
Obsesi Pacar Sahabatku
Bab 2
" Eh Sil, temenin gue yuk. "
" Kemana? " Tanya Sila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone, mereka sedang berbaring di tempat tidur Sila.
Gadis itu terlihat menghela nafas pelan, " Ketemu sama pacar gue. Gue lagi ribut sama dia dan semalam janji bakal selesai in secara langsung, nyamperin dia ke tempat nya. "
" Yang salah siapa ?? " Sila menyimpan ponsel nya, menatap lebih serius gadis di samping nya. Roman-roman nya dia akan memberikan gadis itu wejangan untuk yang kesekian kali nya.
" Gue, dia baca chatan gue sama Gibran. "
Sila beranjak dari tidurnya, " Gue mandi dulu. " Beritahu nya. Mengerti kemana arah permasalahan yang di terima Septi. Dia chatan dengan Gibran yang merupakan mantannya, tentu saja salah. Dan pacarnya pasti cemburu.
Setelah selesai mandi dan merapihkan diri, mereka berdua berangkat menuju kediaman Agra, pacar Septi. Menggunakan motor milik Septi.
Agra tinggal di sebuah apartement yang cukup jauh dari tempat kediaman Septi. Makanya gadis itu mengajak Sila untuk menemaninya karena dia memiliki sikap penakut untuk pergi sendiri ke tempat jauh.
Ting nong ting nong
Septi menekan bel apartemen kediamana pacarnya itu. Menunggu pemilik apartemen membuka pintu, Sila yang berdiri di belakang Septi melihat keadaan apartemen itu yang cukup sepi.
Bukan satu atau dua kali dia menemani Septi bertemu pacarnya, tapi ini pertama kalinya dia menemani Septi ke tempat pacarnya itu. Baru tau jika pria itu tinggal di apartemen.
Jarak satu pintu apartemen dengan pintu lainnya terbilang jauh, dan Sila sedikit terperangah dengan lantai gedung apartemen yang ditempati Agra, lantai 40. Lantai kalangan menengah keatas yang super sibuk dengan kerjaan mereka sehingga jarang ada di apartemen.
Berbanding terbalik dengan Agra yang masih SMA, mungkin dia satu-satunya penghuni yang masih bersekolah.
" Agra. “ panggil Septi.
Sila mengalihkan pandangan nya, menatap Agra yang sudah membuka pintu dan berdiri dengan muka bantal, khas sekali jika pria itu baru bangun tidur.
Dia langsung mengalihkan tatapan nya saat tak sengaja berkontak mata dengan pria itu. Sedikit risi dengan tatapa intens dan tajam pemuda itu.
" Masuk! "
Sila membuntuti Septi dengan ragu, masuk kedalam apartemen. Mereka duduk di ruang tamu.
" Selesain masalah lo kalo lo masih pengen sama dia, turunin ego lo. Disini lo yang salah. " Gumam Sila kepada Septi.
Agra datang dan duduk di hadapan mereka dengan wajah setengah basah, selesai cuci muka.
Sila tersenyum canggung, kemudian berucap, " Agra, gue numpang ke kamar mandi. " Sila sadar Septi menahan tangannya untuk tetap tinggal, namun Sila tak ingin ikut campur di permasalahan mereka. Pikirnya, jika dia ada disana, mereka tidak akan leluasa membahas permasalahan nya.
" Masuk ke dalem, deket dapur. " Beritahunya.
" Oke, thanks. " Ujar Sila dan pergi dari sana setelah melepas paksa tangan Septi yang memegang tangannya.
Gadis itu hanya pergi ke kamar mandi dan mencuci tangan serta berkaca, kemudian kembali ke arah ruang tamu. Namun saat di ruang TV yang menghubungkan dengan ruang tamu, dia mendengar perdebatan temannya itu. Akhirnya dia memiliki duduk dan tinggal di ruang TV, memainkan ponselnya dan membalas chat yang masuk.
" Aku minta maaf, aku gak ada hubungan apapun lagi sama Gibran. Dia cuma chat biasa. "
" Sumpah!! Kalo gak percaya kamu tanyain aja ke Sila, aku cerita ke dia. Aku sama Gibran bener-bener gak ada hubungan apapun. Lagian dia udah punya pacar. "
" Waktu itu dia pernah ajak aku buat nonton pertandingan Volly nya, tapi aku tolak. Percaya sama aku. " Jelas Septi.
" Yakin? Aku baca, kamu pernah minta dia anter beli makanan. Dan kamu gak ngasih tau aku. " Tanya Arga meremehkan.
" I_iya, itu aku terpaksa minta tolong sama dia karena motor aku lagi di pake. " Jawab Septi terdengar ragu.
" Kamu bilang gak pernah ketemu? Tapi kamu minta dia anterin beli nasgor. Kalo mau bohong, yang pinter. " Ujar pemuda itu yang berhasil menyudutkan Septi.
Sila berusaha menulikan pendengaran nya dengan obrolan mereka. Dia mengakui, temannya jelas salah, karena masih merespon perlakuan mantannya disaat mempunyai hubungan dengan Agra. Dan dirinya pun tau itu.
Awalnya dia tak mendukung dan menasehati temannya itu untuk tidak merespon lagi Gibran, namun karena susah di kasih tau, akhirnya dia hanya mendukung saja selama temannya itu bahagia dan nyaman.
Toh hanya sekedar chating.
Tapi ternyata, tidak hanya itu, mereka beberapa kali sempat jalan jalan malam untuk mencari udara segar. Dan Sila baru mengetahui nya tadi saat di jalan, Septi yang memberitahu nya sendiri.
Dia tak tahu saat kejadiannya, temannya itu tidak memberitahu. Pantas saja gadis itu rela jauh jauh menghampiri Apartemen Agra untuk menyelesaikan masalah karena memang dia yang salah.
Sila pun yang melihat kelakuan temannya itu geleng-geleng, apalagi Agra yang merupakan pacaranya, dia pasti sakit hati. Dan ini bukan perdebatan yang pertama.
Menjelang sore, hujan turun cukup deras. Septi mengajaknya pulang karna ibunya sudah terus meneror nya untuk segera pulang.
" Hujan, ti. Mau maksain? " Tanya Sila, mereka membawa motor, jelas saja akan terkena hujan.
" Masalahnya mamah gue udah telpon terus. Bisa di amuk gue kalo nggak pulang pulang. "
" Deres banget liat, ditambah ada petir lagi. " Seru Sila, dia tak berani jika keluar ada petir.
Tidak ada trauma, hanya takut dengan petir.
" Mau aku anterin pake mobil? " Tawar Agra,
Mereka sudah kembali membaik walaupun terlihat jika ada kecanggungan di antara mereka. Ada jarak tak kasat mata yang membatasi mereka.
Karna bagaimana pun, Septi sudah masuk tahap selingkuh. Pergi dan chatan akrab dengan pria lain selain Agra.
" Nggak bisa, mamah bisa marah kalo aku pulang gak bawa motor. " Bantah nya.
" Yaudah tunggu dua puluh menitan lagi, pasti reda. " Putus Sila.
" Kalo nggak gimana ? "
" Maksain pulang. Di dalem motor lo ada mantel kan? " Tanya nya memastikan yang diangguki oleh perempuan nya itu.
Sepasang manusia itu benar-benar tak melakukan percakapan setelah permasalahan mereka yang selesai tadi.
Septi beberapa kali bertanya random, namun Agra hanya merespon seadanya pertanyaan gadis itu. Dalam hati Sila meringis, disini dia juga merasa salah karna ikut andil dalam hubungan lain yang dilakukan Septi.
Cukup lama menunggu, Sila beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah kaca yang memperlihatkan suasana luar bangunan gedung apartemen itu.
" Masih ujan, tapi nggak sederes tadi. Mau maksain pulang sekarang? " Tanyanya Menghampiri.
" Gak papa? " Jawabnya yang malah balas bertanya.
" Ayo aja gue mah. Lagian nyokap lo udah nanyain, nanti lo yang kena marah. " Balas Sila.
Mereka bertiga turun ke basement, Sila membuka jok motor milik Septi dan mengambil mantel untuk di pakai mereka.
Dia yang memakai hoodie, melepas hoodienya" Pakai ini dulu biar anget. " Titahnya memberikan hoodie miliknya.
" Gak usah, lo aja. Kan lo yang bawa motor. " Tolak nya.
" Lo lagi pilek, nanti tambah sakit. Pake buruan. " Paksa nya dan merampas mantel yang akan dikenakan gadis itu.
" Tapi __"
" Pake! " Titah Sila. Untungnya tadi dia memakai kaos lagi, langsung saja dia memakai mantel nya.
Setelah selesai, dia membantu sahabatnya itu untuk memakai mantel.
" Kamu mau kemana? " Tanya Septi kepada Agra yang menghampiri mereka dengan motor sport nya.
Tadi mereka turun ke basement, namun pria itu melangkah ke arah lain.
" Naik. " Titahnya.
Septi menggelengkan kepalanya, " Nggak, aku pulang bareng Sila. "
" Lo kalo mau sama pacar lo gapapa. " Titah Sila, dia memakai helm nya.
" Tapi lo gimana? " Tanyanya ragu, " Nggak usah deh, gue sama lo aja. " Ucapnya.
" Kasian pacar lo udah mau nganterin, udah sana. Lagian lebih aman, jalanan licin sekarang. " Ujar Sila. Tidak sepenuhnya beralibi, selain itu juga dia tidak perlu khawatir jika ingin membawa motor dengan kecepatan tinggi.
Dibelakang, Agra tampak memperhatikan interaksi kedua perempuan itu.
" Udah sana, lo tadi udah berantem sama dia sekarang kesempatan supaya ngga canggung. " Titah Sila membisik.
" Yaudah deh, sorry lo harus sendiri. " Ujarnya menatap tak enak.
" Sans aja kali. " Kekeh Sila.
" Yuk, gue duluan. " Pamitnya dan menggas motor nya lebih dulu menuju keluar basement.
Hujan sudah lumayan reda memang, namun tetap saja terbilang lebat jika sudah di jalan. Apalagi Sila membawa motornya tak kira kira, gadis itu tak memperdulikan jalanan yang licin.
Mobil-mobil besar di hadapannya yang berjalan cukup kencang dia salip.
Bukan tanpa alasan, melainkan karena waktu yang akan semakin menjelang malam dan juga jarak yang ditempuhnya lumayan jauh.
Dia melirik spionnya, ternyata Agra juga membawa motornya dengan kecepatan yang sama. Pria itu membuntuti nya di belakang. Dia kira pria itu akan membawa dengan kecepatan rata-rata bahkan santai, mengingat jika sekarang dia sedang bersama kekasihnya. Namun ternyata salah.
Setelah satu jam di perjalanan, hujan mulai reda, Sila menggigit bibir bawahnya merasakan rasa dingin yang masuk ke tubuhnya. Mengingat jika dia hanya memakai kaos lengan pendek.
Kurang lebih setengah jam lagi dia sampai ke rumah Septi, matahari sudah tenggelam, lampu lampu di jalan semuanya sudah menyala.
Tangannya sudah cukup kram antara dingin dan pegal.
Helaan nafas sedikit lega keluar dari bibirnya setelah sampai di depan rumah minimalis milik Septi.
Namun Sila tetap harus menempuh jarak lagi untuk ke rumah nya, rumah mereka berjauhan. Sekitar 7 km lagi untuk sampai ke rumah nya, tapi setidaknya itu sudah dekat.
" Thanks banget Sil. " Ucap Septi yang sudah turun dari motor Agra.
" Your welcome," Balas Sila dengan senyum tipisnya, dia turun dari motor milik Septi.
" Nih kunci motor nya. " Yang diterima dengan baik oleh sang pemilik nya.
" Lo balik dianterin sama Agra. "Ucap Septi tegas
" Gapapa kan kamu anterin Sila? " Lanjut gadis itu menatap sang pacar yang masih duduk di atas motornya.
Pemuda itu mengangguk dan menatap Sila.
" Eh nggak, gue di jemput temen gue. Kebetulan dia lagi di rumah temennya, gak jauh dari sini. " Tolak Sila menggelengkan kepalanya.
Bukan temen deng, dia gebetan gue. _batin Sila.
" Lama. Lo harus nunggu lagi. " Bantah Septi.
" Gak papa sumpah, gue sama dia aja. Lagian pacar lo mau balik lagi kan? " Tanya Sila.
" Lo sama gue, ayo. " Ajak Agra.
" Nah, buruan. " Desak Septi mendorong temannya itu ke arah motor Agra.
" Ti, serius gue sama temen gue. " Melas Sila, berusaha menghentikan dorongan gadis itu.
" Lama, lo belum hubungin dia kan? Mending sama Agra sana. " Paksa nya.
Sila berdecak pelan, " Bentar kalo gitu, gue lepas dulu mantelnya. Disini udah gak ujan, malu njerr. " Gerutunya.
Septi terkekeh pelan, dia membantu melepas atasan mantel gadis itu.
" Hoodie lo nih, mau di pake nggak? " Tanyanya.
" Nggak deh, " Tolak Sila, dia memegang bahu Agra dan naik ke atas motor sport pria itu.
"Dingin, Sil. Lo cuma pake baju pendek. Tunggu bentar. " Titahnya. Dia berlari ke arah tempat jemuran, dan mengambil sebuah jaket.
" Punya Agra, lo pake aja. Nanti pulang nya suruh dia bawa balik. " Ucap Septi menyerahkan sebuah jaket hitam.
" Okey. " Balas Sila, namun dia hanya menerima jaket itu, tidak memakainya.
" Pake Sil!! Bukan cuma di Pegang. " Greget Septi.
" Iya iya, nih gue pake. " Kesal Sila karena terus di paksa.
Sedikit kesal juga karena rencana untuk pulang bersama seseorang yang dia sebut teman, gagal.
Dia tidak memberitahu Septi secara langsung karena malu. Mereka belum memiliki status, katanya kalo memberitahu seseorang sebelum resmi jadian, nggak akan jadian nantinya.
" Bye, gue balik. " Kata Sila saat Agra mulai memundurkan motornya dari pekarangan rumah Septi.
Sila membuka ponselnya saat mereka sudah mulai ke jalanan. Agra membawa motornya dengan cukup santai, jadi Sila tidak perlu takut saat duduk di atas motor besar itu.
Dia membuka handphone nya dan mengabari jika dia tidak perlu di jemput dan membatalkan rencana mereka untuk makan malam bersama.
" Astaga!! " Pekik Sila saat Agra merem motonya secara mendadak, otomatis dia tersentak kedepan dan menubruk punggu pria itu.
" Sorry. Motor di depan berhenti mendadak. " Ujar pria itu.
Sila membenarkan kembali duduknya, rasanya dia ingin mengumpat, namun menahannya.
" Lain kali hati-hati. " Pesannya dengan nada menahan kesal.
Kemudian motor pria itu berjalan kembali.
" Sorry sebelumnya, tapi bisa lebih cepet gak? Gue udah dingin banget. " Pinta Sila dengan tubuh yang condong kedepan supaya pria itu bisa mendengarnya.
Di depannya ini pacar orang loh, Sila tak enak jika mereka terlalu lama di perjalanan seperti itu.
" Jalanan licin. Bahaya kalo cepet-cepet. "
What!! Sila tidak salah denger kan!!
Trus tadi ngapain dia kebut-kebutan saat pulang dari apartement nya??
" Hah? Gimana ? " Tanya nya, takut salah dengar.
Belum sempat Agra membalas, hujan turun kembali dengan deras.
"pegangan, gue mau ngebut. " Titahnya. Pemuda itu melirik spion yang menampilkan wajah Sila, bibir pucat nya menjadi penegasan jika apa yang di katakan gadis itu tidak bohong jika dia kedinginan.
Tanpa di perintah dua kali, Sila memegang pundak pria itu sebagai pegangan. Dia tak mau sok sok an nolak dan berujung kecelakaan.
Motor pria itu sport, jika dia tidak berpegangan saat dibawa nanti, bisa-bisa tubuhnya terpelanting saat pria itu mengoper motor nya.
Dengan tubuh yang basah kuyup, mereka sampai di depan rumah Sila yang gelap gulita.
" Numpang ke kamar mandi, sebentar. " Pinta Agra yang turun dari motornya. Pria itu jauh lebih basah kuyup karena sejak dari apartemen tidak memakai mantel.
Sila ingin menolak, dirumah nya tidak ada siapa-siapa, tidak enak rasanya. Namun, lebih tidak enak menolak pria itu yang sudah mengantarnya walaupun dia tidak meminta.
" Ayok, " Ajaknya mengijinkan.
Dia menyalakan senter di handphone nya dan membuka kunci rumahnya.
Agra membuka sepatunya dan ikut masuk kedalam rumah.
Satu persatu lampu mulai menyala, Sila berbalik menghadap Agra.
" Ikut gue, " Titah nya dan masuk ke sebuah kamar.
" Kamar mandi nya di pojok sana. Lo mau ganti baju? Gue punya abang dan ada beberapa baju yang masih baru. Lo bisa pake nanti. "
" Boleh, " Jawab pria itu dengan senyum tipis dan masuk ke kamar mandi.
Sila membuka lemari baju milik abangnya, mengambil kaos dan celana selutut beserta dalamannya yang masih baru.
Tok tok tok
" Gra, bajunya udah gue siapin di atas tempat tidur. Gue mau ke kamar dulu ganti baju. " Beritahunya.
Agra menatap pantulan dirinya di depan cermin, kemudian menatap pintu kamar mandi yang terdengar suara Sila.
" It's time?? " Gumamnya menatap wajahnya di dalam cermin.
Dia menyugar rambutnya yang basah, bibirnya tertarik ke atas, menyeringai.
Anda Mungkin Juga Suka





