Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacar Kontrak Berbalut Cinta

Pacar Kontrak Berbalut Cinta

Tasya dan Kyler adalah musuh bebuyutan yang selalu berselisih sejak kecil. Namun, tekanan keluarga memaksa Tasya mencari pasangan, sementara Kyler ingin membalas dendam pada sahabatnya yang berkhianat. Keduanya pun sepakat menjalani hubungan kontrak yang mengejutkan orang terdekat. Meski awalnya penuh kebencian, benih cinta mulai tumbuh di tengah perbedaan usia mereka yang cukup jauh. Akankah sandiwara ini menjadi nyata atau hancur karena masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tasya merasa kelelahan di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus berjalan seperti biasa. Tanggal-tanggal pertemuan keluarga, makan malam formal dengan orang tua, dan percakapan-percakapan kosong dengan teman-temannya seolah telah menjadi rutinitas yang menghimpit dirinya dari segala arah. Ia tidak pernah benar-benar merasa hidup dalam rutinitas itu, hanya menjalani apa yang diharapkan orang-orang di sekitarnya.

Namun, hal yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa ia kini terikat dalam perjanjian kontrak dengan Kyler. Setiap langkah yang mereka ambil bersama, setiap pertemuan yang dipaksakan, menambah rasa terperangkap yang semakin dalam. Mereka tidak pernah benar-benar berbicara tentang apa yang terjadi di antara mereka. Sebuah hubungan yang dibangun atas dasar kebutuhan, bukan perasaan. Dan itu membuat Tasya merasa terasing, bahkan dari dirinya sendiri.

Hari itu, Kyler mengundangnya untuk makan siang di sebuah kafe mewah di pusat kota. Di luar, hujan turun dengan deras, membasahi jalanan yang sibuk. Ketika Tasya tiba, Kyler sudah duduk di meja dekat jendela, menatap hujan dengan pandangan kosong, seolah dunia di luar sana hanyalah bayangan kabur yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya.

Tasya duduk di seberangnya, menatapnya dengan mata yang tidak dapat menutupi ketidaksukaannya. "Jadi, apa rencanamu hari ini, Kyler?" Suara Tasya terdengar lebih tajam dari yang ia inginkan, tetapi ia tak bisa menahan diri.

Kyler tidak langsung menjawab. Ia memandang Tasya sejenak sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatapnya dengan serius. "Aku ingin membicarakan perjanjian kita."

Tasya mendengus pelan, melipat tangannya di atas meja. "Perjanjian? Kyler, aku rasa kita sudah cukup jelas tentang itu. Kita berdua hanya menjalani ini karena tekanan dari keluarga kita."

Kyler mengangguk pelan, tapi ada yang berbeda dalam sorot matanya. "Aku tahu. Tapi tahukah kamu, Tasya, kadang-kadang kita tidak bisa lari dari apa yang telah kita mulai. Kadang-kadang, perjanjian itu bisa menjadi lebih dari sekadar formalitas."

Tasya merasa ketegangan di antara mereka semakin mencekam. "Apa maksudmu dengan itu?" tanyanya, suara pelan tapi penuh kewaspadaan.

Kyler menghela napas panjang, seolah berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, tapi... aku merasa ada sesuatu yang lebih dari hubungan kontrak ini, Tasya. Sesuatu yang mungkin kita berdua tidak siap hadapi."

Tasya terdiam. Ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ada apa dengan Kyler? Apakah ia mulai menganggap perjanjian ini sebagai lebih dari sekadar balas dendam kepada Vanessa? Tapi ia menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih jauh. Tidak ada yang bisa ia percayai sepenuhnya dalam hal ini.

"Sesuatu yang lebih?" Tasya akhirnya bertanya, suara yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya. "Kyler, kita hanya... menjalani ini. Itu saja. Tidak ada yang lebih dari itu."

Kyler tersenyum tipis, meski senyuman itu tidak menghilangkan ketegangan yang ada. "Kita lihat saja nanti."

Ketika makanan mereka tiba, suasana di meja menjadi lebih tenang, meskipun ketegangan masih bisa dirasakan. Tasya berusaha untuk fokus pada makanannya, menghindari tatapan Kyler yang terus tertuju padanya. Ia ingin merasakan kenyamanan dalam kebersamaan ini, tapi tidak bisa. Setiap kata yang keluar dari mulut Kyler mengingatkannya pada perjanjian yang telah ia buat-perjanjian yang mengikat mereka berdua dalam ikatan yang lebih dalam daripada yang ia inginkan.

Sepanjang makan siang itu, Kyler lebih banyak diam, seolah merenung. Tasya juga tidak merasa perlu berbicara banyak. Masing-masing terperangkap dalam dunia mereka sendiri, saling menghindari kenyataan bahwa ikatan yang mereka miliki semakin rumit. Mereka bukan pasangan yang saling mencintai, bukan juga pasangan yang saling mengerti. Mereka adalah dua orang yang terjebak dalam permainan yang mereka buat sendiri.

Setelah selesai makan, Kyler membayar tagihan dengan cepat, dan mereka berdua keluar dari kafe menuju mobil. Hujan yang terus turun membuat udara terasa dingin, tapi Kyler tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan. Ia tampak seperti selalu siap menghadapi segala sesuatu, seperti selalu mengendalikan situasi.

Di dalam mobil, suasana semakin terasa tegang. Tasya menatap keluar jendela, mencoba untuk mengalihkan perhatian dari kenyataan yang semakin menghimpitnya. Namun, suara Kyler yang tiba-tiba memecah keheningan membuatnya terkejut.

"Tasya, aku tahu ini semua sulit. Aku tahu kau merasa terjebak dalam situasi ini, begitu juga aku. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal." Kyler mengalihkan pandangannya ke arah Tasya. "Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti yang kamu pikirkan."

Tasya menoleh, bingung dengan kata-kata Kyler. "Apa maksudmu?"

Kyler menarik napas panjang, seolah berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Aku tidak ingin hubungan ini berakhir dengan kita berdua hanya menjalani rutinitas tanpa makna. Aku tidak ingin kita berakhir seperti orang yang hanya menjalani kehidupan karena tekanan eksternal."

Tasya merasa ada sesuatu yang berbeda dalam kata-kata Kyler kali ini. Tidak ada sindiran atau ejekan seperti biasanya. Ia bisa merasakan ketulusan dalam suaranya. Namun, itu tidak cukup untuk mengubah perasaannya.

"Kyler," Tasya berkata pelan, "Kita sudah sepakat, bukan? Kita hanya perlu menjalani ini sampai tujuan masing-masing tercapai. Tidak lebih dari itu."

Kyler diam sejenak, kemudian mengangguk. "Kau benar. Tapi terkadang, perasaan kita bisa berkembang tanpa kita sadari."

Tasya menundukkan kepala, menahan perasaan yang semakin kacau dalam dirinya. Ia ingin menanggapi lebih jauh, tetapi kata-kata itu terhenti begitu saja. Apa yang seharusnya ia katakan pada Kyler? Apakah ia juga merasa seperti itu? Ataukah ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bertahan?

Mobil terus melaju di tengah hujan yang semakin deras, membawa mereka lebih jauh dari kenyataan yang semakin sulit untuk dihadapi.

Ketika mereka sampai di rumah masing-masing, Tasya merasa terpecah. Satu sisi dirinya ingin melarikan diri dari semua ini, dari perasaan yang semakin rumit, dan dari kenyataan bahwa ia semakin terikat dengan Kyler. Namun, sisi lainnya merasa bahwa ia tidak bisa menghindar dari apa yang sudah dimulai.

Tasya melangkah masuk ke dalam rumah, hanya untuk disambut dengan senyum lebar ibunya. "Bagaimana pertemuan kalian? Sudah makan siang bersama Kyler?" ibu Tasya bertanya dengan nada ceria.

Tasya memaksakan senyum. "Ya, semuanya baik-baik saja, Bu." Namun, meskipun ia berkata begitu, di dalam hatinya, ada keraguan yang semakin menguasai dirinya. Kyler telah mengungkapkan sesuatu yang mengusik pikirannya, dan ia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Setelah berbicara sebentar dengan ibunya, Tasya memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, merasakan beratnya kenyataan yang semakin mengendap di dalam dirinya. Kyler-dan perasaannya yang semakin bingung-semakin sulit untuk diabaikan.

Apakah ini semua hanya bagian dari permainan? Atau, pada akhirnya, perasaan yang terpendam akan muncul begitu saja, mengubah segalanya tanpa bisa dicegah? Tasya menatap langit yang gelap di luar jendela kamar, bertanya-tanya apakah ada jawaban untuk semua ini.

Namun, yang ia tahu pasti adalah bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah pertemuan itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Durhaka Dibutakan Nafsu
7.9
Saat ibu mertuanya kritis akibat kecelakaan, sang istri diabaikan oleh suaminya sendiri yang sibuk membantu mantan kekasihnya, Stacy. Pengacara itu bahkan menolak mengirimkan uang pengobatan dan menuduh istrinya berbohong. Setelah sang ibu meninggal, sang suami justru maju sebagai pembela Stacy di pengadilan atas kasus tabrak lari dan berhasil membebaskannya. Begitu kebenaran terungkap saat sang istri menuntut cerai, pria itu baru menyadari bahwa korban tewas yang ditabrak oleh kekasihnya adalah ibunya sendiri.
Sampul Novel Bos Posesifku
9.5
Richard Lewis awalnya meremehkan Viola, sekretaris barunya yang cantik namun ternyata sangat cerdas dan tangguh. Terpikat oleh pesonanya, Richard berupaya keras memenangkan hati Viola meski sang wanita masih menutup diri akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Lewat sikap posesif dan aturan ketat, Richard mencoba membuktikan kesungguhannya. Namun, Viola tetap bergeming. Akankah Richard berhasil meluluhkan Viola di tengah persaingan dengan dua pria lainnya?
Sampul Novel Bukan Sekadar Figuran
7.9
CEO Narendra Hasan terancam batal menikah dengan Bella setelah kecelakaan membuatnya lumpuh. Tak sudi bersuamikan pria cacat, Bella kabur di hari pernikahan. Sebagai gantinya, Narendra menunjuk Sheilla, keponakan Bella, untuk menjadi pengantin pengganti. Sheilla yang terikat utang budi pada pamannya terpaksa setuju. Namun, pernikahan ini mengungkap misteri besar terkait kecelakaan orang tua Sheilla dan hilangnya penulis ternama. Siapa dalang sebenarnya?
Sampul Novel Diawali Dengan Penceraian
8.2
Setelah diusir dari Keluarga Wilton, Gerald harus menjalani hidup penuh kemiskinan selama lima belas tahun. Nasibnya kian terpuruk saat ia dicap sebagai menantu tidak berguna dan diceraikan oleh Clarisa setelah dua tahun mereka membina rumah tangga. Namun, siapa sangka bahwa perpisahan pahit tersebut justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Inilah awal dari babak baru perjalanan Gerald yang penuh kejutan setelah statusnya sebagai suami berakhir.
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat
8.3
Cinta terjebak dalam friendzone selama tujuh tahun demi menjaga perasaannya pada Raka. Saat hatinya hancur karena Raka memilih wanita lain, ia terpaksa menggantikan sahabatnya dalam sebuah kencan buta. Namun, rencana itu berantakan saat Cinta salah menemui orang. Bukannya pasangan kencan yang dimaksud, ia justru berhadapan dengan calon bosnya sendiri. Meski berawal dari insiden memalukan, takdir tampaknya punya cara unik untuk mempertemukan jodoh yang sebenarnya.
Sampul Novel Pembalasan Winter
7.9
Dunia Kimberly Feodora, model papan atas yang sukses, runtuh seketika akibat skandal fitnah pembunuhan sahabatnya. Karena dikucilkan dan putus asa, ia mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai tujuh belas. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua melalui tubuh Winter, seorang gadis obesitas yang lemah dan terkhianati. Meski memiliki keluarga yang suportif, hidup Winter penuh penderitaan. Kini, Kimberly bangkit untuk membalas dendam dengan cara yang tak terduga.