Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Sudah lebih dari satu minggu kakakmu hilang, kenapa belum ada kabar beritanya?” tanya Brajaseta kepada anaknya, Pangeran Anggoro. “Aku cemas kalau sampai terjadi apa-apa terhadap kakandamu itu, Anggoro. Aku khawatir kalau sampai terjadi petaka terhadap Retnoyoni.”

“Ayahanda…, menurut kabar angin yang ananda dengar, kakanda Retnoyoni diculik oleh gerombolan Musto Ireng yang tinggal di lereng Gunung Lawu,” kata Anggoro dengan nada rendah. “Sayangnya, kabar itu belum pasti kebenarannya. Jadi ananda hanya bisa menduga-duga benar atau tidak kabar itu.”

“Menurutmu, kabar itu benar atau tidak, Anggoro?”

“Maaf, ananda belum bisa memastikan benar atau tidaknya sebuah kabar sebelum bisa tahu buktinya. Yang jelas, kakanda hilang sewaktu berburu di Hutan Titir.”

“Hutan Titir…, eh, aku tiba-tiba ingat tentang Bendu.”

“Bendu…? Sia dia?”

“Bendu adalah seorang penjahat kakap di masa mudanya. Dia dulu pernah dijuluki si pencuri ulung sehingga menggegerkan Kerajaan Pulungwarih. Tapi itu dulu. Sekarang Bendu sudah sadar dan tidak berbuat kejahatan semacam itu. Dia tinggal di dalam Hutan Titir.”

“Tapi walaupun dia tinggal di dalam hutan itu bukan dijadikan pijakan bahwa Bendu yang menculik kakanda Retnoyoni. Benar begitu, kan ayahanda?”

“Benar, Anggoro. Itu bukan menjamin bahwa yang menculik kakandamu adalah Bendu. Sebab dalam hal keliahaian silat, kakakmu tidak kalah dibandingkan Bendu. Aku tahu itu. Walaupun mungkin Bendu sudah mengembangkan jurus-jurus dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Permana Brata, tapi penguasaannya pasti tidak sehebat Permana. Sehingga aku sangsi kalau Bendu mampu menundukkan Retnoyoni dan menculiknya.”

Yang dikatakan Brajaseta benar.

Nyatanya demikian.

Retnoyoni, anak tertua Adipati Brajaseta memiiki ilmu silat yang tinggi. Memiliki senjata sakti. Sebilah pedang tipis bergagang emas. Gagang pedang itu berbentuk kepala angsa. Pada saat berburu, Retnoyoni tidak membawa senjata saktinya, Pedang Angsa Jingga. Baik Brajaseta dan Anggoro, serta para punggawa Kadipaten merasa keheranan. Kenapa Retnoyoni waktu itu tidak membawa pedangnya?

Padahal biasanya kemana saja dia pergi selalu membawa pedangnya. Hanya saja, waktu berburu itu, Retnoyoni tidak membawa pedang saktinya. Bahkan hanya dua prajurit kerajaan yang dia perkenankan ikut.

“Kenapa kakakmu waktu itu tidak membawa pedangnya?” tanya Brajaseta.

“Entahlah, ayahanda,” jawab Anggoro. “Yang jelas, pagi itu kakanda kelihatan sangat tergesa-gesa. Sepuluh prajurit pengawal yang sudah siap, tidak diperkenankan ikut. Hanya dua orang yang diperkenankan ikut. Itu pun hanya sembarang comot, tidak dipilih yang terbaik.”

“Dan dua prajurit itu pun sekarang juga tidak terdengar kabar beritanya.”

“Kemungkinan kedua prajurit itu sudah tewas ketika membela putrinya. Mereka pasti rela mati demi keselamatan kakanda Retnoyoni.”

“Tapi kenapa mayat mereka tidak ditemukan? Padahal kita sudah mengerahkan ratusan prajurit untuk menyisir dan menyusur seluruh areal Hutan Titir?”

“Entahlah, Ayahanda. Mungkin mereka kurang jeli, atau bisa juga mayat dua prajurit kita itu telah dikubur oleh para penculik yang telah membunuhnya. Atau…, bisa saja terjadi hal-hal lain yang sulit diduga.”

Ketika Brajaseta dan Anggoro sedang berbincang-bincang, Bergala datang. Senapati Utama Kadipaten Driyah itu segera memberi sembah hormat kepada adipatinya sebelum memberikan laporannya.

"Ada apa, Bergala?" tanya Brajaseta.

"Sebelumnya minta maaf, Kanjeng Adipati," kata Bergala. "Hamba ingin melaporkan tentang hasil pelacakan hamba ke Hutan Titir."

"Apa hasil pelacakanmu?"

"Baru saja hamba menemukan mayat dua prajurit yang menyertai Putri Retnoyoni. Itu artinya, mereka dibunuh oleh orang yang kemungkinan besar menculik Putri Retnoyoni."

"Kurang ajar! Berarti putriku ada kemungkinan diculik oleh seseorang?"

"Benar, Kanjeng Adipati. Ada seorang prajurit telik sandi yang menyatakan bahwa ada tanda-tanda kalau Putri Retnoyoni diculik gerombolan Musto Ireng. Beberapa tanda telah ditemukan para prajurit rahasia itu. Maka dari itu, hamba mohon diberi tugas untuk melakukan pelacakan secara langsung ke lereng Gunung Lawu."

"Baiklah, sekarang juga kau berangkat! Bawalah prajurit seperlunya dulu agar perjalananmu tidak dicurigai mereka! Ingat, gerombolan Musto Ireng sangat ganas dan berbahaya! Kalian harus hati-hati! Bila terbukti putriku ada di sana, langsung saja kau suruh salah satu prajuritmu kemari. Nanti akan kukirim prajurit dalam jumlah besar untuk menumpas mereka!"

"Daulat, Kanjeng Adipati. Sekarang juga hamba berangkat."

"Ya, doa dan restuku menyertai kalian! Harga diri Kadipaten Driyah ada di tanganmu, Bergala. Jaga harga diri dan kehormatan Kadipaten ini!"

Bergala segera berangkat. Dia bawa sepuluh prajurit pilihan dari Kadipaten Driyah. Kepergian Bergala disertai harapan besar dari Adipati Brajaseta, Anggoro, dan seluruh rakyat Kadipaten Driyah.

Malam harinya Adipati Brajaseta sulit tidur. Adipati yang bijaksana dan sangat memperhatikan nasib rakyatnya itu merasa sangat sedih. Kalau sampai putrinya tidak ketemu, maka perasaannya akan semakin sedih. Retnoyoni merupakan putri sulung dari dua anaknya. Bila Retnoyoni mau, kelak bisa mewarisi tahta Kadipaten Driyah. Tetapu kalau tidak bersedia, Anggoro yang akan mewarisi. Terlepas dari soal tahta itu, Brajaseta sangat merasa kehilangan bila sampai Retnoyoni tidak ketemu. Apalagi kalau sampai putri sulungnya itu hilang untuk selamanya akibat kebiadaban si penculiknya. Bila sampai itu terjadi, dirinya sudah tidak akan mampu lagi menahan beban batin yang menderanya.

Sementara cerita beralih ke tempat lain, beberapa hari kemudian.

Lereng Gunung Lawu di pagi hari. Ada kabut tipis yang menyelimuti lereng itu. Ada beberapa orang berlalu lalang di depan sebuah rumah yang terbuat dari rangkaian kayu hutan dan atapnya dari anyaman daun-daunan. Dindingnya dari anyaman bambu yang kuat. Beberapa orang yang berlalu lalang di depan rumah berukuran besar itu bertampang sangar-sangar. Seram-seram. Orang yang pertama kali melihat mereka pasti akan menduga bahwa mereka adalah anggota sebuah gerombolan manusia jahat.

Nyatanya demikian.

Mereka memang anak buah Musto Ireng. Mereka anggota sebuah gerombolan manusia yang mempunyai keinginan kuat untuk membuat perubahan besar-besar di dunia persilatan. Musto Ireng dan seluruh anggota gerombolannya mempunyai keinginan kuat untuk mendirikan sebuah kerajaan tanpa harus menjadi anak raja. Selama ini memang berlaku sebuah peraturan yang sudah turun-temurun bahwa seseorang menjadi raja karena faktor kerukunan. Kalau bukan anak seorang raja, tidak mungkin akan menjadi raja. Begitu pula kalau bukan anak seorang adipati, tidak mungkin akan menjadi adipati.

Musto Ireng ingin mengubah semua ini. Dia yang hanya anak seorang perampok tidak mungkin akan kesampaian keinginannya. Maka dia yang sejak kecil sangat tergila-gila ingin menjadi raja akan menempuh cara apa saja untuk mencapai keinginannya. Keinginan yang sebenarnya tidak mungkin akan tercapai. Ibaratnya si cebol rindukan bulan. Jangankan orang yang cebol, pendek tubuhnya. Yang jangkung pun tidak akan mampu meraih bulan dalam genggamannya.

Kabut di lereng Gunung Lawu belum tersibak ketika ada sekelebatan bayangan manusia cebol. Manusia yang tubuhnya pendek. Dia bukan manusia cebol sembarang cebol, manusia cebol yang punya ilmu silat lumayan. Bahkan dia menguasai sebagian jurus-jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel GADIS PENURUT TUAN MAFIA
7.9
Calvin adalah pemimpin mafia yang sangat ditakuti. Keluarganya dikenal kejam, bahkan ada yang memakan jasad lawan. Bisnisnya meliputi kebun ganja hingga senjata ilegal yang sulit dilacak polisi. Namun, sisi gelapnya terusik saat bertemu gadis cantik yang patuh layaknya robot. Meski masa lalunya kelam, senyum jujur sang gadis mulai meluluhkan hati Calvin. Akankah hubungan unik ini bertahan di tengah dunia kriminal mereka yang sangat berbahaya?
Sampul Novel Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
8.8
Tiga tahun Elsa menikah tanpa pernah bertatap muka dengan suaminya yang misterius. Saat diceraikan demi wanita lain, Elsa memilih bangkit dan meninggalkan identitas lamanya. Dunia pun terkejut saat mengetahui ia adalah peretas jenius, agen rahasia, hingga ilmuwan hebat. Melihat bakat luar biasa sang mantan istri, pria itu kini bersujud memohon ampun. Ia rela menyerahkan harta dan nyawanya demi mendapatkan kembali cinta Elsa yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel KEPINCUT PREMAN SALEH
8.9
Reyhan, preman urakan yang dikenal sebagai Reynold, jatuh hati pada Farhana, putri Pak Haji yang baru pulang dari pesantren. Namun, jalan cintanya terjal karena harus bersaing dengan Ustaz Usman yang alim dan populer. Reyhan pun bertekad mengubah diri demi sang pujaan, meski ia harus babak belur menghadapi hadangan Razaq dan Raziq, kakak kembar Farhana yang protektif. Mampukah si preman kampung ini mengalahkan sang ustaz dan meluluhkan hati keluarga Farhana?
Sampul Novel Obsesi saya
9.1
Mimpi seorang wanita untuk menjadi model ukuran plus hancur seketika setelah ia menjadi korban penculikan keji oleh pedagang pasar gelap. Di tengah keputusasaan, ia justru terjerat dengan pria yang memiliki obsesi ekstrem terhadapnya. Pria posesif ini bertekad menjadikannya istri dan menghalalkan segala cara demi memilikinya seutuhnya. Kini ia terjepit dalam dilema besar: haruskah ia menyerah pada keadaan atau berjuang meloloskan diri dari cengkeraman maut sang pria?