Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.
Bab
Bagikan

Bab 2

Permana heran, kenapa orang sebaik Ki Sasmaya di masa mudanya memiliki sejarah hitam yang sangat hitam? Memang, Permana sendiri memiliki sejarah hitam di masa lalu. Tapi menurut pengakuan Ki Sasmaya, yang dilakukan Ki Sasmaya di masa muda lebih brutal dan ugal-ugalan dibandingkan Permana. Kalau Permana di masa muda melakukan kejahatan akibat salah didik dari Ki Padaswaja, tapi kalau Ki Sasmaya dulu melakukan aneka tindak kejahatan karena dorongan dari nafsunya sendiri. Dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri, bukan karena pengaruh orang lain.

Nyatanya demikian.

Maka akibat yang diderita oleh Ki Sasmaya lebih buruk dibandingkan yang dialami Permana sekarang ini. Hanya saja, Ki Sasmaya tidak merasa sedih atau menyesal. Karena hal itu tidak ada gunanya sama sekali. Ki Sasmaya menjalani hal itu secara tabah. Sedih dan penyesalan sekarang ini tidak ada guna lagi. Hanya akan menambah beban kesedihan baginya.

Ki Sasmaya sudah mengetahui akibat buruk yang mesti dia alami akibat perbuatannya di masa muda dulu. Jadi sewaktu menelan ramuan maut tersebut di masa muda dulu, akibatnya sudah dia ketahui.

Namun lain persoalannya bagi Permana. Sebagai darma bakti dan balas budi kepada gurunya, Permana ingin menemukan suatu ramuan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit gurunya. Kini dia telah memiliki resep ramuan tersebut justru dari ayahnya. Tinggal nanti membuat dan memberikan ramuan tersebut kepada Ki Sasmaya bila bertemu. Itu kalau ada kesempatan untuk bertemu. Karena sekarang ini bahaya telah mengincarnya!

Dua orang pendekar muda berpakaian gelap berdiri mengangkang di sebelah kiri Permana. Kedua pendekar itu datang dari arah selatan tadi. Keduanya berwajah tampan. Yang satu berkumis tebal, yang satu berwajah bersih. Di pinggang mereka tersampir golok bergagang baja berbentuk kepala harimau.

Permana merasa terkejut atas kedatangan dua pendekar itu. Dua pendekar yang sama-sama berwajah dingin. Kurang bersahabat. Permana mencium gelagat kurang baik setelah kedatangan dua pendekar itu.

Buru-buru Permana berdiri dan menjura sebagai tanda penghormatan atas kedatangan mereka seraya bertanya, “Ada apa kisanak?”

“Aku ingin bertanya padamu,” kata yang berkumis tebal kepada Permana.

“Tentang apa?”

“Tentang jalan yang menuju Gunung Lawu,” sahut yang satunya.

“Maaf ya, aku sendiri belum begitu hafal dengan jalan di sekitar sini,” jawab Permana terus terang. “Aku baru pertama kali melewati daerah ini.”

“Bohong. Tidak mungkin kau baru sekali lewat jalan ini. Dari caramu bicara, kau orang sini. Pasti sudah tahu jalan-jalan dan wilayah sekitar sini!” bentak yang berkumis dengan nada keras. “Atau kau menunggu Sepasang Macan Baja dari Timur marah, hah?”

Sepasang Macan Baja dari Timur…, begitu Permana berkata dalam hati. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Oh ya, Ki Sasmaya pernah bercerita sedikit tentang sepasang pendekar yang memiliki kehebatan luar biasa dalam ilmu silat itu. Ki Sasmaya pernah berpesan padaku, kalau bertemu mereka sebaiknya jangan sampai mencari perkara. Karena sepasang pendekar itu angin-anginan. Mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah bertindak tanpa kendali diri. Maka aku harus berhati-hati menghadapi mereka. Kalau sampai aku mereka pecundangi, maka perjalananku ke Dukuh Telokan bisa gagal!

“Maaf kisanak, kalau aku tahu jalan ke Gunung Lawu, untuk apa aku menutup-nutupi? Pasti aku akan mengatakannya padamu,” kata Permana dengan nada dibuat sehalus mungkin supaya kedua pendekar muda itu meleleh hatinya.

“Brengsek!” kata yang berkumis. “Kau belum tahu siapa Tibas dan Kalis ini? Kau ingin tahu bahwa kalau kami marah maka siapa saja yang jadi sasaran kemarahan kami akan tumpas?”

Tibas yang berkumis, dan Kalis yang berwajah bersih, mulai mengancam. Permana sudah bisa menduga sejak semula. Namun dia tetap bersikap tenang. Jadi mereka bernama Tibas dan Kalis. Sederhana nama mereka, tapi kebrutalan mereka sudah terkenal di dunia persilatan. Permana pernah bercerita padaku bahwa untuk mencapai tujuannya, yakni mencuri pusaka dari guru mereka, Tibas dan Kalis tega menghabisi sang guru dan membantai ratusan teman-teman seperguruan! Maka bila mereka mengancam akan menumpasku, kurasa merupakan hal yang wajar. Jangankan hanya satu, ratusan saja mereka lenyapkan! Berarti mereka adalah pendekar dari golongan hitam yang harus kutumpas dari muka bumi. Sesuai dengan pesan secara turun-temurun dari Ki Angeb maka aku harus menumpasnya…! Segala angkara murka di muka bumi memang harus kutumpas. Kalau aku sebagai pewaris Pedang Biru tidak bisa melaksanakan pesan mendiang Ki Angeb yang merupakan pemilik pertama pedang ini, aku merasa sangat berdosa.

“Kisanak berdua sebaiknya bertanya saja kepada yang lain bila menginginkan kejelasan!” saran Permana. “Sebab tidak ada gunanya bertanya kepada yang tidak tahu. Mengharapkan sinar matahari di waktu malam merupakan perbuatan yang sia-sia.”

“Jangan menggurui kami!” bentak Tibas. “Kami sudah kenyang digurui selama ini. Kami sudah kenyang dicekoki ini-itu!”

“Aku tidak menggurui, kisanak. Tapi berkata apa adanya.”

“Hei, kau ini tidak menjawab pertanyaanku tentang jalan ke Gunung Lawu malah mengajak berdebat!”

“Aku tidak mmengajak berdebat, tetapi berkata apa adanya. Masa berkata apa adanya saja tidak boleh! Masa berkata tentang kebenaran saja dilarang!”

“Brengsek! Rupanya orang ini harus kita hajar supaya mau berterus terang tentang jalan menuju Gunung Lawu!” kata Tibas sambil menoleh kepada Kalis.

Satu kedipan mata dari Tibas sudah ditangkap Kalis. Keduanya segera melesat ke udara untuk menyerang Permana.

Permana meladeni serangan kedua pendekar yang memadukan berbagai jurus untuk menghabisi lawan. Sebagai seorang pendekar muda, Permana belum menangkap jusrus apa yang dimainkan kedua lawannya. Namun dari berbagai gerakan mereka, Permana menangkap bahwa merek menggunakan jurus-jurus binatang. Jurus-jurus yang menggunakan berbagi gerak binatang hutan.

Sudah lebih dari lima jurus berlalu tapi mereka belum berhasil membobol pertahanan Permana. Pendekar Pedang Biru itu hanya menghindar. Sesekali menangkis bila merasa terdesak. Kalau tidak menangkis, dirinya yang akan jadi sasaran empuk lawan. Pada saat menangkis itu Permana tahu bahwa kedua lawannya memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Sewaktu mereka melenting di udara, Permana menyadari bahwa lawan memiliki ilmu ringankan tubuh yang hebat. Dengan demikian Permana tidak berani main-main dengan mereka.

Menjelang jurus ke tujuh, Tibas melenting di udara tinggi-tinggi. Lalu melesat turun dengan tangan kanan siap mencakar wajah lawan. Pada saat yang bersamaan, Kalis melesat dari arah depan dengan gerakan serupa. Tangan kanan siap mencakar leher Permana! Serangan yang datang secara bersamaan itu membuat Permana menyadari bahwa bahaya datang mengancam. Dia mendadak ingat pesan Ki Sasmaya. Dia segera bergerak cepat.

Permana melenting tinggi ke udara, bersalto beberapa kali dan melesat pergi ke arah barat! Menghindari Sepasang Macan Baja dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan Ki Sasmaya kepadanya….

Sementara cerita beralih ke sebuah tempat nun jauh di sebelah barat sana. Tepatnya di Kadipaten Driyah. Adipati Brajaseta tampak sedang bersedih hatinya. Dia duduk sendirian di taman kadipaten. Seorang pemuda yang wajahnya menawan mendatanginya. Setelah memberikan hormat kepada ayahandanya, pemuda itu segera duduk di sebuah kursi di depan sang adipati.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami
8.8
Akibat keegoisan kakak yang membawa seluruh pengawal demi selingkuhannya, rumah kami diserang musuh lama. Ibu terluka parah demi melindungiku. Meski selamat, aku dituduh menjadi penyebab hilangnya selingkuhan kakak melalui surat fitnah. Kakak yang menyimpan dendam akhirnya membunuhku di malam syukuran setelah ayah menyerahkan takhta perusahaan kepadaku. Namun, kematian itu membawaku kembali ke masa lalu. Aku terbangun tepat saat pintu vila mulai didobrak oleh musuh yang ingin membantai kami.
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
8.4
Lintang, agen elite Telik Sandi 69, menggunakan pesonanya untuk menjebak Bernardo demi mencari petunjuk. Meski targetnya hanya pria mesum, misi ini jauh lebih besar. Bersama empat rekannya, Lintang mengemban tugas kerajaan guna menyelidiki teror di Benua Swarna Dwipa. Perjalanan mereka bermuara di Tanah Kematian, wilayah tanpa hukum yang penuh kebrutalan. Kini, mereka harus membongkar konspirasi gelap yang mengancam seluruh nyawa manusia di Jagad Mayapada.
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Satya Wiguna tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan Mbah Wiguna hingga menjadi pemuda tangguh yang rendah hati. Bersama kawan-kawannya, ia berkelana ke masa silam demi membasmi kejahatan. Saat kekuatannya mencapai puncak, penghuni dunia sukma menobatkannya sebagai senopati perang. Berbekal Pedang Naga Siluman, Satya mengemban misi vital untuk melindungi alam moksa dan dunia nyata dari invasi besar Sang Raja Iblis yang ingin berkuasa.