
My Lovely Man
Bab 3
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Kesibukan orang-orang yang bekerja sudah mulai berkurang. Hanya beberapa orang saja yang sedang tergesa-gesa dikejar waktu.
Berbeda dengan Nath. Gadis itu sedang bermalas-malasan di depan komputernya yang masih menyala. Padahal jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Gadis itu memandang dekstop komputernya tanpa minat sama sekali.
"Kau belum pulang Nath?" Tanya Boby yang sudah menenteng tasnya dan botol air mineral yang kerap itu bawa itu.
"Belum. Aku tidak ingin bertemu pria tua itu!" Jawabnya malas.
Perihal papanya yang kerap menjumpai dia, temannya se tim sudah mengetahui itu. Terkadang mereka harus berbohong kepada pria itu demi Nath seorang.
Nath akan mengancam mereka dengan keahliannya jika ke-empat orang itu tidak menurut dan berani membantahnya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku duluan!" Pamit Boby meninggalkan Nath sendirian. Sedang teman yang lain sudah pamit pulang lebih awal.
Nath mengenakan kacamata berbentuk persegi berwarna hitam. Kacamata yang ia baru beli sekitar dua hari yang lalu di toko kacamata. Akhir-akhir ini, penglihatannya sering rabun, dan juga kepalanya sering pening. Namun, ia terlalu malas untuk memeriksanya ke rumah sakit.
Papanya yang seorang dokter sekaligus pengusaha itu adalah alasan utamanya mengapa ia tak mau menginjakkan kakinya ke rumah sakit.
Ponselnya berdering di samping lengannya yang bertumpu pada meja. Ia membalik ponselnya sekedar melihat namanya.
"Faint mencarimu princess. Katanya dia belum melihatmu keluar dari gedung itu!" Suara Kings memasuki indra pendengarannya begitu ia menggeser tombol hijau di layar datar itu.
"Sebentar lagi. Ada apa?" Tanya Nath lagi.
"Katanya, dia menunggumu di loby. Tumben sekali anak itu. Apa kalian punya hubungan gelap?" Kekeh Kings seperti biasa selalu saja usil dan sok tahu. Kloningan dari Boby si pria super cerewet
"Awas saja kau membuat gosip yang aneh-aneh di grup anak-anak kantor nanti!" Ancam gadis itu seraya mematikan ponselnya.
Ia merapikan anak rambutnya yang berjatuhan di dahinya. Lalu mengambil botol minuman kosongnya dari lokernya.
"Loh, Bu Nathasia belum pulang?" Sapa Noita. Seorang anak magang yang baru masuk satu bulan yang lalu.
Noita kerap menyapanya karena perbedaan usia mereka hanya selisih dua tahun.
"Ini sudah diluar jam kantor Noi, panggil aku kakak saja. Aku masih terlalu tua untuk panggilan yang kau sebutkan tadi!" Ingatkan Nath untuk semakin memperbanyak stok kesabarannya terhadap orang-orang di sekelilingnya.
"Kau dari ruangan CEO baru kita?" Nath menaikkan alisnya melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu, yang sayangnya lebih tinggi dari dia.
"Mmmm, bukan kak. Aku hanya kebetulan lewat saja!" Jawabnya tergagap.
"Tidak apa-apa juga jika kau kesana. Ya sudah, aku pulang dulu ya!" Pamitnya lalu menepuk bahu Noita sekilas. Ia juga memberikan senyuman manisnya.
Noita mengelus dadanya merasa tenang dan sedikit merasa bersalah. "Hampir saja aku kedapatan!" Bisiknya pada diri sendiri.
Gadis itu sendirian di dalam lift itu. Membuatnya sedikit menahan nafasnya. Ia memang belum pernah mengalami hal menakutkan selama hidupnya. Namun, sendirian didalam ruangan berbentuk persegi ini membuatnya sedikit paranoid.
Dari kejauhan, ia melihat Faint sedang berdiri. Namun, ia tidak sendirian. Ada orang di depannya, berdiri membelakangi Nath yang sedang berjalan cepat ke arah Faint.
"Faint, beruntung bagiku, karena kau menunggu aku disini. Noita menakutiku tadi. Ditambah di lift aku berdiri!" Ceritanya begitu ia sampai di sebelah pria berkepala plontos itu. Tanpa menghiraukan orang lain yang sedang berdiri bersama mereka sekarang.
"Nath, bagaimana jika kita hari ini pulang bersama Tuan Joseph? Kebetulan beliau menyetir sendiri!" Ujarnya tanpa menatap bola mata Nath.
Nath menjadi semakin penasaran. Hari ini, orang-orang dekatnya tampak sangat aneh sekali. Mereka menunjukkan gelagat seolah mereka menyembunyikan sesuatu yang amat penting.
"Aku dijemput mommy." Ujarnya seraya memalingkan wajahnya. Kemudian menjumpai wujud pria yang ia hindari selama ini. Tiba-tiba ia merubah rencananya sekejab.
"Dimana mobilnya? Itu kan. Baiklah aku duluan masuk!" Ujarnya saat melihat ada mobil mewah keluaran terbaru
jauh dari tempat mereka berdiri.
Joseph, pria itu memperhatikan gadis itu dengan bingung. Faint yang sudah mengetahui keadaan kemudian berdehem.
"Itu adalah papa Nona Nath!" Ujarnya membuat Joseph, pria itu terkejut dengan sangat.
Bahwasanya pria tua itu adalah dokter pribadi kepercayaan keluarga mereka. Mengapa ia tidak mengetahui informasi sepenting itu? Mungkin ia harus memarahi August nanti karena sudah memberikan informasi yang kurang lengkap.
"Tuan Trenton? Rupanya anda. Kupikir aku salah lihat!" Ujar Johan nama dari papa
Melihat Nath yang menghindari papanya membuat pria itu berfikir jika ada sesuatu pada mereka.
Ia hanya memberikan senyumnya kemudian menyuruh Faint lewat isyarat tatapan matanya untuk mengikuti ia.
"Maaf, kami pergi dulu!" Izinnya.
Memasuki mobil, ia sedikit tertegun mendapati Nath tengah berusaha menghapus air matany dari matanya yang sudah mulai sembab itu.
Faint kemudian menyetir mobil itu. Ia melihat gadis itu dari kaca depannya. Harap-harap cemas jika gadis itu meledak lagi seperti yang sudah-sudah.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh hati-hati. Melihat gadis itu menangis membuat ia geram sendiri. Entah apa yang dilakukan pria tua itu hingga membuatnya sampai seperti ini.
"Tidak apa-apa sir. Ini hanya kebiasaan lama!" Ujarnya dingin.
Jika sudah begitu, artinya ia tidak ingin ditanyai lebih lanjut. Ia tidak akan memberikan celah bagi orang asing untuk memasuki kehidupannya. Bukan sembarang orang bisa melakukan apapun sesuka hati mereka. Terkadang, apa yang dilihat mata tidak sesederhana kejadian nyatanya.
Dahulu sekali, ia juga pernah memiliki seorang spesial dihatinya. Yang membuat ia hangat dan periang. Namun, sang penggoda datang mengambil semuanya darinya.
Kejadian itu kemudian terulang dengan perbuatan papanya yang diluar batas. Luka lamanya yang belum sembuh akhirnya harus tersayat lagi. Lagi dan lagi.
Kejadian yang mau tak mau membuat Nath menjadi wanita yang seperti sekarang. Keras kepala dan sangat menjaga batasan.
Mommynya selalu menyuruh Nath untuk menghadiri blind date dan beberapa pesta-pesta kaula muda. Namun, ia terlalu asing dengan itu semua. Beberapa orang menyebutnya kolot. Namun, itu adalah pilihannya.
Ia hanya akan mendatangi clum malam jika ia sedang mood saja. Meski tidak sering bersosialisasi, namun Nath begitu dikenal oleh orang-orang.
"Nath, apa kau ke apartemen atau ke rumah Mommy mu?" Tanya Faint memecah keheningan itu.
"Antarkan aku ke rumah Mommy. Barang-barangku tinggal disana semua!" Ujarnya setelah berhasil menetralkan deru nafasnya.
"Apa aunty ada di rumah?" Tanya nya lagi.
"Sejak kapan kau jadi se cerewet itu?" Sindir Nath mulai memberikan tatapan tidak sukanya.
Faint hanya mengeluarkan kekehan kecilnya menanggapi seperti biasa.
Anda Mungkin Juga Suka





