Sampul Novel Sentuhan Memabukkan Shifa

Sentuhan Memabukkan Shifa

8.1 / 10.0
Dalam Sentuhan Memabukkan Shifa, mahasiswi Shifa Sakinah menjebak asistennya, Karim Zahid, dalam permainan gelap yang mengubah hidup. Romance novel ini menyajikan konflik rahasia masa lalu dan pilihan sulit. Baca kisah selengkapnya di web novel modern ini sekarang.
Ringkasan Sentuhan Memabukkan Shifa
Karim Zahid tidak pernah menyangka bahwa mahasiswi baru bernama Shifa Sakinah akan menjeratnya dalam permainan gairah yang berbahaya. Meski Shifa sempat ingin mengubur masa kelamnya, desakan keadaan memaksanya menunjukkan sisi gelap di depan sang asisten praktikum. Kini, Karim terjebak dalam pesona bidadari terlarang yang mengusik prinsip hidupnya. Sentuhan menggoda Shifa tidak hanya menguji iman Karim, tetapi juga mengubah seluruh alur kehidupannya selamanya.
Baca Selengkapnya

Sentuhan Memabukkan Shifa Bab 1

“Bagaimana, Mas Karim? Mas sungguh mau mempertimbangkan nilai akhir saya jika saya bisa melayani Mas ‘kan?” tanya Shifa kepada pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Asisten senior yang notabene pelit dengan nilai untuk praktikum yang dihadapi oleh Shifa sebagai mahasiswa baru.

“Jangan aneh-aneh, Dik Shifa. Aku sudah punya kekasih dan dia sangat mahir di ranjang,” komentar pria yang bernama Karim itu. Shifa merasa tertantang untuk mengetahui seberapa jauh eksplorasi Karim dengan kekasihnya itu. Gadis itu menaikkan pandangannya. Netra gadis itu, satu-satunya dari wajahnya yang terlihat di luar cadar yang dia kenakan, menyorot tajam ke arah Karim.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan, Mas Karim? Saya tidak masalah menjaga rahasia,” komentar Shifa dengan santai. Karim tertawa merendahkan.

“Apa yang kamu tahu tentang bermain di ranjang? Aku hanya membuat kalimat itu karena kamu bilang akan melakukan apapun,” tanya Karim dengan nada mengejek. Shifa benar-benar merasa dia harus membuktikan dia tidak semudah itu untuk direndahkan untuk keseriusannya.

Gadis itu langsung menurunkan cadarnya dengan cepat lalu mencium bibir Karim. Karim tampak terkejut dengan serangan Shifa hingga dia kesulitan untuk mengikuti permainan yang dibawa oleh mahasiswa baru yang berada di apartemennya ini. Shifa tidak peduli bahwa dia harus membuat Karim puas, karena nilai dari praktikum ini akan menentukan kelulusan satu mata kuliahnya.

“Kamu gila!” komentar Karim saat Shifa melepaskan ciuman dadakan itu.

“Mas tidak suka?” tanya Shifa datar. Karim terdiam. Ciuman Shifa lebih bersensasi dibandingkan ciuman yang selama ini dia dapatkan dari kekasihnya. Rasanya berbeda, seakan menantang Karim untuk meminta lebih.

“Kenapa Mas? Menikmatinya?” tanya Shifa dengan santai. Tangan mungil gadis itu sudah mulai menyentuh pusaka Karim yang sudah terlepas dari celana yang dia kenakan. Karim bingung, sejak kapan gadis itu melepasnya.

“Kalau Mas Karim benar-benar menginginkan saya, Mas Karim akan mendapatkannya selama rahasia ini di antara kita,” bisik Shifa di telinga kanan Karim. Karim merasa dia telah menemukan seorang gadis gila.

“Kamu bercanda,” komentar Karim datar. Sedatar yang dia bisa karena jelas Shifa benar-benar mencoba merangsangnya dengan sentuhan di pusakanya. Shifa menggelengkan kepalanya seraya menggunakan kedua tangannya untuk melepas kancing pakaian kemeja milik Karim.

“Saya bukan tipe bercanda, Mas Karim,” jawab Shifa bersamaan dengan kancing terakhir dia lepas dari pakaian Karim. Sekarang, pakaian dalam Karim digeser oleh Shifa untuk menyentuh bagian dada bidang pria itu.

Karim menyadari bahwa gadis di depannya ini serius dengan kalimatnya.

“Atau Mas sekarang ragu, karena saya bersungguh-sungguh?” tanya Shifa dengan santai. Karim bingung ingin menjawab apa. Jika dia mundur, maka harga dirinya akan hancur. Jika dia maju, maka dia telah berkhianat pada kekasihnya. Pada akhirnya, dia memilih berkhianat demi nafsu yang terus dipicu oleh gadis muda di depannya itu.

“Kamu sendiri, bukannya dirugikan dengan bersamaku?” tanya Karim memastikan. Shifa tersenyum tipis sementara tangan mungilnya sibuk bermain dengan pusaka dan dada Karim.

“Saya tidak rugi apapun, Mas Karim. Orang hanya kenal saya sebagai Shifa Sakinah yang pendiam, lugu, dan tidak dipedulikan. Kalaupun Mas bocorkan, saya tidak masalah,” jawab Shifa dengan tenang, “tetapi Mas Karim akan kehilangan Mba Cahaya,” lanjutnya dengan tenang. Karim tidak percaya bahwa Shifa mengetahui nama kekasihnya itu. Selama ini, dia dan Cahaya tidak mencolok di kalangan mahasiswa baru sebagai seorang kekasih.

“Teman-teman saya di angkatan mungkin lugu Mas, tetapi saya tidak bodoh. Sorotan mata Mba Cahaya dan Mas Karim menjelaskan semuanya,” jelas Shifa dengan tenang. Karim tidak percaya gadis ini sangat jeli dengan hal-hal seperti itu.

“Saya menduga ada ide licik di benak Mas Karim sewaktu mengatakan silakan bertemu saya di apartemen ini,” komentar Shifa lagi dengan santai. Karim benar-benar kesulitan untuk berpikir jernih antara kalimat penjelasan Shifa dan sentuhan-sentuhan memabukkan yang gadis itu berikan. Dia tidak menduga bahwa gadis mungil tertutup di depannya ini sangat liar di kamar tertutup.

“Mas mau dengan risiko pembuahan atau ini menjadi pesta kita saja?” tanya Shifa lagi dengan tenang. Karim membelalak mendengar kalimat itu. Gadis di depannya jelas gila!

“Apa maksudmu ‘pembuahan’!?” tanya Karim dengan intonasi tinggi. Shifa terkekeh.

“Masa Mas Karim bermain berkali-kali dengan Mba Cahaya tidak mengerti?” tanya Shifa dengan santai. Senyuman terlukis di wajah gadis itu, membuat Karim menyadari bahwa Shifa melontarkan pertanyaan serius.

“Kalau aku jawab tidak, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Karim dengan nada setenang mungkin. Shifa benar-benar mahasiswi tergila yang pernah dia hadapi.

“Saya bawa pil,” jawab Shifa dengan datar, “jadi penentunya jawaban Mas,” lanjutnya. Karim tidak habis pikir dengan mahasiswi ini.

“Kalau begitu, minumlah,” jawab Karim datar. Shifa tersenyum. Gadis itu bergerak mengambil segelas air lalu meminum sebuah pil bersama dengan air itu. Selanjutnya, gadis itu kembali menyentuh Karim dengan menggoda.

Karim menyadari, dia telah mengambil buah terlarang. Hanya saja, dia tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah ada di hadapannya. Karena dia telah memetiknya, maka dia harus menikmatinya.

“Tunjukkan padaku kalau kamu benar-benar bisa menyaingi Cahaya,” komentar Karim menantang Shifa. Shifa tersenyum menyeringai.

“Mas sungguh ingin menduakan Mba Cahaya? Mas tidak bisa kembali lagi setelah pergumulan kita nanti,” komentar Shifa mengingatkan dengan santai. Karim merasa Shifa sedang memainkan emosinya.

“Jangan bermain-main denganku, Shifa Sakinah!” hardik Karim dengan nada tinggi. Shifa sempat mundur karena terkejut, tetapi gadis itu kemudian melukiskan sebuah senyuman setelah Karim menyadari dia telah berteriak.

“Kalau begitu, saya yang memimpin ya, Mas Karim,” pinta Shifa dengan senyuman dan kedipan mata seksi di depan Karim. Karim menyadari, dia telah terperangkap dalam pesona seorang gadis muda. Mungkin, Shifa benar-benar tahu apa yang dia lakukan.

Shifa melepaskan pakaian miliknya hingga seluruh tubuhnya bisa disaksikan oleh Karim. Buah dada gadis itu mungkin tidak sebesar milik Cahaya, tetapi ukurannya pas di tangan Karim. Karim juga melihat betapa indahnya bagian kemaluan gadis itu, mengundang dirinya untuk tertawan penuh dalam pesona Shifa.

“Bidadari.” Satu-satunya kalimat yang bisa dikatakan oleh Karim. Dia telah salah mengira tentang Shifa. Karim mengira Shifa menyembunyikan tubuh jelek dengan pakaian yang sangat menutupi dirinya.

Bahkan, teman-teman seangkatannya yang nakal, yang dimana mereka asistensi dengan Karim sebagai asisten mereka, pernah mengatakan kalau dari semua gadis di angkatan mereka, Shifa adalah orang terakhir ingin mereka sentuh. Mereka mengatakan Shifa terlalu culun, tertutup, dan tidak menarik.

“Kenapa bengong, Mas Karim?” tanya Shifa dengan lekuk tubuhnya menyentuh tubuh Karim. Karim bisa gila menyaksikan tubuh Shifa di depannya seperti ini. Dia telah terperangkap dengan bidadari.

“Apakah saya terlalu cantik untuk ekspektasi Mas?” tanya Shifa lagi seraya bermain dengan tubuh Karim. Karim menelan saliva yang mulai keluar di lidahnya.

“Ah, Mas tidak sabar menyentuh saya, ‘kan?” tanya Shifa lagi dengan santai, masih bermain dengan tubuh Karim. Karim menahan diri untuk tidak gelap mata dan menerkam gadis di depannya itu.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sentuhan Memabukkan Shifa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Balas Dendam Istri yang Teraniaya
9.5
Pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi neraka akibat tuduhan sepihak. Tokoh utama wanita dalam novel modern misteri Balas Dendam Istri yang Teraniaya ini terus-menerus menerima hinaan kejam dari ibu mertuanya yang meyakini bahwa dirinya mandul. Namun, kekejaman itu tidak berhenti pada kata-kata saja. Di balik punggungnya, sang ibu mertua secara diam-diam memengaruhi suaminya untuk mengkhianati pernikahan mereka, berselingkuh, hingga memiliki anak dengan wanita lain.
Sampul Novel Dinikahi Om Bujang
9.4
Berdasarkan kisah nyata, narasi ini membuktikan bahwa jabatan dan usia bukan penentu kebahagiaan rumah tangga. Fokus utama adalah kejujuran serta upaya saling melengkapi. Sang suami dengan sabar membimbing istrinya yang sempat jauh dari agama untuk kembali mengenal Islam. Meski diterpa cemoohan keluarga terkait masa lalu sang istri, ia tetap setia merawat di kala sakit. Sebuah bukti cinta tulus yang mengedepankan kesabaran dan perjuangan spiritual dalam pernikahan.
Sampul Novel Impian yang akan terwujud
8.7
Dalam kisah dewasa muda yang inspiratif ini, aku memegang teguh keyakinan bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil akhirnya. Meskipun rintangan berat terus menghadang di setiap langkah, semangatku tidak akan pernah padam. Aku bertekad untuk terus memperjuangkan segala impian yang ingin kucapai tanpa ada niat untuk menyerah sedikit pun. Bagiku, tidak ada kata mundur dalam mengejar masa depan, karena setiap usaha pasti membawa keberhasilan.
Sampul Novel Mantan Kekasihku Menjadi Bosku
8.5
Nina terkejut saat takdir mempertemukannya kembali dengan mantan kekasih yang sangat ia benci. Meski sudah pindah kota demi memulai hidup baru, pria dari masa lalunya itu kini justru muncul sebagai bos di kantornya. Hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman pahit yang menyisakan kebencian mendalam. Di tengah tekanan pekerjaan dan konflik batin, Nina bimbang antara melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi pria yang dahulu sangat ia cintai itu.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara memaksaku mendonorkan sumsum tulang demi tunangannya, Rania. Meski tumbuh bersama, dia kini membenciku. Rania menjebakku hingga Baskara menyiksaku dengan kejam, bahkan menculik orang tuaku akibat fitnah video asusila. Aku dipaksa menonton mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah sakit parah yang kurahasiakan, Baskara justru menyuruhku mengakhiri hidup. Tanpa ragu, aku menyanggupi permintaannya dan melompat menuju kehampaan.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta
9.7
Di firma NCA, aturan melarang hubungan asmara demi menjaga rahasia kekuasaan. Lucía Vega dan Bruno Ortega adalah agen profesional yang terjebak dalam sistem dingin tanpa kehidupan pribadi di luar kerja. Namun, ketertarikan yang muncul memaksa mereka memilih antara kepatuhan pada aturan perusahaan atau mengejar cinta yang berisiko menghancurkan karier mereka. Di tengah pengawasan ketat, mampukah mereka bertaruh demi perasaan yang selama ini dilarang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan