
One Night Stand
Bab 3
Cincin yang Yeon pegang keluar dari kotaknya dan permen-permen yang Seo Inha beli terhambur ke udara bersamaan dengan tubuh mereka melambung di atas ketinggian.
Di iringi musik orkestra, tangan Yeon terulur ke udara seakan ingin meraih benda yang sangat berharga yaitu, "Cincin",
Begitu pula dengan Seo Inha, tapi kata yang terucap dari bibirnya adalah, "Permen".
Bruk...hukum gravitasi menghempaskan tubuh mereka jatuh ke tanah. Di iringi suara rintihan keduanya. "Aww,"
Seo Inha melihat ke tempat balita berada. Sang ibu datang membawa pergi anaknya. Cincin Yeon jatuh ke tanah dan tergelincir jauh dari jangkauannya.
"Cincinku", Yeon bangkit dan mengejar cincinya yang terus mengelinding jauh. Turun melewati eskalator. Seperti di komando, Seo Inha mengikuti kemana Yeon pergi. Cincin terus mengelinding melewati kandang anjing.
Rupanya, cincin itu membawa Yeon ke sebuah ruang tempat perkumpulan anjing berada. Suara salak'an dari anjing-anjing yang ada disana membuat nyali Yeon ciut, "Cincinku ada disana...cincinku ada disana", seru Yeon panik.
Yeon mendorong Seo Inha untuk mengambil cincin miliknya. Ia menujuk ke suatu tempat di mana cincinya berada, "Disana..disana..disana". Seo Inha bingung karena cincin berwarna silver itu itu terus berpindah tempat. Anjing-anjing kecil secara bergantian menendang cincin layaknya bola sepak.
Yeon memarahi anjing yang menyepak cincinya hingga membuat benda itu kembali mengelinding jauh.
Seo inha sibuk mengejar ke mana cincin pergi, hampir saja ia berhasil meraih benda bundar itu, tapi sayang meleset. Cincin masuk ke kandang besar dan berhenti di sebelah anjing ras Rottweiler yang sedang tertidur.
Sebisa mungkin Yeon menghindari para anjing dan menyusul Seo Inha. Wajahnya pias seketika ketika melihat anjing besar itu. Ia berbisik memerintah " Cepat ambil cincinnya." Seo Inha terkejut menunjuk dirinya, "Aku?".
Yeon bekata " Aku tidak berani menyentuh anjing, Kau ambillah. Aku takut. Cepat!". Seo Inha juga merasa keder, anjingnya tampak menakutkan.
Yang terjadi kemudian, Yeon memegangi badan Seo Inha melewati pagar. Tangan Seo Inha terulur berusaha meraih benda bundar berharga milik Yeon.
"Sedikit lagi, hampir sampai." seru Yeon. Sayangnya, bukan cincin yang Seo Inha dapat, tapi tangannya malah menyentuh mangkuk makanan anjing yang terbuat dari stainless dan membuat suara gaduh.
Yeon dan Seo Inha terpaku kaget menunggu reaksi dari anjing berbulu hitam pekat itu. Perlahan kedua mata rottweiler terbuka. Dengan satu gerakan cepat, anjing jenis penjaga ini melompat melewati pagar dan mengejar 2 orang asing yang menganggu tidurnya.
Mereka berdua lari terbirit-birit, mereka terpisah dan mengambil jalur yang berbeda. Yeon menunjuk Seo Inha, seakan menyuruh anjing untuk mengejar gadis itu saja. Sayangnya, anjing lebih memilih mengejarnya. Mereka kembali bertemu, di persimpanan, terus berlari secepat yang mereka bisa.
Diantara rasa lelahnya, batin Yeon berkata, "Apakah ini akan berakhir. Mengikuti nenek moyangku di umur 30 tahun-an", batin Yeon diantara rasa lelahnya karena terus berlari, "Apakah ini akhir bagi kita. Ayah, kakek dan kakek buyut, dan kakek - kakek sebelumnya. Aku juga akan berakhir. Aku tidak bisa lari dari takdir".
"Tidak. Jika ini berakhir aku akan mati karena anjing". Yeon menoleh ke Seo Inha yang mampu berlari lebih cepat darinya, "Tapi. Siapa wanita ini?. Begitu cepat. Dia adalah wanita yang cepat".
Yeon berusaha meraih pundak Seo Inha tapi gagal, "Tidak..mari kita pergi bersama-sama".
Malangnya, mereka malah terpojok di jalan buntu. Belum selesai mereka mengatur napas, terdengar suara gonggongan anjing yang mendekat ke arah mereka. Seo Inha panik, "Tidak. Apa yang harus ku lakukan?".
Seo Inha bersembunyi di balik punggung Yeon ketika anjing itu semakin mendekat. Rottweiler terus menyalak. Yeon mencoba menekan rasa takutnya, "Jangan khawatir, aku akan mengusirnya. Aku bisa melakukanya".
Yeon tertawa menghilangkan rasa gugup dan takut yang bersarang di dada, "Brengsek. Kau harus di beri pelajaran". Yeon melepaskan jas sebagai senjata untuk menghadapai rottweiler yang terus menyalak.
"Kau harus diberi pelajaran. Kemarilah, ayo", tangan Yeon siap mengayunkan jas yang ia pegang. Tapi bagaimana bisa ia melakukannya dengan baik jika tangannya saja gemetaran, "Kemarilah", bentaknya nyaring.
Seo Inha teriak ketakutan saat Rottweiler menerjang ke arah mereka. Oh, apa yang terjadi?
Anda Mungkin Juga Suka





