintah Daniel, Dirapun langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mencuci baju. Tinggallah hanya Daniel dan Karin di dalam kamar.
"Kenapa mas, kenapa kamu malah seenaknya gini? Dia orang baru mas, gak sepantasnya juga pembantu bisa masuk Seenaknya saja ke kamar Kita," gerutu Karin pada Daniel.
"Itukan menurut kamu, kalo menurut saya beda lagi Saya dan kamu itu berbeda pendapat Karin," ucapan Daniel begitu menohok bagi Karin.
"Terserah kamu saja Mas Aku udah capek nggak mau bahas apa-apa lagi Lagian aku pulang juga mau bawa amplop ini yang ketinggalan dan aku juga mau berangkat kerja lagi," Daniel tidak menjawab sepatah kata pun dari ucapan Karin dan Karin pun langsung pergi meninggalkan Daniel di rumah. Daniel sudah bingung dan tidak habis pikir lagi harus mengucapkan apa pada istrinya.
****
Saat setelah istrinya pergi Daniel menghampiri Dira yang sedang mencuci baju.
"Kemana istri Tuan?" Ucap Dira yang tiba-tiba menanyakan hal tersebut pada Daniel.
"Dia bekerja," jawab Danil sambil melihat terus ke arah Dira.
"Lantas kenapa Tuan tidak bekerja?" Tanya Dira lagi.
"Saya sedang malas bekerja dan juga sedikit pusing, jadinya saya tidak masuk, lagian itu juga perusahaan saya jadi saya tidak perlu harus setiap hari datang ke kantor saya sendiri," ucap Daniel dengan bangga dan Sombongnya.
"Hmm iya juga sih Tuan, tapi emang Apakah Tuhan mengizinkan Ibu Karin bekerja? Bukannya Tuhan juga sudah kaya raya lalu Kenapa Ibu Karin masih tetap saja bekerja?" Tanya Dira lagi yang mulai berani bertanya ke dalam masalah pribadi Danil.
"Yaa saya juga tidak tahu, Mungkin dia merasa belum cukup dengan apa yang aku punya dan dengan apa yang aku berikan padanya," ucap Danil.
"Iya sih Tuan, mungkin saja Ibu Karin ingin meniti karirnya sendiri, dia tidak mau selalu menyusahkan Tuan mungkin," ucap Dira dengan tenangnya malah menasehati Danil.
"Mungkin, Saya juga tidak tahu dan kadang saya juga merasa jenuh," ucap Daniel yang tiba-tiba saja dia langsung curhat pada Dira, dan Dira merasa Dira adalah orang yang sangat baik dan sangat enak diajak ngobrol.
"Sabar ya Tuan, semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja, Tuan jangan khawatir kan ada saya sekarang saya bisa melayani Tuan, dan apapun yang Tuan inginkan.
"Okeee, kalau gitu lanjutin pekerkaan kamu, dan Jika apa-apa kamu bisa telepon saya ataupun Ketuk pintu saya," ucap Dira pada Daniel.
"Baik Tuan," jawab Dira.
"Dia anak yang sangat baik dan juga Asik diajak curhat, kenapa aku semakin nyaman jika berbicara dan berada di dekatnya yah," ucap Daniel.
Tak lama kemudian Daniel pun tertidur siang karena dia sangat mengantuk sekali.
******
"Aduh banyak banget lagi Ini bajunya, Loh kenapa ini Mesin cucinya beda kayak yang di rumah, gimana dong ini cara makainya Aduh takut banget, takut salah mencet tombol bisa-bisa Mesin cucinya rusak, dan kalau gitu pasti aku akan disuruh ganti mesin cuci ini Ini pasti sangat mahal sekali," ucap Dira yang ketakutan dan bingung bagaimana cara memakai mesin cuci yang ada di rumah Daniel.
Tiba-tiba Dira mempunyai ide untuk sesuatu hal yang bagus sekali.
Setelah Dira lama-lama berfikir akhirnya dia memutuskan suatu keputusan, Dira berjalan menaiki tangga dan akan menghampiri kamar Danil.
Tokk..tok... Tok.. suara ketukan berbunyi.
"Aduh Kenapa Tuan Daniel lama sekali membukakan pintunya Apakah dia sedang tertidur atau dia sedang istirahat?" Tanya Dira pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba setelah beberapa menit Dira menunggu Daniel Keluar akhirnya dia membukakan pintu.
"Mohon Maaf mengganggu waktunya Tuam, saya hanya ingin menanyakan karena saya sangat bingung sekali harus kemana lagi saya bertanya," ucap Dira sambil menunduk tidak menghadap ke arah Daniel.
"Ya? Apa, Bicara aja Dira gak usah takut kaya gitu," Ucap danil sambil memegang rambutnya.
"Saya hanya ingin menanyakan cara memakai mesin cuci Tuan, saya bingung sekali," ucap Dira, tanpa basa basi danil langsung menggandeng Dira turun kebawah menuju mesin cuci.
"Apakah dia tidak sadar?" Gumam Dira sambil melihat tangannya di gandeng oleh Daniel.
"Diraa?" Panggil Daniel.
"Iya tuan ada apa?" Tanya Dira.
"Kamu cantik sekali," ucap Daniel terkagum melihat Dira yang sekarang baru saja mandi, walaupun Dira natural tapi dia masih tetap kelihatan cantik.
Anda Mungkin Juga Suka





