Sampul Novel DIKIRA MISKIN

DIKIRA MISKIN

8.0 / 10.0
Dalam modern romance berjudul DIKIRA MISKIN, Yudi dan Antika harus menghadapi penghinaan keluarga karena dianggap hidup susah. Namun, kesuksesan rahasia mereka di kota memicu konflik saat para ipar mulai mengejar harta. Baca web novel ini untuk melihat pembuktian harga diri mereka.
Ringkasan DIKIRA MISKIN
Yudi dan Antika kerap menjadi sasaran cemoohan para kakak ipar yang memandang rendah kondisi ekonomi mereka. Di balik hinaan tersebut, pasangan ini sebenarnya telah meraih kesuksesan besar selama menetap di kota. Begitu fakta kekayaan mereka terungkap, sikap sinis keluarga besar seketika berubah menjadi upaya untuk mendekat demi keuntungan pribadi. Akankah Yudi dan Antika menerima perubahan sikap yang mendadak ini setelah sekian lama diremehkan?
Baca Selengkapnya

DIKIRA MISKIN Bab 1

"Dik, aku baru saja dapat kabar kalau ibu sakit dan ibu meminta agar kita mau tinggal bersamanya, mau, kan?" kata Mas Yudi usai sarapan.

"Kenapa harus kita, kan, ada Mbak Ranti dan juga Mbak Wiwid?" tanyaku mengerutkan dahi.

Kuhentikan aktifitas yang sedang memotong wortel untuk membuat sup.

"Ibu maunya aku yang mengurusnya karena aku anak lelaki satu-satunya, mau, ya tinggal di kampung ibu? Soalnya rumah itu milikku, milik kamu juga." Mas Yudi mengusap bahuku.

"Iya, Mas, aku manut saja, kemana pun kamu pergi, aku ikut," ucapku yang membuat Mas Yudi tersenyum lega.

"Terima kasih, ya, Dek, kamu memang istri yang baik,"

"Tapi, bagaimana dengan restoran kita kalau kita tinggal di kampung, nggak mungkin kita akan bolak-balik ke sini, secara dari kampung ke sini, kan lumayan jauh," ucapku.

"Kalau masalah itu nggak usah khawatir, ada Alvin yang akan menghandle semuanya, mungkin aku akan ke sini berapa hari sekali," jawab Mas Yudi.

Jadilah sesuai kesepakatan, kami pindah ke kampung halaman Mas Yudi, sebuah kampung yang terletak di pegunungan.

_________________

"Beli ikan sama nuget ayam ya, Pak!" kataku pada tukang sayur yang tengah berhenti di depan rumah.

"Baik, Bu," jawabnya seraya memasukkan barang yang kubeli.

Pedagang sayur itu begitu cekatan melayani pembeli meski usianya sudah tidak muda lagi.

"Maaf, Pak, apa boleh kalau saya beli nagetnya setengah saja, soalnya kalau semuanya kebanyakan, yang suka cuma anak saya," pintaku pada tukang sayur itu.

"Maaf, Bu, nggak bisa, nanti yang setengahnya nggak laku. Kalau memang nggak habis kan nanti bisa disimpan di dalam freezer biar bisa buat besok," kata sang tukang sayur menolak.

Ibu-ibu yang sedang berbelanja kini berbisik-bisik satu sama lain.

"Masalahnya Bu Antika ini tidak punya kulkas, jadi, tidak bisa nyetok makanan," ujar seseibu sinis.

"Kalau di rumah nggak punya kulkas, kan bisa nitip ke tempat Bu Wiwid, dia kan Kakaknya," timpal salah seorang ibu yang memakai baju berwarna merah.

"Eh, ya nggak bisa gitu, enak saja nitip-nitip segala, emang rumah saya ini tempat penitipan barang apa?" jawab Mbak Wiwid-- kakak iparku.

Ia memandangku dengan tatapan tajam dan melotot seolah bola mata berwarna hitam itu hendak lompat dari tempatnya.

"Nggak usah, saya nggak akan nitip kok," ujarku tersenyum.

"Makanya besok beli sendiri, Mbak, percuma merantau lama di kota pulang nggak bawa apa-apa," timpal yang lain.

Ya Allah, hanya gara-gara aku tidak punya kulkas , mereka lantas mengira kalau aku belum sukses di kota.

Entah kenapa Mas Yudi tidak pernah menceritakan pada Kakak-kakaknya kalau kini kami punya restoran yang sudah maju pesat, bahkan sudah membuka cabang di beberapa tempat.

Seminggu yang lalu kami memang hanya membawa perabotan yang sedikit saat datang, kulkas sengaja kami tinggal karena kami pikir tinggal di pegunungan tidak terlalu butuh lemari pendingin. Mau makan sayur tinggal petik, lauk setiap hari ada yang jual, lagi pula, bahan makanan tetap enak kalau fresh alias langsung di masak bukan yang disimpan dalam kulkas. Menurutku, kulkas hanya diperuntukkan bagi orang yang biasa belanja bulanan atau mingguan jadi bisa buat nyetok makanan. Lagipula cuaca dingin membuat tidak enak kalau minum air dingin, enaknya minuman hangat. Aku juga kemarin melihat kulkas milik Mbak Wiwid yang kosong melompong tidak ada isinya, hanya ada tiga butir telur dan dua buah sosis.

"Makanya besok beli kulkas, biar bisa menyimpan makanan beku kaya gini?" Mbak Wiwid menunjuk naget yang akhirnya kubeli semua.

"Iya, Mbak,"

"Besok, suruh Yudi cari kerja biar nggak melamun aja di rumah," kata Mbak Wiwid usai belanja di tukang sayur dan kami beriringan pulang. Rumahnya hanya selisih tiga rumah dari rumah ibu mertua.

"Iya, Mbak," jawabku tersenyum.

Saudara Mas Yudi tidak pernah tahu kalau sebenarnya kami sudah sukses di kota. Sejak dulu mereka memang selalu menghina kami karena hanya Mas Yudi yang tidak bekerja menjadi pegawai. Ya, Mbak Wiwid punya suami yang bekerja sebagai pegawai administrasi di kantor kecamatan, sedangkan suami Mbak Ranti bekerja sebagai guru negeri di sebuah Sekolah Menengah Pertama.

Dua bulan setelah menikah, kami memutuskan untuk merantau di kota karena di sini kami selalu dihina dan disudutkan karena Mas Yudi tidak bekerja dengan seragam rapi seperti mereka. Kami hanya pulang saat lebaran, itu pun tidak pernah lama karena restoran yang kami rintis berkembang pesat.

Air mata ini kembali menetes jika teringat perlakuan buruk saudara Mas Yudi dahulu. Mereka selalu membanggakan para suami mereka yang bekerja dengan pakaian rapi, tidak seperti Mas Yudi yang harus bekerja menjadi tukang bakso keliling. Namun, alhamdulillah setelah bertahun-tahun, kini roda kehidupan sudah berputar, kami sudah sukses, meski tidak menjadi pegawai negeri.

_____________

Telingaku mendengar suara ribut-ribut di luar, sepertinya dari rumah Mbak Wiwid. Suara itu semakin keras sehingga memaksaku untuk keluar melihat apa yang sedang terjadi.

"Ada apa ini, Mbak?" Sebuah pertanyaan kulontarkan saat sudah sampai di depan rumah Mbak Wiwid.

"Mereka ini rentenir yang mau menagih utang," jawab Mbak Wiwid menunduk.

Wajah Mbak Wiwid yang biasanya garang, kini berubah seperti kerupuk yang disiram air. Melempem, bahkan ia tidak sanggup mengangkat wajahnya.

"Memangnya Mbak Wiwid punya hutang buat apa? Bukankah gaji Mas Ajun sangat besar?" tanyaku lagi.

"Aku punya hutang untuk membeli kulkas dan mesin cuci, Tik, tolong pinjami aku uang untuk membayar hutang pada rentenir itu, kalau tidak, kulkas, mesin cuci serta barang berharga yang lain akan disita oleh rentenir itu," ucap Mbak Wiwid dengan bibir bergetar.

"Nggak salah Mbak Wiwid minta pinjaman ke aku, bukankah Mbak selalu bilang kalau aku ini hanya ibu rumah tangga biasa yang punya suami pengangguran? Yang bahkan untuk makan saja susah," kataku merendah. Mas Yudi selalu bilang untuk tidak menceritakan pada siapapun tentang kesuksesan kami di kota termasuk pada kakak-kakaknya sendiri.

"Ayolah, Tik, bantu Mbak, siapa tahu kamu punya simpanan." Mbak Wiwid yang biasanya ketus saat berbicara denganku mendadak lembut kali ini.

Sikap seseorang bisa berubah dalam sekejap karena uang, biasanya kakak iparku ini selalu ketus jika berbicara denganku, bahkan terkadang tidak mau menyapa atau menjawab jika yang lebih dulu menyapanya.

Itulah manusia, jika kita tidak punya uang, maka semua orang seolah pergi menjauh, tetapi jika kita punya uang sedikit saja, mereka akan datang tanpa diminta. Uang ibarat gula dan manusia adalah semut, ada gula ada semut.

"Memangnya utang Mbak berapa?" Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi DIKIRA MISKIN

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gadis Titisan Harimau Putih
8.1
Naiya, guru kontrak yang mempesona, dipindahkan oleh Faisal ke Desa Blang Bungong demi rencana rahasia. Di sana, Laila yang cemburu mencoba membunuhnya lewat dukun, namun gagal karena Naiya adalah titisan harimau putih sakti. Desa itu pun dicekam kutukan Nyai Beulangong yang menumbalkan gadis-gadis untuk jin. Saat Naiya disekap Faisal, Razi datang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Akankah Naiya menyadari cinta Razi di tengah ancaman para dukun jahat ini?
Sampul Novel GRUP JANDA DAN DUDA BERSATU
9.7
Nabila, Moy, dan Elice kembali terhubung setelah sama-sama menyandang status janda. Moy, yang mengelola grup kencan buta, mencoba membujuk kedua sahabatnya untuk bergabung. Meski awalnya Nabila yang pemalu dan Elice yang cerdas menolak keras, kegigihan Moy berhasil memaksa mereka mencoba peruntungan cinta dengan para duda. Akankah pencarian ini membawa mereka pada jodoh sejati, atau justru memicu konflik persahabatan saat hati jatuh pada pria yang salah?
Sampul Novel Istri Muda
8.7
Elang terjebak dalam dilema besar saat ia terpaksa menikahi Huri untuk melunasi utang ibunya kepada orang tua gadis itu. Padahal, Elang sudah memiliki istri sah bernama Kiya. Kini, hidupnya berubah drastis karena harus menyeimbangkan tanggung jawab di antara dua wanita. Akankah Elang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan menjalankan perannya sebagai suami bagi dua istri sekaligus tanpa memicu kehancuran dalam kehidupan pernikahannya?
Sampul Novel My Little Promise
9.6
Alika menyembunyikan penderitaan batinnya di balik keceriaan palsu. Meski kerap menerima kekerasan fisik dan verbal dari sang ayah, ia tetap bertahan dengan ketangguhan mental layaknya baja. Di tengah kejamnya dunia dan trauma yang mengguncang fisiknya, Tuhan menghadirkan sosok pelindung setia yang menjadi perisainya. Namun, sebuah peristiwa tragis yang tidak terduga akhirnya terjadi, mengubah hidup Alika selamanya dan menguji batas kekuatan yang ia miliki.
Sampul Novel Organ Putriku Untuk Putra Pelakor
8.0
Seorang dokter yang dikenal mulia tega mengabaikan korban kecelakaan kritis demi menemani anak dari cinta pertamanya. Demi mendapatkan donor jantung bagi anak tersebut, ia bahkan sengaja menukar obat agar sang pasien meninggal perlahan. Tanpa disadari, gadis kecil dengan wajah rusak yang ia korbankan adalah putri kandungnya sendiri. Kebenaran mengerikan ini mulai terungkap saat ia menghubungi keluarga korban untuk meminta donor organ, dan ponsel istrinya tiba-tiba berdering di ruangan yang sama.
Sampul Novel Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor
8.2
Kesetiaan selama delapan tahun runtuh seketika bagi Nindy. Di malam pernikahan Peter dengan wanita lain, kepedihan Nindy berubah menjadi aksi nekat. Tanpa ragu, ia menghancurkan seluruh isi rumah yang telah mereka tinggali bersama selama hampir sewindu tersebut. Mengangkat konflik pengkhianatan yang mendalam dalam hubungan modern, kisah ini menggambarkan batas akhir kesabaran seorang wanita yang dikhianati oleh pasangannya tepat di hari bahagianya bersama orang lain.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan