Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan

Namaku Kamilia, Tuan

Demi melunasi utang sang ayah, Kartika terpaksa mengganti identitasnya menjadi Kamilia dan pergi meninggalkan Saiful, kekasih hatinya. Ia dijual kepada pria kota bernama Heru seharga puluhan juta rupiah. Hidup sebagai wanita simpanan, Kamilia kerap menerima perlakuan kasar hingga akhirnya ia nekat melarikan diri. Perjalanan hidup yang kelam dan penuh liku harus ia lalui. Mampukah Kamilia lepas dari jeratan dunia hitam dan kembali ke pelukan Saiful?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sumpah terlanjur terpatri, mengakar ke dalam dadanya. Semakin kuat saat Kamilia setiap hari menerima pelecehan-pelecehan terhadap raganya.

Rupanya Tuan Heru mempunyai istri dan anak. Itu diketahui Kamilia saat tidak sengaja menguping pembicaraan mereka di telepon. Istrinya tahu keberadaannya.

"Pelacur mana lagi yang kau simpan di rumah itu, hah?" tanya istri Tuan Heru di telepon.

"Aku tidak menyembunyikan siapa pun," jawab Tuan Heru mencoba berkilah.

"Aku pastikan ia akan babak belur di tanganku!" ancam istri Tuan Heru.

Kamilia yang mendengar suara sayup-sayup itu meremang bulu kuduknya. Terus terang dirinya takut mati, apalagi keadaannya kini tengah berlumur dosa. Sekuat apa pun dirinya menekan kecemasannya, tak urung mukanya pucat pasi membayangkan hal yang mungkin terjadi kepadanya. Dikepalkan tangannya, memastikan ilmu bela diri yang tidak sepenuhnya dia kuasai, masih ada kekuatannya.

Saat ini Kamilia menemani makan tuannya di rumah. Tentu saja setelah tuannya puas menjungkir-balikkan tubuhnya di ranjang. Seperti mainan baru bagi Tuan Heru, gadis itu disentuhnya dari berbagai arah.

Kamilia makan dalam diam, sejak dirinya bekerja pada Tuan Heru, nafsu bicaranya lenyap. Berganti dengan hatinya yang kini ramai berteriak. Ya, Kamilia menyebutnya bekerja karena upahnya sudah diambil oleh Harso, si keparat.

"Cepat makannya, Mila!" perintah Tuan Heru.

"Ya, Tuan," jawabnya pelan.

"Sudah berapa kali aku ingatkan, jangan panggil Tuan!" bentak Tuan Heru.

Gadis itu hanya diam, dia memang tidak mau menciptakan kedekatan terhadap tuannya itu, dengan hanya memanggil nama. Bentakan-bentakan yang sudah mulai biasa dia terima, dihadapi dengan sabar. Seperti binatang peliharaan, dirinya tidak perlu melawan sampai tiba waktunya menggigit.

Tuan Heru pergi setelah puas segalanya. Puas perutnya dan juga bawah perutnya. Kamilia tidak tahu ada masalah apa tuannya dengan istrinya itu, sehingga dirinya harus turut andil memuaskan hasratnya.

Tepat dua bulan menjadi penghuni rumah ini. Kamilia menghitung lembaran-lembaran merah yang berserakan di kasur. Tuan Heru memang selalu memberi dirinya uang setiap hari. Ditambah dengan sisa harga kegadisannya dulu, lembaran itu semakin banyak. Ada sekitar seratus lembar. Gemetar Kamilia memegangnya, ibunya pasti senang kalau nanti dia pulang. Separuh dari lembaran itu dia simpan di bawah kasur. Separuh lagi akan dia simpan di lemari.

Suara ketukan pintu yang teramat keras, mengurungkan niatnya. Dia bergegas lari ke arah pintu, berpikir kalau Tuan Heru kembali lagi.

Satu tamparan menghadiahi mukanya begitu pintu terbuka. Kamilia limbung, matanya berkunang-kunang. Terlihat olehnya dua orang wanita cantik.

"Rupanya kau orangnya, Wanita Jalang!" Seorang perempuan cantik memakinya.

Kamilia mengerti kini, kalau wanita di hadapannya adalah istri Tuan Heru. Kembali tamparan harus dia terima. Pipinya perih, terlebih lagi hatinya.

Merasa tidak mendapat perlawanan, wanita itu kian beringas. Dia bermaksud menjambak rambut panjang Kamilia. Kali ini gadis itu melawan. Tangan kanannya melindungi kepalanya, tangan kiri mengambil tangan wanita tersebut. Dipelintirnya kemudian didorong ke arah tembok.

Dukkk.

Punggung wanita itu menghantam tembok, matanya kian menyala geram.

"Sinta!" Wanita satunya lagi memburu ke arah istrinya Tuan Heru. Rupanya nama istri Tuan Heru adalah Sinta.

Sinta kalap, dia menepis tangan sahabatnya. Dia maju menabrakkan tubuhnya ke arah Kamilia. Begitu mudah Kamilia menghindar, sehingga Sinta kembali menabrak tembok. Kali ini tubuh Sinta ambruk.

Kamilia menatapnya tanpa ekspresi, kali ini dia akan melawan. Harga dirinya tidak akan dibiarkan diinjak-injak istri Tuan Heru. Namun, tiba-tiba pandangan matanya gelap. Kamila ambruk diantara kursi tamu yang mewah.

"Mengapa dia kau bunuh?" Samar-samar masih terdengar oleh Kamilia suara istrinya Tuan Heru. Selanjutnya gelap dan dingin.

***

Suara orang memaki menyadarkan Kamilia. Dia mendapati dirinya di kasur dalam kamarnya. Lembaran yang tadi hendak dia simpan, raib entah ke mana.

"Bodoh! Mengapa kau melawan?" bentak Tuan Heru. Dia sangat marah saat tahu Kamilia melawan Sinta.

Gadis itu terbit amarahnya. Diam-diam dia mengumpulkan kekuatan untuk melawan Tuan Heru. Biarlah mati berkalang tanah, daripada hidup berkubang nista.

Tuan Heru masih saja memaki-maki Kamilia, panas kuping wanita muda itu mendengar cercaan ditujukan padanya. Kamilia bangkit sambil menendang selimut.

Dukkk.

Sebuah tonjokan yang dilayangkan Kamilia berhasil membungkam mulut Tuan Heru.

"Kau ... kau, berani sekali!" serunya tak percaya. Saat itu pula Tuan Heru mengambil sabuk dan melecutkannya ke tubuh Kamilia.

"Aw sakit ... ampun ... ampun!" Jeritan gadis itu tidak meredakan amarah Tuan Heru. Pecutannya berhenti, saat gadis itu terkapar tak berdaya dengan bilur-bilur merah di sekujur tubuhnya.

Tuan Heru pergi meninggalkan Kamilia yang sekarat. Secuil tenaga penghabisan berhasil membawa gadis itu ke tempat tidur. Dirinya bergelung di bawah hangatnya selimut, antara sadar dan tidak.

***

Sinar matahari membangunkan Kamilia dari tidurnya yang gelisah. Rasa sakit di sekujur tubuh menyongsongnya. Dia mencoba bangkit, di benaknya tergambar satu siasat. Dia akan melarikan diri.

Uang di bawah kasur yang dia sembunyikan, membawanya duduk melamun kini di sebuah bis. Perjalanan yang akan membawanya ke desa kembali. Di sepanjang jalan terlihat pohon-pohon yang meranggas. Telanjang tanpa daun menyelimuti. Terpaksa berlaku seperti itu karena batang ingin tetap tumbuh.

Ibunya menangis saat Kamilia pulang. Dia membaluri tubuh gadis itu dengan beras kencur. Perih sekali Kamilia rasakan, namun hatinya lebih perih lagi. Membusuk dan tak mungkin sembuh lagi.

Uang dari Harso rupanya sudah habis di meja judi oleh bapaknya. Dengan tidak ada belas kasihnya, bapaknya meminta uang kepada Kamilia.

"Mana uangmu, Kartika? Sini Bapak minta!"

"Uang apa? Bukankah uangnya sudah Bapak ambil dari Harso, Si Bedebah itu. Dia sudah menjualku seharga lima puluh juta, apa masih kurang!?" Kamilia berteriak sambil menangis.

"Bangsat, dia cuma memberiku lima juta!" Bapaknya mengamuk. Sebuah kursi reyot menjadi sasarannya, dibantingkan ke lantai. Hancur seperti hati Kamilia saat ini. "Besok kau harus pergi lagi ke kota, cari duit yang banyak, kalau perlu jual lagi dir ...."

"Pak! Nyebut, Pak ... nyebut!" teriak istrinya memotong perkataan lelaki itu.

"Aaah!" Dengan membanting lagi kursi, bapak Kamilia pergi.

Kamilia keluar rumah sambil menangis. Berjalan membawa sakit hatinya. Entah ke mana harus membawanya. Pundaknya ternyata terlalu lemah untuk memikulnya.

Kamilia duduk dalam kegelapan, menengadah memandang bintang. Badannya terasa remuk redam dan dia mengadukannya kepada malam. Kembali kantung matanya dipenuhi air. Bulir-bulir bening membentuk anak sungai di pipinya. Sakit raga dan jiwa seperti menyentuh langit rasanya.

Dia pulang berharap sebuah perlindungan dari bapaknya. Orang yang seharusnya paling depan membela. Namun, dia malah memintanya untuk menjual diri kembali.

"Aaah, aku benci!" Tiba-tiba Kamilia berteriak. Suaranya keras seperti menembus langit, mengadukan segala keluh kesahnya.

"Kartika ... Kartika, kaukah itu? Kami kehilanganmu selama ini."

Kamilia seperti tersambar petir, mendengar suara yang begitu dikenalnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HSB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HSB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Lover (Alec & Alea)
8.6
Hasrat Alec Cage memuncak saat melihat kecantikan Azalea Mahendra. Peluang muncul ketika Arsen, kakak Alea, menyerahkan adiknya demi kursi CEO. Terpaksa tunduk, Alea menjalani pernikahan formal meski hatinya milik Arza, kakak angkatnya. Namun, badai datang saat Alec mengungkap masa lalu mereka. Sebagai pria pencemburu yang benci pengkhianatan, Alec tak akan memberi ampun. Ia bertekad menyiksa Alea dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.
Sampul Novel Aku Menantu, Bukan Pembantu
9.2
Fera berhasil dipersunting Reza, pria dari keluarga terpandang, karena kekuatan cinta mereka yang begitu besar. Namun, kebahagiaan pernikahan itu segera sirna saat realitas pahit mulai menghantam Fera. Kehidupannya berubah total dan ia harus menghadapi tekanan berat dari keluarga sang suami. Mampukah Fera bertahan menjalani perannya sebagai menantu di tengah cobaan yang terus menguji ketabahannya, ataukah ia akan menyerah pada nasib barunya tersebut?
Sampul Novel Cinta Sirna Tanpa Bekas
8.6
Pernikahan Melda dan Jefry Marson yang menginjak tahun ketujuh diwarnai perubahan sikap sang suami yang mendadak gemar berolahraga dan mengubah seleranya. Meski Jefry tetap bersikap manis di rumah dengan membawakan bunga serta memasak, kecurigaan Melda akhirnya terbukti. Melalui rekaman kamera dasbor mobil, Melda menyaksikan Jefry bermesraan dengan muridnya sendiri, gadis yang pernah bertamu ke rumah mereka dan menyapanya dengan sopan. Hubungan gelap ini menghancurkan kepercayaan Melda tanpa sisa.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas Sang CEO
8.1
Demi kesembuhan ibunya, Shania yang baru berusia 19 tahun terpaksa menjadi istri kontrak Steven, seorang CEO perusahaan limbah kimia yang dingin. Steven sebenarnya enggan berurusan dengan wanita, namun ia tak kuasa menolak tuntutan adiknya. Ia pun menawarkan satu miliar rupiah kepada Shania dengan syarat sang gadis bersedia diperbudak melalui perjanjian tertulis. Kini, Shania harus bertahan menghadapi berbagai taktik kejam Steven dalam pernikahan formalitas mereka.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kehidupan harmonis Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam bahaya besar. Ibu serta kakaknya datang membawa dendam membara untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Sebagai mantan putri terbuang yang pernah diabaikan keluarganya, Dara menyimpan rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang sekuat tenaga melindungi istana cintanya dari serangan kerabatnya sendiri. Sanggupkah Dara bertahan menghadapi teror itu?