Sampul Novel Dimadu Saat Koma

Dimadu Saat Koma

9.0 / 10.0
Dalam novel modern Dimadu Saat Koma, Inara menghadapi pengkhianatan suami yang menikah lagi saat ia tak berdaya. Terjebak dalam konflik rumah tangga, ia mencari pelarian melalui mantan kekasihnya. Baca kisah romance novel ini tentang balas dendam dan pilihan sulit di web novel kami.
Ringkasan Dimadu Saat Koma
Pasca koma setelah melahirkan, Inara mendapati kenyataan pahit. Suaminya telah berpoligami, dan sang anak pun bersikap dingin padanya. Di tengah luka itu, Dokter Feri yang merupakan mantan kekasihnya hadir memberikan kenyamanan. Inara yang terkhianati akhirnya terjebak dalam hubungan gelap sebagai bentuk balas dendam. Kini ia harus memilih antara bertahan dalam pernikahan yang hancur atau mengakhirinya demi harga diri. Siapa yang harus memikul beban kesalahan ini?
Baca Selengkapnya

Dimadu Saat Koma Bab 1

"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu bangun juga," ucap Mas Adnan saat pertama kali aku membuka mata.

Beberapa kali ia mengecup tanganku, sesekali berganti pada keningku seraya tak hentinya mengucap kata syukur. Raut haru sekaligus bahagia tergambar jelas di wajah teduhnya. Air matanya perlahan meleleh dipipinya, pria yang telah dua tahun menjadi suamiku itu menengadahkan tangannya lalu mengusap wajah seraya terus mengucap kata syukur.

"Sayang, aku gak mimpi 'kan?" tanyanya seraya menangkupkan sebelah tanganku dipipi nya. Aku hanya tersenyum seraya menggeleng pelan, hingga ia kembali mengucapkan kata syukur.

"Mas?" ucapku pelan seraya membalas genggaman tangannya.

"Iya sayang, ini aku. Kamu mau apa? Minum, makan? Atau ada yang sakit? Biar mas panggilkan dokter, ya!" ucapnya cepat.

Aku hanya menggeleng pelan seraya kembali tersenyum, kurasa sikapnya begitu berlebihan. Tapi aku bahagia, itu artinya, cintanya untukku begitu besar.

"Dimana anak kita?" tanyaku.

Ya, aku baru saja sadar pasca melahirkan anak pertamaku. Buah cintaku dan Mas Adnan yang kami tunggu selama dua tahun lamanya akhirnya terlahir ke dunia. Meski tak bisa melahirkan secara normal, tapi aku tetap bersyukur karena hari ini aku masih bisa membuka mata dan melihat suamiku berada di sisiku.

"Ada sayang, ada. Kamu jangan pikirkan itu dulu, ya! Mas panggilkan dokter sebentar," ucapnya seraya mengusap pelan rambutku.

"Aku ingin melihatnya, mas," rengekku.

"Iya sayang, nanti, ya! Mas panggil dokter dulu!" sahutnya lagi.

Meski sedikit kesal dengan sikapnya, aku hanya mengangguk untuk mengiyakan hingga akhirnya Mas Adnan berdiri. Sejenak, ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, hingga akhirnya ia berlalu setelah aku balas menatapnya, beberapa kali ia menengok ke arahku hingga akhirnya ia benar-benar menghilang dibalik pintu.

Tak butuh waktu lama, selang beberapa menit Mas Adnan telah kembali bersama seorang dokter pria dan dua orang perawat. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka langsung menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama pemeriksaan, kedua perawat tersebut lebih banyak menggeleng pelan serta terlihat kebingungan saat dokter menyuruh mereka untuk mencatat hasil dari pemeriksaannya.

"Ini suatu keajaiban," decak sang dokter usai memeriksa keadaanku.

"Keajaiban?" beoku seraya memicingkan mata padanya.

"Iya. Mbak bisa kembali sadar dan semuanya terlihat normal," sahut dokter tersebut seraya menatapku.

"Bukankah itu hal yang wajar? Apa dokter mengharapkan hal yang buruk padaku?" tanyaku sedikit sinis hingga membuat Mas Adnan dan dokter laki-laki itu saling memandang.

"Bukan begitu, mbak. Tapi, mbak baru saja tersadar dari koma yang mbak alami selama satu tahun lamanya," jelasnya membuatku ternganga.

"Koma? Satu tahun?" beoku hampir tak percaya, namun Mas Adnan mengiyakannya.

"Mbak mengalami komplikasi pasca operasi hingga membuat mbak mengalami koma," jelasnya.

"Tapi, aku merasa baik-baik saja, jadi tidak mungkin aku koma selama itu," ucapku bersikeras.

"Maka itu, saya sebut ini suatu keajaiban," sahutnya.

Aku hanya bisa terdiam, membayangkan aku koma selama itu membuatku teringat pada banyak hal. Bagaimana dengan anakku? Bagaimana dengan Mas Adnan?

"Besok saya akan kembali untuk memeriksa keadaan mbak. Jika lebih baik, mungkin mbak bisa segera pulang," ucap dokter tersebut setelah kedua perawat itu mencabut beberapa alat dari tubuhku kecuali infusan.

"Terimakasih, dokter Feri!" ucap Mas Adnan seraya menjabat tangannya. Sedangkan aku hanya melirik sinis pada dokter tersebut lalu menatap ke arah lain.

"Mas, apa benar aku koma selama itu?" tanyaku setelah mereka keluar dari kamar.

Mas Adnan hanya mengangguk, namun kali ini sorot matanya terlihat berbeda, entah apa yang dia pikirkan yang jelas, aku sendiri masih tak percaya dengan kenyataan ini.

"Sayang, apa kamu ingat, dulu aku selalu membawa Dara dan membaringkannya di sampingmu. Berharap, kamu terbangun karena suara tangisnya," tanya Mas Adnan dengan mata yang berkaca-kaca, sedangkan tangannya tetap erat menggenggam tanganku.

Aku menggeleng pelan hingga Mas Adnan melanjutkan ceritanya.

"Setiap hari aku selalu menemuimu, dan berbagi cerita tentang kesepianku karena tak adanya kamu," jelas Mas Adnan dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Aku hanya bisa mengusap wajahnya pelan, bisa kubayangkan kesepiannya selama ini seperti apa. Aku tau, Mas Adnan adalah pria yang setia, namun aku juga mengerti, kalau dia adalah pria normal yang pastinya membutuhkan sosok wanita dalam hidupnya. Hal itu kembali membuat pikiranku terasa kacau, apalagi jika teringat pada mimpi yang membuatku terjaga.

"Ini sayang!" ucap Mas Adnan membuyarkan semua lamunanku.

Mas Adnan menyodorkan ponselnya ke depan wajahku, terlihat jelas fotoku yang nampak dalam kondisi yang amat buruk. Bermacam alat terpasang di tubuhku dan wajahku begitu pucat dengan bibir membiru.

Aku langsung meraba wajahku seraya menatap Mas Adnan.

"Apa sekarang wajahku seperti itu, mas?" tanyaku.

"Tidak sayang, kamu terlihat lebih segar sekarang. Itu foto kamu dulu, saat dokter mengatakan kalau kamu sedang kritis hingga akhirnya kamu dinyatakan koma," jelasnya membuatku sedikit kaget sekaligus bersyukur. Karena itu artinya ini adalah kesempatan hidup kedua dari tuhan untukku.

"Lalu anak kita, mas?" lirihku dengan perasaan cemas. Aku takut terjadi sesuatu dengan anakku.

Mas Adnan mengusap layar ponselnya, hingga terlihat bayi mungil yang berwajah merah.

Aku tersenyum seraya meraih ponsel Mas Adnan dengan tangan yang sedikit bergetar.

"Anakku, apa dia sudah besar, mas?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.

"Iya sayang, Dara sudah besar," sahut Mas Adnan seraya kembali mengusap layar ponselnya hingga terlihat seorang balita yang begitu menggemaskan.

"Coba lihat, matanya, wajahnya, sangat mirip denganmu," ucap Mas Adnan seraya tersenyum.

Aku tak kuasa menahan tangisku, ternyata anakku memang sudah besar, itu artinya aku sudah melewatkan banyak waktu. Padahal, aku sangat ingin merawatnya, menyusuinya dan menyaksikan setiap pertumbuhan dan perkembangannya.

"Sayang, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Mas Adnan terdengar panik.

"Tidak mas! Aku hanya sedih, karena aku telah melewatkan banyak waktu, aku tidak bisa menyaksikan pertumbuhan Dara, mas!" lirihku.

"Inara, sayang. Dara masih kecil, kita akan mengurusnya bersama-sama dan menyaksikan pertumbuhannya, kamu jangan sedih. Besok mas akan ajak Dara kesini," tutur Mas Adnan seketika langsung membuatku senang.

"Benar, ya mas! Aku sangat ingin bertemu dengannya," ucapku antusias.

"Tentu saja!" sahut Mas Adnan lalu mengecup singkat keningku.

"Mas, kenyataan ini jujur membuatku sangat takut," ucapku setelah sekian lama kami terdiam.

"Takut apa?" tanya Mas Adnan seraya menatap lekat wajahku.

"Semalam, aku bermimpi kamu menikah lagi, mas! Dan sekarang, aku begitu terkejut saat tau kalau aku sudah koma selama satu tahun," tuturku, merubah ekspresi diwajah Mas Adnan. Kali ini, ia terlihat gugup.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dimadu Saat Koma

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor
9.1
Hidup Ayu Wulansari hancur seketika akibat pengkhianatan keji dari Rangga, suaminya, dan Nindi, adik kandungnya sendiri. Hubungan terlarang mereka menciptakan cinta segitiga yang menyiksa batin Wulan. Luka semakin dalam saat ia terpaksa menyaksikan pernikahan Rangga dengan Nindi yang telah hamil. Di tengah pedihnya kenyataan yang tak seindah drama, Wulan harus menelan pil pahit kehidupan yang penuh air mata, di mana kebahagiaan sejati terasa begitu jauh.
Sampul Novel Antara Cinta dan Benci
8.2
Hera terpaksa memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Gama Dirgantara, seorang duda dingin yang masih terjebak bayang-bayang masa lalu bersama Karin. Meski telah resmi menikah, Gama menegaskan tidak akan pernah mencintai Hera. Namun, sebuah insiden di malam saat Gama mabuk mengubah segalanya secara drastis. Di tengah kebencian dan penolakan, mampukah Hera mempertahankan rumah tangga mereka yang penuh luka dan menemukan celah di hati Gama?
Sampul Novel Diselingkuhi Saat Mengandung
8.7
Cinta bukan jaminan kebahagiaan bagi Salma dan Rayden. Meski telah memiliki putri kecil dan kini Salma tengah hamil enam bulan, badai besar justru menghantam pernikahan mereka. Sikap Rayden mendadak dingin sejak kehadiran Clarissa, karyawan baru di kantornya yang pandai menggoda. Di tengah kondisi fisik yang melelahkan, Salma harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya berpaling. Kepercayaan yang selama ini ia jaga hancur saat perselingkuhan itu terungkap.
Sampul Novel Nenek Mertua Yang Culas
9.7
Ambarningsih bukannya sadar di usia senja, ia justru kian licik dalam menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Setelah berhasil memisahkan Ravindra dan Dewi, kini ia mengincar pernikahan cucunya, Elang dan Citra, sebagai target sabotase berikutnya. Akankah rencana jahat Ambar kembali membuahkan hasil? Ataukah ketulusan Citra mampu meruntuhkan kerasnya hati sang nenek hingga ia akhirnya bertobat? Ikuti perjuangan Citra dalam menghadapi mertua yang culas ini.
Sampul Novel Pernikahan Yang Dikhianati
8.3
Aruna mendatangi jamuan makan malam mewah dengan harapan membahas rencana pernikahannya bulan depan. Namun, ia justru dicampakkan secara sepihak oleh calon mertuanya demi wanita lain yang dianggap lebih setara. Di tengah luka hati dan martabat yang hancur, Aruna menerima lamaran Reza, seorang duda kaya sekaligus cinta pertamanya. Langkah nekat ini menyeretnya ke dalam pusaran intrik penuh drama, pengkhianatan, serta cinta yang lebih rumit dari dugaannya.
Sampul Novel Terima Kasih Telah Merebut Suamiku
8.3
Dunia seorang istri seketika hancur berantakan saat menyadari bahwa pria yang sangat ia cintai telah berpaling ke pelukan wanita lain. Pengkhianatan menyakitkan ini memaksanya menghadapi kenyataan pahit tentang pernikahan yang selama ini ia pertahankan. Di tengah badai emosi, ia harus menentukan langkah selanjutnya setelah suaminya direbut. Sebuah kisah emosional tentang luka hati, kehilangan, dan cara menghadapi pengkhianatan pasangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan