
PACAR SEWAAN UNTUK SEPEKAN
Bab 2
AXEL ALGEBRA
"Oke all! Tunjukan pesonamu!" seru Sevia.
Sudah berjejer di depannya, pria-pria yang bekerja paruh waktu di biro jodoh lover friend ini. Wanita cantik yang menjadi pemandu tadi pun, memberikan buku katalog yang menampilkan harga-harga sewa perharinya dilengkapi identitas lengkap. Setiap tipe punya harga berbeda.
Mereka dijejer di dalam ruangan, yang di tengahnya dipasang dinding transparan besar yang membatasi kandidat dengan Anggia. Bak boneka dalam kaca.
"Silahkan pilih kakak, yang pastinya sesuai selera kakak cantik."
Anggia menarik sudut bibirnya, bingung memilih.
"Aku gak pandai memilih," jawab Anggia
"Oke, biar aku sang ahli yang memilih untuk kakak cantik, yang ini tipe S, tipe seksi, ganas dan agresif. Harga sewanya 870 ribu perhari, namanya Alendro, blasteran Spanyol Sulawesi, bulan depan usianya 30 tahun, badannya berotot, rambut hitam, tinggi 180 cm. Dia paling suka kalau diajak ke kamar rawrrr!" jelas Sevia dengan semangat. Diakhiri rauman nakal nan manjalita.
Anggia dengan kepolosannya langsung menggeleng ketakutan mendengar kalimat terakhir.
"Suka diajak ke kamar?" gumamnya lirih. Untuk pertama kalinya, dia tidak nyaman mendengar kalimat ambigu itu.
"Uhmm maaf kak saya skip yang ini."
"Oke, kalau kakak mau yang tsundere tapi ganas dan hot juga ada, dia ini di tipe X, namanya Daniel, harga sewa 1,5 juta perhari, tinggi badan 179, tubuh agak berotot dan paling suka diajak ngedate ke wahana-wahana ekstrim," jelas madam Sevia.
"Skip kak skip, ada yang lain?" Anggia mengibas-ngibas tangannya meminta kandidat selanjutnya.
"Wuihhh masih banyak kak tenang, kita biro jodoh lover friend punya 370 kandidat pacar sewaan, jadi santai aja."
Anggia mengangguk paham, mencoba mempercayakannya pada kakak cantik ini.
"Yang ini ada tipe B, romantis, manis dan perhatian, namanya Axel Algebra, tinggi 181 cm, dia suka...,"
"Saya pilih yang ini!" tanpa pikir panjang lagi, Anggia memilih kandidat ke 3. Sejak pandangan pertama, Anggia merasa pria ini cocok jadi kekasih sewaannya.
"Serius kak? Tapi dia masih tipe B, gak mau yang tipe Y atau Z, yang sudah berpengalaman?"
"Gak kak, saya pilih dia aja, Axel Algebra."
"Owh oke."
Kakak cantik itu menarik sebuah mic dan berbicara. Memanggil kandidat terpilih yang berdiri di ruangan itu.
"Axel Algebra, kamu terpilih, silahkan keluar! Biaya sewanya perhari 155 ribu ya kak. Oh iya plus biaya daftar member 100 ribu ya kak, mau sewa berapa hari?"
Anggia terdiam sejenak, nampak berpikir. Karena sisa uangnya masih banyak. Sepertinya seminggu cukup untuk menyewanya. Kalau sehari, cuma sebentar. Dia tidak bisa menikmati quality time dengan pacar sewaan sesingkat itu.
"Seminggu kak."
Wanita itu langsung membuka kalkulatornya. Matanya berbinar-binar saat menghitung total uangnya.
"Oke seminggu, jadi totalnya 1.185 ribu ya kak."
"Oke, ini saya bayar kontan saja di muka ya kak."
"Waduh kakak, terimakasih, kembaliannya kak jangan lupa."
"Oke kakak, transaksinya sudah berhasil, kakak boleh bawa pacar sewaannya sekarang juga."
"Sekarang juga?"
Wanita itu mengangguk dengan wajah jenaka. "Iya dong kakak, apalagi kakak bayarnya kontan, tanpa cicil."
"Axel! Kamu sekarang boleh pergi dengan kakak cantik ini!"
"Baik madam!"
"Jangan lupa ya kode etik nya kelas B!"
"Saya ingat madam." Axel mengangguk paham.
Untuk beberapa saat Anggia terdiam melihat pria pilihannya sudah berdiri di sampingnya. Begitu tinggi, kalem dan tampan. Kulitnya bahkan lebih halus dan mulus darinya. Meskipun kulitnya halus, dia kelihatan sangat manly. Rambutnya hitam, halus dan ingin sekali dia sentuh. Mirip aktor China Dylan Wang.
"Terimakasih sudah menyewaku."
Bahkan suaranya membuat tubuhnya meremang. Geli, seperti ada yang menggelitik perutnya. Beginikah rasanya berhadapan dengan pria tampan. Seumur hidup Anggia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Pria tampan di sekolah, di kampus bahkan di perusahaan tidak ada yang mau meliriknya. Meskipun sewaan, setidaknya dia sangat tampan dan menyenangkan hatinya.
Pria itu tersenyum manis. Anggia takjub bukan main dengan pesonanya. Bahkan tanpa sadar air liurnya menetes keluar.
"Oh iya siapa namamu tadi? Agi?"
Anggia segera menyeka air liurnya. Pesona Axel membuatnya tergiur.
"Anggia! Panggil saja Anggia."
"Oh Anggia, aku Axel Algebra, panggil aku Axel."
"Ohh Axel, namamu sangat keren. Persis seperti pemiliknya," balas Anggia dengan canggung. Rasanya berdosa sekali menyewa pria setampan Axel. Orang-orang pun tidak akan percaya perempuan jelek punya pacar tampan.
Axel lagi-lagi tersenyum manis. Dia melakukannya hanya demi mematuhi etika-etika yang sudah diatur oleh madam Sevia sebagai pacar sewaan. Seperti selalu tersenyum ramah, sabar dan bersedia setiap waktu selama masa sewaan.
"Sekarang apa saja jadwal kencan kita?" tanyanya.
Belum cukup mengagumi keindahan Axel, kini Anggia dihadapi kebingungan. Dia sama sekali tidak memikirkan jadwal kencan. Karena memiliki ide pacar sewaan hanyalah ide dadakan.
Anggia menggeleng pelan, "Aku belum memikirkan jadwal kencan kita."
Axel sejurus menjentikkan jarinya.
"Oke, kalau begitu aku saja yang buat. Kalau ada ide bagus, beritahu aku ya?"
"Oh iya masukkan juga jadwal reuni besok, karena besok aku mau membawamu ke reuni sebagai pacar, tapi jangan bilang pacar sewaan ya?"
"Oke Anggia. Enaknya pakai sebutan apa ya? Kalau kamu kupanggil sweetie, suka tidak?"
"Suka! Suka!" Anggia mengangguk semangat dengan tangan mengepal di dada. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak kecil.
"Oke sweetie, besok kamu kan ada jadwal reuni, bagaimana kalau kamu mempersiapkan diri, di reuni pasti banyak teman-teman yang ingin kelihatan wow, lihat kukumu sweetie, itu sepertinya butuh perawatan lebih, bagaimana kalau aku menemanimu ke pusat nail art?"
"Oke, kita pergi ke pusat nail art. Benar juga honey, sudah lama aku tidak merawat kuku."
Axel terkekeh dengan sebutan itu. "Ternyata kamu pandai sekali memanggilku honey?"
"Ini pertama kalinya, aku memanggil lawan jenis honey."
Axel menoleh pada Anggia dengan ekspresi lurus.
"Sweetie tidak pernah pacaran?"
Anggia menggeleng mengasihani diri sendiri. Tatapannya redup.
"Aku belum pernah pacaran seumur hidupku, mana ada laki-laki yang mau sama aku, honey harus tahu, yang kamu lihat ini bukan diriku yang asli. Diriku yang sebenarnya adalah perempuan culun, berkacamata dan berkepribadian lurus."
Axel kembali tersenyum, pertama kalinya dia mendapat klien yang jujur dan mengakui keaslian dirinya. Dari belasan klien sebelumnya, Anggia termasuk kliennya yang jujur dan naif.
"Tak masalah, kamu melakukannya dengan baik kok."
Axel mendekatkan wajahnya, menatap mata Anggia begitu lama. Pipi Anggia sampai bersemu merah akibat ditatap terlalu lama.
"Yang dipakai di matamu itu adalah lensa?"
Yah Anggia sudah salah berpikir, ternyata Axel sedang memperhatikan lensa kontak yang dia pakai.
"Iya ini lensa, aku melepas kacamataku karena aku terlihat culun memakai kacamata."
"Tenang saja sweetie, jangan sedih! Aku pacar sewaanmu tidak akan menilaimu buruk, aku punya kode etik yang harus dilakukan, termasuk tidak melukai hati penyewanya."
Anggia cukup senang mendengar itu.
"Jadi aku bisa menceritakan apapun padamu tanpa takut dapat penilaian darimu?"
"Benar sweetie."
***
"Ibu aku pulang!"
"Iya sebentar," sahut sang ibu dari dalam.
Saat pintu dibuka lebar, mimik takjub sang ibu yang awalnya mengarah pada Anggia teralihkan langsung pada pria di samping Anggia. Karena wajah tampan Axel, ibunya terpana tanpa berkedip sekalipun.
"Wow Anggia! Kamu bawa laki-laki ke rumah?"
Pertama kalinya Anggia membawa seorang pria ke rumah. Ibunya terlihat lebih bahagia daripada Anggia. Ini adalah momen langka yang ditunggu-tunggu.
"Satu hari berubah cantik dan kamu langsung dapat pacar? Luar biasa Anggia!"
Bagaimana dia harus menceritakannya pada sang ibu, kalau Axel hanyalah pacar sewaannya. Melihat wajah sumringah sang ibu, rasanya tidak tega kalau Anggia jujur sekarang. Dia takut ibunya kecewa. Sejurus Axel mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Halo ibu, perkenalkan aku Axel pacarnya Anggia, hari ini kita baru jadian."
Sang ibu membelalak tak bisa berkata-kata, tanpa sadar dia membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak menyangka anak sulungnya secepat itu dapat pacar. Mana tampan banget pula.
Sadar tamunya masih berdiri, Lula mengajaknya duduk.
"Ayo! Ayo duduk nak! Siapa tadi namanya?" ibunya mendadak kelimpungan.
"Axel Algebra bu," jawab Axel.
"Oke Axel, silahkan duduk. Mau minum apa? Teh, kopi, jus, terus cemilannya mau apa?"
"Axel minum dan makan apa aja Bu," jawab Axel ala kadarnya. Karena tak ingin membuat tuan rumah kelimpungan.
"Oh iya iya, ibu siapkan dulu ya. Kalian mengobrol dulu saja."
Lula berlari ke dapur begitu gembira.
"Asikkk, putriku punya pacar." bahunya bergerak naik turun saking senangnya.
Anggia menghela napas berat, merasa bersalah setelahnya. Masa penyewaan Axel hanya seminggu, bagaimana kalau setelah masa sewa berakhir sang ibu masih mencari Axel?
Anda Mungkin Juga Suka





