
My Lovely Man
Bab 2
Joseph Trenton. Pria yang kerap di sapa Josh itu memulai rapatnya dengan keheningan yang menguasai ruangan kedap suara itu. Disana, ia juga dapat melihat binar mata keterkejutan dari seorang perempuan yang duduk di sudut meja bersama seorang pria di sebelahnya.
Ia memperkenalkan diri sebagai seorang CEO baru sekaligus putra tunggal dari pendiri perusahaan itu. Beberapa orang tampak terkejut, namun tidak ada yang berani untuk sekedar.
Dengan begitu, Joseph merasa semakin tinggi pula tingkat kepercayaan dirinya.
"Kepala departemen keuangan silahkan tinggal di ruangan ini. Kecuali yang saya sebut tadi, kalian bisa keluar!" Perintah mutlak Joseph.
Nathasia dan Alex teman prianya menahan nafas sebentar. Sudah pasti akan ada penyelidikan. Tetapi, mereka tidak khawatir. Karena setahu mereka, keduanya tidak pernah melakukan kasus korupsi. Jadi, tidak ada yang perlu di takutkan. Mereka hanya takut sesaat saja.
"Menurut mu? Kira-kira kenapa bos baru kita memanggil kita?" Bisik Alex sesaat setelah beberapa orang mulai meninggalkan ruangan. Tersisa hanya mereka bertiga.
"Aku tidak tahu. Sebaiknya kau tutup saja mulut manismu itu, kemudian mari kita berdiri!" Ujar Nath mendelik karena Alex terlalu berisik.
Kedua orang berbeda jenis itu melangkah ke hadapan Joseph yang sudah duduk di atas kursi kebesarannya. Auranya adalah sebuah bentuk kepemimpinan yang kuat. Aroma jantan menguat kuat dari dalam tubuhnya. Nath merasa ia diperhatikan sedemikian intens, hingga membuat ia merinding sesaat.
"Apa ketua departemen keuangan memang ada dua?" Josh menaikkan sebelah alisnya melihat kedua orang itu. Ada nada tak suka yang terselip.
"Bukan sir. Dia adalah wakilku. Dan dia harus selalu ikut denganku!" Jawab Alex gugup seraya menyenggol tangan Nath yang sedang ia remas.
Josh memperhatikan itu hingga membuat dirinya sedikit merasa kepanasan.
"Apakah ada peraturan yang mengatakan jika ketua dan wakil itu harus selalu bersama?" Ulangnya lagi merasa kesal. Ia merasa kurang beruntung karena bukan dia yang duluan mengenal si cantik Nath. Melainkan pria sialan ini.
"Kami memang selalu seperti itu sir. Bahkan, tuan Harry sudah tahu itu dari awal sekali!" Jelas Alex. Sangat jelas jika ia merasa gugup setengah mati. Belum lagi tatapan mata singa bosnya itu seakan mengintainya bagai sasaran empuk yang siap di santap.
Menyadari tatapan aneh dari bosnya yang mulai aneh itu, yaitu ke arah bawah, jemari mereka yang saling bertautan membuat ia buru-buru melepaskannya. Membuat Nath tersentak. Lalu menginjak kaki Alex dengan hills nya.
"Auuuhhh, kau menginjak kakiku bodoh!" Umpat Alex spontan.
Bukan dengan sengaja Nath melakukannya. Ia hanya terkejut, dan itu adalah gerakan refleks nya.
"Maaf sir. Tapi, pak Alex mengejutkanku!" Kali ini, Nath mengeluarkan suaranya yang lembut.
Joseph Trenton, pria itu seakan merasa terhipnotis mendengar alunan lembut suara Nath menyapa indra pendengarannya.
"Kurasa, kita pernah bertemu. Kau wanita yang di lift tadi bukan?" Tanya Josh berbasa-basi.
Ingin sekali gadis itu memutar bola matanya. Namun, ia urungkan karena Nath masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Selain gajinya yang lumayan cukup besar, ia juga bisa makan enak di kantin dengan gratis dan tenang.
"Benar sir. Kalau begitu, jika sudah tidak ada yang diperlukan, kami permisi dulu. Selamat pagi Sir!" Nath ingin segera mengakhiri percakapan konyol itu.
Ia sungguh tidak suka dengan obrolan tanpa akhir. Sangat aneh melihat bosnya itu hanya memanggil mereka untuk sekedar berkenalan saja. Itu terlalu membuang-buang waktu dan tenaga. Sangat bukan Nath sekali.
Setelah memasuki ruangannya dan duduk di mejanya, seorang pria berkacamata yang kerap disana Boby menghampiri meja Nath.
"Apa pak bos melakukan sesuatu pada kalian berdua? Lihatlah wajah menyedihkan Alex. Sepertinya dia teraniaya!" Cemooh Boby.
Pria gendut itu memang hobi mencaci teman sedivisinya. Sepertinya harinya tidak lengkap jika ia tidak bergosip ria.
"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada dia? Bukankah dia kekasih mu?"" Sembur Nath jengkel. Boby selalu tahu, bagaimana cara merusak hari seseorang. Selain bergosip, ia juga pandai membuat kesal.
Alex tertawa puas melihat wajah merah padam Boby. Namun, ia urungkan melihat tatapan maut yang Nath layangkan untuknya.
"Kau ketua. Jadi, atur anggotamu agar disiplin!" Sembur Nath lagi.
"Kau jangan suka marah-marah Nath. Hanya kau perempuan di divisi ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau keluar dari perusahaan ini!" Ujar Boby sarat makna. Ia memberikan senyuman palsunya. Yang sayangnya, Nath tahu arti dari senyuman konyol itu.
"Doamu tidak akan dikabulkan. Aku akan keluar jika sudah menikah!" Semburnya galak.
"Kau bilang kau tidak ingin menikah!" Timpal Alex dari sebelah.
"Itu berarti, aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk Trenton corp saja!" Jawab Nath kemudian. Membuat ke-empat orang pria yang berada diruangan itu membuang nafas panjang.
Namun, meski begitu, keempat pria itu sangat menyayangi Nath seperti seorang adik kecil. Meski mulut Nath terkadang sangat kurang didikan, mereka tahu bahwa itu adalah luapan dari sebagian emosi yang ia tahan selama ini.
Mereka tahu, jika sifat keras kepala Nath berasal dari perceraian kedua orangtuanya. Mereka sedikit mengetahui cerita jalan hidup Nath, karena gadis itu kerap bercerita tentang dirinya.
"Nath sayang, apa kau akan makan siang di kantin?" Tanya Kings. Pria dengan setelan baju yang paling rapi di divisinya. Pria muda yang memiliki ambisi yang kuat pula. Ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja di perusahaan ini karena ia mengatakan jika visi misi perusahaan ini membuatnya terinspirasi.
Terkadang, Nath ingin memukul kepalanya karena merasa gemas dengan jalan pikiran pria itu.
"Tentu saja. Selain gratis, disana makanan nya juga enak dan bergizi." Jawabnya penuh dengan kejujuran tanpa filter sedikitpun.
"Selain keras kepala, ternyata kau juga sangat perhitungan!" Sindir Boby.
"Tutup saja mulutmu itu. Kau juga suka kan, makan di kantin. Aku bahkan sering melihat mu menambah porsi makan siangmu lebih besar dari yang seharusnya!" Jelas Nath membuat mereka terkekeh.
"Kau memang adik kecilku yang manis. Aku belajar banyak darimu!" Kekehnya ringan.
Nath kemudian tak menanggapi lagi omongan keempat pria sinting itu. Disini, hanya dia yang normal. Keempat pria itu memiliki selera humor yang sama.
Ia juga tidak mengerti mengapa hanya ia yang menjadi seorang perempuan di sini. Beruntung, ke empat pria itu selalu berbuat baik padanya. Meski tidak bisa ditampik jika omongan mereka terkadang harus membuatnya mengelus dada.
Tapi, itu lebih baik. Daripada harus berteman dengan orang lain di luar divisinya. Itu adalah hal yang selalu Nath berusaha hindari.
Ia sangat suli untuk bergabung dengan teman yang belum akrab dengannya. Ia selalu membatasi diri untuk itu.
Anda Mungkin Juga Suka





