
Naughty Neighbor
Bab 2
“Katanya si memang mau ada yang kontrak, kan sudah lama kosong rumahnya itu.” Rania mendengar sayup tetangganya sedang membicarakan sesuatu ketika dia menunggu tukang sayur lewat di depan rumahnya. Perempuan itu hanya tersenyum sedikit. Dia merasa terbiasa, jika dia ikut membicarakan hal seperti itu, bukankah akan sama jika nanti dia punya giliran yang lain? Rania terbiasa mendengar hal seperti itu.
“Belum lewat juga?” Ibu Rania bertanya kepada anak perempuannya itu, dia juga duduk di kursi di teras rumahnya bersama dengan anak perempuannya itu.
“Belum.” Rania masih mengawasi jalanan karena tukang sayur dengan pick up belum berjalan dari rumah tetangga yang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Rania di rumah, Ibu Rania terbiasa memberhentikan mobil sayur di depan rumahnya dan tidak berjalan jauh ke tempat tetangga dimana semua orang berkumpul bersama untuk berbelanja. Mereka tentu akan berbelanja sambil membicarakan sesuatu. Ibu Rania juga menghindari hal seperti itu.
“Katanya rumah depan mau ada yang menempati?” Rania masih diam sambil memeriksa ponsel pintarnya. Dia melihat reality show dari negeri kimchi yang selalu saja menghibur ketika dia menontonya.
“Lumayan juga kalau punya rumah tapi bisa dijadikan tempat kos atau kontrakan.” Ibu Rania kembali mengajak anak perempuannya itu berbicara sambil menunggu mobil sayuran lewat. Rania mematikan video di ponsel pintarnya dan kemudian tersenyum.
“Kalau Ibu pasti susah, masalahnya gak semua penghuni kos atau kontrakan akan menganggap tempat tinggalnya seperti rumah mereka. Mereka nanti kalau tidak bersih, Ibu yang rewel.” Rania terlihat tersenyum mengetahui sifat Ibunya.
“Ya kalau gak kelihatan mata mungkin gak seperti itu.” Ibu Rania tersenyum mengakui jika dia memang tidak tahan dengan sesuatu yang menurutnya tidak sesuai. Karena itu juga mereka tidak pernah punya asisten rumah tangga.
“Tapi anehnya kok kontrak rumah di sini, biasanya kan banyak yang kontrak di dekat jalan besar, atau di gang sebelah sana itu yang masih dekat dengan jalan besar lagi.” Ibu Rania kembali mengatakan sesuatu yang membuat putrinya itu menyunggingkan senyum.
“Sesukanya yang mau menggunakan rumah lah Bu, ada-ada aja Ibu ini.” Rania mulai bercanda dan mengejek Ibunya sedikit. Wanita itu hanya tersenyum karena apa yang Rania katakan benar.
Tidak berapa lama mobil tukang sayur lewat dan mereka segera berdiri di depan pagar halaman rumah. Rania terlihat mengamati apa yang masih ada di mobil sayur itu. Tentu saja dia mencari sesuatu yang menarik baginya. Meski ternyata di sana sudah tidak banyak tersisa sayuran atau bahan makanan lainnya. Setelah selesai membeli beberapa bahan makanan mereka berdua kemudian masuk lagi ke dalam rumah.
“Rumah depan itu katanya di kontrakkan.” Rania tersenyum karena mendengar bahan pembicaraan yang hampir sama dari Bapaknya. Dia hanya lewat dan membawa belanjaan ke belakang. Ketika dia kembali lagi Rania kemudian duduk di ruang tengah, tempat kedua orang tuanya duduk di sana. Perempuan itu sebenarnya harus mengamati seseorang tapi dia sedikit melewatkannya.
“Kok bisa ya Pak ngontrak di daerah sini? Apa dia kerja di sekitar sini?” Ibu Rania lagi-lagi masih melontarkan pertanyaan yang hampir sama.
“Bisa jadi, atau mungkin sekolah. Apa bisa jadi dia guru?” Bapak Rania lebih parah lagi, langsung memberikan analisis bahkan ketiga mereka belum melihat orangnya. Rania hanya tersenyum dan menatap kedua orang tuanya bergantian. Rasanya dia memang hanya ingin bisa menghasilkan uang tanpa meninggalkan kedua orang tuanya. Jika banyak temannya menghasilkan banyak uang dengan bekerja di perantauan, maka inilah jalan yang dipilih oleh Rania untuk menghasilkan uang dengan cara yang dia anggap paling mudah.
“Adikmu itu, pinjam uang ke Bapak tapi gak pernah di kembalikan.” Bapak Rania tiba-tiba mengubah arah pembicaraan mereka. Perempuan itu sangat mengerti jika mereka mungkin tidak kekurangan. Tapi meski adiknya bahkan bekerja keras, mereka sering kali membutuhkan dana untuk hal-hal penting. Rania hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Perempuan itu kembali memeriksa ponsel pintarnya. Dia tentu saja memiliki banyak uang tersimpan dengan cara yang berbeda. Perempuan itu mengerti bagaimana dia bisa menempatkan uang di aplikasi pembayaran online bahkan yang berskala internasional. Dia terdiam sesaat, jika dia mengatakan punya uang untuk membantu kedua orang tuanya, maka mereka akan bertanya bagaimana dia punya uang yang banyak. Selama ini Rania hanya mengatakan dia mendapatkan uang dengan bermain game online. Jumlah yang dia dapatkan juga bukan hasil yang banyak.
“Mungkin dia memang butuh, biarkan saja Pak. Nanti kalau ada rejeki Rania kembalikan uang Bapak yang dipinjam adik.” Rania dengan tenang mengatakan sesuatu yang membuat Bapaknya tersenyum.
“Gak perlu, maksud Bapak bukan begitu. Kalau pinjam yang memang harus di kembalikan. Kalau memang minta Bapak pasti beri. Jangan pinjam tapi tidak di kembalikan itu namanya dia belum bisa konsisten dengan apa yang dia katakan.” Rania terdiam mengerti apa yang bapaknya maksudkan. Perempuan itu tidak menjawab lagi dan hanya mencerna apa yang Bapaknya katakan.
“Ya sudah kalau begitu biarkan saja. Semoga rejeki kita lancar dan bisa terus membantu mereka jika mereka membutuhkan.” Ibu Rania terlihat berusaha menenangkan suaminya itu.
“Kadang memang apa yang orang lihat ya itu yang menjadi pendapat mereka. Misalnya adiku itu, dia kelihatannya kerja dan seolah menanggung kehidupan semua orang di rumah ini. Padahal ya kamu juga cari uang sendiri dan bahkan dia yang kurang dan minta ke Bapak. Kamu sepertinya yang butuh, tapi sama sekali tidak pernah minta.” Bapak menatap Rania dan anak perempuannya itu hanya tersenyum.
“Tapi kalau Rania butuh dan tidak punya uang, pasti Rania akan minta. Jadi ya sama saja Pak.” Perempuan itu mencoba menenangkan Bapaknya supaya laki-laki itu tidak terlalu memuji dia.
“Iya si, cuma ya dia yang kelihatannya kerja keras begitu uangnya juga tetap kurang.” Bapak terlihat prihatin dengan adik laki-laki Rania.
“Karena dia juga sudah punya banyak tanggungan, beda sama Rania Pak.” Perempuan itu kembali mencoba menenangkan Bapaknya yang mungkin saja kesal dengan sikap adik laki-laki nya itu.
“Lagi pula setiap anak punya usahanya dan juga punya rejekinya masing-masing. Kita juga sebagai orang tua tidak masalah memberi kepada mereka.” Ibu Rania kembali berusaha memberikan pengertian yang membuat Bapak Rania terdiam.
“Jadi kapan yang kontrak rumah pindahan? Sepertinya banyak yang menunggu.” Rania terlihat tersenyum berusaha mengalihkan pembicaraan ke obrolan yang lainnya.
“Besok atau lusa, ada yang bilang jika yang pindah itu laki-laki. Mungkin seusia kamu karena dia sepertinya kerja dimana gitu dan posisinya sudah lumayan tinggi.” Bapak bercerita seolah memang tahu detailnya seperti apa.
“Kalau ada tetangga baru, maka aku pasti tidak akan terus-menerus jadi bahan omongan bukan? Semoga ada yang menarik yang membuat mereka tidak lagi ingin membicarakan kita.” Rania kemudian berdiri dari kursinya dan tersenyum kepada kedua orang tuanya yang tersenyum juga melihat wajah dari kedua orang tuanya itu.
Anda Mungkin Juga Suka





