Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

8.0 / 10.0
Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.

MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT Bab 1

“Aku menunggu dudamu, Mas,” ucap Marta sambil memeluk lelaki di sampingku saat kami masih berdiri di pelaminan hari ini..

Gadis cantik dan bohay itu menatapku nanar, tangannya mengenggam erat Mas Rio. Lelaki yang beberapa jam lalu sah menjadi suamiku itu, pun membalasnya tak kalah mesra. Air mata tak sengaja ikut luruh menyelami kesedihan mereka.

Cemburu? Tentu saja tidak. Aku tahu mereka memang telah berpacaran, bahkan biasa ikut menemani makan di kala mereka bertemu. Toh, kami memang berteman.

Aku dan Mas Rio dijodohkan. Ayah kami bersahabat sejak kecil. Dan anehnya, perjodohan itu berlangsung sejak masih orok katanya. Hingga di sinilah kami terjebak dalam situasi rumit.

Semua tatap mata teman-teman dan orang yang tahu tentang soal pertemanan ini ikut mengadili, seakan memvonis akulah sahabat tak punya nurani.

“Dasar pagar makan tanaman!”

“Perempuan nggak punya malu.”

“Nggak punya hati.”

“Kecentilan.”

“Buang aja kelaut teman kayak gitu.”

“Mending berteman sama monyet daripa teman seperti ini.”

Berbagai hujatan dari teman dunia nyata dan dunia maya menghiasi gawaiku, meski tak sedikit juga yang membela. Saat mengaktifkan benda canggih itu usai acara pernikahan mewah hari ini.

Ternyata, ribuan komentar nyinyir muncul saat fotoku yang tadi siang diunggah di facebook dengan caption ‘Sahabatku mengambil calon suamiku’. Entah siapa yang mengunggahnya? Sungguh bagus judul itu difilmkan di TV ikan teri.

“Kamu puas sekarang?” Mas Rio tiba-tiba muncul dengan wajah penuh amarah, tetapi tak mengurangi ketampanannya sama sekali.

“Untuk?” tanyaku cuek sambil menarik guling memberi dia ruang untuk berbaring di tempat tidur kosong sampingku, yang masih dipenuhi bunga. Ada setitik harap dia berubah pikiran, meski tahu sangat mustahil.

“Kupastikan pernikahan bodoh ini nggak akan lama. Dan aku akan kembali ke Marta!” tegasnya lagi penuh penekanan lalu mengambil selimut dan bantal, kemudian menggelarnya di lantai depan TV.

Ngapain juga dia bersikap lebay gitu? Bukannya kita sama-sama tak mampu menolak keputusan ini?

Halo, apa dia pikir aku nggak punya cita-cita apa? Apa dia kira aku nggak punya pria idaman? Apa? Ah, sudahlah ... toh, nyatanya aku telah jadi istri dari pria yang kupastikan tak mengharap diri ini.

“Belum bisa tidur?” tanyaku saat dia bolak-balik bak roti gulung dan mengganti chanel TV berulang-ulang.

Entah siaran apa yang dicarinya. Sekamar sekarang pun dipastikan sebagai formal, pelengkap rangkaian pernikahan utuh di depan orang tua dan keluarga. Sungguh, pembohongan yang masif dan teratur.

“Hmm ...,” jawabnya tanpa membalikkan badan.

Semenjak mengetahui perjodohanku dengannya, tak pernah membayangkan malam pertama seperti pengantin pada umumnya. Dia bereaksi seperti itu saja walau sangat datar, sudah suatu kesyukuran. Setidak, aku merasa tak bersama dengan patung di malam pengantin.

“Makan, yuk!” ajakku setelah dari dapur. Dua porsi nasi lengkap, kuletakkan tak jauh darinya. Ada rasa iba melihat dia menzalimi cacing dalam perutnya. Apa dia mau bunuh diri dengan pernikahan ini? Sungguh lemah!

“Hidup itu dibawa santai aja. Kalau dibikin susah, yah, pasti ribetlah,” ujarku lagi sambil melahap daging rendang yang kupanaskan sisa tadi siang. Kemudian menyeruput es jeruk yang sontak mendinginkan suasana kamar yang sedari tadi terasa pengap. Entah kenapa suhu AC tak ada rasanya sama sekali, padahal sudah distel paling dingin.

Pelan dia bangkit, tanpa komentar meraih piring dan jus di dekatnya. Aku hanya senyum dalam hati melihat dia makan dengan lahap. Pasti tak sanggup menahan demo cacing dari perutnya yang sedari tadi bunyi kriuk kriuk.

Benarlah kata orang, perut kosong bisa membuat otak udang, ditambah dengan dompet yang besar doang, tapi hampa melompong. Ditambah pasangan dilarikan orang, dipecat sama atasan. Penderitaan apalagi yang kamu dustakan? Hanya orang beriman yang sanggup sabar di situasi seperti itu.

“Aku lihat kamu tak punya beban.” Ucapannya tak seketus tadi. Mungkin dia sudah berpikir jernih setelah perutnya terisi.

“Memang aku bisa apaan?”

“Protes kek, ngamuk kek. Lari, atau ... apalah.”

“Kamu sendiri?" Kalimatku pasti menohok hatinya, sekaligus jawaban dari pertayaan tadi.

Kami berada di situasi sama-sama tak mampu menolak dengan rasa bakti kepada orang tua.

***

Sebulan di rumah hasil keringat Mas Rio sejak membujang. Mungkin ini istana kecil perencanaannya dan Marta, untuk merenda hari setelah menikah. Itu terlihat dari penataan ruang khas sentuhan wanita. Artistik, rapi, menarik, mewah, dan elegan.

Kami seatap, tapi berbeda kamar. Itu jugalah salah satu penyebab dia berkeras memboyongku keesokan hari setelah akad dengan alasan bulan madu.

Tak apalah, ini lebih baik daripada di tempat orang tua namun harus terus berlagak mesra. Sungguh menyiksa menjadi pesinetron, berakting bahagia walau sebenarnya hati menangis.

“Pakaian Mas, udah aku siapin di tempat biasa,” ujarku sambil menyendokkan nasi di piringnya.

Meski kami tak layak disebut suami istri, tetapi aku selalu mengurus makan, pakaian, dan semua isi rumahnya. Hanya Allah yang tahu di mana akhir rutinitas ini berlangsung.

Mas Rio mengangguk dan kembali ke layar ponselnya. Siapa lagi yang diajak chatingan kalau bukan Marta?

Hampir sepulang kerja, bahkan berangkat lagi ke kantor mereka saling berkomunikasi. Aku tidak tahu kapan dia tertidur, yang pasti dan jelas, telinga ini mendengar percakapan haha hihi mereka yang hanya bersekat dinding dengan kamarku. Sampai aku terlelap, bahkan suara itu kadang membangunkan di kala subuh.

“Besok kamu nggak perlu mengurusku lagi,” ujarnya di sela sarapan.

“Nggak perlu ambil pembantu, Mas! Aku bisa mengatur rumah dengan kerjaan kok,” sanggahku percaya diri. Bukankah mengambil orang lain akan membuka aib rumah tangga ini? Dan berita itu bisa saja sampai ke telinga orang tua kami.

“Marta akan tinggal di sini,” ucapnya tanpa beban.

Melihat sikap Mas Rio, sama sekali tak kaget dengan kalimat pria yang bergelar suamiku saat ini. Hanya saja belum siap ketahuan orang tua.

“Mama, papa?”

“Mereka nggak akan tahu, kalo kamu nggak cerita.” Mas Rio menatapku tajam.

“Kami akan menikah siri nanti. Jadi, nggak ada yang kumpul kebo,” ujarnya lagi memasukkan nasi goreng terakhir di mulutnya.

Dia tahu pikiranku, mungkin karena selalu melihatku pakai jilbab kemana-mana bahkan di depannya.

“Bersikap baiklah pada Marta,” ujarnya lagi sebelum melangkah ke luar.

Akhirnya, sesuatu yang dikhawatirkan itu terjadi. Walau dari awal telah mewanti-wantinya. Kenapa ada gores perih di hati? Apa karena aku memikirkan perasaan orang tua kami? Atau memang murni dari diri yang lemah ini?

Ya, Rabbi, Engkau tak akan menguji seseorang di luar dari kemampuannya. Mudahkanlah hamba melalui ujian ini. Amin.

“Silakan masuk, Mar,” ujarku pada Marta saat ia turun dari mobil.

Sejak pernikahanku dengan Mas Rio, kami tak pernah lagi saling menghubungi. Mungkin ini saat memperbaiki persahabatan itu kembali, apalagi dia telah jadi maduku.

Wanita seksi itu tak menjawab, langsung masuk kamar diikuti Mas Rio di belakangnnya yang menarik dua koper besar.

Sebagai anak yang dididik adab sopan santun, aku tetap menyiapkan makanan di atas meja. Meski tidak yakin mereka akan mencicipinya.

Hampir sejam menunggu di meja makan, kuputuskan ke kamar setelah tak ada tanda-tanda mereka akan keluar. Hati ini terasa tercubit, entah bagaimana caraku menghadapi dua manusia beku seperti es nantinya.

Sesampai di kamar, entah bagaimana lagi menggambarkan suasana hatiku mendengarkan tawa cekikikan di ruang sebelah. Antara marah, sedih, merinding, dan camburu bercampur menjadi satu. Namun, tidak mampu berbuat apa-apa.

***

Setelah azan Magrib, aku terbangun. Kepala terasa berat karena tidak biasa tidur jam segini.

Saat ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu, tak sengaja melihat tampilan diri di cermin. Mata tampak bengkak, ternyata sekuat apa menyabarkan diri, air mata tetap tak mau diajak damai. Sungguh lemah diri ini!

Setelah melaksanakan pengaduan panjang kepada Rabb-ku. Rasa lapar menuntun kaki ke dapur.

Aktivitas bercanda di sela makan Mas Rio dan Marta terhenti setelah menyadari kehadiranku. Suasana yang tadi ramai dari hasil pantulan suara mereka tiba-tiba lenyap, tergantikan dengan suara pergerakanku yang mencuci tangan di wastafel, mengambil piring, dan menarik kursi duduk bergabung di meja makan.

“Ini yang terakhir aku memakan masakanmu, selanjutnya Marta akan mengurus semuanya,” ucap Mas Rio menatap mesra wanita seksi di depannya. Tangan mereka saling meremas. Sungguh aku hanya dianggap setan menjadi yang ketiga.

“Pokoknya, biar aku semua yang mengatur. Termasuk letak kursi dan barang-barang lainnya.” Kembali aku tak bersuara, suara Marta setajam tatap matanya ke arahku, sinis dan meremehkan. Lagian buat apa protes? Paling hanya dianggap seperti suara kentut. Kini aku sadari persahabatan ini tak bisa lagi diperbaiki.

Gegas menyelesaikan makan, lalu mencuci tangan, serta piring yang kupakai tadi. Tak ingin rasanya berlama-lama menyaksikan dua manusia berakting lebay bermesraan.

Aku tahu hanya memanasiku. Tanpa mereka pikir, meski tak dipanasi pun, aku telah terbakar. Hati ini seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menjaga martabat ibu angkatnya. Namun, kesalahpahaman besar membuat Alex membencinya hingga bersikap kasar. Gadis tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut, sambil tetap menyembunyikan rahasia besar mengenai jati diri aslinya. Akankah Alex berhasil mengungkap misteri yang tersimpan rapat itu? Ikuti kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka yang kini tersedia secara lengkap di Bakisah.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.1
Sepulang berwisata dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular misterius yang diyakini bisa memberikan kemudaan abadi. Syaratnya mengerikan: patung itu harus diberi sesembahan darah menstruasi gadis perawan. Ibu memaksaku memberikan darah serta memotong rambutku untuk dililitkan pada kepala ular tersebut. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tidak perawan sejak kuliah. Dua bulan berlalu, petaka pun tiba saat kulit ibu mulai ditumbuhi sisik biru dan dia mulai berganti kulit layaknya ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan