Sampul Novel Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

7.9 / 10.0
Terjebak perjodohan hingga bercerai, Elara dan Kiano bertemu kembali dalam proyek bisnis setelah lima tahun. Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku adalah romance novel tentang benci jadi cinta. Temukan kisah mereka di web novel modern ini dan baca buku online free sekarang.
Ringkasan Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku
Elara dan Kiano terikat pernikahan karena perjodohan hingga akhirnya memilih bercerai akibat kebencian yang mendalam. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah proyek kerja yang sama. Ketegangan dan sindiran masa lalu kembali muncul, namun perlahan mereka mulai melihat ketulusan yang dulu tersembunyi. Kini, benih cinta tumbuh dari sisa amarah. Mampukah mereka membuka hati atau justru kembali terjebak dalam luka lama yang belum sembuh?
Baca Selengkapnya

Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku Bab 1

Elara menatap cermin di kamarnya, jarinya menekan ringan bingkai wajahnya, mencoba menenangkan kegelisahan yang menumpuk sejak pagi. Hari ini bukan hari biasa. Bukan hari biasa bagi siapa pun-apalagi baginya. Karena hari ini, hidupnya akan berubah selamanya.

Keluarganya telah memutuskan. Sejak kemarin, kabar itu tersebar di seluruh rumah besar keluarga Marwanto: Elara dijodohkan dengan seorang pria asing. Seseorang yang tak pernah ia temui, yang wajahnya hanya samar di foto yang dikirim melalui pesan keluarga. Namanya-Kiano Ravindra.

"Ini gila," Elara bergumam pada dirinya sendiri, suaranya setengah bergetar. Ia menatap keluar jendela, kota Jakarta yang riuh seakan tak peduli dengan drama kecil dalam kamarnya. "Aku tak kenal dia. Kenapa aku harus menikah dengannya?"

Ibu Elara masuk, langkahnya pelan namun pasti. "Elara, jangan bersikap kekanak-kanakan. Keluarga sudah memutuskan. Kiano pria yang baik, anak dari keluarga terhormat. Ini kesempatanmu untuk... stabil dalam hidup."

Elara menahan napas. "Stabil? Ibu, aku tak butuh stabil kalau harus hidup tanpa cinta. Aku... aku tak ingin." Suaranya meninggi, tapi tetap tertahan oleh rasa hormat yang mengikatnya.

Ibu menghela napas panjang. "Cinta itu bisa tumbuh, Nak. Tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."

Elara menunduk, namun hatinya tetap memberontak. Kata-kata ibu terdengar seperti mantra yang gagal menenangkan. Ia tahu, kata-kata itu tidak akan mengubah kenyataan: besok, ia harus menikah dengan orang yang tidak pernah ia pilih sendiri.

Kiano Ravindra duduk di ruangannya di apartemen tinggi keluarga Ravindra, menatap layar ponsel yang menampilkan profil Elara. Ia tidak tahu harus merasa apa-penasaran, cemas, atau marah. Ia bukan pria yang percaya pada cinta instan, apalagi dijodohkan tanpa persetujuannya.

"Ini sungguh... membosankan," bisiknya. Tangannya mengetuk meja kayu dengan irama gelisah. "Harusnya aku punya pilihan sendiri. Kenapa mereka selalu memutuskan tanpa menanyakanku?"

Sekali pun begitu, ada sesuatu dalam wajah Elara yang membuatnya berhenti sejenak: senyum kecil yang menahan amarah, mata yang menatap seakan menantang dunia. Ada ketegasan yang tak biasa pada wanita itu, dan Kiano merasa... sedikit terganggu.

Hari pernikahan datang lebih cepat daripada yang bisa mereka bayangkan. Elara berdiri di aula megah, gaun putih menjuntai dengan elegan, tapi hatinya berdegup cepat. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh tangan orang lain.

Di ujung lorong, Kiano berdiri kaku dalam jas hitam, wajahnya datar, namun ada kilatan aneh di matanya-seolah menilai, menimbang, tapi tak bisa memutuskan apa-apa.

Saat mereka bertemu di altar, dunia di sekelilingnya seperti memudar. Elara menatap Kiano, dan dalam tatapan itu ada pertanyaan tak terucap: siapa sebenarnya pria ini? Dan Kiano, menatap Elara, hanya bisa menjawab dengan dingin: siapa sebenarnya wanita ini yang tiba-tiba harus menjadi istrinya?

Pernikahan itu... aneh. Sebuah kontrak kehidupan yang tak diinginkan, diikat dengan sumpah yang terasa berat dan penuh kepura-puraan. Kata-kata sakral diucapkan, namun hati mereka menolak menerima.

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan ketegangan. Setiap percakapan berubah menjadi debat, setiap sentuhan menjadi peringatan. Mereka saling membenci dengan cara yang hampir elegan-tidak kasar, tapi menusuk di tempat yang paling sensitif.

Elara menulis di jurnalnya setiap malam: Aku membenci pria ini. Tapi mengapa aku merasa... terganggu setiap kali dia tersenyum sinis?

Kiano, di sisi lain, menahan frustrasi yang sama. Elara terlalu keras kepala. Terlalu percaya diri. Tapi anehnya... aku tak bisa berhenti memikirkan wajahnya.

Bulan-bulan berlalu, dan hubungan mereka tetap dingin. Tidak ada cinta, tidak ada kompromi. Mereka hidup bersama karena kewajiban, bukan karena pilihan. Semua orang di sekitar mereka menganggap mereka pasangan sempurna, tapi hanya mereka yang tahu betapa hampa rumah itu tanpa kehangatan.

Konflik yang kecil pun berkembang menjadi ledakan besar. Sebuah perbedaan pendapat tentang acara keluarga berubah menjadi pertengkaran besar, dengan kata-kata yang lebih tajam daripada pisau. Akhirnya, perceraian menjadi jalan keluar yang tak terhindarkan.

Di pengadilan, mereka duduk berhadap-hadapan untuk terakhir kalinya. Tidak ada air mata, tidak ada penyesalan yang nyata-hanya ketegangan yang membekas.

"Ini sudah selesai," Elara berkata singkat, menatap Kiano dengan mata yang penuh campuran kebencian dan kelegaan.

"Ya," jawab Kiano, suaranya datar, hampir seperti suara robot. "Selesai."

Mereka berpisah, membawa luka masing-masing. Dunia mereka kembali normal, atau setidaknya terlihat normal bagi orang lain. Tapi di dalam hati, ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

Lima tahun kemudian, takdir mempermainkan mereka lagi. Bukan di aula pernikahan, bukan di rumah keluarga, tapi di sebuah proyek besar di Jakarta. Elara kini menjadi kepala tim kreatif di perusahaan terkemuka, sementara Kiano memimpin divisi pemasaran di perusahaan yang sama.

Mereka bertemu di ruang rapat pertama proyek itu. Saat Elara melangkah masuk, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dan saat Kiano menatapnya, ada kilatan aneh yang tak bisa ia jelaskan-antara rasa kesal dan... sesuatu yang lain.

"Sepertinya kita harus bekerja sama lagi," ujar Kiano, suaranya tetap dingin, tapi ada nada yang sedikit berbeda dari biasanya.

Elara menatapnya balik, senyumnya tipis, tapi matanya berbicara: aku tidak takut padamu.

Hari-hari berikutnya penuh ketegangan. Sindiran lama muncul lagi, canggung seperti musik yang salah nada. Namun, seiring waktu, mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain-sisi yang dulu tersembunyi di balik kebencian.

Elara melihat bahwa Kiano ternyata bukan sekadar pria dingin; ada ketulusan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kiano menyadari bahwa Elara bukan hanya wanita keras kepala; ada kelembutan yang ia sembunyikan di balik keberanian dan rasa sakitnya.

Pertemuan demi pertemuan, konflik demi konflik, lambat laun menumbuhkan sesuatu yang tak pernah mereka duga: rasa rindu, rasa peduli, dan-tanpa mereka sadari-benih cinta yang mulai tumbuh dari abu kebencian lama.

Namun, tak mudah bagi mereka. Masa lalu yang penuh luka, kebencian yang dulu membara, dan harga diri yang tinggi menjadi rintangan terbesar. Setiap senyum yang tulus disertai curiga, setiap perhatian disertai keraguan. Mereka belajar, dengan cara yang lambat dan menyakitkan, bahwa membuka hati setelah terluka bukanlah hal mudah.

Di satu sore, saat hujan deras mengguyur kota, Elara dan Kiano terjebak dalam lift kantor yang macet. Tidak ada ruang untuk menghindar, tidak ada kesempatan untuk menyembunyikan emosi.

"Hujan di luar sepertinya ingin kita berbicara," kata Kiano, suaranya lembut, bukan lagi dingin.

Elara menatapnya, jantungnya berdetak kencang. "Mungkin... mungkin sudah waktunya kita bicara dari hati ke hati, tanpa topeng."

Mereka diam sejenak. Hujan di luar seolah menjadi saksi dari momen rapuh itu-dua orang yang dulunya saling membenci, kini belajar memahami satu sama lain.

Dan di situlah, untuk pertama kalinya, Elara merasa... bahwa kebencian yang dulu mengikat mereka perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih hangat, lebih lembut, dan jauh lebih berbahaya: cinta.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.
Sampul Novel Gairah Nakal Remaja
9.2
Kedewasaan seseorang tidak selalu diukur dari umur, melainkan dipengaruhi faktor lingkungan dan pergaulan. Kisah ini mengajak pembaca bernostalgia ke masa SMA hingga perkuliahan yang penuh gejolak hasrat serta cinta masa muda. Disajikan secara utuh untuk membangkitkan kenangan indah masa lalu, narasi ini juga mengandung konten eksplisit pada bagian tertentu. Pembaca diharapkan bijak dalam memilah bab karena terdapat adegan khusus dewasa dalam alurnya.
Sampul Novel Menghadapi Kematian di Depan Mata
8.2
Terjebak situasi berbahaya saat memesan obat, seorang wanita mendapati pria mabuk mengetuk pintunya. Di kehidupan lalu, keputusannya memanggil kedua kakaknya berujung petaka karena mereka melewatkan pentas adik angkat mereka, Hilda, yang berakhir melukai diri sendiri. Akibatnya, ia disalahkan, diikat, dan diserahkan ke pria mabuk. Setelah kembali ke masa lalu, ia memilih melapor polisi dan membiarkan kakak-kakaknya menonton drama Hilda hingga mereka menyesal.
Sampul Novel Messy LOSY
9.3
Keenan adalah pria munafik yang kerap menyiksa Dilara secara fisik dan mental. Meski terus disakiti, Dilara awalnya bertahan dalam hubungan toksik yang penuh pengkhianatan serta perselingkuhan ini. Saat rasa lelah memuncak dan ia berniat pergi, Keenan justru terus mengekang dan memaksanya menetap. Di tengah luka dan air mata yang jauh dari ekspektasi indahnya cinta, mampukah Dilara bangkit melawan rasa sakit demi menemukan kebahagiaan sejatinya?
Sampul Novel SELINGKUH
8.9
Lima tahun membina rumah tangga, pernikahan Rosa terasa hampa karena belum dikaruniai buah hati. Keadaan kian memburuk akibat sikap kasar Indra, suaminya, yang membuat batinnya kian tersiksa. Di tengah keputusasaan itu, sosok Bian hadir membawa warna baru. Lelaki tersebut menawarkan kebahagiaan serta kenyamanan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari sang suami. Rosa kini terjebak dalam dilema antara komitmen dan pelarian cinta yang manis.
Sampul Novel Terjerat Kontrak Cassanova
9.7
Javas Wira Sastro yang bosan dengan hidupnya menjerat Zehra Deris dalam sebuah kontrak saat gadis itu terdesak masalah. Meski masa berlaku kesepakatan mereka berakhir, Javas menolak melepaskan Zehra dan justru menuntut pertunangan. Hubungan penuh gairah dan dominasi ini menyeret keduanya ke dalam konflik perbedaan status yang rumit. Kini, mereka harus menentukan pilihan sulit: tetap tenggelam dalam drama cinta dewasa yang membara atau kembali menghadapi realita.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan