
PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
Bab 3
PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
Bab 3
Mungkin saat ini wajahku sedang memerah, mas Roni memang pandai membuatku tersipu malu.
"Ya udah, Mas temeni sampai kamu tidur."
Aku naik ke pembaringan yang sangat empuk. Baru kali ini aku tidur di ranjang sebagus ini. Tempat tidur yang kami miliki di rumah kontrakan, hanya berupa kasur kapuk saja tanpa ranjang. Hmm, nyaman sekali rasanya, ditambah udaranya sejuk, karena kamar ini menggunakan ac.
"Hei, siapa kamu!" Aku terlonjak melihat seorang anak kecil lelaki, kisaran usia sepuluh tahun, sedang berdiri di dekat jendela.
Dia hanya mematung menatapku, bulu kudukku meremang melihatnya.
"Kenapa kau masuk kesini, pergi dari sini!" Aku mengusirnya, dia tak bergeming. Pandangannya kosong ke arahku.
Aku semakin takut melihatnya, keringat mengalir dari pelipisku, padahal disini dingin. Siapa anak ini? Kenapa dia bisa masuk? Kemana mas Roni? Bukankah katanya akan menemaniku? Dia tak pamit denganku kalau ingin keluar kamar.
Gegas aku bangkit menuju pintu kamar, aku berusaha menarik handle pintu, tapi tak bisa. Pintu terkunci. Bagaimana ini?
Anak itu terus saja menatapku dengan pandangannya yang beku. Menjalarkan hawa dingin ke sekujur tubuhku, aku menggigil, namun berkeringat. Aku meringkuk ketakutan di balik pintu.
"PERGIIII!" Tiba-tiba dia berteriak. Suaranya begitu nyaring melengking, membuat gendang telingaku seakan mau pecah.
"TIDAAAK!" Aku spontan teriak juga dengan menutup kedua telingaku.
"Dewi, Sayang, kenapa kamu." Seperti ada yang menepuk-nepuk pipiku.
"Hos hos hos." Nafasku memburu. Keringat membanjiri wajah dan tubuhku.
"Kamu mimpi?!" tanya mas Roni, terlihat khawatir. Dia memberikan segelas air putih kepadaku.
Aku meminum tuntas air yang diberikan mas Roni. Aku merasa sangat kelelahan dan ketakutan. Mimpi itu begitu nyata. Aku melihat ke arah jendela, kosong. Tak ada siapa pun disana.
"Mas … aku takut." Aku langsung merangsek ke pelukan suamiku. Jantungku berdetak sangat kencang.
"Kamu cuma kecapekan." Dia membelai lembut rambutku.
"Kita keluar saja, biar bisa menghirup udara segar," ajak mas Roni. Aku mengikutinya, tak berani ditinggal sendirian.
Begitu keluar kamar, kami melihat Ibuk yang akan masuk ke kamarnya.
Kamar Ibuk dan kamar kami bersebrangan, hanya terhalang oleh sofa-sofa mewah yang tersusun sedemikian rupa. Disini biasanya Bapak dan Ibuk mengobrol dengan tamu-tamunya, kata mas Roni.
"Buk, motor Roni masih ada?" tanya mas Roni ke Ibuk.
"Masih, kuncinya di laci lemari yang di dapur," jawab Ibuk. Mas Roni, langsung ke dapur mengambil kunci motor.
"Udah sore begini, mau kemana?" tanya Ibuk lagi.
"Roni mau keluar, ngajak Dewi ke rumah Iwan."
"Ya sudah. Jangan malam-malam pulangnya," pesan Ibuk setelah kami mencium tangannya.
Sepanjang jalan, mas Roni menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Tak ada yang spesial dikampung ini. Hanya ada perkebunan sawit di setiap sisi jalannya.
"Kita ke rumah teman Mas ya," ajak mas Roni.
"Terserah Mas aja." Aku hanya mengikuti kemana suamiku pergi.
Kami tiba di sebuah rumah sederhana, dindingnya pun masih terbuat dari papan, tapi tampak terawat. Banyak bunga yang menghiasi di depan rumah itu. Menambah kesan asri.
Tok tok tok
Mas Roni mengetuk pintu rumah itu.
Tak lama terdengar suara pintu yang berderit. Tanda pintu sedang dibuka.
"Assalamualaikum," sapa mas Roni, memberi kejutan pada si empunya rumah.
"Waalaikum salam, Roniii." Mas Roni dan temannya saling berpelukan. Seperti sudah sangat lama tak bertemu.
"Apa kabar Bung," kata teman mas Roni, dia memegang bahu mas Roni. Senyum lepas terus menghiasi bibirnya.
"Alhamdulillah baik. Perkenalkan istriku." Mas Roni memperkenalkan aku ke temannya.
"Nama saya Iwan, Mbak." Dia tak menjabat tanganku. Hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Saya Dewi." Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
Dari pakaiannya aku tau, dia seorang yang sepertinya sangat agamis. Entahlah ... kadang kita tak bisa menilai hanya dari pakaian saja, bukan?
Dia memandangku cukup lama, membuatku agak risih dan salah tingkah.
"Ma–maaf Mbak, astaghfirullah," katanya sepertinya menyadari kekhilafannya.
"Napa, lu naksir sama istriku," celetuk mas Roni.
"Jangan salah faham Bung. Aku gak suka nikung sahabatku sendiri hahaha," ujarnya berkelakar. Sepertinya mas Roni sangat akrab dengannya.
"Bagaimana denganmu, apa sudah punya istri? Jangan sampai jadi panglatu," tanya mas Roni.
"Apa itu panglatu?" Bang Iwan tampak bingung dengan perkataan mas Roni.
"PANGlima LAjang TUa hahaha," tawa mas Roni begitu renyah.
"Ah kau ini, aku belum menemukan yang pas. Lebih tepatnya yang mau denganku hahaha. Kau kan tau, aku cuma buruh bangunan. Tampang juga pas-pasan, siapa yang mau? hahahaha," canda bang Iwan.
Aku ikut tertawa kecil, mendengar candaan dan celotehan bang Iwan dan suamiku. Bang Iwan itu ternyata orang yang menyenangkan, jarang aku melihat mas Roni bisa tertawa lepas seperti ini.
"Kamu yang terlalu banyak milih kawan. Tampangmu memang pas pasan, pas kayak artis. Artis siapa itu namanya?" Mas Roni seperti mengingat-ingat.
"Dude herlino, Mas," celetukku. Memang sejak awal melihat bang Iwan, aku merasa familiar melihat wajahnya. Setelah kuingat-ingat dia agak mirip dengan artis Dude Herlino. Agak sih.
"Hmm iya, betul itu kata istriku. Jangan terlalu banyak milih lah, Wan. Soal rezeki, sudah ada yang atur. Ini kata-katamu waktu aku akan meninggalkan rumah Bapakku dulu, ingat kan?"
Bang Iwan tersenyum mendengar kalimat yang terucap dari bibir mas Roni.
"Baru merantau beberapa waktu saja, kau sudah jadi dewasa sekarang," ujar bang Iwan menepuk-nepuk bahu mas Roni.
"Ya, nanti Allah pasti kasih petunjuk." Sangat bijak kata-kata bang Iwan.
"Kau, pulang kesini hanya sekedar pulang, atau akan menetap?" tanya bang Iwan.
"Belum tau Wan. Bapak Ibuk, menginginkan aku tetap tinggal disini. Tapi Bapak sepertinya belum menerima pernikahanku dan Dewi." Mas Roni bercerita dengan mata yang menerawang.
"Sabar, banyak berdoa semoga orangtuamu mendapat hidayah," kata bang Iwan.
"Hidayah? Apa maksudnya?" tanya mas Roni heran.
"Emmm, itu hidayah, biar dibukakan hatinya menerima istrimu." Bang Iwan kelihatan agak bingung menjawab pertanyaan mas Roni.
Aku agak curiga dengan jawaban bang Iwan. Seperti ada yang disembunyikan.
"Sudah mau Magrib, kami pulang dulu," ucap mas Roni berpamitan.
"Cepat sekali, sholat Magrib disini saja," tawar bang Iwan.
"Laen kali aku maen kesini lagi, asal kau tak bosan menerimaku hehehe," kelakar suamiku.
"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Aku bisa minta nomor kontakmu?"
"Bisa." Mereka saling bertukar nomor kontak.
"Jaga istrimu baik-baik," pesan bang Iwan, sebelum kami naik ke atas motor.
Cukup membuat tanya di hatiku. Apa maksud bang Iwan bicara seperti itu? Sepertinya mas Roni juga merasa heran, terlihat dari raut wajahnya.
★★★KARTIKA DEKA★★★
Anda Mungkin Juga Suka





