Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

Dewi tidak pernah menyangka bahwa kediamannya di rumah Pak Darma akan menyingkap tabir gelap. Di balik kemegahan hunian sang mertua, tersimpan berbagai rahasia kelam yang selama ini tersembunyi rapat. Satu demi satu misteri mulai terungkap, menyeret Dewi ke dalam pusaran kenyataan yang mengerikan. Puncaknya, ia harus menghadapi kebenaran mengejutkan mengenai jati diri aslinya yang berkaitan dengan kengerian di rumah tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

Bab 2

"Maafkan Roni, Pak," kata mas Roni dengan semakin mengeratkan genggaman tangan kami.

"Maafkan Roni tak bisa menerima jodoh yang Bapak pilihkan buat Roni. Buat Roni, menikah cukup sekali seumur hidup, dan itu harus dengan orang yang Roni cintai." Bapak mendengus mendengar perkataan mas Roni.

"Bapak, mau apalagi? Bapak memang kecewa, kamu tak mau menurut perkataan Bapak. Tapi demi Ibumu, yang merengek setiap hari. Terpaksa Bapak menerima kalian," kata Bapak dengan angkuh.

"Kalau Bapak belum bisa menerima Dewi sebagai istri Roni. Roni akan pergi dari sini. Roni tak butuh kekayaan ini, Roni hanya ingin menjalani sisa hidup Roni dengan istri yang Roni cintai."

Aku menatap mas Roni setelah mendengar perkataannya. Sebegitu besar cintanya padaku, hingga dia rela meninggalkan segala kemewahan, hanya demi aku, si gadis yatim piatu.

"Hhh, sombong kamu!" Bapak mencebikkan bibirnya, seolah mengejek.

"Pak, sudahlah. Bapak kan, sudah janji sama Ibu, gak akan lagi mempermasalahkan status istri Roni. Dewi sudah jadi anak mantu kita Pak. Ibuk gak mau, Roni pergi lagi. Rumah ini sepi sekali, cuma ada kita disini." Ibuk mulai merengek ke Bapak.

Bagaimanapun, cinta seorang Ibu memang mampu menghancurkan batu sekeras karang. Seperti Bapak, yang akhirnya melunak. Meskipun sikapnya masih dingin.

"Kamu dengarkan Roni. Segitu sayang Ibumu denganmu, sampai dia rela membantah Bapak."

Bapak langsung berlalu meninggalkan kami yang masih terpaku.

"Jangan diambil hati perkataan Bapak. Biarpun begitu, setiap hari Bapak memikirkan kamu Ron. Kadang sampai mengigau, kamu ingatkan, sejak kecil Bapak yang paling menyayangi kamu. Bapak seperti itu, karena malu saja dengan temannya. Karena kamu menolak untuk dijodohkan," jelas Ibuk panjang lebar.

Sepertinya Ibuk berusaha meredam emosi mas Roni. Yang sepertinya juga keras hati. Ibuk sangat takut kami pergi lagi dari rumah ini.

"Buk, makan siang sudah siap," kata Bik Jum yang baru datang.

"Iya, Bik. Sebentar lagi kami turun," sahut Ibuk.

"Roni, akan berusaha Buk. Tapi kalau beberapa hari ini Bapak tetap tak bisa menerima pernikahan Roni. Kami akan pergi dari rumah ini!"

"Mas …." Aku menggelengkan kepala begitu mas Roni menatapku.

Aku ingin bilang, tak usah lagi di permasalahkan kata-kata Bapak. Sepertinya bang Roni mengerti, dia mengangguk pelan.

"Ya sudah, kita makan dulu. Pasti kalian juga capek, siap makan langsung istirahat."

Kami mengikuti Ibuk yang berjalan duluan menuruni anak tangga. Ibuk terlihat cantik dan tubuhnya masih bugar. Di usianya yang tak lagi muda. Aku mengaguminya, saat pertama tadi melihatnya. Kalau boleh aku samakan, Ibuk agak mirip artis Minati Atmanegara.

Ternyata Bapak sudah lebih dulu duduk di meja makan. Wajahnya masih terlihat dingin, tanpa ekspresi. Kami makan tanpa obrolan, senyap. Rumah yang besar ini, jadi terasa sepi. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca.

Selesai makan, Bapak langsung bangkit, berlalu ke arah luar rumah. Tak tau kemana. Aku masih merasa kikuk. Aku bantu bik Jum mengangkat piring dan gelas bekas makan.

"Sudah Mbak, biar bibik saja." Bik Jum berusaha mencegahku membantunya.

"Gak papa Bik." Aku tetap membantunya.

"Biarin aja Bik, biar Dewi gak merasa kaku disini. Anggap saja rumah sendiri ya Nak," kata Ibu lembut.

"Habis itu istirahat saja dulu. Ibuk tinggal dulu ya, Ibuk mau lihat Bapak ke depan."

Ibuk langsung berlalu ke depan rumah.

★★★KARTIKA DEKA★★★

Kamar ini cukup besar, bahkan lebih besar dari rumah kontrakan kami. Jendelanya langsung mengarah ke arah samping rumah. Pandanganku leluasa melihat keluar.

Aku melihat dari balik tirai jendela, Bapak dan Ibu ada disana. Disamping rumah terdapat beberapa tanaman bunga hias yang lumayan mahal harganya. Ngapain ya Bapak dan Ibuk disitu?

Bapak dan Ibuk seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius, terlihat raut wajah mereka yang tegang. Mudah-mudahan mereka tak melihatku, jendela ini tertutup tirai. Namun aku bisa melihat mereka dari sini.

Aku sontak menyembunyikan tubuhku, saat Bapak tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah jendela ini. Jantungku berdebar, berharap Bapak tak melihatku yang mengintip mereka.

"Kenapa Sayang." Mas Roni yang baru keluar dari kamar mandi, merasa heran melihatku, yang masih kaku bersandar di dinding dekat jendela.

"Ng-nggak papa, Mas," ucapku, langsung berjalan ke arah kamar mandi. Malu juga, kalau aku ketahuan mengintip.

Kulihat mas Roni seperti keheranan melihatku. Tak kuhiraukan, aku ingin mandi. Kami menaiki angkutan umum tadi, berjejalan di dalamnya membuat tubuhku terasa lengket. Setelah sampai di terminal, baru pak Agus, supir Bapak menjemput kami.

Aku masih tak percaya, ternyata suamiku anak orang paling kaya di kampung ini. Selama ini mas Roni tak bercerita banyak tentang keluarganya. Aku mengenalnya, karena dia menjadi donatur tetap di panti asuhan tempatku tinggal.

Setelah aku dewasa, aku ikut mengasuh adik-adik yang senasib denganku. Saat aku kecil, ada beberapa orangtua yang ingin mengadopsiku. Tapi menurut bu Yanti, aku tak pernah mau. Selalu sembunyi, setiap ada orangtua yang ingin bertemu denganku. Kalaupun aku mau, aku akan sakit. Dan akhirnya dikembalikan lagi ke panti.

Kulitku yang putih dan wajahku yang menurut orang-orang terbilang manis, membuat banyak orangtua yang jatuh hati. Ingin aku jadi anak mereka. Tapi entah kenapa, hatiku tak ingin memiliki keluarga yang utuh. Bagiku bu Yanti adalah ibuku, dan semua yang ada di panti adalah keluargaku.

"Sayang …." panggil mas Roni dari luar kamar mandi, menyadarkanku dari lamunan.

"Ya, Mas!" sahutku agak keras. Suaraku beradu dengan suara air dari shower.

"Kok lama banget, kamu gak papa?" Dia mungkin khawatir, melihatku tak kunjung keluar kamar mandi.

"Gak papa Mas!" sahutku. Kupercepat mandiku.

"Lama banget, Mas mau ajak kamu jalan-jalan ke rumah teman Mas," kata suamiku itu, begitu aku keluar dari kamar mandi.

"Besok aja, Mas. Dewi ngantuk." Aku memang merasa sangat lelah.

"Ya sudah, kamu tidur duluan ya. Mas, mau ke rumah teman Mas," katanya.

"Mas ... Dewi takut sendirian," kataku, kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar.

Entah kenapa, aku merasakan tak nyaman, seperti ada yang mengawasi.

"Takut … kenapa?" Matanya menyelidik.

"Gak tau … Dewi merasa, kayak ada yang merhatiin," kataku agak berbisik. Seakan-akan ada yang ikut mendengar pembicaraan kamu.

"Hanya perasaan kamu aja Sayang, sudah tidur gih. Apa perlu, Mas keloni." Dia malah menggodaku.

"Ih Mas …." Aku mencubit pinggangnya, untuk menutupi perasaanku yang sedang salah tingkah.

★★★KARTIKA DEKA★★★

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh
9.7
Aurelia adalah putri tunggal konglomerat yang hidup dalam kemewahan hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya. Setelah menabrak tiga pemotor hingga tewas, gadis berusia lima belas tahun ini memilih kabur demi menghindari tanggung jawab. Namun, pelarian itu justru mengundang petaka supranatural. Kini, Aurel diburu oleh tiga roh penuh dendam yang menuntut balas. Mampukah ia lepas dari teror mengerikan ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kutukan?
Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Secara misterius, Halimah mendadak memiliki kemampuan supranatural untuk melihat dimensi asing yang mengerikan beserta para calon tumbal yang terancam nyawanya. Fenomena ghaib ini mengubah hidupnya menjadi penuh teror dan tanda tanya besar. Kini, dia terjebak dalam dilema gelap: haruskah ia ikut mencari tumbal tersebut demi keselamatan dirinya sendiri? Ikuti perjuangan Halimah dalam mengungkap rahasia kutukan ini dan mencari cara untuk menyelamatkan jiwanya.
Sampul Novel Dicintai Iblis Betina
8.2
Sumpah reinkarnasi menggema sebelum sosok itu lenyap bersama aroma busuk yang menyengat. Di tengah keputusasaan, Jacob berusaha menghidupkan kembali arwah kekasihnya melalui bantuan seorang dukun sakti. Namun, ia justru terjerat tipu daya ratu iblis yang licik. Hubungan mereka pun berkembang jauh melampaui sekadar pertemuan biasa, hingga terjebak dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menghadapi konsekuensi mengerikan atas cintanya yang gelap.
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER
7.9
Kehidupan Tedi berubah mencekam saat ia menemukan bungkusan kresek hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkasnya sendiri. Alih-alih melapor ke pihak berwajib, Tedi justru memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan tersebut dan bertekad memburu sosok di balik tindakan keji ini secara mandiri. Mampukah ia mengungkap identitas pelaku sebenarnya sebelum segalanya terlambat? Sebuah kisah misteri penuh ketegangan tentang pencarian keadilan yang gelap.