
One Night Stand
Bab 2
Yeon berjalan santai ketika keluar dari ruang pertemuan para tetua. Ny. Jang bertanya “kenapa kamu mengatakan akan menikah tahun ini dengan begitu lantang di hadapan para tetua. Jika pernikahan itu tidak terjadi, bagaimana kamu akan menanggung akibatnya.”
Yeon berkata “ kali ini Rahel akan datang ke Korea Selatan dan akan menetap untuk selamanya.”
Ny. Jang antuias, "Jadi untuk selamanya?. Lalu dia akan berhenti bermain biola?".
"Dia akan berhenti", ucap Yeon penuh keyakinan.
Ny. Jang memukul lengan Yeon sembari berkata, "Anak nakal. Kabar baik ini, kenapa kau baru mengatakannya sekarang".
"Itu karena aku senang", jawab Yeon berlenggak
lenggok seperti anak kecil.
Direktur Han yang memegang payung bertanya. “Untuk jaga-jaga, apa yang akan dilakukan jika Nyonya Rahel menolak lamaran Anda?”.
Senyum Yeon langsung pudar. "Apa maksdumu berjaga-jaga?. Mengapa kau berbicara
negatif saat aku tengah melaksanakan perencanaan masa depanku?", bentak Yeon kesal.
Direktur Han melonjak kaget mendengar bentakan Yeoon dan buru-buru ia menunduk meminta maaf. Ia lalu menganti topik pembicaraan. " Apa Yeon yakin tidak perlu ditemani saat membeli cincin?"
Yeon berkata " Aku akan berhati-hati memilih cincin, kau tetap di sini mempersiapkan segalahnya jangan sampai membuat kesahan,"
"Laksanakan!", seru Yeon memberi perintah
"Laksanakan!", sahut direktur Han siap melaksanakan perintah.
"Nenek aku pergi, ya". ucap Yeon pamit pada Neneknya
"Baiklah.. Bye...bye", sang nenek melambaikan
tangan, yang di balas dengan lambaian tangan oleh Yeon dan juga tawa khasnya. Sikap Yeon ini persis seperti anak kecil yang pamit ingin pergi bermain.
Seo Inha pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli barang permintaan putri pengacara Yong. Seo Inha sempat berhenti di toko perhiasan, memandang takjut pada cincin berlian yang tampak berkilauan terpajang di
elatase toko.
Dari arah dalam, pegawai toko mengambil salah satu kotak cincin. Seo Inha berkata " pasti wanita yang menerima cincin itu akan merasa bahagia." ia pun berlalu dari sana.
Pegawai yang mengambil cincin tadi menunjukan cincin-cincin itu pada Yeon. Tak hanya satu atau dua model cincin, tapi belasan model cincin berhampar di depan Yeon. Pegawai berkata, " Cincin yang baru saja aku bawa merupakan cincin lamaran terbaik yang kami miliki."
"Kurang bagus. Tidak cocok", jawab Yeon dengan gaya cool.
Yeon bertanya, " Apa toko ini tidak punya cincin yang lebih elegan dan anggun?".
Pegawai tersenyum, "Semua produk yang kami punya sudah anda lihat semuanya". Yeon melangkah pergi hendak meninggalkan toko.
Pegawai memanggil, " Apakah anda bisa menjelaskan seperti apa kekasih yang akan anda lamar?. Akan lebih mudah bagi kami untuk merekomendasikan cincin mana yang sekiranya
cocok." ujar pegawai perhiasan itu.
Yeon menerawang tersenyum bahagia, "Dia
adalah...syairku".
Pikiran Yeon melayang membayangkan saat melihat Rahel yang memainkan biola dengan penuh kekaguman, "Bukan syair yang bisa kau baca dan dengar tetapi prajurit infanteri di atas panggung. Dengan seluruh tubuhnya, mengeluarkan sinar kenyamanan, yang membuat dunia ini damai dan indah. Dia juga sangat lugu bagaikan anak yang baru lahir. Dengan kedua lengannya memelukku. Seperti
pelukan ibuku. Dia menulis puisi untukku". Ujar Yeon.
"Dia wanita yang sangat istimewa".
***
Beralih kesebuah penerbangan menuju Korea. Di kabin kelas satu, Edward menggambar sketsa wajah seseorang. Gambar wajah itu mendapatkan pujian dari penumpang lain, "Manisnya. Siapa dia".
"Adik ku", jawab Edward "Bagaimana menurutmu. Dia sangat cantik, kan?".
Tak hanya setuju dengan pendapat Edward, wanita itu juga memuji wajah Edward dan adiknya sangat mirip. Edward memasang wajah sendu dan berkata, "Aku juga berharap seperti itu. Aku kehilangan dia sewaktu masih kecil. Aku lupa seperti apa wajahnya. Kupikir wajahnya seperti ini jadi kugambar seperti yang kubayangkan".
"Ah, terlalu kentara dan terlalu murahan", komentar penumpang lain.
Penumpang itu adalah Rahel, Sontak Edward menoleh ke sumber suara, melihat Rahel yang memakai headphone dan fokus menatap layar tabletnya.
Oh, rupanya Rahel mengomentari film yang tengah ia tonton.
Edward melanjutkan jurus rayuan gombalnya, "Aku yakin tidak akan mengenali wajahya jika aku bertemu dengannya lagi".
"Bagaimana ini?. Aku sangat sedih", komen wanita itu turut prihatin.
Edward bercerita " Saat masih kelas satu, ia berpisah dengan adiknya. Ia dibawa ke panti asuhan dan diadopsi ke Amerika. Meski aku berusaha mencari adikku, setiap kali datang ke Korea, selalu berakhir sia-sia."
"Ah....parah. Siapa yang akan percaya dengan cerita seperti itu. Jika aku, aku tidak akan mempercayainya", celetuk Rahel tanpa mengalihkan pandangannya.
Edward jadi malu. Wanita tadi yang mendengarkan cerita Edward kembali ke tempat duduknya. Pasti dalam hatinya menilai perkataan Rahel ada benarnya.
Rahel tersenyum menatap layar tablet, "Benar. Ya, itu memang benar. Mengapa ini sangat menyenangkan?".
Edward yang kesal menatap sesaat lalu berkata, "Permisi". Rahel seolah tak mendengarkan panggilan Edward
"Tikus", seru Edward tiba-tiba menunjuk ke arah bawah kursi.
Sontak Rahel terkesiap kaget mengira benar-benar ada tikus di bawah kakinya. Tapi itu hanya jebakan, Edward tahu jika Rahel bisa mendengar semua perkataannya. Jika kau memang menyukaiku, jujur saja. Jangan berlagak manis," gumamnya
"Apa kau marah karena aku tidak merayumu?".
tanya Edward dengan Pedenya
"Bagaimana, ya?. Kau bukan tipeku sama sekali", balas Rahel melepas headphone.
"Bagaimana tipemu?". Tanya Edward
Rahel berkata " Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. tipe idealku berbeda 180 derajat darimu,". Rahel tersenyum dan memasang kembali headphonenya. Edward tersenyum manis, tapi senyum manis itu berubah menjadi tatapan kesal.
Seo Inha menemukan toko yang khusus menjual permen, Kedatangannya di sambut dengan 3 peri permen, "Putri, selamat datang di
istana permen ajaib. Putri, jika kau butuh bantuan, hubungi kami kapan saja".
Seo Inha tersipu malu, "Tapi, aku bukan seorang putri". Selanjutnya, Seo Inha berkeliling mencari pesanan putri pengacara Yong. Toko ini sudah seperti istana permen. Dimana-mana permen. Seo inha tersenyum mendengar pegawai berbincang dengan salah satu pelanggan.
Pegawai berkata Semua permen cinta disini akan membantu anda menemukan cinta." Pelanggan itu berkata " pacarku memberi permen lolipop saat menyatakan cinta dan itu sangat romantis." Tanpa sadar ia berkata
"ya", padahal saat itu ia tidak menyukai pacarnya.
Seo Inha kemudian membawa sekeranjang permen ke meja kasir. Kasir memberi hadiah, permen lolipop Cherry Pink. Menurut pengakuan kasir, Cherry Pink adalah permen cinta yang terkenal.
Akhirnya, Yeon menemukan cincin yang ia inginkan. Yeon melihat cincin itu dan melatih kata-kata yang akan ia gunakan untuk melamar Rahel. " Kurasa ini cocok untukmu. Kuharap kau menerimanya". Yeon tertawa gembira,
Tak jauh dari sana, Seo Inha keluar dari toko dengan membawa sekeranjang permen yang telah di bungkus dengan sangat cantik. Ia melihat balita yang berjalan seorang diri tanpa orang tua menuju eskalator. Balita yang
manis itu jatuh dan menangis. Lalu berdiri, dan tetap berjalan mendekati eskalator turun.
Seo Inha yang cemas bergegas lari untuk
menyelamatkan balita. Karena terburu-buru dan tidak melihat kanan dan kiri, Seo Inha menabrak 2 anak yang membawa bola-bola.
Keseimbangan Seo Inha goyah karena menginjak bola-bola yang terhambur di lantai. Bola-bola itu dengan cepat menyebar dan seakan mengantarkan Seo Inha mendekat ke sisi Yeon.
Seo Inha yang tergelincir, berusaha menjaga keseimbangan dengan berpegang pada pundak Yeon. Namun, apa yang di lakukan Seo Inha malah membuat keseimbangan Yeon ikut goyah. Berpijak pada bola-bola yang licin membuat mereka berputar beberapa kali seperti
pasangan yang sedang berdansa.
Anda Mungkin Juga Suka





