Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan

Ahli Waris yang Terlupakan

9.6 / 10.0
Dikhianati oleh keluarga dan tunangannya sendiri, sang protagonis dipaksa menjadi sandera kelompok mafia saingan demi menebus kesalahan fatal adik tirinya, Emily. Sadar akan kelicikan mereka, ia memutuskan memutuskan hubungan selamanya. Sebelum diserahkan dalam lima hari, ia membagikan seluruh asetnya—kasino, uang, hingga cincin pertunangan—kepada mereka yang serakah. Saat keluarganya tersenyum puas menerima hadiah tersebut, mereka tidak menyadari bahwa kepergian sang ahli waris adalah awal kehancuran total mereka.

Ahli Waris yang Terlupakan Bab 1

Obat-obatan itu menghilang pada saat salah satu transaksi keluarga kami, dan semua orang tahu itu kesalahan adik tiriku, Emily.

Sekarang, pihak saingan kami menuntut seseorang dikirim kepada mereka, ditahan sebagai sandera sampai utang itu dilunasi.

Tunangan dan keluargaku semuanya sepakat bahwa orang itu harus aku.

"Emily sudah terluka dalam misi itu, kamu lebih kuat. Kamu pasti bisa mengatasinya sementara kami mencari solusinya."

Aku tahu saat ini akan tiba, makanya aku menandatangani namaku.

Dalam lima hari, aku akan dikirim pergi. Aku telah memutuskan bahwa tidak peduli apa yang terjadi, entah aku hidup atau mati, aku sudah muak dengan keluarga dan tunanganku.

Pada hari-hari terakhir itu, aku memberikan semua yang aku miliki.

Mengenai kasino? Kuberikan pada adik angkatku yang selalu mengincarnya dengan iri.

Uang di rekeningku? Untuk ayahku yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengingatkanku betapa tidak bergunanya aku.

Cincin pertunangan? Kukembalikan pada pria yang selama ini hanya pura-pura.

Mereka tidak menyadari ada yang janggal. Mereka hanya tersenyum, senang karena tiba-tiba aku menjadi penuh perhatian.

Ketika mereka menyadari aku telah pergi untuk selamanya, dan Emily yang rapuh adalah kehancuran bagi mereka, apakah mereka masih akan tersenyum seperti itu? Apakah mereka masih akan terlihat begitu puas?

Sudut pandang Aria.

Aku menandatangani namaku dari geng saingan, setuju untuk diserahkan kepada mereka dalam lima hari sebagai tawanan, sampai keluargaku melunasi utang yang mereka miliki.

Setelah lima hari, aku akan menjadi seorang tahanan. Aku tidak tahu apa yang menantiku, akankah mereka membunuhku? Atau lebih buruk, yaitu melecehkanku?

Setelah menandatangani kontrak, aku pergi menemui Ayah dan Ibu.

Mereka duduk di ruang tamu, sedang membahas ke mana mereka akan pergi saat liburan di bulan Maret. Emily, putri adopsi keluarga kami sedang duduk di samping mereka.

Mereka tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh ancaman dari pihak lawan. Ngapain pula mereka harus khawatir? Sebab mereka sudah menemukan "solusi".

Yaitu... aku.

Padahal Emily-lah yang menyebabkan kekacauan ini.

Dia sukarela mengawasi pengiriman obat itu tetapi entah bagaimana disergap oleh geng lain.

Emily terluka, kakinya patah. Selain itu, seluruh kiriman itu dicuri.

Tidak lama kemudian, pihak Keluarga Ricin menuntut agar kami mengembalikan uangnya. Namun, Ayah sudah membelanjakannya untuk mengambil alih sebuah klub lain dan sebuah rumah.

Jadi, pihak Keluarga Ricin menawarkan solusi lain, yaitu menyerahkan seorang anggota Keluarga Javiera sebagai tawanan sampai utang dilunasi. Biasanya, orang yang menyebabkan masalah yang menanggung akibatnya.

Namun orang tuaku, seperti biasa, luluh saat melihat kaki Emily dalam gips.

Jadi mereka memutuskan bahwa aku adalah pilihan yang lebih tepat untuk dikirim. Tunanganku yang bernama Damian, ikut menyetujuinya.

"Emily sudah terluka demi keluarga. Kalau kamu mengirimnya, itu sama saja dengan hukuman mati. Tapi kamu beda, Aria. Saat ini kamu sepenuhnya mampu jaga dirimu sendiri. Selain itu, mereka nggak akan menyakitimu. Mereka masih perlu mengandalkanmu untuk uang itu."

Mereka tidak akan menyakitiku? Aku hampir tertawa saat mereka mengatakannya.

Apakah tunanganku dan keluargaku benar-benar senaif itu, atau mereka terlalu buta untuk melihat kebenaran?

Mungkin memang mereka tidak akan membunuhku. Namun, bagaimana jika mereka melecehkanku? Menyiksaku? Merendahkanku? Siapa yang bisa menjamin itu?

Hanya karena Emily "kebetulan" melukai kakinya, aku yang harus menanggungnya? Seolah luka itu tidak patut dipertanyakan?

Namun, aku tetap menandatangani namaku.

Karena selama bertahun-tahun, aku sudah tahu betul sifat keluargaku. Ibu dan Ayah begitu dibutakan oleh keluhan rapuh Emily yang dipentaskan sehingga mereka tidak bisa melihat apa pun lagi.

Biarlah...

Aku akan meninggalkan semua yang pernah mereka berikan kepadaku, setiap hal yang aku kumpulkan di bawah kemurahan hati mereka yang enggan. Aku akan menjadi sandera... seperti yang mereka inginkan.

Sementara itu, aku akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan kiriman itu. Jika Emily bukan korban yang tidak bersalah seperti yang dia pura-purakan, berarti aku akan memastikan bukti itu mendarat di tangan orang tuaku sebagai hadiah terakhir dariku. Aku jadi penasaran bagaimana perasaan mereka ketika mereka menyadari Emily tidak sepolos yang mereka yakini?

Wajah ayahku menggelap saat aku berjalan menuju ruangan. "Jangan coba bujuk kami supaya menyerahkan Emily pada mereka. Dia sudah terluka, dia butuh dukungan keluarga sekarang."

Ibuku ragu, tetapi tetap memihak ayah. "Aria, tolong, lakukan saja ini demi kami kali ini. Emily sudah kasih kontribusinya."

Emily mulai terisak. "Kak, ini salahku. Kalau bukan karena aku, kamu dan Ayah nggak akan berdebat. Kamu nggak perlu pergi... "

Ibuku menghiburnya, "Emily, Sayang, jangan salahkan dirimu. Kamu sudah menanggung rasa bersalah sejak hari itu. Kamu bahkan bersikeras meninggalkan rumah sakit cuma demi bersama kami. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup."

Emily masih terisak. Namun, dalam waktu singkat, aku bersumpah aku melihat senyum sinis terlintas di wajahnya, seolah dia membual kepadaku dan menikmati keberhasilannya. Meskipun dia menyebabkan kerugian kesepakatan hingga belasan triliun bagi keluarga kami, dia tetaplah permata berharga bagi Ayah dan Ibu.

Dulu, aku akan berdebat dengan mereka. Aku akan mengatakan bahwa Ayah tidak adil, Ayah harusnya menghukum orang yang membuat kesalahan tidak peduli apa pun alasannya. Namun kini? Aku tidak merasa ingin berdebat lagi.

"Sebenarnya, itu sebabnya aku datang mencari kalian," ucapku memotong ketegangan itu. "Aku sudah menandatangani perjanjian, aku putuskan buat pergi."

Mata Ibu melebar, rasa tidak percaya tertulis di seluruh wajahnya. "Aria, kamu yakin?"

"Aku yakin."

Ayah mengangguk perlahan, menandakan dia setuju. Sementara Emily duduk tertegun di sana, jelas terkejut melihat betapa mudahnya aku setuju.

"Dan juga... " Aku berhenti sejenak, lalu menatap mata mereka, "Aku sudah memutuskan untuk memberikan Kasino Jaya pada Emily."

Ayah sudah lama ingin aku memberikan kasino itu padanya. Dia pernah berkata, "Aria, Emily ini putri angkat kami, kami nggak mau dia merasa kurang darimu. Aku akan beri aset Keluarga Javiera lainnya padamu saat waktunya tiba, tapi sampai saat itu, bisakah kamu berikan kasino itu pada Emily? Dia sudah lama nggak terlibat dalam bisnis keluarga."

Tidak terlibat? Emily tidak terlibat karena dia tidak becus mengurus apa pun. Selain itu, jangan lupa, Emily tidak pernah pandai mengelola uang. Tidak peduli seberapa banyak yang Ayah atau aku berikan padanya, dia akan menghabiskannya dalam hitungan hari. Bisnis macam apa yang bisa berhasil di tangannya?

Namun, kali ini berbeda. Aku sudah memutuskan. Begitu aku pergi, aku tidak akan kembali. Meski utangnya lunas, aku tetap pergi. Jadi, tidak ada gunanya lagi menahan kasino itu dari Emily. Biar Ayah lihat sendiri apa yang Emily mampu lakukan.

Jujur saja, aku bertanya-tanya apakah akan tersisa kasino saat dia selesai atau hanya properti lain yang dijual untuk menutup kerugian?

"Benarkah!?" Emily melompat dari sofa, matanya melebar penuh kegembiraan. Lalu, menyadari reaksinya terlalu bersemangat, dia cepat-cepat duduk kembali. "Nggak, Kak. Kamu jangan berikan kasino itu padaku. Aku nggak pantas mendapatkannya... "

"Omong kosong," potong Ayah. Suaranya tegas. "Kamu pantas mendapatkan segalanya, kamu juga bagian Keluarga Javiera."

Aku mengeluarkan dua kontrak dari tasku, satu untuk perjanjian sandera, yang lainnya untuk pengalihan kepemilikan kasino. Aku sudah menandatangani keduanya.

"Emily," panggilku. Kemudian aku mendorong kontrak kasino itu melintasi meja. "Tanda tangan ini, maka kasino itu akan jadi milikmu."

Emily menandatangani tanpa ragu, sementara Ibu dan Ayah berseri-seri karena bangga.

Aku tersenyum juga. Untuk pertama kalinya, aku merasa lega. Aku tidak perlu lagi memikul beban untuk menjaga keutuhan keluarga ini. Mulai hari ini, apa pun yang terjadi pada kasino, tidak akan pernah menjadi masalahku lagi.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Ahli Waris yang Terlupakan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.6
Hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi mimpi buruk. Secara sepihak, orang tua dan tunanganku memutuskan untuk mengganti posisi mempelai wanita dengan kakak kandungku yang sedang sakit keras. Karena aku menolak mentah-mentah keputusan tidak adil ini, mereka tega mengikatku di dalam rumah agar pernikahan tetap berjalan tanpa hambatan. Namun, kemalangan tidak berhenti di situ. Saat mereka pergi merayakan pesta, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawaku dengan kejam. Ketika keluargaku akhirnya kembali untuk melepaskanku, mereka hanya mendapati jasadku yang telah membusuk.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.1
Sepulang berwisata dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular misterius yang diyakini bisa memberikan kemudaan abadi. Syaratnya mengerikan: patung itu harus diberi sesembahan darah menstruasi gadis perawan. Ibu memaksaku memberikan darah serta memotong rambutku untuk dililitkan pada kepala ular tersebut. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tidak perawan sejak kuliah. Dua bulan berlalu, petaka pun tiba saat kulit ibu mulai ditumbuhi sisik biru dan dia mulai berganti kulit layaknya ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan