Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Elara dan Kiano terikat pernikahan karena perjodohan hingga akhirnya memilih bercerai akibat kebencian yang mendalam. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah proyek kerja yang sama. Ketegangan dan sindiran masa lalu kembali muncul, namun perlahan mereka mulai melihat ketulusan yang dulu tersembunyi. Kini, benih cinta tumbuh dari sisa amarah. Mampukah mereka membuka hati atau justru kembali terjebak dalam luka lama yang belum sembuh?
Bab
Bagikan

Bab 2

Elara menatap layar laptopnya, jarinya bergerak cepat menata presentasi yang harus ia serahkan besok. Pekerjaan selalu menjadi pelarian terbaik dari kekacauan hidupnya, terutama setelah lima tahun ini.

Namun, pagi itu segalanya berubah begitu pintu ruang kerja dibuka. Kiano berdiri di depan ruangan, setelan jas hitamnya sempurna, rambutnya rapi, dan aura dinginnya masih seperti lima tahun lalu-tapi kini ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan di matanya yang sebelumnya tidak pernah ia miliki, seakan ia telah melewati badai dan kembali lebih kuat.

"Elara," sapanya, datar tapi tegas. Suara itu membuat jantungnya berdegup aneh, meski ia menolak mengakuinya.

"Selamat pagi, Kiano," jawab Elara, menunduk seakan tak ingin terlalu lama menatapnya. Namun matanya tak bisa menahan diri; ia menangkap tatapan Kiano yang tajam, menilai setiap gerakannya, setiap ekspresinya.

Proyek baru ini bukan sembarang proyek. Mereka berdua harus memimpin tim gabungan yang mengerjakan kampanye pemasaran besar-besaran untuk klien internasional. Tidak ada pilihan selain bekerja sama. Dan tidak ada ruang untuk emosi lama.

Namun, emosi itu tetap datang. Setiap kali Kiano berbicara dengan nada serius atau menatapnya terlalu lama, Elara merasakan kilatan peringatan-dan rasa penasaran. Rasa yang ia kira telah terkubur lima tahun lalu.

Hari pertama mereka di tim itu penuh ketegangan. Anggota tim menatap mereka dengan campuran kagum dan takut; hubungan mereka yang terkenal dulu selalu menjadi topik pembicaraan.

"Apakah kita harus mendengar drama lama lagi?" tanya salah satu staf, berbisik kepada rekan di sebelahnya.

Elara menekankan bibirnya. Ia tahu, kali ini ia harus bersikap profesional. Tidak ada lagi pertengkaran yang memalukan, tidak ada lagi komentar pedas yang akan membuat semua orang tak nyaman.

Tapi Kiano... tetap sulit ditebak. Ia selalu menempatkan dirinya di posisi yang membuat Elara merasa harus waspada. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya yang tak mengandung maksud tertentu. Kadang membuat Elara ingin membanting laptopnya, kadang membuatnya tersenyum tanpa sadar.

Malam pertama mereka bekerja lembur, proyek itu menuntut penyelesaian cepat. Ruang kantor sepi, hanya lampu meja yang menyala, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Elara menatap layar grafik pemasaran, jantungnya berdetak cepat. Ia merasakan Kiano berdiri di belakangnya, menatap skema kampanye yang baru saja ia buat.

"Kamu terlalu fokus pada angka," katanya tiba-tiba, suaranya rendah. "Kampanye ini bukan sekadar angka. Emosi orang harus tersentuh."

Elara menoleh, menatap Kiano. Nada suaranya... tidak dingin seperti dulu. Ada kehangatan yang samar, membuatnya sedikit goyah. "Dan kamu terlalu percaya diri dengan ide sendiri," balasnya, setengah tersenyum. "Kalau begitu, tunjukkan caramu."

Kiano tersenyum tipis, satu senyuman yang membuat Elara ingin menoleh lagi, tapi ia menahan diri. "Baik. Lihat ini." Ia menatap layar, jari-jarinya menari di atas mouse dan keyboard, mengubah susunan ide dengan presisi yang menakjubkan.

Elara menahan decak kagum. Ia tak ingin mengakuinya, tapi... Kiano benar. Ide ini lebih hidup, lebih emosional, lebih menarik. Dan itu membuatnya sadar sesuatu yang berbahaya: ia mungkin masih bisa menghargai pria ini. Bahkan lebih dari itu...

Hari-hari berikutnya penuh dengan interaksi tak terduga. Mereka harus menghadiri meeting klien, melakukan survei pasar, dan presentasi di depan direksi. Di setiap kesempatan, mereka saling menyelidik, saling menantang, dan kadang... saling menyelamatkan.

Suatu sore, saat hujan turun deras, mereka terjebak di sebuah kafe dekat kantor karena jalanan tergenang. Tidak ada transportasi yang bisa lewat.

"Kita harus menunggu di sini sampai hujan reda," kata Kiano, duduk di seberang meja dengan kopi panas di tangannya.

Elara menghela napas, menatap hujan di luar jendela. "Sepertinya kita terpaksa menghabiskan waktu bersama lagi." Nada suaranya sinis, tapi ada nada lain-rasa humor yang samar.

Kiano menatapnya, tersenyum tipis. "Aku kira kamu tidak akan senang duduk di sampingku."

Elara menatapnya balik. "Senang? Jangan bercanda. Aku tetap tidak suka padamu."

Namun, ada jeda. Hujan turun deras, suara rintiknya menenangkan. Dan untuk pertama kalinya, mereka berbicara bukan untuk bertengkar, tapi benar-benar berbicara.

"Kenapa kita dulu begitu... keras kepala?" tanya Elara tiba-tiba, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Kiano menatap cangkir kopinya, menelan sebelum menjawab. "Mungkin kita tidak tahu cara memahami satu sama lain. Atau mungkin... kita terlalu takut terluka."

Elara menunduk. Kata-kata itu menusuk hatinya, tepat di tempat yang dulu ia kira telah mati rasa. Ia teringat semua pertengkaran, semua kata-kata yang mengiris. Dan tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan lima tahun lalu: penyesalan.

Hari demi hari, hubungan profesional mereka mulai berkembang menjadi sesuatu yang... ambigu. Mereka tetap saling menantang, tapi ada momen-momen kecil yang membuat keduanya tersadar: perhatian bisa muncul tanpa mereka sadari.

Suatu malam, mereka harus lembur untuk menyiapkan presentasi terakhir. Kantor sepi, hanya suara mesin pendingin dan ketukan keyboard.

"Sepertinya kamu terlalu banyak bekerja," kata Kiano, menatap Elara dari balik layar laptop.

Elara menoleh. "Kalau aku tidak bekerja, proyek ini gagal. Aku tidak seperti kamu, yang bisa mengandalkan insting dan keberuntungan."

Kiano tertawa ringan, sebuah tawa yang membuat hati Elara bergetar aneh. "Keberuntungan? Aku bekerja keras. Dan aku selalu memperhatikan detail. Sama seperti kamu."

Elara menatapnya, mata mereka bertemu. Ada kesunyian yang terasa tegang, tetapi bukan tegang karena benci. Kali ini, tegang karena sesuatu yang lebih... pribadi.

Beberapa minggu kemudian, mereka harus menghadiri seminar industri di Bali. Di tengah acara, Kiano dan Elara ditugaskan sebagai pembicara utama untuk mempresentasikan hasil proyek mereka.

Di panggung, mereka tampak profesional, harmonis, dan penuh energi. Tapi di balik layar, sebelum presentasi dimulai, Kiano menarik Elara sedikit ke samping.

"Dengar... aku tahu kita punya sejarah buruk," katanya, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi aku ingin kita lakukan ini tanpa... topeng. Aku ingin kita bekerja sama, benar-benar."

Elara menatapnya, jantungnya berdetak cepat. "Aku juga ingin. Tapi jangan kira aku mudah percaya padamu, Kiano."

Ia tersenyum tipis. Dan Kiano membalas dengan senyuman yang membuat hatinya hangat-dan berbahaya.

Di seminar itu, presentasi mereka sukses besar. Tepuk tangan meriah menggema, tetapi yang paling mereka rasakan bukanlah pujian, melainkan... kedekatan yang tidak pernah mereka duga akan muncul setelah lima tahun.

Malam itu, saat berjalan di tepi pantai, mereka berbicara lebih banyak tentang masa lalu mereka, tentang kesalahan, tentang luka, dan tentang mimpi yang belum tercapai.

"Kita... terlalu muda saat itu," kata Elara, menatap ombak yang memantulkan cahaya bulan. "Aku tidak siap, dan mungkin kamu juga."

Kiano menatapnya, jaraknya hanya beberapa langkah. "Mungkin. Tapi sekarang... aku siap. Siap untuk mengakui apa yang aku rasakan. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama."

Elara menunduk, hatinya bergejolak. Kata-kata itu menembus pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia sadar, sesuatu telah berubah. Tidak ada lagi kebencian yang sama. Ada rasa... ingin dekat, ingin mempercayai, ingin membuka hati.

Dan di situlah, di bawah cahaya bulan Bali, mereka berdua tahu bahwa kisah mereka belum berakhir. Justru, ini baru permulaan-permulaan yang lebih rumit, lebih menantang, tapi juga... lebih hangat.

Elara menatap layar ponselnya, jari-jarinya bergetar ringan saat membaca pesan masuk dari Kiano. "Ada rapat darurat besok pagi. Persiapkan semua data terbaru."

Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Lima tahun berlalu, dan kini bekerja sama dengannya lagi terasa seperti menapaki medan ranjau yang tak terlihat. Ada ketegangan, ada rasa penasaran, dan... rasa yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Di sisi lain, Kiano menatap layar ponselnya dengan wajah datar, meski hatinya sedikit berdebar. Ia tahu, meminta Elara menyiapkan semua data dalam waktu singkat bukan hanya soal proyek. Ini adalah tes-bukan untuk menantang profesionalisme, tapi untuk melihat seberapa jauh mereka bisa bekerja sama tanpa menyakiti diri sendiri.

Keesokan paginya, ruang rapat dipenuhi dengan tim yang cemas. Proyek baru ini adalah kampanye digital terbesar perusahaan tahun ini, dan klien menuntut kesempurnaan.

Elara menatap Kiano dari ujung meja. Ia melihat keseriusan yang sama seperti dulu-dan sesuatu yang berbeda: ada ketenangan, ada kesabaran, ada perhatian tersembunyi yang membuatnya sedikit... terganggu.

Rapat dimulai. Presentasi berjalan lancar, namun Kiano dan Elara terus saling menatap setiap kali memberikan ide. Ada permainan tak terlihat di mata mereka: tantangan terselubung, penilaian halus, dan-tanpa disadari-rasa saling menghargai mulai muncul.

Salah satu anggota tim, Rina, berbisik kepada rekan di sebelahnya, "Aku rasa mereka... berbeda sekarang. Ada chemistry, tapi bukan yang membuat takut. Lebih... hangat."

Elara mendengar bisikan itu dan menatap Kiano. Ia tak berkata apa-apa, tapi matanya menahan tawa. Kiano membalas dengan senyum tipis-senyum yang membuat pipinya terasa hangat.

Setelah rapat, mereka berdua tinggal di ruang kantor lebih lama. Lembur menjadi kebiasaan, dan setiap malam menghadirkan suasana yang berbeda: lampu lembut, komputer menyala, dan kota yang diam di luar jendela.

Elara menatap grafik pemasaran di layar, sementara Kiano duduk di sampingnya, menyesuaikan angka dan data. Mereka bekerja dalam diam, tapi ada keheningan yang nyaman, berbeda dengan masa lalu yang selalu penuh pertengkaran.

"Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau angka ini bisa lebih baik kalau kita mengubah pendekatan konten?" tanya Elara akhirnya, menoleh ke Kiano.

Kiano tersenyum ringan. "Karena aku ingin melihat bagaimana kamu memecahkan masalah sendiri. Aku penasaran."

Elara terdiam. Kata-kata itu bukan sindiran, bukan provokasi-melainkan ketertarikan yang jujur. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menanggapi terlalu dalam.

Malam itu, hujan turun deras. Mereka berdua terjebak di kantor karena banjir di jalan utama. Tidak ada transportasi yang bisa lewat.

"Kita harus menunggu sampai hujan reda," kata Kiano, menatap hujan yang mengalir deras di jendela.

Elara duduk di kursi, menatap kota yang basah. "Sepertinya aku akan menghabiskan malam di sini lagi," gumamnya.

Kiano duduk di seberangnya, menatapnya. "Kamu tidak takut?"

Elara tersenyum tipis, meski hatinya bergetar. "Takut apa? Aku sudah terbiasa dengan hal-hal yang membuatku tidak nyaman."

Mereka diam sejenak, hanya suara hujan yang terdengar. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada sindiran, tidak ada ketegangan. Hanya... ketenangan aneh yang mengikat mereka.

Keesokan harinya, proyek memasuki fase penting: pertemuan langsung dengan klien internasional. Mereka harus mempresentasikan strategi kreatif yang matang, dan setiap kesalahan bisa berakibat fatal.

Dalam perjalanan ke kantor klien, Kiano dan Elara duduk di mobil yang sama. Suasana sunyi, hanya suara mesin dan jalan basah.

"Kamu terlihat berbeda sekarang," kata Elara tiba-tiba, menatap Kiano. "Lebih... tenang, lebih dewasa."

Kiano menoleh, menatapnya, seolah menilai apakah ia harus tersenyum atau tetap serius. "Aku belajar. Dari pengalaman, dari kesalahan. Sama seperti kamu, aku kira."

Elara menunduk, jantungnya berdegup cepat. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi kata-kata itu menyentuh hatinya. Lima tahun lalu, mereka saling membenci. Sekarang, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang dulu ia anggap hanya dingin dan menyebalkan.

Pertemuan dengan klien berjalan menegangkan. Kiano dan Elara harus beradu argumen, menjelaskan strategi, dan menjawab pertanyaan sulit. Tapi mereka menemukan ritme yang baru: saling melengkapi, saling menutupi kelemahan, saling menyelamatkan.

Di satu titik, klien menanyakan kemungkinan risiko kampanye. Kiano siap menjawab, tapi Elara lebih cepat menyodorkan solusi kreatif yang belum terpikirkan oleh Kiano. Ia menatapnya dengan mata yang bercahaya-bukan marah, bukan iri, tapi kagum.

Kiano menahan senyum tipis. "Ternyata kamu memang hebat," gumamnya pelan, hanya untuk Elara dengar.

Elara menoleh, sedikit terkejut. "Aku juga bisa bilang begitu padamu," jawabnya cepat, menutupi rasa geli di pipinya.

Mereka saling bertukar pandang sebentar, dan ada sesuatu yang... berbeda. Ada percikan yang sebelumnya tidak pernah ada, sesuatu yang membuat kerja sama mereka lebih dari sekadar profesional.

Malam itu, di hotel tempat mereka menginap untuk presentasi, Elara berjalan di balkon, menatap kota yang berkilau di bawah lampu jalan. Hujan baru reda, udara segar dan hangat.

Kiano muncul di sampingnya, diam, menatap langit yang mulai bersih. "Kamu suka pemandangan ini?" tanyanya.

Elara tersenyum. "Aku suka... tapi lebih suka jika tidak sendiri."

Kiano menatapnya lebih lama, tidak berkata apa-apa. Diamnya berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Dan untuk pertama kalinya, Elara merasakan kehangatan di hatinya, bukan karena tugas, bukan karena profesionalisme, tapi karena kehadiran pria itu.

Beberapa hari kemudian, mereka harus menghadiri acara gala perusahaan klien. Elara mengenakan gaun merah panjang yang elegan, rambutnya diikat rapi. Kiano, setelan hitamnya sempurna, namun ada aura berbeda-lebih lembut, lebih perhatian.

Di acara itu, interaksi mereka berubah menjadi halus, dengan canda ringan dan pandangan yang saling menilai. Beberapa tamu memperhatikan, menyadari chemistry yang berbeda dari lima tahun lalu.

Saat malam mencapai puncaknya, mereka duduk di balkon lantai atas, menatap kota dari ketinggian. Suasana sunyi, hanya lampu kota yang berkilau.

"Kita... berbeda sekarang," kata Kiano pelan. "Bukan seperti dulu. Aku merasa... lebih nyaman denganmu."

Elara menatapnya, jantungnya berdetak kencang. "Aku juga," jawabnya. "Tapi... aku takut. Takut kalau ini hanya ilusi, atau kalau kita terluka lagi."

Kiano mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, kita hadapi bersama. Tanpa drama, tanpa topeng. Aku ingin mencoba, sekali lagi. Tapi kali ini... serius."

Elara menatap tangan itu, rasanya panas dan menenangkan sekaligus. Ia tahu, kata-kata itu bukan sekadar janji-ada niat, ada keberanian, ada perasaan yang tulus. Ia mengambil tangan Kiano, menggenggamnya erat.

Malam itu, mereka duduk diam, tangan saling menggenggam, menyadari satu hal: masa lalu yang penuh luka tidak akan menghentikan mereka untuk mencoba lagi. Justru, masa lalu itu menjadi pelajaran, fondasi yang membuat mereka lebih kuat dan lebih siap untuk menghadapi perasaan yang muncul dari reruntuhan kebencian lama.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Liu mencari Jia, cinta monyetnya yang hilang selama delapan tahun, hingga bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua, yang amnesia dan menjadi kekasih Lay, ternyata adalah Jia yang menyamar. Saat ingatan Mianhua pulih lewat hipnotis, konflik batin muncul karena Liu telah bertunangan. Meski Lay berusaha mengikatnya, Mianhua memilih pergi demi kebahagiaan semua orang. Takdir mempertemukan mereka kembali di makam Chen, hingga restu ayah membawa mereka ke pelaminan.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Demi menghindari mertua yang kejam, Ayu mencari perlindungan di rumah pamannya, Hideki. Namun, sebuah insiden fatal di bawah selimut yang sama menghancurkan segalanya. Kini pernikahan mereka hancur, dan Ayu diusir tanpa sempat menemui suaminya. Meski merasa hina, Ayu terpaksa tinggal bersama Hideki yang kini bersikap dingin, tak lagi lembut seperti saat merawatnya sejak kecil. Rahasia apa yang Hideki sembunyikan? Akankah Ayu memilih kembali atau terjebak cinta terlarang?
Sampul Novel Memikat Hati Pangeran Kelas
9.2
Vindreya Sanjaya, gadis 17 tahun yang ceria namun sedikit urakan, bertekad menaklukkan hati dua pangeran di kelasnya. Ada Kenzo yang dingin dan antisosial, serta Elvano yang populer dan berbakat seni. Perjuangan cintanya penuh aksi kocak hingga momen berbahaya yang mengancam nyawa. Saat takdir mendekatkan mereka, Kenzo dan Elvano justru berbalik mencintai Vindreya. Terjebak dalam cinta segitiga rumit, mereka harus memilih antara pengorbanan atau kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Tepat di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim undangan pernikahan dan rekaman suara yang menghinaku karena trauma masa lalu. Terungkap pula bahwa dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain. Dia bermimpi membangun dinasti baru yang megah, namun aku akan datang ke pesta pernikahannya bukan untuk memberi restu, melainkan menghancurkan segalanya hingga menjadi abu.
Sampul Novel NODA DALAM RUMAH TANGGA
9.2
Alka menyerahkan kartu berisi saldo yang akan terus bertambah setiap hari kepada Mira. Setelah memberikan kode akses 222222, ia menginstruksikan istrinya untuk menggunakan uang tersebut sesuka hati. Meski sempat ragu saat memegang gagang pintu, Alka hanya mengucapkan selamat malam dengan kaku sebelum akhirnya melangkah pergi. Mira pun terpaksa menghabiskan malam pertama mereka dalam kesendirian setelah sang suami memilih untuk meninggalkannya.
Sampul Novel Pembalasan Carly Hamilton
8.5
Carly Hamilton, seorang mantan penjaga bar yang hidup dalam kemiskinan, terjebak dalam pernikahan paksa dengan wanita dari keluarga konglomerat. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cacian menyakitkan dari orang-orang di sekitarnya. Berbagai ujian berat terus menghantam hidupnya hingga sebuah titik balik besar terjadi. Saat keberuntungan berpihak padanya, Carly bangkit untuk membalas dendam dan membuat mereka yang merendahkannya berlutut memohon ampun.