
Mr. Ergan Obsession
Bab 3
Jam dinding tlah menunjukkan pukul 09.00 pagi, gadis itu tampak sedang bekerja melayani pembeli di kantin itu. Meski pekerjaan Andira hanya seperti itu, tetapi Andira sangat senang dan menyukai pekerjaannya. Bahkan bukan hanya 1-2 orang saja yang menyukai sosok Andira yang baik dan ramah. Namun hampir seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan itu menjadi terhipnotis oleh paras cantik Andira.
"Andira, tolong kamu belanja ini semua ya.. Karena bahan-bahan di sini hampir habis untuk masak," ujar Bu Agel sembari menyodorkan kertas yang berisi catatan belanja yang harus dibeli.
"Hmm? Oh.. Oke oke Buk, aku berangkat sekarang nih?" tanya Andira sambil melihat pada catatan itu.
"Iya Dira, kamu bisa pergi sekarang.. Biar Ibu dan Asri yang jaga kantin," jawab Bu Agel.
Setelah mendengar perkataaan Bu Agel, Andira pun langsung pergi ke pasar sesuai yang Bu Agel suruh.
-
Diperjalanan Andira melihat 3 orang laki-laki yang sepertinya sedang memperhatikan Andira. Orang laki-laki itu tak lain adalah Zaki, Vito dan Yudi. Mereka adalah anak buah Ergan yang sempat diminta untuk membawa Andira kehadapan Ergan. 3 pria itu perlahan melangkahkan kakinya ke arah Andira, sementara Andira saat itu merasa perasaannya sudah tidak enak setelah melihat keberadaan 3 orang itu yang mulai mendekatinya.
"Kenapa orang itu datang kemari? Apa dia ada perlu dengan aku?" batin Andira sembari menatap ketiga orang itu.
Tak lama melangkah Vito, Yudi dan Zaki akhirnya telah sampai di hadapan Andira. Hal pertama yang dilakukan adalah memberikan mereka senyuman dan respon dari ketiga orang itu adalah membalas senyuman Andira.
"Apakah kamu bisa ikut kita sekarang?" tanya Vito.
"Kemana? Kalian siapa ya? Ada perlu apa?" tanya Andira gugup.
"Ada teman kami yang yang ingin bertemu dengan kamu, bisa kamu temui sekarang?" ucap Zaki
"Maaf, aku sedang sibuk dan aku banyak urusan. Jika dia mau bertemu aku kenapa dia tak menemui aku langsung? Mengapa aku yang harus menemuinya? Emangnya dia siapa?" ujar Andira.
"Jika kamu tidak menemuinya sekarang, maka kami akan dalam masalah, jadi tolong temui dia sekali saja," ujar Andira.
" Okelah aku akan menemuinya sekarang, kalian ini benar-benar menggangguku," ucap Andira kesal.
Setelah Andira menerima ajakan dari Vino, Andira pun mengikuti mereka meskipun di dalam hatinya merasa ragu ingat Ketiga orang itu. Niat Andira hanya ingin menolong Vino, Yudi dan Zaki agar mereka tak kena masalah jika Andira benar-benar tak menemui seseorang yang mereka maksud.
Perlahan gadis polos itu memasuki mobil yang digunakan ketiga orang itu ketika menemui Andira, sepanjang perjalanan semuanya diam dan tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Andira mulai mengarahkan pandangannya pada spion dan kemudian ia alihkan kembali ke arah jendela untuk melihat jalan apa yang sedang dilalui mereka saat ini.
"Kalau boleh tahu kita mau ke mana? Apa masih jauh tempatnya? Soalnya aku ada pekerjaan lain," ucap Andira.
"Tinggalkan dulu pekerjaan kamu itu nona, ada seseorang yang perlu kamu temui yang lebih penting daripada itu," ucap Zaki meringis.
"Aku benar-benar tak mengerti seseorang yang kalian maksud, siapa seseorang yang kalian maksud itu? Mengapa kalian tidak memberi tahu namanya padaku? Apakah orang itu mengenalku?" tanya Andira dengan segudang pertanyaannya.
"Nanti pasti kamu tahu sendiri seseorang yang akan kamu temui, dan tentu saja orang itu mengenalmu dan kamu juga mengenalnya. Jadi kamu tak perlu khawatir, lagi pula dia bukan orang jahat. Begitu juga dengan kami yang bukan orang jahat," ucap Vito.
"Baiklah, kalau gitu cepatlah kendarai mobilnya agar aku bisa cepat sampai," ujar Andira.
Mendengar itu Vito langsung menaikkan gasnya sesuai yang Andira inginkan, mobil pun melaju ke tempat dimana Ergan saat ini berada. Tak lama mereka menempuh perjalanan, akhirnya mobil mereka berhenti pada suatu tempat yaitu di sebuah rumah kecil yang entah Siapa yang memiliki rumah itu. Itupun turun dari mobilnya begitu juga dengan kedua temannya dan juga Andira. Andira melihat sesuatu di sekelilingnya yang terasa asing.
"Ini kita di mana sih? Kenapa kita bisa sampai sini? Aku rasa ini sudah sangat jauh dari tempat aku bekerja," ucap Andira dengan nada khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir nona, sekarang kamu bisa masuk ke dalam rumah itu," ucap Yudi sembari menunjuk ke sebuah rumah kecil yang tak jauh dari sampingnya.
"Rumah siapa itu? Kalian nggak mau macam-macam kan sama aku?" ucap Andira yang semakin panik.
"Di sana ada seseorang yang harus kamu temui, dia tak akan jahat padamu tapi sepertinya dia akan memberi kejutan untuk kamu. Sedangkan kita bertiga, kita akan menunggu kamu disini hingga semua urusan kamu selesai dengan orang itu," ucap Zaki.
Andira masih merasa tak yakin dengan ucapan ketiga orang yang ada di hadapannya itu, bagaimana tidak? Semuanya berjalan dengan sedikit aneh. Tetapi di sisi lain Andira juga penasaran siapa seseorang yang sangat ingin menemuinya hingga membawa Andira ke tempat seperti ini.
"Tolonglah, aku takut masuk ke dalam sendirian. Bisakah salah satu dari kalian menemani aku untuk masuk ke dalam?" ucap Andira sambil menelan ludahnya.
"Oke baiklah, aku akan mengantarmu masuk ke dalam," ucap Vito.
Vito pun melangkahkan kakinya ke arah rumah itu, disusul oleh Andira yang ada di belakangnya.
Langkah demi langkah ia lewati, sudah berada tepat didepan pintu rumah itu. Vito pun mulai membuka rumah itu dan masuk ke dalam, disusun oleh Andira. Perlahan kakinya melangkah dengan pandangan mata yang melihat di sekelilingnya. Ruangan Itu tampak gelap, dan seperti tak ada orang disana. Perasaan Andira benar-benar sudah tidak baik, begitu juga dengan pikirannya yang mulai negatif thinking.
"Kenapa ruangan ini sangat gelap? Apa kamu coba menipuku dan bermain-main denganku?" Andira dengan menatap Vito dengan sorot mata yang tajam.
"Dengar, aku tak menipumu. Orang itu ada di sini dan sebentar lagi dia akan muncul, bisa aku tinggal sekarang?" ucap Vito.
"Kamu mau keluar? Dan meninggalkan aku di tempat yang gelap seperti ini? Laki-laki macam apa kamu? Mana sosok pria yang kau bilang ingin menemuiku? Jangan mentang-mentang aku perempuan terus kamu pikir aku akan takut padamu? Aku sama sekali tak takut padamu tuan," tandas Andira.
Jika ini bukan perintah dari Ergan, mungkin situ telah menghabisinya saat ini juga.
'Jdor!!'
Suara balon membuat Vito dan Andira terkejut, suara balon itu bersamaan dengan nyalanya lampu.
Ternyata di ruangan yang gelap itu tidaklah semenakutkan yang Andira kira, setelah Andira mengarahkan matanya ke sekeliling ruangan itu Ia mendapatkan Ergan, dengan senyuman menyeringai Ergan menghampiri Andira. Sementara itu ia meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Anda Mungkin Juga Suka





