Sampul Novel Cool vs Cold

Cool vs Cold

8.4 / 10.0
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.

Cool vs Cold Bab 1

Senin pagi yang bersahabat, minggu kedua setelah libur kenaikan kelas. Sekolah SMA HARAPAN mulai ramai siswa angkatan lalu dan siswa baru untuk melaksanakan upacara sebagaimana mestinya.

 Namun, seorang gadis hanya bisa berjinjit menatap di sela-sela gerbang tertutup rapat lantaran terlambat yang berakhir tidak bisa masuk ke area sekolah.

Avril, gadis yang masih berstatus murid putih abu itu semalam bergadang untuk menyelesaikan

drama favoritnya sehingga melupakan sekolah yang sudah kembali normal dan KBM di

mulai.

Kebiasaan tersebut bukan hal mudah untuk dilupakan begitu saja apalagi dirinya sudah menekuni di saat masa putih biru ketika ia

mengalami Write’s Block maka pengalihannya hanya bisa dengan menonton dan membaca online.

Benar-benar sial, di tutup rapat. Mana enggak ada yang jaga, apa gue pulang ya? monolongnya seraya berpikir keras agar bisa masuk tanpa dihukum.

Mendengar suara gerbang di buka yang disusul suara vokal itu berhasil mengalihkan Avril untuk menghentikan berpikir dan membuang jauh-jauh harapannya melihat bapak guru muda berdiri di depannya.

“Kamu telat lagi?”

Sebelum menjawab, Avril tersenyum lebar menunjukkan gigi putih kecilnya mendapatkan pertanyaan dari guru yang sudah dekat dengan Avril.

“Iya Pak, lagian Avril telatnya sampai gerbang ditutup cuman hari ini saja. Hari lainnya mepet bel doang,” jawabnya membela diri. Karakter cuek dirinya bersyukur bertemu dengan guru tersebut sehingga tidak canggung lagi.

Yang dikatakan Avril memang benar, dirinya selalu sengaja berangkat siang agar tidak bosan menunggu waktu belajar dimulai.

“Cepat masuk, ikut barisan yang telat!” perintah guru itu setelah membuka lebih lebar gerbang agar Avril bisa masuk. Tidak mau repot merespons muridnya mengelak, dalam hatinya ia membenarkan sehingga untuk kali ini membiarkan sebagai toleransi pertama dan terakhir.

Avril berkata, “Thank You, pak Erik ganteng.” Tidak menunggu respons lawan bicara, ia langsung lari menuju baris yang disuruh.

Berlari seribu langkah padahal jarak dari pintu

gerbang utama ke lapangan tidak sejauh dari rumahnya ke sekolah, tapi Avril terlalu malu menjadi pusat perhatian. Bahkan setelah baris dirinya tidak peduli ransel masih mengantung di kedua pundaknya sementara kedelapan lelaki yang telat sedari tadi menyimpan di tribune lapangan.

Pak Erik adalah guru favorit Avril karena pelajaran yang menyenangkan tidak membosankan seperti guru-guru lain, bercerita

menjelaskan materi sendiri panjang lebar tidak memedulikan muridnya mendengarkan atau tidak. Yang mereka pikir, dirinya sudah menyampaikan mau muridnya serap dan pahami itu adalah urusan belakang serta bukan urusannya.

Pak Erik yang melihat anak didiknya tidak menunggu respon darinya geleng-geleng kepala, sudah biasa. Sembari berjalan melanjutkan tugas

keliling lagi. Melangkahkan kakinya ke kelas-kelas atau ke tempat persembunyian

seperti di belakang.

Beberapa menit Avril mengikuti upacara datanglah seorang cowok dan langsung ikut barisan di samping Avril. Avril meliriknya

sebentar lalu fokus mengikuti acara upacara yang terasa lama padahal kepalanya terasa nyut-nyutan.

Akhirnya upacara selesai, yang sudah menghabiskan waktu setengah jam itu. Matahari tampak sangat bersemangat pagi ini sehingga

membuat Avril kepanasan dan dehidrasi. Semuanya dibubarkan untuk menunggu KBM kecuali barisan yang telat akan diberi hukuman seperti biasanya.

Hukuman lantaran telat bukan pertama kalinya

dilakukan, sudah menjadi ritual setiap sekolah menetapkan hukuman bagi yang tidak menaati aturan. Tetapi tetap saja ada yang melanggar karena aturan ditetapkan untuk dilanggar.

Pertanyaan Relate keluar dari mulut pak Jino

selaku guru BK kepada murid barisan yang terlambat., “Kenapa kalian bisa

telat?”

“Kesiangan,” jawab mereka serempak kecuali Avril hanya menganggukkan kepala saja seraya memegang dahinya mulai merasa pusing,

menyerang berkali-kali lipat.

“Iya Bapak juga tahu, karena apa? Bergadang?” tanya pak Jino lagi dan dijawab anggukan oleh mereka. “Lari sepuluh putaran!” perintahnya

tanpa basa-basi lagi sebagai hukuman lalu kembali direspons anggukan.

Setelah membuat satu barus mereka langsung berlari tanpa dikomando. Avril baris di belakang dengan lelaki yang paling kesiangan

menjadi penutup.

Sudah sembilan kali putaran Avril jalani, seketika ia berhenti di tengah mendadak pusing yang amat sakit padahal sisa tinggal satu putaran lagi selesai. Berhentinya Avril membuat lelaki di belakangnya ikut berhenti otomatis

“Lo enggak papa?” tanya lelaki itu sembari menahan badan Avril yang lemah agar tidak jatuh.

“Pusing,” keluh Avril dengan nada lemas.

“Duduk saja, enggak usah dilanjut. Entar gue yang bilang sama guru.”

Namun, Avril keras kepala memaksa untuk berlari meninggalkan lelaki itu yang hanya bisa menatap Avril khawatir. Melihat Avril

sudah selesai tidak terjadi hal buruk lelaki itu berlari mendekati Avril.

Hukuman selesai, pak Jino bersuara. “Besok-besok jangan ulangi, segera masuk kelas masing-masing!” suruhnya yang diikuti mereka.

Ketika Avril akan berjalan tiba-tiba pusing menyerang kepalanya lagi. Lelaki tadi yang berada di dekatnya membantu seraya bertanya. “Mau ke mana?”

“Kelas,” jawabnya singkat.

Lelaki yang tidak tahu namanya menarik tangan Avril sembari berucap, “Ikut gue!”

“Ke mana?”

“Ikut saja,” paksa lelaki itu. Avril yang sudah tidak kuat melawan diam saja. Mungkin akan diantar ke kelas, pikirnya.

Tapi setelah sadar ini bukan menuju kelas melainkan kantin Avril bersuara, “Eh, kenapa ke kantin? Ini sudah telat nanti diomeli lagi.”

“Lo lebih pilih telat di ceramah atau pingsan enggak masuk kelas? Lagian bentar lagi juga jam istirahat.”

Bukannya menjawab pertanyaan Avril lelaki itu memberikan pertanyaan untuk dipilih seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan

tangannya.

Avril tidak merespons perkataan lelaki asing itu lagi karena malas memperpanjang masalah. Kepalanya sungguh berputar dan Avril sudah

tidak tahan lagi jika harus berdebat.

Sampai di kantin lelaki asing tersebut meninggalkan Avril begitu saja tanpa mengucapkan sepata kata pun sedangkan Avril yang kesal di tinggalkan memilih duduk di kursi yang kosong di dekatnya. Karena sekarang masih

jam pelajaran jadi kantin hanya ada dirinya dan dia yang entah pergi ke mana.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa bunur danteh hangat yang diletakan di atas meja. “Makan!” suruhnya dengan nada sedikit

dingin padahal tadi dia banyak mengomel.

Avril yang sudah lapar dan disuruh memakannya tanpa mengucapkan apapun lagi melahap dengan cepat lantaran perutnya sedari tadi

berdemo. Seharian kemarin di tambah tadi tidak sarapan membuat Avril makan

dengan lahap.

“Thanks,” ucapannya terima kasih baru keluar

dari bibir Avril dengan sedikit senyuman, setelah menghabiskan makanannya.

“Hm, nama?” tanya lelaki itu singkat. Jika lelaki ini bertanya pada orang lain pasti tidak mengerti karena bertanya singkat seakan memaksakan diri. Tapi Avril mengerti lantaran karakternya yang cuek dan tidak uka basa-basi.

“Avril,” balasnya sama-sama singkat. Karakter yang sama dipersatukan membuat keadaan semakin hening tidak bersuara lagi.

“Jay,” sembari mengulurkan tangan dan Avril membalas uluran tangan itu, lelaki yang sudah menolongnya.

“Lo ... Rill!” teriakan seseorang itu berhasil

menghentikan ucapan Avril seraya berjalan cepat menghampiri meja Avril. Avril yang

akan bertanya harus terhenti karena suara itu dan membuatnya menjadi pusat perhatian

sebab bel istirahat sudah berbunyi sebelum panggilan itu menyapa di telinga

Avril.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cool vs Cold

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Samuel Adinata dikenal sebagai CEO Royal Adinata sekaligus sosok suami dan ayah idaman bagi Elena dan Eliott. Namun, di balik citra sempurna itu, tersimpan misteri besar mengenai ketulusan sikapnya. Samuel ternyata menyimpan rahasia gelap yang perlahan mulai terkuak. Bukan sekadar pengkhianatan biasa, Elena akhirnya menyadari bahwa pernikahan mereka hanyalah taktik licik. Ia murka saat tahu dirinya hanya dimanfaatkan demi kepentingan tersembunyi sang suami.
Sampul Novel SEPENGGAL KISAH TANPA JUDUL
8.9
Jeany, gadis Minang yang pendiam, terjebak dalam pusaran luka mendalam. Setelah diselingkuhi kekasihnya, ia harus menyaksikan kehancuran keluarganya. Sang papa pergi demi wanita lain, bahkan selingkuhannya tega mengirimkan video asusila yang membuat mama Jeany depresi berat. Trauma pernikahan kini menghantui Jeany. Bersama Jeje, saudara perempuannya, ia berjuang menghadapi teror pelakor dan cobaan hidup yang seolah tak kunjung usai. Sanggupkah Jeany bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan