
Obsesi Pacar Sahabatku
Bab 3
Sila membuka pintu kamarnya, dia keluar dari kamar dengan piyama panjang, rambut tergerai serta sandal rumahan bergambar kucing di kakinya.
Langkah nya langsung membawanya ke dapur untuk membuat minuman yang menghangatkan tubuhnya. Tangannya sudah mengkerut karena kedinginan.
Dia mengambil dua gelas dan memasukkan teh serta gula kedalam nya. Kemudian menuangkan air panas.
Telinganya sedikit terangkat mendengar suara langkah kaki yang datang di belakangnya.
Namun dia tak berniat menoleh, tangannya sibuk mengaduk pelan teh di depannya.
" Ngapain ?? “ suara berat itu masuk ke pendengaran Sila.
Gadis itu spontan menolehkan kepalanya saat mendengar begitu dekat suara Agra.
" Lo ngapain??! " Tekan Sila tak suka saat Agra meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi tubuhnya sehingga dia dalam kurungan pria itu.
" Minggir gak !! " Tekannya
" Agra!! " Bentak Sila saat tangan pria itu mulai memeluknya.
Dia meronta, berusaha untuk lepas. Demi tuhan ! Dia sangat terkejut dan cukup syok dengan tindakan yang di lakukan pemuda itu.
" Gila lo !! " Maki Sila.
Dalam hati dia sudah takut dengan tingkah pria itu. Tenaganya tidak akan sebanding, tingginya hanya sebatas dagu pria pria itu. Dan juga postur tubuh pemuda itu tentu lebih besar dengan nya.
" Santai sayang, aku tidak akan macam- macam kalo kamu nurut. " Bisiknya di telinga Sila.
" Najis, lo pacarnya temen gue. Ngapain manggil gue sayang. " Umpat Sila kasar.
" Masih pacar bukan suami, gapapa sedikit main main. " Ucapnya.
Sila langsung terdiam dengan kalimat yang dilayangkan pria itu.
" Kenapa? Gak asing hmm sama kalimatnya. “ tanyanya.
Sila meneguk ludahnya kasar, jelas dia tak asing, kalimat yang hampir sama itu pernah dia ucapkan kepada Septi.
Masih pacar bukan istri, gak papa sedikit main main.
Kan nyari yang tepat.
Kalimat itu langsung terngiang di kepala Sila.
" Septi beruntung banget punya temen yang care kaya kamu. " Kekeh Agra, dia membalik paksa tubuh Sila hingga menghadap dirinya.
Tangannya kanan nya terangkat dan mengelus sebelah pipi Sila, kemudian mencengkram nya.
" Mulai sekarang kamu pacar aku. "
" Akhh, ogah!!. "
" Lo gila!! " Umpat Sila berusaha menarik tangan pria itu yang mencengkram dagunya.
" Lepas dan pergi lo dari sini. " Teriak nya mengusir.
" Turunkan nada bicara mu sayang. " Geram Agra tak Terima karena terus di teriaki.
" Gila anjing, sumpah lo gila. " Pekik Sila mengumpati.
Bugh
Sila memukul rahang pria itu hingga cengkraman tangannya terlepas dari dagunya, kemudian mendorong Agra yang lengah dan berlari dari sana untuk menghindar.
Alarm bahaya di kepalanya mulai berbunyi dengan tingkah Agra yang membuatnya takut.
Derasnya hujan di luar terdengar, Sila meraih pintu keluar di rumahnya, mencoba ingin kabur keluar dan menghampiri rumah tetangga. Namun tubuhnya dengan kasar tertarik sebelum sempat dia memegang handle pintu.
Agra memeluk erat tubuhnya dari belakang, kemudian menyeretnya masuk kedalam kamar tamu yang tak jauh dari pintu keluar. Kamar yang tadi di gunakan oleh pria itu.
" Agra!! Lepas!! Lo gila, mau ngapain anjing. " Umpat Sila dengan kaki yang bergerak memberontak.
" Berhenti mengumpat sayang!! " Sentaknya dengan nada rendah.
Tubuh Sila bergetar, air mata di pelupuk nya mulai menumpuk. Takut dengan tindakan dan sikap dari pacar temannya itu.
Pria itu duduk di pinggir tempat tidur dengan Sila yang ada di pangkuannya.
" Ingat Gra, lo pacar temen gue. " Cicit Sila.
" Aku ingat. Tapi teman mu yang memulainya lebih dulu, dia yang bermain belakang lebih dulu, kamu mengetahui nya dan kamu malah mendukungnya. So, kenapa aku juga tidak boleh melakukan nya? " Ujar pria itu, dagunya dia letakkan di bahu Sila.
" G_gue udah nasehatin dia kok, tapi percuma. " Bantah Sila.
" I don't care, intinya kamu mendukung perbuatan buruk teman mu itu. Jika kamu tidak mendukung, harusnya kamu memberitahu aku sejak awal. "
" Gue gak punya hak buat ikut campur urusan hubungan kalian. " Ketus Sila.
" Lo jangan gini. Gue temennya pacar lo, dan Septi juga kayak gitu sama mantan nya cuma sekedar chatan gak lebih. Lo jangan asumsi sendiri. " Lanjut nya.
" Kamu salah, mereka lebih dari sekedar chatan. " Bantah Agra.
" Gue gak tau dan gak mau tau soal permasalahan kalian, please, jangan seret gue masuk ke permasalahan kalian. " Ujar Sila dengan nada memohon.
" Kalo lo emang sakit hati karna sikap Septi, lo mending putusin dia, mumpung hubungan kalian belum lama. Dan cari cewe yang lebih bisa ngertiin lo. Dari awal, Septi memang salah karna mulai hubungan baru tapi belum selesai sama masa lalu. " Saran Sila dengan nada lebih halus.
Dalam hati dia mengumpat habis-habisan, posisinya terancam. Agra bisa nekat menyakitinya dan jika itu terjadi, Sila benar-benar akan habis di tangan pria itu tanpa ada yang menolongnya.
" Tidak semudah itu. " Balas Agra.
" Ck, terus lo pengen gimana? Kalo mau bales selingkuh, silahkan, itu hak lo. " Ketus Sila.
" Aku pengen kamu. " Gumamnya, dia memejamkan matanya menghirup aroma yang menguar di rambut Sila.
" Lepas lepas, lo kayaknya beneran gila. " Berontak Sila mencengkram tangan pria itu yang melilit perutnya.
Agra ganteng? Tentu saja, dia bahkan badboy idaman anak-anak sekolah. Tapi Sila tidak menyukai nya, selain karna pria itu adalah pacar temannya, dia sudah menyukai pria lain dan sialnya hingga saat ini belum kunjung jadian.
" Jadi pacar aku La. " Pinta nya
" Apasih, ogah. Gue gak suka sama lo. " Ketus Sila.
" Nanti lama-lama juga suka. " Balasnya.
" Gue. Gak. Mau. Lo pacar nya temen gue, gak mungkin gue nusuk dari belakang. " Tekan Sila.
" Nanti kalo kamu udah suka sama aku, aku putusin Septi. " Ujarnya enteng.
" Brengsek. " Maki Sila.
" Aku harus gimana biar kamu Terima aku? " Tanyanya dengan nada seperti merengek.
Sila mengernyitkan alisnya, ekspresi nya seperti orang yang akan muntah mendengar ucapan pria itu.
" Lepasin gue dulu. " Pinta Sila.
" Terima dulu, baru aku lepasin. "
Anak anjing! -Umpat Sila dalam hati.
Septi tidak pernah bercerita jika pacar barunya itu sangat menyebalkan dan juga terkesan childish. Sahabatnya itu selalu bilang jika Agra orang yang dewasa namun cuek.
Dewasa ? Kayak babi gini di bilang dewasa.
" Gra, please lepasin. Setelah itu lo pulang sebelum abang gue pulang. " Pinta nya dengan nada memohon.
" Terima dulu, baru kamu boleh lepas. " Paksa nya masih dengan permintaan yang sama.
Akh, brengsek!!
Umpat Sila saat tangan pria itu mulai mengelus perutnya dengan halus.
" Iya-iya, terserah lo. Sekarang lepasin. Gue. " Ucap Sila cepat.
Agra terkekeh pelan, dia melonggatkan tangannya dan hal itu dijadikan kesempatan untuk Sila bangun dari pangkuan pria itu.
Sila menatap pria itu dengan wajah memerah menahan amarah, namun dia menahannya. Tak ingin memancing Agra.
" Pulang! Abang gue bentar lagi balik. " Usir Sila.
Tak peduli di luar hujan deras, Sila tak ingin hal lain yang tidak mengenakan terjadi.
Agra gila, semoga pria itu melupakan kejadian hari ini dan bersikap seperti biasa.
" Oke. Aku pulang, besok aku kesini lagi. " Ucapnya dan bangun dari duduknya.
" Gak usah, ngapain ??! " Sentak Sila spontan.
" Main. " Jawabnya santai.
Dia berjalan ke arah kursi yang terdapat jaket hitam yang di pakainya tadi, dan memakainya kembali.
Setelah di perhatikan, jaket itu ternyata semacam jaket kulit dan tidak tembus terhadap air. Pantas saja pemuda itu tidak memakai mantel.
"Gak usah, lo main aja ke rumah Septi. Gue udah ada urusan besok pagi. " Bantah Sila.
" Septi mau jalan sama Gibran. Aku gak mau ganggu. " Beritahunya.
" Stress, pacar lo itu. Kok malah di biarin. " Cibir Sila, dia tak tahu menahu jika Septi akan jalan bersama Gibran. Temannya itu tidak memberitahu dan darimana Agra mengetahui nya??
" Pacar aku kan sekarang kamu. " Ujarnya dengan senyum puas.
" Jadi besok aku kesini, jangan kemana-mana. Batalin urusan kamu besok. " Titahnya memerintah.
Dih, ngatur lo?! Gue gak nge iyain kalo gue mau jadi pacar lo
Kalimat itu hanya bisa Sila suarakan dalam hatinya.
Cklek cklek
Sila mengunci pintunya rapat setelah Agra keluar dari rumahnya, tak peduli jika pria itu belum benar-benar keluar dari pekarangan rumahnya.
Dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu dan memegang jantungnya yang berdetak kencang karena takut.
tin
Sila mengintip dari balik gorden, memastikan pria itu susah benar-benar keluar dari halaman rumah nya.
" Dia gila, demi apapun gue gak mau ketemu lagi sama dia. "
Anda Mungkin Juga Suka





